Luka Bocah Delapan Tahun

1217 Words
Mbak Salma Part 2 Luka Bocah Delapan Tahun Salma baru berusia delapan tahun kala itu. Harusnya dia hanya berurusan dengan pertengkaran antar bocah atau rebutan bangku duduk di sekolah tetapi sekarang dia dihadapkan pada persoalan pernikahan ibunya juga. Kedatangan Pak Kades ke rumah yang seharusnya hanya meminta tanggung jawab kenakalan Salma yang menanduk kepala anaknya saja sekarang melebar menjadi persoalan gosip orang sekampung. Mereka menyangkutpautkan atas tidak diakuinya Salma oleh Ibunya akibat nakal hingga membuatnya dikesampingkan pada saat hari pernikahan Ibunya. Pak Kades mendapatkan apa yang dimintanya. Maaf dari Salma dan uang ganti rugi pemeriksaan tetapi apa yang didapatkan oleh Salma? Hatinya terluka karena dibohongi, perih dadanya karena mendengar ucapan Pak Kades yang mengatakan bahwa dia sangat tidak berharga sehingga tidak diberitahu oleh Ibunya perihal pernikahannya dengan seorang Kiai, dan dia juga mendapatkan trauma caci maki. Ketika Pak Kades pulang dia mulai mengingat kembali apa yang didengarnya setelah siuman dari pingsan dan itu bukanlah berita bohong semata. Salma mendengar bahwa Simbahnya juga tidak tahu perihal pernikahan ini. Itu membenarkan ucapan masyarakat sekitar yang selama ini didengar Salma bahwa Ibunya melakukan pernikahan itu hanya karena ingin menaikkan status sosialnya Salma tidak berhenti menangis setelahnya. Sebegitu tidak berhargakah dirinya di mata Ibunya? Simbah yang juga terluka karena ini bisa menyikapinya dengan lebih bijak. "Sudah, Nduk. Sudah terjadi. Mau bagaimana lagi?" "Tinggal kita tunggu saja ibumu pulang dan bercerita dari versinya." Mata tua itu menyeka air matanya dengan ujung sapu tangan bercorak batik cap itu, lalu seketika kain sapu tangan menjadi basah karena derasnya air mata. Salma memeluk Simbah, malam itu mereka menangis berdua, perasaan mereka tersakiti begitu dalam. Ini bukan persoalan tidak diundang ke pernikahan tetapi setidaknya Ibunya tidak boleh berbohong. Dua orang yang dilanda kesedihan itu berbaring setelah lelah menunggu kedatangan perempuan yang mereka sayangi, yang telah membohonginya itu. Sambil menarik selimut untuk Salma Simbah sesekali masih terisak. Hatinya begitu perih dibohongi anak sendiri. Ketika tangan tua itu menyentuh rambut Salma, cucunya merasakan kalau suhu tubuh Simbahnya begitu panas. "Simbah sakit?" Salma batal berbaring. Dia terduduk dan menyingkirkan guling beralas guling dengan gambar mickey mouse kesukaannya itu dari dekat Simbah. Kemudian dia memegang lengan Simbah, lanjut ke pipi dan ketika memeluk Simbahnya hawa panas terasa begitu menyengat. "Simbah panas. Salma cari dokter dulu." Tidak menghiraukan protes Simbah Salma berlari keluar kamar sambil menyambar kerudung sekenanya dia lantas berlari ke luar rumah. Tujuannya satu : Rumah Bidan Amiroh. *** Rumah Bidan Amiroh yang berpagar teralis berwarna merah hati itu sudah dikunci. Pukul dua belas malam dan Salwa membuat kegaduhan dengan memukuli pagar itu dengan batu. Sebelah pagar adalah bunga sepatu berwarna merah yang begitu rimbun berbunga dan setiap Salma menggerakkan pagar itu bunga-bunga sepatu itu ikut berjatuhan saking kerasnya Salma menggoyang-goyang pagar. "Bu Bidan. Tolong Salma. Bu Bidan, tolong Simbah. Bu Bidan!" Salma terus berteriak. Akhirnya lampu ruangan depan rumah besar itu menyala. Bunyi suara kunci yang diputar kemudian disusul pintu rumah yang dibuka membuat Salma tersenyum bahagia. "Bu Bidan. Bu Bidan," panggilnya. Sambil mengucek matanya dan membenarkan kerudungnya Bu Bidan menghampiri pagar dan baru mengenali Salma saat sudah dekat. "Nak Salma?" Sambil membuka kunci pagar Bu Bidan menanyai Salma ada apa malam-malam mengganggunya. "Ada apa, Nduk?" "Wis bengi, banget. Sudah malam sekali. Ada apa?" Suara Bu Bidan Amiroh begitu lembut pantas pasiennya begitu banyak karena sikapnya begitu penyabar. "Bu Bidan. Maaf. Simbah saya panas sekali badannya. Bisa tolong periksa?" Bu Bidan celingukan mencari di mana Simbah Salma. "Dia di rumah, Bu Bidan. Tolong Bu, ikut saya." Bu Bidan mengangguk lalu masuk ke dalam dan mengambil peralatan periksa berikut beberapa obat pertolongan pertama. Ada penurun panas, pereda nyeri, juga alat pengukur tekanan darah dan pemeriksa kadar gula. Dengan sigap Salma langsung mengambil tas Bidan dan membawanya. Dia memimpin di depan menunjukkan langkah paling cepat menuju rumahnya. Jalan kecil yang Bu bidan sendiri tidak pernah melewatinya. Semacam lorong rahasia kekinian. Dan, begitu cepat mereka tiba di rumah Salma yang jaraknya beberapa gang itu. Tanpa banyak kata Bu Bidan langsung masuk dan mengekor Salma menuju kamar Simbah. Bidan Amiroh terkejut. Wajah Simbah begitu merah karena panas tinggi, juga pucat. Denyut nadinya juga diperiksa dan lemah. Tubuh Simbah juga lemas. "Kalian seharian ini enggak makan?" Salma menggeleng. Hati begitu luka mana bisa menelan makanan. "Ya Allah. Simbah juga darahnya tinggi sekali." Bu Bidan memeriksa tekanan darah Simbah dan alatnya menunjukkan angka dua ratus. "Pernah riwayat sakit darah tinggi, Mbah?" tanyanya. Simbah diam lalu Salma mendekat. "Mbah nate darah tinggi? Pernah mboten?" Suaranya keras. Simbah mengeleng. "Baru kali ini, Nduk." Atau mungkin Simbah memang tidak biasa memeriksakan diri. Salma tersenyum dan mengatakan kepada Bu Bidan kalau Simbahnya sedikit t u l i. "Tapi, ini tinggi sekali. Panasnya juga." "Kita bawa ke rumah sakit." Salma lemas, lalu jatuh terduduk di dekat ranjang. "Nduk. Nduk." Simbah berkata pelan ke arah Salma, tiada daya. "Salma nurut bu bidan saja." Bocah perempuan itu terisak dan pasrah. ___ Bu Bidan mengajak suaminya untuk mengantarkan Simbah Salma ke rumah sakit terdekat. Sebuah kebaikan yang dicatat oleh Salma dalam buku kecilnya sebagai pengingat bahwa masih ada orang baik yang mau menolong mereka di kala susah. Mobil berjenis city car itu hanya muat beberapa orang saja, dengan kecepatan sedang dan terkendali membawa Simbah agar segera mendapatkan perawatan. Dengan bersandar di sandaran kursi mobil dan dipeluk oleh Salma, Simbah merasa kalau tubuhnya begitu lungkrah dan tidak berdaya. Setelah mengetahui kalau Simbah sedikit t u l i, Bu Bidan bertanya dengan pelan kepada Salma. Perihal Ibunya. "Ibumu di mana, Nduk? Salma?" Air muka Salma berubah, sedikit terkejut lalu seperti menahan amaran tetapi hal itu cuma sebentar, Salma begitu cepat menyembunyikannya. "Entahlah, Bu. Kata Simbah pamit pengajian tapi kata orang-orang dia-" Suara itu terhenti, tidak dilanjutkan. "Kami tidak tahu, Bu." Salma akhirnya memutuskan hal itu sebagai jawaban. Mengetahui ada keengganan di dalam nada suara Salma, Bu Bidan memutuskan diam dan fokus menatap jalanan. Dia juga berjanji akan membantu Salma, bocah perempuan yang begitu malang. Setibanya di rumah sakit Simbah langsung ditangani di ruang IGD. Bidan Amiroh mengatasi semuanya termasuk menjadi penanggung jawab wakil keluarga karena Salma masih kecil dan Ibunya belum bisa dihubungi. Sembari menunggu Simbahnya diperiksa Bu Bidan duduk di samping Salma yang terlihat begitu tegar menghadapi ini semua di saat usianya masih sangat kecil. Bu Bidan menarik Salma untuk mendekat ke sisinya lantas memeluk bahunya dan merapikan kerudungnya. "Kamu kuat sekali, Nduk Salma. Tapi kalau mau menangis, jangan ditahan. Simbah sudah diperiksa lebih lanjut. Insyaallah akan baik-baik saja." Salma mengangguk dan mendengar hal itu dia jadi sedih lalu sedikit menitikkan air mata. "Kata orang anak perempuan itu pasti kuat, Bu Bidan. Juga anak kedua." "Aku anak kedua Ibuku, kakakku meninggal. Dan aku juga anak perempuan jadi, kalau Bu Bidan pernah mendengar kalau aku nakal ya, berarti sekuat itu diriku." Bu Bidan tersenyum geli dengan quotes yang baru saja diucapkan Salma kepadanya. Dia menepuk pundak itu lalu mengangguk-angguk. Ya, anak-anak perempuan yang terjebak dalam kondisi seperti Salma biasanya memang sangat kuat. Karena dengan cara itulah mereka bisa bertahan. Namun, kekuatan dan ketabahan Salma memang benar adanya, teruji oleh waktu, terlebih lagi saat ba'da Subuh kondisi Simbah kian menurun. Dengan hanya bergerak-gerak lisannya seperti berdzikir Simbah mengembuskan napasnya yang terakhir dalam genggaman tangan Salma. Bu Bidan terlelap sebentar karena kecapekan dan baru dibangunkan oleh Salma setelah dia memanggil suster untuk memastikan keadaan Simbah. Air mata memenuhi wajahnya ekspresinya menampilkan kesedihan dan hati yang rapuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD