Wajah Hadi memerah. Matanya melotot menatapku.
"Kalau memang aku tidak dibutuhkan di sini, kenapa kamu ngga antar pulang saja?"
Aku berdiri dan melawan lelaki itu. Kedua tanganku berkacak di pinggang.
"Kamu tau resiko jika saja kita berpisah?"
Ya, dia tidak mau orangtuanya atau orangtuaku sakit karena perpisahan kami. Namun, apakah begini benar? Aku harus menanggung semua beban derita. Menjadi seseorang yang tak dianggap kehadirannya. Tak dibutuhkan, hanya pelengkap penderita.
"Egois!" seruku
"Jaga bicaramu!" Hadi tak mau mengalah.
"Memangnya kamu saja yang bisa menikah dengan pacar lamamu dan bahagia? Aku juga mau! Aku bukan patung yang tak punya hati. Bahagia bukan milikmu saja!"
Lelaki itu tak lagi menjawab. Kutinggalkan dia bersama nasi dan lauk yang masih penuh dipiring. Lagi-lagi laki-laki itu menghancurkan mood-ku. Apa sebenarnya yang diinginkan Hadi? Tidak menerimaku, tapi juga tidak melepaskanku.
"Nadia. Kamu dan Hadi bertengkar?" Tiara menghadangku di tengah jalan ke arah kamar.
"Ajari suamimu itu bagaimana cara menghargai wanita. Ingatkan dia jika aku juga istrinya!"
Aku berlalu dari hadapan Tiara. Air mata tak lagi terbendung. Kubenamkan kepala di dalam bantal. Ingin rasanya pergi dan tidak peduli pada sekitar, tapi bayangan Ibu dan Umi yang digelangi selang infus kembali menari-nari di pikiran. Aku tidak mau membuat mereka sakit. Namun, siapa yang peduli dengan perasaanku? Sementara Hadi dan Tiara setiap hari memperlihatkan kemesraan di depanku.
Ah, lebih baik aku pergi sekarang. Menemui Hanin dan meminta pendapatnya. Aku juga perlu menyegarkan pikiran di luar rumah. Tidak sanggup kepala ini melihat mereka yang sedang di mabuk kasmaran. Tak peduli di luar kamar, Hadi dan Tiara tetap b******u tak memedulikanku yang kadang-kadang memergokinya.
Setelah membasuh muka, kupoles wajah dengan make up minimalis tipis-tipis dengan warna soft. Kulit wajahku tak cocok memakai warna-warna cerah. Kelihatan norak dan tak sedap dipandang. Berbeda dengan Tiara, dia sudah sangat lihat memainkan kuas di wajahnya. Riasan yang ia buat selalu terlihat sempurna.
Apa wanita itu juga jago di ranjang? Duh! Kenapa aku harus sakit kepala memikirkan hal itu? Namun, jujur saja jika aku sangat terganggu mendengar suara rintihan manjanya hampir setiap tengah malam. Merintih tengah malam? Kuntilanak?
Setelah selesai, aku meraih sling bag yang tergantung di dekat lemari pakaian. Kubuka pintu kamar, berjalan tanpa melihat ke arah lain. Aku tak ingin melihat wajah mereka berdua. Walaupun aku tak memiliki nasalah dengan Tiara, akan tetapi wanita itu tetaplah bukan temanku.
"Mau ke mana kamu?"
Suara Hadi reflek menghentikan langkahku. Aku tak melihat ke arahnya. Dari asal suara, dia berada di arah kanan. Tempat yang biasa mereka lakukan untuk bersantai, di sofa depan televisi.
"Aku tanya mau ke mana?" Dia mengulang lagi pertanyaannya.
"Mau cari makan. Lapar!" jawabku menatap lurus.
"Sama siapa?"
Kenapa dia harus tahu urusanku? O, iya, aku lupa. Dia suamiku, meski hanya status.
"Sama teman."
"Kami ikut. Tunggu sebentar. Aku dan Tiara berkemas sebentar."
What? Hadi! Apa, sih, maumu?
"Untuk apa? Kalau kalian mau keluar, kan, bisa berdua. Kenapa harus ikut denganku?"
"Cerewet. Tunggu saja di situ!" perintah lelaki itu.
Aku mendengus kesal. Malas menunggu di depan televisi, aku beranjak keluar. Di teras lebih segar udaranya.
"Kamu ngga dengar, Nadia?"
"Ya ampun, Hadi. Aku tuh mau tunggu di teras. Salah juga?" Suaraku sedikit meninggi.
Kulihat ke arah lelaki itu yang menyilangkan kedua lengannya di depan d**a. Tak lama dia berbalik dan menggandeng istri mudanya berjalan ke arah kamar.
"Astaghfirullah. Sabar, Nadia." Aku berujar pelan sambil mengelus d**a.
***
Kulirik jarum jam yang melingkar di lengan kiriku. Sudah hampir setengah jam aku menunggu, akan tetapi keduanya belum menampakkan batang hidungnya. Kenapa harus lama sekali?
Aku mengedar pandangan ke dalam rumah. Ternyata mereka sudah keluar kamar. Wah! Lagi dan lagi masih dalam kondisi bergandengan. Panas hati melihatnya. Aku dianggap anti nyamuk sepertinya.
"Yuk, Nad. Maaf lama." Tiara menyapaku sambil menyunggingkan senyuman.
Aku membalas hambar. Tak perlu juga terlalu berbaik sapa dengan mereka berdua.
Aroma parfum Tiara menguar menyentuh bulu hidungku. Ya. Aku hanya memakai parfum laundry yang telah disetrikakan di pakaian. Meski ilmu agamaku belum sampai ke tahapan ustadzah, tapi aku tahu jika memakai parfum ke luar rumah bagi seorang perempuan dilarang dalam agama.
Wanita itu terlihat sangat serasi dengan Hadi. Tinggi semampai dengan kulit cerah merona membuat Tiara terlihat sangat cantik. Rambut bergelombangnya dibiarkan tergerai menyentuh bahu. Wanita itu juga sangat pintar memadupadankan setelah tunik serta celana panjang yang ia kenakan. Aku merasa tidak percaya diri berjalan di sisi Tiara.
Hadi bergegas membukakan pintu mobil untuk istri keduanya. Sementara aku, membuka dan menutupnya sendiri tanpa diperhatikan. Adilkah itu?
Tiara duduk di samping Hadi yang mengemudikan mobil. Sementara aku seperti seorang pembantu yang duduk di kursi belakang. Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya. Dua anak manusia yang ada di depan tak henti tertawa renyah.
Aku bagaikan seonggok daging busuk tak dipedulikan. Dari belakang aku bisa melihat semua perlakuan Hadi kepada Tiara. Telingaku juga semakin lelah mendengarkan obrolan mesra mereka yang sesekali diiringi belaian pucuk kepala.
Akhirnya kuputuskan untuk memasang earphone dan menyetel lagu-lagu kesukaanku. Sambil memejamkan mata, aku ikut bersenandung pelan mengikuti lirik yang dinyanyikan oleh vokalisnya.
Meski telah memejamkan mata, rasa penasaran membuatku sesekali melirik juga ke arah mereka. Tak lupa mengecilkan volume di ponsel sehingga obrolan mereka pun kembali terdengar.
"Sayang, kita belum bulan madu, ya. Aku sedang merencanakan kita akan pergi ke suatu tempat." Hadi berujar sambil sebelah tangannya mengelus kepala Tiara. Jarak mereka duduk sangat dekat. Apa Hadi tidak susah mengemudikan mobil?
"Benarkah? Dia bagaimana?" Tiara bertanya kemudian. Dia? Maksudnya aku? Hellow! Cukup kali ini saja aku begitu bodoh mau semobil dengan kalian. Tidak akan terulang di lain waktu!
"Kalau dia mau ikut dan sanggup lihat kita bermesraan, silakan."
Astaghfirullah. Itukah jawaban Hadi? Seorang lelaki lulusan terbaik dari salah satu universitas ternama luar negeri yang sekarang sudah berstatus menjadi suamiku? Apakah tidak ada rasa kasihan sedikit pun di hatinya untukku? Tidak adakah rasa bersalah saat dia menyebut diriku ini istrinya, sementara sikapnya jauh dari sifat seorang suami yang baik untuk istrinya.
Meskipun aku tidak mencintainya, tapi aku sudah berusaha untuk menghormatinya. Berusaha untuk menempatkan diri sebagai seorang istri yang baik baginya. Namun, lihatlah dia, sebegitu marahkah dia padaku? Padahal dia sendiri juga tahu bahwa bukan dia saja yang dulu menentang perjodohan ini, aku pun begitu. Aku menolak menikah dengannya.
Lalu, bukankah pada hari yang lain dia yang datang bersama orang tuanya Untuk memintaku menjadi istrinya? Lalu apa pantas jika aku diperlakukan seperti ini sekarang?
***
Next.
Kasih komen, ya, kawan-kawan.
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Semoga suka dan bermanfaat????