Lingerie

1305 Words
“Em, ini nggak seperti kalian pikirkan,” ujar Kayana yang langsung menjauh dari tubuh Barra. “Kalau iya juga nggak apa kok,” sahut Airi matanya ia mainkan begitu genit. Kayana menghela nafasnya, ia merutuki dirinya yang tidak mau hati-hati. Dan menyebabkan kesalahpahaman ini terjadi. Barra tetap diam dengan wajah tanpa ekspresinya menanggapi ocehan kedua wanita paruh baya di depannya. *** Setelah dua minggu melakukan persiapan yang dibantu dengan mommy Airi dan oma Luna. Akhirnya pernikahan itu pun digelar, mengusung tema out door dengan suasana serba putih. Dekorasi yang begitu mewah dan memanjakan mata yang melihatnya, padahal Barra dan Kayana meminta untuk tidak dibuatkan acara yang mewah tapi kedua orang tua itu menginginkan yang meriah jadilah seperti ini. Dengan setelan tuxsedo berwarna putih, Barra menunggu Kayana bergabung bersama untuk mengucapkan ikrar suci itu. “Lama banget sih,” batin Barra yang sudah tidak sabar menunggu. Dari kejauhan ternyata Kayana sudah melangkah mendekat, ia didampingi mommy dan oma. Ketiganya berjalan pelan menuju tempat untuk melangsungkan ijab kabul. Barra diam, matanya tak lepas dari Kayana, ada binar di matanya saat melihat Kayana melangkah mendekatinya. Mata Barra seakan tak bisa berpaling dari wajah cantik Kayana saat ini. Berbalut kebaya putih bertabur swarovski dengan potongan leher sabrina menampilkan leher jenjangnya membuat Kayana tampak seksi. “Barra,” bisik Airi pelan di telinga putranya itu. Tapi suara Airi ternyata tidak mampu membuat Barra sadar. “Sayang!” Panggil Airi lagi pelan, tangan Airi memukul pelan pundak barra. “Ah, iya,” sahut Barra gugup. “Mau dimulai atau mau pandangi Kayana saja?” goda Airi seraya tersenyum. “Lanjutkan pak,” ucapnya pada sang penghulu. Yang akan menikahkan Kayana adalah wali hakim, sang adik satu-satunya yang seharusnya menikahkan dirinya menyerahkan semuanya pada wali hakim karena saat ini ia tidak bisa pulang ke Jakarta. Melalui sambungan video call, sang adik menyerahkan walinya kepada penghulu dan  ikut menyaksikan acara sakelar tersebut. Acara dilanjutkan. Barra mengucapkan ijab kabul dengan begitu baik, hanya sekali tarikan nafas ia sudah berhasil mengucapkannya. Semua yang hadir langsung berseru mengucapkan kata SAH! Airi dan oma Luna langsung berpelukan saat Barra berhasil mengucapkan. Ada perasaan haru dikeduanya, hingga mereka meneteskan air mata. Sang pengantin diberikan sedikit arahan kepada pak penghulu. Setelah itu keduanya kembali mengikuti acara yang sudah dirangkai oleh pihak WO. Acara itu berjalan dengan lancar, tidak banyak tamu undangan yang hadir karena mereka juga hanya mengundang beberapa orang saja dan yang benar-benar dekat dengan keluarga keduanya. Acaranya pun berakhir di sore hari, Barra dan Kayana langsung dibawa ke hotel bintang lima. Para orang tua itu sudah menyiapkan kamar untuk sang pengantin. Kamar dengan tipe presidential suite dilengkapi dengan jacuzzi yang dapat melihat pemandangan kota Jakarta. Barra dan Kayana tampak heran, ini tidak ada dalam kamus rencana mereka. Mereka hanya berencana setelah acara selesai, mereka akan kembali ke rumah dan memulai aktivitas seperti biasa. Namun, mereka malah digiring ke sini. “Oma....” “Mommy....” Keduanya sama-sama memanggil orang tua mereka saat kedua orang itu berhasil memasukkan mereka ke dalam kamar tersebut. Kemudian keduanya dikunci dari luar. “Mommy....” Barra masih mencoba untuk memanggil mommynya. “Buka my, nggak lucu ini,” ucap Barra lagi. Tapi dari luar tidak ada tanggapan.  Barra menghembuskan nafasnya. “Kamu usaha dong jangan diam aja,” tegur Barra. “Percuma, oma juga nggak bakal bukakan pintu,” sahut Kayana. “Sudah biarin aja, nanti juga akan dibuka,” lanjut Kayana. “Saya mandi duluan ya, gerah.” Kayana langsung jalan menuju kamar mereka, saat ia membuka pintu itu lagi-lagi ia dikagetkan dengan suasana di dalam sana. Di dalam sudah banyak taburan bunga mawar merah, di atas tempat tidur kelopak mawar merah itu dibuat berbentuk hati di tengah-tengahnya, kemudian satu tangkai mawar merah berada di atasnya. Tak sampai di situ saja ternyata jacuzzinya juga ditaburi kelopak mawar juga dengan bentuk hati juga. Untuk sesaat Kayana terdiam menikmati pemandangan itu. Kemudian ia membuka pintu dan kembali pada Barra. “Kenapa!” tanya Barra. “Itu,” sahut Kayana sambil menunjuk kamar mereka. Barra langsung melangkah mendekati kamar itu mencari tahu apa yang terjadi di dalam. “Apa-apaan ini!” tanya Barra melihat itu semua. Kayana yang berada di belakang Barra mengangkat kedua bahunya. Kamar itu di hias seperti kamar pengantin sungguhan. Padahal sepasang pengantin ini tidak menginginkan hal itu. “Apaan sih ini mommy,” gumamnya. “Kamu mandi sudah sana,” titah Barra. “Tapi saya nggak bisa lepas ini,” cicit Kayana menunjukkan rambut yang masih tergulung rapi  ke atas. “Boleh minta bantuannya?” tanya Kayana lagi pelan. “Sini,” ucap Dennis dengan ketus. Kayana langsung duduk di depan meja rias. Barra membantu membukakan gulungan rambut Kayana pelan-pelan. “Aw, pelan-pelan sakit tahu,” protes Kayana saat rambutnya sedikit tertarik. “Ini juga sudah pelan, kalau nggak mau ya sudah,” ungkap Barra yang ingin meninggalkan Kayana. “Tolongi dulu,” pinta Kayana lagi. “Diam dan nggak usah protes.” Barra kembali dan mulai menyisir rambut Kayana pelan. Kayana memperhatikan Barra lewat pantulan cermin di depannya. Bibir Kayana melebar melihat Barra yang tampak lucu menyisir rambutnya yang kusut itu. “Sudah,” ucap Barra dingin. “Tunggu, bajunya tolong?” pinta Kayana lagi. “Uuuhhhfftt....” Barra menghela nafasnya, tapi ia pun tak mengindahkan permintaan Kayana. “Jangan coba-coba melihat dalamnya,” ancam Kayana. “Ya, sudah buka aja sendiri.” “Ya nggak bisa lah, bukanya sambil tutup mata kamu,” pinta Kayana. “Nyusahin banget sih,” sahut Barra. Tangannya sudah berada di punggung Kayana ia melepaskan kancing itu perlahan sesuai perintah Kayana ia pun menutup matanya. “Makasih,” ucap Kayana saat kancing itu berhasil di buka. Kayana langsung masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Barra yang masih berdiri di depan meja rias. “Dasar wanita aneh,” gumam Barra. Masih dengan tuxsedonya Barra duduk di sofa yang berada di dalam kamarnya, sofa yang menghadap langsung dengan pemandangan di luar hotel. Berada di lantai paling atas membuat Barra bisa melihat kendaraan lalu-lalang di bawah sana. Lama ia menunggu Kayana keluar dari kamar mandi hingga ia tertidur di sofa itu. “Astaga!” jerit Kayana saat sudah selesai mandi dan melihat isi dalam lemarinya. “Kenapa?” tanya Barra saat mendengar jeritan Kayana. “Kamu sini dan lihat itu?”titah Kayana. “Apa-apaan ini?”tanya Barra. “Lah, aku juga nggak tahu?” sambung Kayana. “Terus kaya mana ini?” tanya Kayana lagi. “Ponsel kamu ada?” Kayana menggeleng,”sama oma,” sahutnya. “Ponsel saya juga sama mommy.” “Ya sudah pakai aja itu.” “Uh,” keluh Kayana. Ia akhirnya memakai salah satu dari dalam sana yang menurutnya cukup tertutup. Kemudian ia kembali lagi ke kamar mandi. “Siapa yang menyiapkan ini semua,” batin Kayana di depan wastafel kamar mandi. Di dalam lemari itu hanya terdapat baju kurang bahan saja, bahkan baju milik Barra juga tidak ada. Hanya ada dalaman saja di dalam lemari itu. Membuat Barra sedikit pusing memikirkannya. “Bagaimana bisa saya nggak pakai baju?” batin Barra kepalanya digeleng-gelengkannya. Sudut mata Barra melihat Kayana yang baru saja keluar dari kamar mandi. Masih menggunakan batrobe, Kayana keluar dan langsung duduk kembali di meja rias. “Kamu, di dalam lama dan nggak ganti juga?” tanya Barra. “Ganti lah, tapi saya nggak mau hanya pakai baju tanpa bahan itu yang ada kamu nanti senang melihatnya,” sahut Kayana sinis. “Ih siapa juga yang mau sama kamu,” balas Barra tak kalah sinis. Brak! Barra masuk kamar mandi dan menutup pintunya dengan kuat. Sambil mengguyur tubuhnya di bawah shower ia memikirkan nasibnya yang tidak memiliki baju. “Yang ada saya bakal masuk angin nih, semalaman tidak pakai baju,” gumam Barra. “Pakai ini aja,” gumam Barra mengambil batrobe untuk melapisi tubuhnya. Barra keluar kamar mandi, langkahnya sejenak terhenti melihat Kayana. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD