06

1902 Words
Part 6. Reymond sengaja tiba di rumah terlebih dahulu Faris mengantarnya dan kembali pulang begitu memastikan bosnya sudah masuk ke dalam rumah. Hari ini, setelah makan siang Reymond terlihat murung, tidak seperti tadi pagi. Wajahnya yang ceria berubah menjadi dingin. Pria itu memutuskan untuk menunggu Sang istri di kamarnya. Sembari tiduran ia bergumam mengutuki Arlyn. Istrinya memang sangat lancang. Berani menemui mantan pacarnya, hanya dalam waktu dua hari setelah pernikahan mereka. "Dasar jalang! Bisa-bisanya kita sudah menikah tapi kau menemui mantanmu itu!" umpat Reymon. Ia menyembunyikan wajahnya di dalam selimut. ** Arlyn duduk di kursi belakang mobil Ferrari warna hitam. Dia sama sekali tidak mendapatkan firasat buruk, sangat yakin tidak akan terjadi apa-apa. Ia percaya, jika dua orang pengawalnya suruhan Reymond, tidak mengenali Nicholas. Ya! Arlyn juga hanya satu kali menceritakan tentang Nicholas kepada Reymond. Namun, jauh dari yang di pikirkannya. Reymond sudah mengetahui tentang Nicholas, lebih banyak lebih detail, dan lebih rinci, mengenai pria itu. “Apa bos kalian menanyakan tentang aku hari ini?” tanya Arlyn. Ia melihat ke arah dua pengawal bergantian. “Tidak Nona, Tuan Reymond sedang sibuk dengan pekerjaannya,” jawab salah satu dari mereka, berbohong. “Baiklah! Apa Dia sudah tiba di rumah?” Arlyn penasaran, hanya saja ia gengsi menanyakan hal itu langsung kepada Reymond. “Nona, apa Anda tidak ingin menanyakan hal itu langsung ke Tuan Reymond! Seharusnya Anda yang lebih tahu, karena seharian kami hanya menjaga dan mengikuti Anda!” jawab pria yang duduk di belakang kemudi, ya tampangnya memang galak dan tidak ekspresif. Arlyn memanyunkan bibirnya, kedua pengawalnya itu hanya tunduk pada Reymond, sedangkan dengannya mereka biasa saja bahkan sering menyangkal. Mobil pun terus berjalan dengan kecepatan sedang, Arlyn mengecek ponselnya dan membalas pesan dari Nicholas kalau dirinya besok akan menemuinya di apartemen. Tentu saja demi mendapatkan surat kabar itu. “Kita sudah sampai Nona,” kata pengawalnya. Ketika mobil sampai di teras. Arlyn bahkan tidak sadar ketika mobil itu memasuki gerbang utama rumah Reymond. “Iya,” sahut Arlyn. Wanita itu turun dari mobil. Desi, pelayan wanita yang dekat dengannya, sudah berdiri di depan pintu. Dia membuka pintu untuk istri majikannya. “Nona Arlyn,” panggil Desi lirih. “Iya, ada apa!” jawab Arlyn. “Tuan Reymond, sudah pulang sejak tadi,” ucapnya memberitahu. “Oh, iya!” jawab Arlyn santai sekali. Sikap Reymond semalam membuatnya yakin suaminya itu tidak akan bersikap kasar lagi seperti saat malam pertama. “Nona, sepertinya Tuan Reymond sedang dalam mood yang buruk, Anda harus berhati-hati jika tidak ingin di menjadi pelampiasan amarahnya!” jelas Desi. Dia tahu betul jika Reymond sedang dalam suasana hati yang buruk. Masalah sekecil apa pun akan di besar-besarkan. Bahkan semua pelayan di rumah itu pernah dimarahi habis-habisan hanya karena terlambat lima detik membuka pintu untuknya. “Tenangkan pikiranmu, jangan terlalu khawatir, aku ini istrinya,” sahut Arlyn percaya diri. Desi hanya mengangguk meski tidak yakin. Arlyn menaiki anak tangga dengan perlahan. Sesampainya di depan pintu, ia menarik nafas perlahan lalu membuangnya dalam-dalam. Cklek! Pintu terbuka dari dalam. Membuat Arlyn memegang dadanya karena kaget. “Dari mana saja, kamu?” tanya Reymond. Dia berdiri di hadapan Arlyn dengan satu tangan bertumpu pada pintu. Pandangan matanya dingin, tajam, dan mematikan. Membuat Arlyn menelan ludah, aura cerianya berubah menjadi gelap. “A-aku dari toko buku, Sayang!” jawabnya dengan nada suara bergetar. Kepalanya menunduk tak berani membalas tatapan suaminya. “Apa kamu lupa ini!” tegas Reymond. Satu tangannya memperlihatkan kertas aturan pernikahan yang di berikannya pada Arlyn. “Tidak, Sayang!” jawab Arlyn masih menunduk. “Lantas kenapa kamu menyepelekannya! Apa kamu tidak ingat atau sengaja menomor dua kan aku! Aku ini suamimu! Kalau kamu masih seperti ini aku tidak akan memberikan izin padamu keluar rumah!” tegas Reymond dengan jari telunjuk, menunjuk ke wajah Arlyn. “Maaf, Sayang aku tidak akan mengulanginya lagi, aku berjanji!” jawab Arlyn ketakutan. “Awas saja kalau besok kamu masih berani terlambat pulang ke rumah!” bentak Reymond. Dia berbalik masuk ke dalam kamar membiarkan Arlyn mengekor di belakangnya. Arlyn menaruh tas dan ponselnya di atas nakas. Dia melepas alas kaki lalu duduk sejenak di sofa panjang yang ada di dalam kamar. “Siapkan air hangat!” titah Reymond pelan, penuh penekanan. “Iya, akan segera aku siapkan!” sahut Arlyn menurut. Wanita itu berjalan ke arah kamar mandi. Memastikan tidak ada kecoak di dalam sana. Kemudian, ia memenuhi bathup dengan air dingin dan air hangat tidak lupa sabun cair aroma mint ia siapkan. Handuk warna putih tulang juga ia tata di gantungan. Setelah itu ia berjalan keluar dari kamar mandi. “Sayang, air hangatnya sudah siap!” ucap Arlyn keluar dari kamar mandi. Tanpa menjawab Reymond beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar mandi. Sebenarnya ia sangat penasaran apa tujuan Arlyn menemui Nicholas, hanya saja dia tidak tahu cara menanyakan hal itu pada Arlyn. Yang ada hanya rasa kesal karena ras ingin tahunya itu. “Tetap di sini! Bantu aku mencuci rambutku!” suruhnya dengan penuh ketegasan yang tidak bisa di tolak. “Iya, Sayang,” jawab Arlyn. Ia berusaha melempar senyuman. Reymond berendam dalam air hangat, busa-busa lembut menutupi tubuhnya. Aroma sabun membuatnya sedikit rileks. Arlyn mulai mencuci rambut Reymond dengan sampo. Dia berusaha meredakan kemarahan Sang Suami dengan memberikan pijatan-pijatan pelan di area kepala. Berharap sang suami tidak marah lagi. “Apa kamu suka, Sayang?” tanya Arlyn. “Iya, aku suka,” jawab Reymond yang merasa keenakan dengan pijatan Arlyn. “Aku akan melakukannya setiap hari,” ucap Arlyn dia sungguh jatuh cinta dengan Reymond membuatnya ingin selalu membahagiakan pria itu. Berbeda dengan Reymond yang akan berusaha untuk selalu menyiksanya. “Berguna juga kamu,” puji Reymond. Arlyn terus memijat selama dua puluh menit, hingga Reymond merasa sangat nyaman dan melupakan kesalahan istrinya. “Cukup, kamu juga harus mandi dan melaksanakan tugasmu selanjutnya!” pinta Reymond. Arlyn mengakhiri kegiatannya dan memberikan handuk untuk suaminya. Kali ini ia melihat Reymond bertelanjang. ‘Sempurna!’ batin Arlyn melihat bentuk tubuh Sang Suami, otot-ototnya menempel sesuai porsi di bagian tubuh yang tepat. Kulitnya yang putih, seperti porselen sangat kontras dengan warna rambutnya yang tebal dan gelap. Arlyn hanya menelan ludah. Reymond keluar dari kamar mandi. Arlyn menutup pintu ia mulai membersihkan diri. Entah mengapa sedikit pujian dari Reymond benar-benar membuatnya merasa bahagia. Dan ucapan terakhir Reymond ‘Melaksanakan tugas selanjutnya?’ mungkinkah malam ini akan menjadi malam pertama untuk mereka? Arlyn tersenyum malu membayangkan hal itu. Arlyn mengakhiri ritual mandinya. Ia segera mengenakan baju malam yang sudah ia siapkan. Dia keluar dari kamar mandi, dengan handuk kering yang melilit rambutnya yang basah. Wanita itu keluar dari kamar mandi, mendapati Sang Suami yang sedang duduk dan bersandar dengan bantal. Selimut ia bentangkan untuk menutupi kaki jenjangnya. “Kemarilah!” suruh Reymond. Arlyn menurut, tanpa ragu merebahkan kepalanya di pangkuan pria itu. Tidak menyangka, pijatannya dapat mengembalikan sikap hangat suaminya. “Kamu belajar memijat dari mana?” tanya Reymond mengusap halus kening istrinya. “Belajar dari buku,” jawab Arlyn jujur. Dua hari ini ia memang membaca buku untuk belajar memijat. “Buku apa? Dari mana?” cerca Reymond. “Apa kamu lupa, kalau aku punya toko buku?” jawab Arlyn. Reymond hanya menyunggingkan bibir tipis. Tidak menyangka Arlyn begitu mencintainya. “Mengapa kamu yakin menikah denganku?” celetuk Reymond. “Karena aku merasa tenang ketika melihat bola matamu, aku tidak menemukan itu di pria mana pun,” jawab Arlyn. “Sungguh?” Reymond memastikan. Arlyn mengiyakan lewat kerlingan matanya. “Sayang,” panggil Arlyn dengan suara menggoda. “Iya,” sahut Reymond dia menatap lurus ke wajah Arlyn. “Apa kita akan melakukannya malam ini?” tanya Arlyn, dia sungguh penasaran. “Maksudmu?” Reymond bertanya balik. “Malam pertama kita!” jawab Arlyn. “Tidak, aku belum bisa melakukannya sebelum semuanya selesai!” kata Reymond. “Apanya yang selesai?” Arlyn mulai tak mengerti. “Tidak, tidak ada!” sanggah Reymond. Jika tidak mengingat rencana balas dendamnya Reymond mungkin sudah melakukannya sejak kemarin, Arlyn adalah bentuk terindah dari semua khayalannya tentang wanita. Namun, Reymond tidak selemah itu, tujuannya untuk menghancurkan Chandra Lesmana dan Arlyn adalah tombak yang ia jadikan alat. Arlyn yang kesal mengganti posisi tidur, memunggungi suaminya. Sudah dua kali ia menawarkan terlebih dahulu, melakukan kewajibannya, tetapi selalu gagal. Membuat rasa dongkol di dalam dadanya karena teramat penasaran dengan hal itu. “Apa kamu marah?” tanya Reymond kaku. Merasa tidak enak hati melihat Arlyn yang tiba-tiba menghindarinya. Arlyn tidak menjawab. Dia diam dan menarik selimut, menutupi tubuhnya. “Apa begini cukup?” tanya Reymond, melingkarkan tangannya di pinggang Arlyn. Arlyn tak menjawab, tetapi bibirnya tersenyum untuk pertama kali Reymond memeluknya. Tubuh mereka saling menempel, begitu dekat hingga tak ada celah. “Lebih erat lagi!” pinta Arlyn lirih. Kali ini Reymond menurut, memeluk istrinya dengan lebih erat. “Pelukan yang nyaman, bolehkah aku meminta sesuatu?” pinta Arlyn. “Iya,” sahut Reymond, tidak menyangka Arlyn akan melupakan kemarahannya begitu saja. “Apapun tujuanmu, apapun alasanmu menikahiku, tolong tetaplah peluk aku seperti ini setiap malam,” permintaan Arlyn jujur dari hati yang terdalam. Rengkuhan lengan kekar Reymond benar-benar menentramkan hati dan membuatnya nyaman. Menurutnya, tidak ada yang lebih hangat dan nyaman kecuali pelukan suaminya. “Sudah diam, jangan berisik! Ini sudah malam kita harus tidur!” suruh Reymond yang sudah mengantuk. Tangannya terulur mendekap sang wanita dengan erat, hingga tubuh mereka dekat, tanpa sekat. Reymond terlelap lebih dulu. Tampak dari suara embusan nafasnya yang teratur. Sedangkan, Arlyn masih senyum-senyum sendiri. Pelukan Reymond membuatnya sangat bahagia. Lampu kamar yang remang tidak mampu menyembunyikan perasaan bahagianya karena tidur dalam pelukan Sang suami. Arlyn pun tidur dalam pelukan Reymond sepanjang malam, tak terjaga sama sekali hingga pagi menjelang. Bahkan, terlalu nyaman tidur dalam pelukan Reymond, membuatnya tak mendengar alarm ponsel. Reymond yang bangun karena suara berisik alarm ponsel Arlyn, meraih ponsel itu lalu mematikan dering alarm yang terlalu keras memekakkan telinga. Namun, saat melihat layar ponsel istrinya ada satu pesan yang mengganggunya. Pesan dari Nicholas. Dengan ibu jari tangan kanannya, Reymond menggeser layar ponsel. Kemudian, membuka pesan dari musuhnya. Nicholas : [Setelah makan siang, aku menunggu di apartemenku. Akan aku berikan apa yang sudah aku janjikan padamu! Datang tepat waktu dan jangan buatku menunggu. ] Reymond mengerjapkan matanya yang belum sepenuhnya sadar. Kembali membaca isi pesan dari Nicholas. Keningnya mengeriput, pesan dari mantan kekasih Arlyn, membuatnya naik pitam. Pandangannya mengarah pada Sang istri yang masih tidur meringkuk. “Dasar murahan!” gumamnya. Arlyn wanita itu sungguh pintar bersandiwara. ‘Lancang Kamu! Tunggu apa yang akan aku lakukan padamu!’ batin Reymond. Kali ini dia sudah tidak akan luluh lagi dengan perhatian dan sikap baik Arlyn. Itu hanya kebohongan. Bodoh sekali jika dia sampai percaya. Reymond kembali menaruh ponsel Arlyn. Dia memiliki rencana kejutan untuk istrinya yang pintar bersandiwara itu. Yang melanggar harus di beri hukuman. Harus! Begitulah peraturannya selama ini. Bersambung. ==❤== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. dreams dejavu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD