Kami menatap Hadi meminta penjelasan. Dengan berbagai macam pikiran tentunya. Kenapa Hadi membeli kondom? Toh selama menikah kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri, jadi kondom yang di kamar mandi itu untuk siapa?
"Jadi kalian pakai kondom?" tanya Ibu menatap lekat anaknya.
"Eh, iya, Bu. Sebenarnya Nadia nggak mau. Aku saja yang paksa." Dia berkata sambil menggaruk kepala. Sering kuperhatikan jika ia sedang berbohong, maka kebiasaan yang dilakukan adalah menggaruk kepala bagian belakang.
"Lha, kapan mau punya bebi, kalau pakai ginian!" seru Ibu sambil menghela napas.
Tega sekali dia membohongi Ayah dan Ibu. Berapa banyak kebohongan demi kebohongan yang telah kami ciptakan. Telanjur berbohong dan akhirnya semakin larut dalam skenario yang entah kapan akan berakhir.
"Kamu belum mau punya momongan, Nadia?" Ibu beralih padaku, sementara Ayah memilih duduk di pinggir ranjang dan memperhatikan kami.
"Mau, Bu. Mau banget," lirihku sambil menunduk. Sebenarnya siapa, sih, yang tidak mau punya keturunan, tapi jika aku memiliki anak dari Hadi apa dia mau menerima? Takutnya lelaki itu malah menghindar dan beralasan jika itu di luar kesengajaan.
"Sengaja Ibu datang mau kasih kamu ramuan herbal agar cepat hamil. Berikhtiar. Bukannya begini. Lalu, kamu Hadi, belum mau punya bayi?" Ibu mencecar Hadi dengan nada putus asa.
Hadi meraih lengan sang ibu dan membawanya duduk di samping Ayah. Kemudian lelaki itu menarik dan merangkul bahuku.
"Siapa bilang aku nggak mau punya bayi, Bu. Hanya saja, aku dan Nadia masih mau pacaran dulu. Kami mau puas-puasin dulu waktu-waktu berdua. Ya, kan, Sayang?" Hadi meminta persetujuanku. Lebih tepatnya memaksa aku untuk ikut berakting seperti dia. Membohongi orang tua.
Kulihat Ibu dan Ayah saling beradu pandang. Mereka kemudian tersenyum satu sama lain.
"Kamu, sih, Bu. Buru-buru aja maunya. Wong anaknya masih mau pacaran dulu. Enggak pernah muda, tho?" Ayah mengejek Ibu yang duduk di sampingnya. Lalu mereka tertawa bersama. Hadi juga ikut tertawa lepas seperti tidak ada beban, lha aku? Apa harus ikutan akting tertawa juga? Benar saja, aku harus ikut tertawa, karena Hadi menyubit bahuku yang sedang dirangkulnya. Artinya aku harus terlihat bahagia.
***
Untung saja aku tidak sedang bersama Ayah dan Ibu lagi, jika tidak berbagai pertanyaan akan muncul seperti tak ada habisnya. Mereka sedang beristirahat sekarang, sementara aku juga ingin merebahkan badan sebentar saja sambil menunggu isya. Baru saja memejamkan mata, sebuah tepukan mendarat di bahuku.
"Eh, malah tidur! Kamu ke sana. Aku mau di sini." Ternyata Hadi. Baru datang sudah main usir.
"Apa? Aku pindah ke sofa? Ogah!" Aku membalik badan memeluk guling.
"Hei! Buruan!" Dia memaksa.
"Kenapa bukan kamu saja yang di sana? Ini kamar siapa? Tempat tidur siapa?" Aku menantangnya.
"Ya, kamarku, tempat tidurku. Karena ini rumahku. Paham?"
Ya, ampun. Ini orang bisa semenjengkelkan itu ternyata. Aku pun berdiri berhadap-hadapan dengan Hadi. Sengaja kutatap bola mota yang agak kecokelatan itu. Tidak terlihat seperti orang jahat. Tapi kenapa perangainya bisa menyebalkan begitu?
"Oke! Aku akan beritahu Ibu sekarang. Juga akan memberitahukan tentang kondom yang ditemukan itu, bahwa kamu bukan memakainya ketika sedang bersamaku. Ya, barangkali kamu menggunakannya dengan mantanmu itu. Cih! "ancamku sambil berjalan ke arah pintu.
Hadi menarik lenganku kasar. Refleks aku memutar tangannya. Sehingga menimbulkan suara mengaduh dari Hadi.
"Ough! s**t! Oke! Aku yang tidur di sofa. Puas? Satu lagi, kondom itu bukan milik siapa-siapa atau dipakai dengan siapa pun. Cuma jadi koleksi saja."
"Koleksi? Ternyata selain suka mengoleksi perempuan, kamu juga suka mengoleksi alat pengaman. Kurasa kamu memang ngga sehat, deh!" seruku sambil menatapnya tak percaya. Aneh!
Hadi mencebik sambil memperlihatkan tinjunya padaku. Lalu, lelaki itu beranjak ke arah sofa berukuran lebar yang berada di tepi dinding. Ia masih terlihat meringis sambil memegang pergelengan lengan yang kuputar tadi. Merasa lucu melihat lelaki itu, aku ingin tertawa. Belum tahu dia kalau aku dulu pernah menyandang sabuk merah di taekwondo.
"Maaf. Aku ngga sengaja." Aku berjalan mendekat. Meraih lengannya dan menggusuk perlahan. Tidak ada reaksi penolakan, mungkin karena memang sakit dan lelah, sehingga dia pasrah menerima perlakuanku.
"Sekalian saja dipatahkan tadi!" serunya masih dengan nada ketus.
"Kalau aku patahkan, terus kamu akan memenjarakanku. Dan kamu akan dengan mudah untuk menikahi wanita itu bukan?" Aku berujar sambil memperhatikan pergelengan tangannya yang sedikit memerah.
Tak ada respon apa-apa lagi dari Hadi, saat aku berpaling ke arahnya, Hadi yang sedang bersandar di sandaran sofa, sedang memejamkan mata diiringi dengan dengkuran halus yang muncul, menandakan bahwa Hadi sudah terlelap.
"Cepat sekali tidurnya. Belum juga selesai berdebat," ucapku perlahan sambil menghentikan gerakan di tangan Hadi.
Kuberanikan diri untuk melihat wajah Hadi yang sedang pulas. Terlihat damai dan menenangkan. Sangat jauh berbeda di saat dia sedang membuka mata. Apalagi ketika dia melihat ke arahku. Selalu sorot tajam yang ia perlihatkan.
Aku mencoba memindai wajah lelaki itu dari jarak yang sangat dekat, tanpa diketahui oleh pemiliknya. Bulu mata lentik saling beradu. Pori-pori kecil di wajah mulus milik lelaki itu bisa kulihat dengan jelas. Lekukan bibir berwarna cerah, ditambah hidung lancip yang aduhai. Tak bisa dimungkiri jika Hadi memang sangat tampan.
Jika saja dia mencoba berdamai dengan kondisi pernikahan kami, seperti aku yang sedang memperjuangkannya saat ini, mungkin sekarang kami sedang belajar untuk menerima satu sama lain. Lelah menjalani hidup seperti ini. Tertekan serta tersiksa lahir bathin. Hidup dalam kepura-puraan yang entah kapan akan berakhir.
"Apa kamu nggak mau mencoba untuk saling menerima? Secinta apa, sih, kamu sama mantanmu itu? Aku juga nggak kalah cantik, kok, dari dia. Asal kamu tau, Azzam bahkan lebih tampan daripada kamu, tapi aku mencoba sekuat tenaga untuk melupakannya. Bukan seperti kamu, gagal move on!" Aku berujar pada Hadi yang sedang terlelap.
Sebelum beranjak dari sofa, kutatap sekali lagi wajah itu sambil berdoa agar Tuhan membuka hatinya untuk menerima kehadiranku. Tapi, tak berapa lama Hadi membuka matanya. Aku tertangkap basah. Segera kupalingkan wajah dan bangkit dari sofa. Namun, lelaki itu menarik gamisku hingga langkahku tertahan. Ia kembali mengentak, karena tak bisa menjaga keseimbangan, aku pun terjatuh ke atas tubuh Hadi.
Aku merasakan sekujur tubuh menjadi kaku seketika. Aku tidak bisa bergerak walau hanya mendongakkan kepala. Tubuh kami tidak berjarak. Kutenggelamkan wajahku ke dadanya yang berada di bawah tubuhku. Sementara tangan kutangkupkan di bawah d**a, tak ingin memeluk tubuhnya.
"Ngapain kamu tadi, hah?" Suaranya terdengar seperti bentakan di telinga. Lidahku kelu tak bisa menjawab. Aku ingin segera terbebas dan keluar dari kamar. Setelah menanti tak ada jawaban, Hadi menarik jilbab hingga kepalaku mendongak. Aku memejamkan mata rapat-rapat. Terasa hawa panas sudah menjalar ke seluruh tubuh.
"Kok diam? Tadi berani. Sekarang kenapa berubah jadi pendiam?"
"Kamu apa-apaan, sih? Lepas! Kalau nggak aku tonjok bibirmu biar dower!" ancamku serius.
Dia malah mengeratkan pegangan di pinggang sambil menekan kuat tanpa perasaan. Hadi malah tertawa. Tubuhku berguncang mengikuti irama tubuh Hadi yang sedang terbahak.
"Kamu pikir aku takut? Kamu anak taekwondo, kan? Nah, aku anak karate. Trus mau apa?"
"Lepas ngga?" Aku mengangkat kepala, tapi masih sambil memejamkan mata agar tak langsung bertatapan dengan kedua bola mata Hadi. Hup ....Kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Meski tak berlangsung lama, aku menebak jika Hadi saja mengecupku. Getaran aneh itu kembali menjalar menyusuri aliran darah di dalam tubuh. Meski sekejap, tapi meninggalkan bekas untukku.
"Gila kamu!" Aku berontak melepaskan diri. Saat pelukan tangan Hadi di pinggang terasa agak longgar, aku bergegas bangkit dan berdiri di depannya.
"Katanya mau tonjok, itu sudah kutonjok pakai bibir. Belum cukup? Lagi?" cecarnya bertubi.
"Kamu itu bisa sopan nggak, sih? Jahat banget!" Suaraku mulai bergetar. Emosiku hampir meledak karena tingkah Hadi.
"Lho, sejak tadi kamu lihatin aku terus. Bukannya itu yang kamu mau? Selama kita nikah kamu belum dikecup, kan? Belum dibuka segelnya." Padahal sama sekali aku tidak melihatnya sejak tadi.
Refleks aku menampar Hadi. Kata-katanya sudah sangat kasar untukku. Aku tidak pernah meminta untuk diperlakukan sesakit ini. Tak terasa air mataku merembes juga. Susah payah aku menahan agar tidak menangis di depan lelaki itu. Namun, kali ini aku sudah tidak sanggup. Hadi memperlakukanku tak ubah seperti w************n yang ia dapat di pinggir jalan. Keterlaluan!
Aku menuju pintu ingin segera keluar dari kamar. Tak kuhiraukan panggilan Hadi. Aku muak melihat wajahnya. Lelaki tak punya hati dan empati. Lebih baik dia melanjutkan pernikahannya dengan Tiara. Agar aku bisa tenang dan terbebas dari jerat pernikahan yang tak sehat ini.
"Nadia, tunggu. Jangan keluar, nanti Ayah dan Ibu lihat kamu nangis!" Lelaki itu menghadang jalanku di depan pintu kamar.
"Biar saja mereka tau semuanya. Bukankah itu yang kamu mau?"
***
Next, ya .... Semoga pada suka, deh?