Kemarahan Panji

1099 Words
Cintya pun akhirnya pulang karena tak kunjung menemukan Arkhan. Wanita itu benar-benar marah pada Panji. Dia terus mengumpat di dalam mobil.     “Dasar pria yang nggak bisa diandalkan! Kenapa juga aku bisa nikah sama dia! Sial banget nasib aku! Ck!” Cintya memukul setir mobilnya.   Cintya terus melajukan mobilnya sambil sesekali matanya melihat ke luar mobil. Siapa tahu bisa melihat Arkhan. Cintya semakin panik dan kalut, apalagi hari sudah malam. Lalu, dia mendengar benda pipih berlogo apel digigit itu berdering. Dia merogohnya di dalam tas kecilnya sambil matanya fokus menyetir. Cintya tidak tahu siapa yang menghubungi karena tidak melihatnya terlebih dahulu.   “Halo, Sam, ada apa?” Cintya langsung menyebut nama Sam karena dipikir Samuel yang menghubungi.   “Siapa Sam, Ma?” tanya pria dari seberang yang ternyata Panji, suaminya.   Cintya langsung kaget.   “Apa, sih? Bukan siapa-siapa, bukan urusan kamu!” Nada bicara Cintya langsung berubah setelah tahu siapa yang menelepon Cintya.   “Kenapa Mama marah? Kenapa nada bicara Mama beda saat menyebut nama pria tadi?” Panji terus bertanya.   Cintya langsung gugup, dia tak tahu harus bagaimana.   “Berubah gimana, sih, Yah? Udah deh, nggak usah aneh-aneh! Sam itu teman kantor aku, sekaligus sahabat aku,” jawab Cintya dengan sinis.   “Sahabat? Emang ada pria dan wanita bersahabat?” tanya Panji dengan nada sinis.     “Udah deh, Yah, aku capek, habis cari Arkhan juga. Aku nggak yakin kamu bisa nemuin Arkhan, makanya aku bantu kamu. Harusnya kamu berterima kasih karena udah kubantuin! Ini semua, kan, salah kamu, hingga Arkhan bisa hilang!” Cintya mengalihkan pembicaraan sehingga dia bisa menghindari kecurigaan dari Panji.     Terdengar Panji menghela napas dalam. Panji tak bisa berkata-kata lagi. Ya, pria itu memang selalu salah di mata istrinya. Panji tak bisa marah. Ya, karena status Panji yang lebih rendah dari Cintya. Panji mencoba terus bersabar. Pria itu juga berusaha untuk tidak curiga pada Cintya. Siapa tahu pria yang bernama Samuel tadi memang hanya sebatas teman kantor, tidak lebih. Panji masih berharap cinta istrinya hanya untuknya.   “Gimana, Arkhan udah ditemukan?” tanya Cintya lagi dengan sinis, mengagetkan Panji.   “Be-belum, Ma.” Panji menjawabnya dengan gugup.     “Udah kuduga, kamu emang nggak becus! Udah ah, aku capek! Mau pulang! Kamu jangan sampai pulang kalau belum menemukan Arkhan!” bentak Cintya lalu menutup teleponnya sebelum Panji menjawabnya.     Cintya begitu marah. Dia benar-benar kesal. Lalu, ponselnya berdering lagi.     “Ada apa lagi, sih, Yah?! Kan, aku udah bilang cari Arkhan sampai ketemu!” sentak Cintya.     “Eh, kok, marah-marah gitu, sih, entar cantiknya ilang lo.” Suara dari seberang.   Cintya langsung menutup mulutnya setelah mendengar siapa yang menelepon. Ternyata bukan Panji, suaminya.     “Eh, Sam. Sorry, aku pikir tadi Mas Panji. Barusan dia ngabarin kalau belum nemuin Arkhan. Emang nggak becus dia.” Nada suara Cintya kembali manja saat berbicara dengan Samuel.     “Ya udah, nggak usah marah-marah gitu. Ini aku udah di halaman rumah kamu. Nunggu kamu, kukira kamu udah pulang, eh, ternyata masih di jalan. Marah-marah pula.” Samuel terdengar terkekeh.     “Loh, kamu ke rumahku?” tanya Cintya.     “Iya, tadi, kan, aku udah bilang,” kata Samuel.     “Oh, iya, sorry lupa. Ya udah aku otw,” sahut Cintya.   “Aku jemput, ya?” pinta Panji.     “Nggak usah, kan, aku bawa mobil.” Cintya melarang Samuel menjemput.     “Ok, aku tunggu kamu di mobil juga.”     “Kamu masuk aja dulu, kan, ada pembantu di rumah. Nanti pasti dibukain, kok,” ucap Cintya.     “Nggak usah, aku nunggu kamu di luar aja.”     “Ya terserah deh. Ya udah ya aku tutup dulu, mau pulang ini.” Cintya pun mematikan teleponnya setelah berpamitan pada Samuel.   Sungguh sikap Cintya berbanding terbalik pada Samuel. Cintya bisa bersikap lembut pada Samuel, sedang pada Panji selalu kasar dan marah-marah. Tak pernah sekali pun berkata dengan nada lembut.     Cintya pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena ingin segera sampai rumah, kasihan Samuel jika harus menunggu lama.   ***   Di tempat lain, Panji merasa dilema. Dia sudah melajukan motornya ke arah pulang, tapi setelah dapat ancaman dari Cintya tadi, dia merasa gamang. Haruskah dia kembali mencari Arkhan atau pulang saja? Panji menghela napas dalam. Dia sungguh dilema.     Setelah berpikir panjang, Panji pun akhirnya memutuskan pulang. Dia mau istirahat, mencari dalam keadaan lelah dan lapar justru akan menemukan kesulitan. Hari pun sudah malam. Dia tak peduli jika nanti Cintya marah. Toh, sudah biasa dia dimarahi istrinya.   Panji pun melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Ketika sampai di halaman, perasaan Panji semakin tidak karuan. Mobil Cintya sudah terparkir rapi di garasi. Berarti dia sudah pulang. Namun, dahi Panji berkerut, karena dia melihat ada satu mobil lagi di depan garasinya. Panji pun menuntun motornya dengan penuh tanya. Dia memasukkan motornya ke dalam garasi. Setelah memarkir motornya dengan rapi di sebelah mobil Cintya, dia pun keluar. Lalu, Panji membuka pintu dengan perlahan.   Matanya terbelalak karena melihat istrinya sedang bersama pria asing. Tangan mereka berpegangan, terlihat begitu mesra. Lalu, tangan pria itu mulai membelai rambut Cintya dengan begitu lembut. Panji mengepalkan tangannya dengan kuat, matanya merah menyala. Dia melangkah ke arah dua manusia yang tak tahu adab itu dengan napas memburu.     “Jangan sentuh istriku!” sentak Panji sambil menepis tangan Samuel yang hendak mendarat di rambut Cintya.     Samuel dan Cintya pun kaget dan menoleh ke arah Panji bersamaan. Panji langsung menarik kerah kemeja Samuel, hingga Samuel pun berdiri sambil menatap Panji. Tak ada rasa takut sama sekali. Malah Samuel menatap Panji dengan tatapan sinis.     “Oh, jadi ini yang namanya Panji. Kenapa kamu bisa tertarik sama orang kayak gini, sih, Cintya?” tanya Samuel dengan nada sinis.     “Jaga mulut kamu! Ini rumahku! Ngapain kamu di sini bersama dengan istriku!” sentak Panji.     Samuel menepis tangan Panji yang memegang kerah kemejanya.     “Nggak usah marah-marah Bro! Aku ke sini karena kasihan pada istrimu. Dia butuh teman curhat, dia kesepian. Kan, anaknya lagi hilang, eh, ayahnya nggak becus. Nggak bisa nemuin. Terus yang ada bikin Cintya kesal. Jadi, nggak salah dong aku ke sini demi supaya istrimu nggak sedih.” Samuel berkata dengan santai.     “Kurang ajar kamu! Berani-beraninya ganggu istri orang!” Panji pun menghajar Samuel. Samuel tak bisa mengelak. Dia pun membalasnya.     “Sial! Kamu pikir aku takut sama kamu!”     Mereka pun akhirnya terlibat perkelahian.     “Stop! Jangan berkelahi di rumahku!” teriak Cintya.     Cintya lalu melerai Panji dan Samuel.     “Sam, kamu nggak apa-apa? Lihat bibir kamu berdarah.” Cintya terlihat panik saat melihat Samuel terluka. Padahal luka Samuel tak seberapa dibanding luka Panji.     Melihat sikap Cintya yang lebih peduli pada Samuel, membuat hati Panji benar-benar hancur. Harga dirinya merasa direndahkan. Panji sama sekali tak dianggap oleh Cintya. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD