04

2332 Words
Reymond Erkananta, pria berusia 28 tahun bernama Asli Reymond Erkananta Ricardo. Kedua orang tuanya, bernama Daniel Ricardo dan Marisa Ricardo sudah meninggal dunia sejak ia berusia 10 tahun. Tepatnya 18 tahun yang lalu, karena bunuh diri. Sejak saat itu Reymond tinggal bersama paman dan bibinya di Amerika. Paman David Ricardo dan Bibi Jenny. Dia di besarkan dengan penuh kasih sayang dan cinta. Terlebih ketika dewasa Reymond, ternyata berbakat dan berkeinginan menjadi pengusaha. Reymond sangat berbeda dengan Jessica dan Justine yang tidak tertarik sama sekali dengan bisnis keluarga. Membuat Paman dan Bibinya membantunya merintis usaha, empat tahun yang lalu. Pria tampan itu, meyakinkan dirinya untuk membuka bisnis agar bisa segera melaksanakan rencana balas dendam pada keluarga ‘Chandra Lesmana’. Reymond tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi 18 tahun silam. Menurut Paman David dan Bibi Jenny, penyebab bunuh diri kedua orang tuanya adalah korupsi yang dilakukan manajer keuangan, siapa lagi kalau bukan Chandra Lesmana. Sejak mengetahui hal itu Reymond, membulatkan tekad untuk balas dendam. Setidaknya pria yang bernama Chandra Lesmana itu harus merasakan apa yang di rasakan kedua orang tuanya dulu. Empat tahun berjalan, Perusahaan Reymond yaitu ‘Love Sky Industries' sebuah perusahaan yang memproduksi furnitur. Berfokus pada furnitur outdoor. Dan hasilnya di ekspor ke berbagai negara di Eropa dan Amerika, berkembang pesat. Tak berhenti sampai di situ. Reymond memang sangat pintar mencari peluang usaha. Berkat sokongan dana dari paman dan bibinya, pria itu berhasil membuka beberapa restoran mewah. Bernuansa Korea, Amerika, dan Singapura yang mulai berkembang pesat karena kegigihannya. Dan kali ini, Reymond sedang merancang sebuah pembangunan hotel. Maksud dari pembangunan hotel itu untuk membalas dendam. Pria itu sangat yakin dengan misi balas dendamnya. ** Reymond tiba di rumah pukul 4.11 sore hari, Faris sekretarisnya yang mengantarnya. Namun, Arlyn tak menyambut kedatangannya. “Bawa Arlyn ke sini!” perintah Reymond. “Nona Arlyn belum pulang Tuan,” jawab pelayan itu. Reymond kesal, ingin berteriak. Namun, pelayan itu berbisik. “Pak David dan Bu Jenny sudah tiba, mereka sedang menunggu, Anda, Tuan!” ucapnya memberitahu. Reymond, mengepalkan jemari tangannya. Menahan amarah di dalam dadanya. Dia meraih ponsel dan menghubungi bodyguard yang bertugas mengawasi Arlyn. Panggilan telefon terhubung. “Di mana kalian?” tanya Reymond. “Kami masih di toko buku, Tuan,” sahutnya. “Segera kembali!” perintah Reymond. “Baik Tuan!” Klik! Panggilan telefon berakhir. -- Sejak tiba di toko buku Arlyn, mulai mencari di mana ia bisa menemukan surat kabar tahun 2000-an. Tentunya, mencari cara agar tidak menemui Nicholas secara langsung. Tidak! Menemui Nicholas itu tidak mungkin. Selain mengingat luka lama, Reymond juga tidak akan mengizinkannya. Hingga pukul dua siang, seharusnya dia sudah beranjak dari toko buku. Kedua pengawalnya juga sudah sering mengingatkan. Namun, Arlyn masih enggan, rasa penasaran mengenai asal-usul suaminya dan kejadian 18 tahun silam benar-benar mengganggu pikirannya. “Nona, sudah pukul dua, kita harus segera pulang!” pinta lelaki berbaju hitam itu pada Arlyn. “Sebentar, apa kamu tidak lihat aku sedang sibuk dengan daftar panggilan ini,” jawab Arlyn memperlihatkan buku catatannya. “Tapi Nona, Tuan Reymond sudah menyuruh Anda tiba di rumah sebelum jam dua, ini bahkan sudah jam dua lebih!” jelas pria itu. “Tunggu sebentar!” tegas Arlyn dan pergi ruang kerjanya. Dia berpesan pada Rina agar tidak mengizinkan kedua pengawalnya itu mengganggunya. Tidak terasa sudah pukul empat, Arlyn menutup buku catatan dan menaruh ponselnya. Usahanya sia-sia karena tidak ada cara lain selain meminta bantuan perusahaan Nicholas untuk membantunya mendapatkan surat kabar itu. Arlyn memutar kunci, keluar dari ruangan kerjanya. Kedua pengawalnya sudah menunggu di depan pintu. “Nona, Anda harus pulang sekarang, Tuan Reymond sudah tiba di rumah,” ucap pria itu. “Kamu tidak bercanda kan?” Arlyn mengernyitkan dahinya. Dia sadar, telah melakukan kesalahan. “Tidak, Nona, Beliau baru saja menelefon, menanyakan Anda!” jelasnya. “Baiklah, ayo kita pulang sekarang!” sahut Arlyn. Dia berjalan menghampiri Rina. “Nanti aku akan menelefonmu,” bisik Arlyn sembari mengambil sling bagnya. Rina mengangguk dan melambaikan tangan pada Bosnya itu. Di dalam mobil Arlyn, sudah mulai risau. Dia memikirkan beberapa alasan untuk menyelamatkan dirinya dari amukan Reymond. “Kapan Reymond, tiba di rumah?” tanya Arlyn pada salah satu pengawalnya. “Baru saja, Nona, tapi Tuan David dan Nyonya Jenny sudah tiba di rumah dari jam 2, Nona!” jelas pria itu. “Bagaimana ini!” Arlyn mulai kebingungan. “Tenang saja, Tuan Reymond tidak mungkin marah dengan istri barunya,” jawab Si Pengawal yang tidak tahu apa-apa itu. Arlyn tersenyum sumbang, Reymond memang terlihat baik dan perhatian ketika di depan orang banyak. Namun, ketika hanya berdua dia seperti singa yang siap menerkam dan menjajahnya dengan sesuka hati. “Nona Arlyn, kita sudah hampir tiba,” ucap pengawal yang duduk di belakang kemudi. Arlyn mengangguk, merapikan rambut dan bajunya. Mobil mulai memasuki gerbang utama. Kemudian, berhenti di teras. Meski bimbang, Arlyn keluar dari mobil. Ia segera masuk ke dalam rumah, karena pintu yang terbuka. Ya! Terlihat Reymond sedang duduk bersama paman dan bibinya. “Uncle David, Auntie Jenny maaf aku baru pulang,” sapa Arlyn berjabat dan mencium punggung tangan mereka satu persatu. “Iya, tak apa,” jawab Jenny mengerti. Arlyn melempar senyuman kepada wanita itu, lalu duduk di sebelah Reymond yang tak melihatnya sama sekali. “Reymond tidak menyuruhmu untuk bekerja kan?” tanya Jenny keheranan. “Tidak Auntie, aku hanya rindu dengan tempat kerjaku,” jawab Arlyn jujur. “Kamu, istirahatlah dulu, nanti kita makan malam bersama!” suruh wanita itu. “Baik, Auntie,” jawab Arlyn. Arlyn memberanikan diri menggenggam tangan Reymond. “Sayang, kamu juga harus mandi!” bisik Arlyn. Reymond menunduk, dan menurut ketika Arlyn menarik tangannya agar mengikutinya naik ke lantai dua ke dalam kamarnya. Benar juga apa yang di katakan Auntie Jenny ‘Yang bersalah itu Chandra Lesmana bukan Arlyn, gadis itu sama sekali tidak tahu apa-apa dan tidak adil baginya jika menerima pelampiasan amarahnya’. Namun, tetap saja Reymond sangat membenci Arlyn. Arlyn membuka pintu kamarnya. Perlahan melepas tangan Reymond dari jemarinya. “Sayang, maaf aku terlambat pulang,” bisik Arlyn pelan. “Iya, aku tahu Kamu terlambat pulang, kenapa kamu bisa terlambat?” tanya Reymond datar. “Tadi aku ke asyikkan menata komik dan buku yang baru saja datang!” jawab Arlyn berbohong. “Baiklah, kali ini aku memaafkanmu, tapi lain kalu jangan kamu ulangi!” jelas Reymond yang masih mencerna nasihat dari bibinya. Sejenak, Arlyn merasa heran. Reymond ternyata tidak memarahinya. ** Arlyn melakukan kewajibannya. Menyiapkan air hangat, baju ganti dan memastikan tidak ada kecoak di kamar mandi. “Sayang, airnya sudah siap!” ucap Arlyn sambil berjalan keluar dari kamar mandi. Reymond berjalan ke kamar mandi. Tak lupa ia menutup pintu dan menguncinya. Arlyn menggunakan kesempatan itu untuk membuka ponsel Reymond. Berniat mencari tahu mengenai pria itu lebih banyak lagi. Namun, usahanya sia-sia. Tak ada satu pun foto yang tersimpan di galeri ponselnya. Arlyn menaruh kembali benda canggih nan pipih itu. Menghembuskan nafas panjang, merasa kesal. Ia mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan, dan matanya tertuju pada tas kerja Reymond, ada laptop yang selalu dibawa ke mana pun ia pergi. Arlyn ingin diam-diam membukanya. Namun, wanita itu mengurungkan niatnya. Cklek! Pintu kamar mandi terbuka. Pria tampan itu keluar, aroma sabunnya merebak memenuhi hidung Arlyn. Reymond mengenakan bajunya. Arlyn diam, menunggu. “Kamu mau mandi! Atau hanya melihatku seperti itu!” kata Reymond. “Siapa yang melihatmu, aku hanya sedang melamun!” kilah Arlyn. Sejak perlakuan kasar Reymond, Arlyn bersikap natural. Tidak mengekspresikan rasa cintanya terlalu berlebihan. “Akui saja! Aku memang tampan! Itu yang membuatmu bersedia menikah denganku kan! Karena aku tampan!” ucap Reymond percaya diri sambil melihat pantulan wajahnya di depan cermin. Arlyn memejamkan matanya. Ia baru sadar ternyata Reymond senarsis dan percaya diri sekali seperti itu. Lima bulan ia mengenal Reymond, dia pikir cukup untuk mengetahui segala sesuatu mengenai suaminya itu. Salah besar! “Kenapa diam saja!” protes Reymond. “Emm ...,” gumam Arlyn. “Lantas, apa yang membuatmu bersedia menikahiku?” tanya Reymond. “Seharusnya aku yang bertanya, kenapa sore itu kamu datang secara tiba-tiba menghampiriku yang sedang berada di atas jembatan?” Arlyn balik bertanya Wanita itu, mengingat kembali momen-momen pahitnya karena pengkhianatan yang di lakukan Nicholas. Secara tiba-tiba Reymond hadir dan selalu muncul di mana pun. Ya! Di kafe, di mall, di toko buku, dan di mana pun. Seolah mereka berdua ditakdirkan untuk bertemu lagi dan lagi! Arlyn belum tahu dan belum sadar kalau pertemuan mereka memang rencana yang sudah di persiapkan Reymond secara matang. “Cepat mandi! Uncle David dan Auntie Jenny sudah menunggu kita di ruang makan!” kata Reymond mengalihkan pembicaraan. Arlyn menurut ia segera pergi mandi. Dua puluh menit adalah waktu yang cukup buat Arlyn, untuk mandi berganti baju dan ritual perawatan kulitnya. “Ayo kita turun sekarang ajak Reymond,” di bergegas dan berjalan lebih dahulu. Arlyn melangkah di belakangnya. Namun, tanpa di duga tepat di ujung tangga, Reymond munggu Arlyn. Tanpa meminta persetujuan dari istrinya, Reymond menggenggam tangan Arlyn dan menuntunnya sampai ke ruang makan. Uncle David dan Auntie Jenny, tersenyum melihatnya. Mereka berdua duduk dan mulai memakan hidangan yang disiapkan oleh pelayan. Arlyn memilih memakan nasi dan lauk, makanan Indonesia. Tidak berselera memakan khas barat, seperti Reymond dan kedua orang lainnya yang lebih suka memakan sandwich. “Kami sudah menyiapkan tiket bulan madu untuk kalian,” kata Jenny sembari tersenyum. Arlyn membalas senyuman wanita yang ada di hadapannya itu. Pasalnya, Reymond sama sekali tak menawarkan atau pun membalas bulan madu sejak rencana pernikahan sampai hari ini. Pria itu lebih sibuk dengan proyek pembangunan hotel terbarunya. “Reymond! Jangan bilang kalau kamu tidak ingin bulan madu! Kamu boleh bekerja keras, tapi jangan lupa membahagiakan istrimu!” kata Jenny menatap tajam ke arah Reymond. “Iya,” jawab Reymond datar. Sejak kecil Reymond memang selalu menurut pada Jenny. Menganggap wanita itu sebagai ibu yang harus ia hormati. Arlyn menyuapkan satu sendok nasi terakhir, minum air putih dan mengakhiri makan malamnya. Jenny dan David mulai bercerita mengenai pengalamannya liburan di Bali selam dua hari. Dan kedua anaknya Jessica dan Justine yang belum ingin pulang, masih ingin menikmati wisata di Pulau Bali. Dering ponsel Arlyn berbunyi. Ada panggilan dari Rina. “Uncle David, Auntie Jenny, aku ke atas dulu ya, ada telefon dari karyawanku,” kata Arlyn mempunyai alasan untuk melarikan diri dari pembicaraan membosankan itu. Meski Jenny terlihat sangat baik. Arlyn merasa ada yang aneh dengan wanita itu. “Oh, iya,” jawab Jenny. Arlyn berjalan menaiki tangga meninggalkan Reymond dan kedua orang itu. “Arlyn terlihat sangat tulus denganmu!” ucap Jenny. Sedangkan David suaminya hanya diam dan sibuk dengan ponselnya. Reymond mengangguk. “Aku hanya ingin mengingatkan, jangan terlalu kasar padanya. Bagaimanapun apa yang menimpa kedua orang tuamu dulu, bukan salah gadis itu! Melainkan salah Chandra Lesmana!” jelas Jenny. Awalnya Jenny terlihat acuh, tetapi setelah berbicara dan melihat Arlyn secara langsung ia merasa tidak tega jika gadis itu menjadi pelampiasan kemarahan Reymond. Pasalnya Jenny tahu betul karakter Reymond seperti apa. “Yes, I see!” jawab Reymond. ** Arlyn sampai di kamar. Dia menelefon Rina kembali. Panggilan tersambung. “Hallo, Mbak!” sapanya. “Hallo Rin,” sahut Arlyn. “Tadi saya sudah menghubungi Pak Nicholas, beliau bisa membantu asalkan Mbak Arlyn yang datang sendiri kepadanya,” kata Rina. “Apa kamu sudah memohon atau mencoba cara lain?” tanya Arlyn. “Sudah Mbak, tapi sepertinya beliau hanya ingin membantu jika Anda yang menemuinya,” tegas wanita itu. “Baiklah, sampaikan pada Nicholas, aku akan segera meluangkan waktu untuk menemuinya!” suruh Arlyn. “Baik Mbak, selamat malam,” katanya. “Iya, selamat malam,” jawab Arlyn. Panggilan telefon berakhir. Arlyn meletakkan ponsel. Dia melihat kembali kertas A4 yang berada di samping lemarinya. Akhirnya di memiliki ide untuk mencari tahu. Apa yang sebenarnya perasaan Reymond terhadapnya. Sebelum menikah, terlihat sangat jelas jika Reymond begitu mencintainya. Namun, setelah menikah, semuanya menjadi abu-abu. Perubahan sikapnya, rasa cintanya, sifat kasarnya. Arlyn benar-benar harus mencari tahu semuanya. Arlyn meletakkan kertas itu kembali. Dia berjalan menuju lemari pakaian. Memilih salah satu baju malam yang berderet di lemari bajunya. Ia menyisih kan baju berwarna cerah dan merah, hitam Reymond menyukai warna hitam. Pilihannya tertuju pada lingeri berwarna gelap, dengan model peignoir, panjang menjuntai semata kaki dengan hiasan renda, dan menerawang. Ya! Malam ini Arlyn akan melaksanakan aturan setelah menikah yang diberikan Reymond. ‘Berpakaian seksi di malam hari dan menawarkan untuk melayani terlebih dahulu’. Reymond bisa menunjukkan sifat arogannya dia juga bisa menunjukkan sifat nakalnya! Arlyn mematut di depan kaca, tak lupa memakai parfum kesukaan Reymond. Cklek! Pintu kamar terbuka. Reymond masuk ke kamar, tanpa mengetuk pintu. Ia melihat Arlyn sekilas lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. “Kamu belum tidur?” tanya Reymond kaku. Pria itu duduk di tepi tempat tidur dan bersandar dengan dua bantal. Arlyn tidak menjawab. Kakinya melangkah mendekati Reymond dan berdiri tepat di samping suaminya. “Ada yang ingin aku tanyakan,” kata Arlyn. “Apa?” ucap Reymond pura-pura sibuk dengan layar ponselnya. Aroma Arlyn benar-benar menggelitik hidungnya. Arlyn pura-pura menjatuhkan bolpoin yang ada di laci. Dia berlutut menghadap ke Reymond dengan sengaja. Arlyn bisa menangkap dengan sekilas jika Reymond memperhatikannya. Kemudian, ia berjalan memutar, naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Sang Suami. “Apa kamu mencintaiku?” bisik Arlyn di indra pendengar Reymond sembari menekan area dadanya ke lengan Reymond. Reymond menelan ludah, otak mesumnya mulai liar. Nafasnya mulai berat, Arlyn berhasil menggodanya hanya dengan satu sentuhan. Bersambung. ==❤== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. dreams dejavu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD