‧͙⁺˚*・༓☾Chapter 5☽༓・*˚⁺‧͙

1725 Words
    Kia sudah melewatkan satu kali latihan paduan suara dalam minggu kemarin. Makanya hari Senin ini, Kia diminta berlatih lebih keras oleh pelatih paduan suaranya.     Sementara Abel sudah selesai berlatih sejak beberapa waktu lalu, Kia masih diminta mengulang-ulang terus nyanyiannya. Ia selalu mendapat koreksi dari pelatihnya.     Hingga jam menunjukkan pukul sembilan malam, latihan paduan suara resmi harus selesai. Kia dan beberapa teman yang senasib dengan Kia akhirnya bisa bernapas lega.     Kia berjalan mendekati Abel dengan tergesa. Ia sudah bisa menduga kalau Abel akan menggerutu karena Kia latihannya lama.     Ya memang sih, dibanding suara Abel, vokal Kia masih banyak kurangnya. Ia juga sebenarnya tidak terlalu minat untuk ikut paduan suara ini. Kia hanya ikut-ikutan Abel saja ketika mendaftar. Eh, tak tahunya, Kia lolos seleksi dan masuk ke tim paduan suara inti.     Namun dugaan Kia soal Abel akan menggerutu nyatanya salah. Abel mendadak tidak banyak bicara. Katanya sih, ia sedang kecapaian makanya enggan bersuara.     Alhasil mereka menuju ke parkiran dalam keadaan saling diam juga. Jarak dari ruang kesenian serba guna menuju parkiran cukup jauh padahal. Keadaan sepi itu terasa semakin mencekam.     Kia melangkah sejajar dengan Abel. Berkali-kali Kia berusaha membaca perubahan sikap Abel. Tapi ya Kia tidak mendapat hasil apa-apa. Dia memang melihat Abel yang lesu dan letih saja.     "Ki," panggil Abel tiba-tiba.     Kia langsung menoleh. Ia bertanya, "Kenapa?"     Tapi bukannya menjawab, Abel justru menggeleng. Cewek itu mengurungkan niatnya untuk bicara.     Kia menghela napas. Ia bingung dengan sikap Abel. Tapi ia juga lelah kalau harus menduga-duga.     Mereka akhirnya tiba di tempat Abel memarkir mobil. Mereka langsung masuk ke dalam mobil itu.     Tak berlama-lama di sana, Abel segera tancap gas. Mereka menyusuri jalanan yang mulai lengang. Hingga beberapa menit kemudian, mobil Abel sudah melaju di jalanan dekat tempat tinggal Kia.     Kia akhirnya tiba juga di rumah. Ia mengucapkan terima kasih pada Abel dan menunggu hingga Abel berlalu.     Kia lantas berjalan menuju ke pintu rumahnya. Sebelum menapakkan kaki di teras rumahnya, Kia berhenti melangkah. Ia menyempatkan diri menoleh ke rumah Ota yang sudah resmi kosong.     Kia menghela napas. Perasaannya kembali campur aduk dan tidak nyaman.     "Ki," panggil Papanya dari ambang pintu. Kebetulan Papanya itu berniat keluar rumah dan justru melihat Kia mematung di halaman.     Kia meringis. Ia malu mendapati Papanya tahu bahwa Kia tengah mengamati rumah tetangganya yang kini kosong itu.     "Masuk, Nak. Kenapa berdiri di situ?" tanya sang Papa.     Kia mengangguk. "Ini juga baru mau masuk, Pa."     Kia mendekati Papanya. Ia mencium tangan sang Papa lalu berjalan masuk ke dalam rumah.     Kia bertemu Mamanya di ruang keluarga. Seperti yang ia lakukan pada Papanya, Kia juga mencium tangan Mamanya. "Ma, aku pulang."     Mamanya menyambut Kia dengan hangat. "Mama udah siapin makan malam. Kamu sekarang bersih-bersih badan dulu. Habis itu kita makan sama-sama ya. Jangan lama-lama mandinya karena jam makan malam sudah sangat lewat."     Kia mengangguk saja. Ia lantas berbalik menuju ke kamarnya. Seperti yang mamanya perintahkan, Kia segera mandi dan berganti pakaian.     Setelah badannya terasa bersih dan segar, Kia keluar dari kamarnya. Ia menuju ruang makan dan bergabung bersama Papa dan Mamanya.     Makan malam berlangsung dengan hangat. Mereka saling bertukar cerita. Kedua orang tua Kia juga berusaha membuat Kia tidak bersedih lagi. ~♥~     Seberes makan malam, Kia mencuci piring dan perlengkapan makan lainnya. Ia membantu meringankan pekerjaan Mamanya. Sementara Mamanya kini sibuk menyimpan makanan yang masih sisa ke dalam kulkas.     Kia baru kembali ke kamar saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Kia hendak naik ke tempat tidur, tapi ia lupa belum menutup gorden di pintu balkonnya.     Kia beranjak ke sana. Saat menutup pintu dengan gorden itu, Kia tentu melihat balkon dan kamar milik rumah di seberang rumahnya. Balkon dan kamar itu kini gelap serta terlihat dingin, menyiratkan tak ada kehidupan di sana.     Tak ingin kembali berlarut dalam kesedihan, Kia cepat-cepat menarik gorden untuk menutup pintu itu. Kia lantas naik ke ranjangnya dan berusaha memejamkan mata. ~♥~     Paginya, Kia kembali ke rutinitas untuk pergi ke kampus. Untung saja hari Selasa ini, Kia tidak ada kelas yang mulainya terlalu pagi. Kelas pertama Kia adalah pukul sepuluh pagi dan dilanjutkan kelas kedua pukul satu siang.     Kia bersiap-siap dengan agak santai. Ia menyempatkan diri untuk sarapan di rumah sebelum pergi ke kampus. Bahkan Abel yang datang lebih awal untuk menjemput Kia itu pun ikut sarapan di rumah Kia.     Setelah menghabiskan sarapan masing-masing, kedua gadis itu langsung tancap gas pergi ke kampus. Kali ini, Abel membiarkan Kia yang menyetir mobilnya. Soalnya Abel tengah kekenyangan dan perutnya terasa begah. Bahkan ia beberapa kali menguap tanda kantuk telah menyerang.     “Ki, ntar kalau udah sampai bilang ya,” pesan Abel. Cewek itu bersandar dengan santai sambil memejamkan mata.     Kia membalas, “Nggak usah lo pesenin juga gue bakal bangunin lo, Bel.”     Abel tidak merespon ucapan Kia lagi. Cewek itu sepertinya sudah jatuh ke dalam tidur. Abel ini memang tipe-tipe orang yang pelor alias nempel bantal langsung molor.     Kia jadi fokus saja menyetir. Ia memperhatikan jalanan yang ia lewati. Namun Kia seolah menyadari sesuatu. Kia mendadak bertanya-tanya di mana lokasi tepatnya Ota mengalami kecelakaan.     Sejauh Kia melaju di jalanan, ia tidak melihat ada bekas-bekas kecelakaan. Padahal katanya Ota kecelakaan saat dalam perjalanan pulang dari tempat nongkrong yang ada di sebelah Fakultas Ilmu Budaya menuju ke rumahnya. Sementara Kia sendiri tahu bahwa jalurnya hanya ini saja.     “Hmm, atau ada jalur lain ya?” gumamnya penasaran.     Tapi kia tak lantas ambil pusing soal itu. Ia juga tidak akan melakukan apa-apa kalau misal ia menemukan TKP kecelakaan Ota. Kia tak mungkin melakukan tabur bunga di sana. Apalagi melakukan hal lain-lain yang belum terpikirkan olehnya.     Sesaat kemudian, Kia menepikan mobil Abel. Mereka sudah tiba. Hanya saja seperti biasa, Kia memarkirkan mobil Abel di luar area pagar fakultas.     Kia membangunkan Abel dengan memanggil nama sobatnya itu dan mengguncang bahunya pelan. Abel tampak tidak mau bangun. Wajar saja, Abel baru terlelap barang lima belas menit. Dia pasti belum tidur dengan puas.     “Bel, buruan ih! Lo mau kita telat kelas?” sentak Kia. Ia sudah panik melihat jam yang menunjukkan bahwa mereka mungkin akan terlambat datang ke kelas.     Abel menguap. Cewek itu masih sempat meregangkan badannya dan menatap Kia dengan wajah ngantuknya. “Udah sampai?” tanya Abel dengan polosnya.     Kia berdecak. “Udah dari tadi. Buruan turun!”     Melihat Abel masih bersantai-santai dan bergerak lambat, Kia memutuskan untuk keluar dari mobil lebih dulu. Ia pun membukakan pintu di sebelah Abel dan menyeret sahabatnya itu turut.     “Gue nggak mau dapet masalah sama dosen ini.” Kia bicara dengan nada ketus.     Abel menggumam. “Iya, iya, gue juga nggak mau kok, Ki.”     “Ya udah, buruan jalannya.” Kia lebih dulu menyeberang jalan menuju ke fakultasnya. Ia lantas menunggu Abel menyusulnya di seberang sana.     Abel pun berlarian kecil menyusul Kia. Karena masih ngantuk dan nyawanya belum terkumpul, Abel jadi menyeberang jalan dengan sembrono. Cewek itu tidak tengok kanan kiri. Nyaris, Abel hampir saja tertabrak motor yang melaju cepat di jalanan itu.     Mendengar klakson dari sang pengendara motor, Abel langsung melemparkan diri ke belakang. Cewek itu terjengkang ke belakang. Dengan begitu, dia selamat.     Abel berteriak-teriak histeris membuat Kia kembali menyeberang jalan dan menghampiri Abel. Kia menenangkan Abel dan mencoba melihat kondisi sahabatnya itu.     “b****g gue sakit banget habis nyium aspal,” keluh Abel.     Kia meringis. Sebenarnya Kia ingin tertawa, tapi ia tak cukup tega. “Terus lo bisa jalan nggak? Berdiri gih,” pinta Kia.     Abel berusaha berdiri dibantu oleh Kia. Cewek itu mengaduh kesakitan. Tapi mau tak mau, ia tetap harus menuju kelas sebelum terlambat.     Kia membantu Abel menyeberang jalan dan berjalan ke kelas. Di sepanjang jalan, tentu Kia dan Abel menjadi pusat perhatian. Apalagi Abel yang terlihat memprihatinkan membuat orang-orang penasaran.     “Gue malu banget diliatin orang-orang,” bisik Abel pada.     Kia berdecak. “Lo pikir gue enggak? Tapi ya mau gimana, lo kan emang beneran lagi kesakitan.”     Abel mengangguk-anggukkan kepala. Cewek itu lantas fokus berjalan saja sambil merasakan sakit di pinggul dan bokongnya. Abel sempat berpikir bahwa mungkin saja ia patah tulang. Tapi semoga tidak, mengingat Abel punya banyak lemak dan daging di tubuhnya yang mampu melindungi tulangnya dari benturan keras. Setidaknya itu yang Abel pikirkan agar tidak terus-terusan berpikir negatif.     “Siapa sih yang naik motor itu? Dia kebut-kebutannya kaya Ota,” ujar Kia tiba-tiba sebelum ia dan Abel masuk ke dalam kelas.     Abel mengernyit. “Ota kan udah nggak ada, Ki. Pasti itu orang lain. Lo pikir cuma Ota aja yang bisa kebut-kebutan? Ota juga bakalan kalah sama pembalap di luaran sana.”     “Ya kan gue juga nggak bilang kalau itu Ota, Bel. Motornya juga beda,” balas Kia. ~♥~     Setelah kelas siang berakhir, Kia dan Abel mampir ke ruang kesenian serba guna untuk mengambil formulir data diri dalam rangka mengikuti lomba menyanyi bersama paduan suara Fakultas Ilmu Budaya. Di sana mereka bertemu dengan pelatih paduan suara juga pembina dari pihak fakultas.     “Karena kalian tim inti, kalian nggak perlu ikut seleksi. Tapi catatan buat Celocia, lo harus mau belajar nyanyi sendiri di luar jadwal latihan paduan suara. Lo bisa latihan sama Abel. Kan kalian teman dekat,” kata si pelatih paduan suara sambil menyerahkan formulir data diri pada Kia dan Abel.     Kia dan Abel kompak mengiakan. Setelah urusan mereka beres, Kia dan Abel pergi meninggalkan ruang kesenian serba guna. Berhubung ini sudah sore, keduanya memutuskan langsung pulang saja ke rumah Kia.     Abel sendiri berniat menghabiskan waktunya sampai malam di rumah Kia. Bahkan mungkin saja ia akan menginap di sana. Tadi mamanya Kia sudah berpesan bahwa Kia akan sendirian di rumah karena orang tuanya harus mengurus keperluan bisnis di luar kota. Abel tentu tak keberatan untuk dimintai tolong menemani Kia.     Kini keduanya sudah berada di mobil Abel. Kalau tadi pagi Kia yang menyetir, sore ini tugas itu dikembalikan pada Abel.     Abel tampak bersemangat membahas film apa yang akan mereka tonton setelah sampai di rumah nanti. Meski ia hanya mendapat respon sekadarnya dari Kia.     “Eh, mampir beli minum sama camilan dulu, yuk!” ajak Abel. Ia bergegas menepikan mobilnya ke sebuah gerai makanan dan minuman yang cukup populer di kalangan anak muda.     Kia menuruti saja. Ia ikut turun dari monil dan memesan minuman yang ia inginkan. Meski begitu, pikiran Kia seolah sedang tidak ada di tempat itu.     Kia ingin menyampaikan sesuatu pada Abel. Namun ia takut akan respon Abel. Jadi Kia masih berusaha menahan-nahan untuk tidak membocorkan hal itu pada Abel.     Setelah menunggu barang lima belas menit, pesanan mereka jadi juga. Mereka kembali ke mobil dan langsung melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Kia. ~♥~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD