Andrian tancap gas dengan emosi yang membuncah. Ia tak langsung pulang ke rumah, ia takut semua amarahnya akan merusak pesta ulang tahun adiknya. Lebih lagi, dia memikirkan nama keluarga besarnya yang akan rusak akibat pertengkaran mereka hanya karena berebut seorang wanita. Mobil Andrian memasuki pelataran sebuah tempat olahraga. Setelah memarkir mobil kesayangannya, ia bergegas memasuki ruang sasana tinju yang terletak di ruangan yang paling ujung dari gedung olahraga itu. Irvan, manajer sekaligus pemilik tempat itu sangat heran mendapati salah satu pelanggan terbaiknya itu sedang bermuram durja. Tanpa menyapanya dan senyum ramah yang selalu tersungging yang selalu menghiasi wajah tampannya. Laki-laki berbadan tegap itu hanya memperhatikan segala gerak gerik Andrian, sampai ia mendapat

