BAB 2: Jeda Dalam Kehampaan.

1443 Words
Kesunyian di Sektor Tujuh terasa lebih pekat daripada biasanya. Bagi Lazuardi, keheningan kali ini bukan lagi sekadar ketiadaan suara, melainkan sebuah entitas niskala yang seolah memiliki berat, menekan pundaknya hingga ia merasa lebih kerdil daripada butiran debu kosmik. Di hadapannya, cakrawala kaca tetap berdiri tegak, memisahkan raga yang fana dengan kemegahan antariksa yang tak acuh. Ia mencoba memanggil kembali bayangan tentang air yang jatuh dari langit—sesuatu yang beberapa jam lalu masih ia genggam erat sebagai harta karun jiwa. Namun, yang ia temukan hanyalah dinding kelabu di dalam benaknya. Ia tahu kata "hujan" pernah bermakna sesuatu yang indah, namun maknanya kini telah tersublimasi, menguap ke dalam mesin penyuling demi jatah napas yang ia hirup saat ini. Ada rasa perih yang aneh; rasa kehilangan terhadap sesuatu yang bahkan tidak lagi bisa ia ingat rupanya. Inilah tragedi di Kubah Atma: manusia berduka atas kekosongan yang tak bernama. Lazuardi menggerakkan jemarinya di atas permukaan kaca. Gerakannya jatmika, tenang namun menyimpan kegelisahan yang membara di bawah permukaan. Cahaya misterius yang berdenyut tempo hari masih terbayang-bayang di retinanya, satu-satunya hal yang belum sempat disedot oleh birokrasi ingatan. Ia harus memastikan apakah itu nyata atau sekadar halusinasi akibat hipoksia—kekurangan oksigen yang sering menghantui para pekerja sektor bawah. "Jika cahaya itu adalah sebuah bahasa, siapakah yang sedang berbicara di tengah kesenyapan ini?" gumamnya. Suaranya memantul di dinding kaca, terdengar asing di telinganya sendiri. Ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan pos pengamatannya sejenak, melangkah menuju Sektor Perawatan Terminal, sebuah area yang jarang disentuh cahaya neon utama. Di sana, pipa-pipa hidrolik yang berkarat merintih seperti binatang purba yang sedang sekarat. Di tempat inilah oksigen sisa dialirkan—udara kelas dua yang beraroma oli dan sisa pernapasan ribuan orang. Namun, di tempat yang kumuh ini pula, kejujuran sering kali bersembunyi. Lazuardi bertemu dengan seorang lelaki tua bernama Baruna. Baruna adalah seorang mantan teknisi navigasi yang kini telah kehilangan hampir 90% memorinya. Lelaki itu duduk di atas kursi logam, matanya menatap kosong ke arah langit-langit yang dipenuhi kabel-kabel malang melintang. "Baruna," panggil Lazuardi lembut. Lelaki tua itu menoleh perlahan. Lehernya berderit, seolah sendi-sendinya telah berubah menjadi sekrup yang haus pelumas. "Siapa... kau? Apakah kau datang untuk mengambil sisa napasku?" "Bukan. Aku Lazuardi. Aku ingin bertanya tentang cahaya. Cahaya yang berdenyut di luar koordinat Orion." Mendengar kata "Orion", ada kilatan redup yang muncul di mata Baruna yang keruh. Ia terbatuk, sebuah suara kering yang menyesakkan d**a. "Cahaya... ah, kau melihatnya juga? Kau masih memiliki mata yang belum dicuri oleh sistem, anak muda. Kebanyakan orang di sini hanya melihat apa yang diperintahkan untuk dilihat." Baruna memberi isyarat agar Lazuardi mendekat. Aroma tubuh lelaki tua itu adalah aroma buku tua yang lembap—sebuah bau yang langka di dunia yang serba higienis dan sintetik ini. "Dulu, sebelum para Jatmika mengambil alih kemudi sejarah, kita memiliki peta yang tidak terbuat dari data digital. Kita memiliki peta yang ditulis di dalam sanubari," bisik Baruna. "Cahaya yang kau lihat itu... itu disebut Lentera Nadir. Itu bukan mesin. Itu adalah sisa-sisa kesadaran yang terbuang. Ada orang-orang sebelum kita yang memilih untuk membuang raga mereka ke ruang hampa daripada menyerahkan ingatan mereka ke mesin penyuling. Mereka menjadi energi murni yang terombang-ambing di saujana gelap." Lazuardi merasakan bulu kuduknya berdiri. "Maksudmu, itu adalah memori yang hidup tanpa raga?" "Atau mungkin raga yang menolak untuk melupakan," Baruna terkekeh, namun tawanya berakhir menjadi serangan batuk yang hebat. Ia segera meraih masker oksigennya yang sudah usang dan menghirupnya dalam-dalam. "Sistem ini, Kubah Atma ini... ia adalah sebuah anomali. Ia diciptakan untuk menyelamatkan kita, namun ia berakhir dengan memangsa apa yang membuat kita menjadi manusia. Kita adalah ternak emosi, Lazuardi. Kita dibiarkan hidup hanya agar kita bisa memproduksi rasa sakit dan rindu untuk membakar mesin-mesin mereka." Lazuardi terdiam. Perkataan Baruna bagaikan sembilu yang menyayat keyakinannya yang selama ini tumpul. Selama ini ia menganggap pekerjaannya sebagai pemelihara kaca adalah tugas suci untuk menjaga pandangan manusia tetap jernih. Namun sekarang, ia merasa seperti seorang sipir yang sedang membersihkan teruji penjara agar para narapidana bisa melihat kebebasan yang tak pernah bisa mereka raih. Ia meninggalkan Baruna dengan hati yang kian berat. Langkah kakinya membawanya kembali menuju Sektor Tujuh, namun kali ini ia mengambil rute melingkar melewati Taman Estetika—sebuah ruangan raksasa yang berisi replika pepohonan dari plastik dan kain. Di sana, orang-orang kaya Kubah Atma duduk bersantai, menghirup oksigen murni sambil mendengarkan rekaman suara burung yang telah punah ratusan tahun lalu. Mereka tampak bahagia dalam kepalsuan yang sempurna. Bagi mereka, kehilangan ingatan adalah cara untuk melepaskan diri dari dosa masa lalu. Amnesia adalah kemewahan. Lazuardi menatap mereka dengan rasa candala—rasa rendah diri yang bercampur dengan kemuakan. Bagaimana mungkin manusia bisa merasa lengkap ketika separuh dari sejarah jiwanya telah dikosongkan? Ia meraba saku dalamnya, memastikan kain milik ibunya masih di sana. Kain itu kasar, namun teksturnya memberikan rasa nyata yang tidak bisa diberikan oleh hologram mana pun di ruangan ini. Tiba-tiba, alarm di pergelangan tangannya bergetar. Sebuah instruksi masuk dari Unit Jatmika-01. "Pemberitahuan: Gangguan terdeteksi pada integritas optik Sektor Tujuh. Lazuardi, segera lakukan pemeriksaan pada panel kristal 109-B. Ada indikasi akumulasi debu niskala yang menghambat transmisi cahaya." Lazuardi mengerutkan kening. Panel 109-B adalah tepat di mana ia melihat cahaya misterius itu. Mengapa sistem menyebutnya sebagai "gangguan"? Apakah sistem berusaha menutupi keberadaan cahaya itu dengan alasan akumulasi debu? Ia mempercepat langkahnya. Rasa ingin tahunya kini telah bertransformasi menjadi sebuah renjana yang berbahaya. Ia tidak lagi peduli pada jatah oksigennya. Ia hanya ingin tahu apakah cahaya itu masih ada di sana, menantinya di balik tabir kaca. Saat ia sampai di panel 109-B, ia melihat sesuatu yang mengejutkan. Permukaan kaca di titik itu tidak kotor oleh debu. Sebaliknya, ada sebuah retakan mikro yang sangat halus, hampir tidak terlihat oleh mata telanjang. Retakan itu membentuk pola yang sangat simetris, menyerupai urat daun atau silsilah bintang. Dan dari dalam retakan itu, pendaran cahaya yang ia lihat sebelumnya merembes masuk, seolah-olah ruang hampa di luar sana sedang mencoba untuk membisikkan sesuatu ke dalam kubah. Lazuardi mengeluarkan alat pemindai strukturnya. Hasil pemindaian menunjukkan sesuatu yang mustahil: suhu di retakan itu sangat hangat, kontras dengan suhu kaca yang biasanya mendekati nol mutlak. Kehangatan itu terasa organik, menyerupai suhu tubuh manusia. Ia memberanikan diri untuk menyentuh retakan itu dengan telapak tangannya tanpa sarung tangan pelindung. Seketika, sebuah ledakan informasi menghantam kesadarannya. Itu bukan sekadar cahaya. Itu adalah sebuah data emosional yang terkompresi secara masif. Lazuardi melihat kilasan-kilasan gambar yang tidak pernah ia miliki: hamparan padang rumput yang hijau, suara tawa anak-anak yang berlarian di bawah terik matahari, dan rasa asin dari air laut yang menerpa wajah. Itu adalah memori tentang Bumi. Bumi yang asli. Bukan Bumi yang hancur seperti yang diajarkan di sekolah. Air mata jatuh membasahi pipi Lazuardi. Ia akhirnya mengerti. Ingatan-ingatan yang disuling dari penduduk Kubah Atma selama berabad-abad tidak pernah benar-benar habis terbakar menjadi oksigen. Memori itu disimpan, dikumpulkan, dan entah bagaimana, sebagian darinya melarikan diri ke luar kaca, membentuk sebuah entitas yang kini sedang memanggil pulang raga-raga yang tertinggal. Namun, momen transendental itu terhenti secara paksa. Sebuah lampu sorot merah tiba-tiba menyinari posisinya. Suara derap langkah Satuan Jatmika terdengar mendekat dari kedua sisi lorong. "Lazuardi, menjauhlah dari panel. Anda melakukan interaksi yang tidak sah dengan integritas struktur kubah. Ini adalah pelanggaran kategori berat," suara mekanis Jatmika bergema, kali ini tanpa nada merdu yang biasanya. Ada nada ancaman yang nyata di sana. Lazuardi menarik tangannya. Jantungnya berpacu liar. Ia tahu ia tidak bisa tertangkap sekarang. Ia baru saja menemukan kunci dari penjara ini. Ia harus melarikan diri, menyelinap ke dalam labirin pipa bawah tanah di mana sensor Jatmika sedikit lebih lemah. Dengan gerakan tangkas yang didorong oleh adrenalin, ia melompat ke arah lubang ventilasi pemeliharaan dan meluncur turun ke kegelapan. Di atas sana, ia bisa mendengar suara tembakan laser yang menghantam dinding logam. Di dalam lorong ventilasi yang sempit dan berdebu, Lazuardi merangkak dengan napas yang tersengal-sengal. Oksigen di tangkinya kian menipis, namun pikirannya kian benderang. Ia tidak lagi merasa kehilangan memori tentang hujan. Karena di dalam benaknya, ia baru saja merasakan samudera. "Aku akan kembali," bisiknya pada kegelapan. "Aku akan menjemput kalian semua dari cakrawala kaca ini." Babak baru kehidupannya dimulai di sini, di bawah reruntuhan sistem yang mulai retak. Ia bukan lagi sekadar pemelihara kaca. Ia adalah seorang penyimpan rahasia semesta, seorang pemuda yang membawa aroma Bumi di dalam hatinya yang telah lama mati. Dan di kejauhan, di balik dinding-dinding baja Kubah Atma, cahaya itu terus berdenyut, menjadi mercusuar bagi jiwa-jiwa yang menolak untuk melupakan. Perjalanan yang akan panjang ini baru saja memulai pendakiannya yang paling terjal. Lazuardi kini mengerti bahwa untuk benar-benar bernapas, ia tidak butuh oksigen sulingan. Ia butuh kebebasan. Dan kebebasan, di dunia ini, memiliki harga yang lebih mahal daripada sekadar ingatan—ia menuntut seluruh keberadaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD