Malam itu ruang tamu Marsya terasa hangat meski dari luar jendela suara kendaraan kota masih terdengar samar. Lampu gantung berwarna kuning temaram memantulkan cahaya lembut ke meja kaca di depan mereka, tempat dua cangkir teh panas beruap bersama beberapa toples kue.
Marsya duduk di samping Leon, tubuhnya miring sedikit, lalu tanpa ragu ia mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh lembut leher Leon, memberi kecupan hangat yang membuat lelaki itu menahan napas sejenak. Aroma parfumnya berpadu dengan wangi tembakau saat Marsya menyalakan sebatang rokok, mengisapnya perlahan dengan tatapan yang tenang.
Leon tersenyum kecil, lalu ikut menyalakan rokoknya. Mereka merokok berdua, asapnya membentuk kabut tipis yang menari di bawah cahaya lampu. Sesekali tatapan mereka bertemu, lalu pecah dalam senyum yang tak bisa mereka sembunyikan.
Marsya memulai percakapan, suaranya lembut tapi mantap. “Leon, besok kamu ada kuliah nggak?”
Leon menghembuskan asap pelan, lalu menatapnya sambil mengangguk. "Ada, Sya… sampai jam dua belas siang.”
Marsya mencondongkan tubuh sedikit, matanya berbinar. “Berarti… besok kamu bisa gantiin aku di kelas Bahasa dong, jam satu siang?”
Leon terkekeh kecil, lalu memiringkan kepalanya. “Materinya apa? Supaya aku bisa belajar dulu malam ini.”
Marsya menyeringai nakal, matanya menatap Leon penuh percaya diri. "Nggak perlu. Kamu pasti bisa. Aku percaya, kamu itu bahasa Inggrisnya jago banget. Tinggal kamu jelasin ke mereka tentang Present Perfect Tense… pasti mereka paham.”
Leon tertawa, keras tapi hangat. Ia menggeleng sambil menepuk lutut Marsya pelan."Hahaha… aku ini kan mahasiswa jurusan Ekonomi, Sya. Tapi gara-gara kamu, aku malah diangkat jadi asisten dosen Bahasa Inggris.”
Marsya ikut tertawa, tawanya renyah membuat suasana makin hangat. Ia menatap Leon, senyumnya melebar. “Ya karena aku tahu kamu bisa. Dan aku yakin kamu bisa.”
Hening sejenak, hanya suara jam dinding yang terdengar. Lalu Marsya bangkit, meraih tangan Leon dengan senyum penuh arti. “Ayo, kita makan dulu. Aku udah siapin semuanya.”
Leon berdiri mengikuti, matanya menatap punggung Marsya yang melangkah anggun menuju ruang makan. Aroma masakan segera tercium begitu mereka sampai di meja makan. Di atas meja sudah tertata semangkuk besar sayur asam, beberapa lauk sederhana tapi menggoda selera—ayam goreng, tempe mendoan hangat, sambal terasi, dan potongan buah segar yang disajikan dalam wadah kaca.
Marsya menatap Leon dengan ekspresi bangga. “Itu semua aku yang masak, sayang. Kamu harus coba semuanya.”
Leon menatapnya dengan kagum, matanya berbinar. “Sya… kamu nggak cuma pintar ngajarin aku, tapi juga pintar masak juga ya... aku jadi betah."
Marsya tersipu, pipinya merona halus. Ia menuangkan nasi ke piring Leon, tangannya gemetar kecil tapi senyumnya tak pernah pudar. “Aku senang kalau kamu merasa betah di sini.”
Leon menerima piring itu, lalu menyentuh punggung tangan Marsya sejenak. “Aku lebih dari betah, Sya. Aku merasa… pulang.”
Marsya terdiam, matanya bergetar, lalu ia duduk di hadapannya. Mereka mulai makan bersama, diselingi tawa kecil dan tatapan yang tak pernah berhenti saling mencari.
Suasana ruang makan itu penuh dengan kehangatan, bukan hanya dari masakan yang terhidang, tapi juga dari dua hati yang mulai berani saling membuka, perlahan tapi pasti.
---------
Selesai makan, Leon berdiri sambil merapikan piring kotor di meja.
“Aku bantu ya, Sya,” ucapnya sambil tersenyum tulus.
Marsya memandangnya, matanya lembut penuh syukur. “Kamu capek, kan? Biar aku aja.”
Leon menggeleng, lalu membawa piring-piring ke wastafel. “Aku senang bisa bantu. Lagi pula… rasanya senang kalau aku bisa ngelakuin sesuatu buat kamu.”
Marsya hanya tersenyum, memperhatikan punggung Leon yang sibuk membilas piring dengan sabun dan air hangat. Bayangan tubuhnya tercetak di cahaya lampu dapur yang kuning lembut. Ada rasa hangat yang tiba-tiba tumbuh di d**a Marsya, sebuah dorongan yang tak mampu ia tahan lebih lama.
Perlahan, Marsya melangkah mendekat. Dari belakang ia meraih tubuh Leon, melingkarkan tangannya di pinggang pria itu. Kehangatan tubuhnya langsung menempel erat. Leon terhenti sejenak, kaget namun tersenyum kecil.
“Sya… aku masih cuci piring,” ujarnya sambil terkekeh.
Marsya tidak menjawab. Ia justru membalikkan tubuh Leon, membuat lelaki itu kini menghadapnya. Mata mereka bertemu, jarak begitu dekat hingga napas terasa saling bersentuhan. Marsya langsung menempelkan tubuhnya, pelukannya erat, penuh kerinduan yang tertahan.
Tanpa ragu, bibir Marsya mendarat di pipi Leon, turun ke lehernya, lalu naik lagi ke bibir. Leon terdiam sesaat sebelum akhirnya larut dalam ciuman itu. Bibir mereka bertaut lama, dalam, seolah ingin menumpahkan semua rasa yang tak pernah terucap.
Leon tertawa kecil di sela ciuman, tubuhnya bergetar geli saat Marsya menciumi lehernya. "Sya… aku belum selesai cuci piringnya.”
Marsya menatapnya dengan mata berbinar, wajahnya merah merona.
“Sudah, tinggalkan dulu itu. Saat ini aku hanya ingin merasakan bahagia bersamamu.”
Ia kembali mencium Leon, kali ini lebih dalam, lebih panas. Tangannya nakal menelusuri tubuh Leon, membuat pria itu hanya bisa mendesah, tak sanggup melawan arus rasa yang ditawarkan Marsya.
Leon akhirnya meletakkan spons cuci piring, menyerah pada dekapannya. Mereka masih saling berciuman, langkah mereka pelan namun tetap menempel satu sama lain. Marsya menuntunnya menuju kamar, tubuh mereka sesekali beradu dinding, tawa kecil dan desahan terlepas di antara ciuman yang tak berhenti.
Setibanya di depan kamar, Marsya menoleh sejenak ke wajah Leon, tatapannya dalam, penuh api dan cinta yang sama-sama terbakar. Tangannya yang halus meraih gagang pintu, lalu mendorongnya perlahan.
Kamar itu gelap, hanya cahaya temaram dari lampu meja di pojok ruangan yang menyala redup. Aroma jasmin dari pengharum ruangan menyambut, menambah suasana intim. Marsya melangkah mundur sambil tetap merangkul Leon, membawanya masuk.
Dengan gerakan lembut, ia menutup pintu kamar, suara kunci berdecit pelan.
“Sekarang… kamu hanya milikku, Leon,” bisiknya di telinga lelaki itu, membuat jantung Leon berdegup kencang.
Leon menatapnya, matanya berbinar, bibirnya masih basah oleh ciuman tadi. Ia tersenyum kecil, lalu membalas dengan suara lirih penuh rasa. “Dan kamu… satu-satunya alasan aku merasa hidup malam ini.”
Marsya tersenyum, senyum penuh gairah sekaligus cinta, sebelum kembali menautkan bibir mereka dalam ciuman panjang yang tak lagi menyisakan jarak.
Begitu pintu kamar tertutup, hening langsung menyelimuti. Hanya ada suara napas mereka yang saling berkejaran, hangat dan berat. Cahaya lampu meja yang redup menorehkan bayangan lembut di wajah Marsya, membuatnya terlihat semakin menggoda.
Marsya masih memeluk Leon erat, tubuhnya menempel tanpa jarak. Bibirnya kembali mencari bibir Leon, ciumannya dalam, penuh hasrat. Jemarinya bergerak liar, menyusuri punggung Leon, menelusuri lekuk tubuhnya dengan kelembutan sekaligus keberanian.
Leon mendesah pelan, matanya terpejam, menyerah pada arus perasaan yang menyeretnya. Tangannya membelai rambut Marsya, lalu turun ke pipinya, menahan wajah perempuan itu agar tetap dekat. “Sya…” bisiknya lirih di sela ciuman, suaranya parau.
Marsya hanya tersenyum di antara dekapannya. Ia menempelkan keningnya ke kening Leon, matanya berbinar dengan cahaya yang sulit dijelaskan.
“Malam ini, aku nggak mau ada yang memisahkan kita,” ucapnya, nafasnya hangat membelai kulit Leon.
Mereka kembali berciuman, kali ini sambil berjalan perlahan ke arah ranjang. Setiap langkah terasa berat, bukan karena lelah, tapi karena keinginan untuk terus menahan detik-detik ini lebih lama.
Setibanya di tepi ranjang, Marsya mendorong tubuh Leon pelan hingga lelaki itu jatuh duduk di atas kasur. Ia ikut menunduk, meraih wajah Leon, lalu menciumi pipi, dagu, dan lehernya dengan rindu yang tak terbendung.
Leon tertawa kecil, geli tapi juga tenggelam dalam kenikmatan. “Sya… kamu ini nggak kasih aku kesempatan bicara.”
Marsya menatapnya dengan senyum nakal, lalu duduk di pangkuannya, wajahnya begitu dekat hingga Leon bisa merasakan tiap detak jantungnya.
“Karena aku nggak mau dengar alasan. Aku cuma mau dengar napasmu, rasakan tubuhmu, dan tahu kamu benar-benar ada di sini buat aku.”
Leon terdiam. Kata-kata itu menancap dalam, membuatnya tak sanggup menolak lagi. Ia meraih pinggang Marsya, memeluknya erat, lalu membalas dengan ciuman panjang yang membuat tubuh mereka semakin melebur satu sama lain.
Malam itu, di kamar Marsya, waktu seakan berhenti. Yang tersisa hanyalah desah, tawa kecil, dan bisikan penuh rasa di antara ciuman dan pelukan yang tak berkesudahan. Lampu temaram membuat bayangan tubuh mereka menari di dinding, berpadu dengan tawa kecil dan desahan hangat. Marsya masih bersandar di d**a Leon, jari-jarinya bermain-main di kancing kemeja yang setengah terbuka, sementara Leon mengusap lembut rambut Marsya, membiarkan kehangatan itu melebur dalam diam.
Namun, saat tangan Leon meraba meja kecil di samping kasur untuk mengambil rokoknya tanpa sengaja dompetnya jatuh ke lantai. Bunyi “plek” terdengar jelas dalam hening malam. Marsya spontan bangkit dan menoleh, tatapannya mengikuti benda kecil itu yang kini terbuka.
Sebuah foto kecil keluar dari sela-sela dompet—foto seorang gadis manis dengan senyum polos yang menawan. Marsya meraihnya dengan jemari gemetar. Tatapannya membeku, dadanya bergemuruh.
“Ini… siapa, Leon?” suara Marsya lirih, nyaris bergetar, tapi tajam menusuk keheningan.
Leon mengangkat tubuhnya, dia menoleh, matanya langsung membesar melihat foto Cindy—teman kuliah sekaligus pacarnya—berada di tangan Marsya. Wajahnya kaku, seolah darahnya berhenti mengalir.
Marsya menatap lekat-lekat, seakan mencari jawaban yang tak ingin ia dengar. Hawa panas yang tadi begitu manis berubah jadi dingin menusuk.
Leon terdiam, bibirnya kering, dadanya sesak. Malam yang hangat kini menyisakan ketegangan yang menggantung di udara.