Selalu Disalahkan

1186 Words
Panji hanya merenung akan nasibnya. Setelah dulu Panji bekerja sebagai cleaning servis di salah satu perusahaan, kini dia kembali bekerja di sebuah toko di pasar. Setelah menikah dengan Cintya, Panji diminta mencari pekerjaan yang lebih baik dari seorang cleaning servis. Selain itu, Cintya tak mau kalau Panji bekerja di kantor temannya. Cintya malu kalau ketahuan temannya suaminya seorang cleaning servis.   Panji pun mengalah meninggalkan pekerjaan yang menurutnya lebih baik dari sebelumnya. Panji selalu dituntut untuk segera mendapat pekerjaan yang lebih baik secepatnya. Namun, karena Panji hanya lulusan SMA dan tentu saja sangat susah mencari pekerjaan yang layak di mata Cintya. Akhirnya, terpaksa dia kembali bekerja di sebuah toko di pasar.   Hari ini toko begitu sepi, belum ada pembeli satu pun dari tadi. Panji merenung seorang diri. Pria itu memikirkan nasib rumah tangganya. Entah, akhir-akhir ini dia merasa sangat hambar. Tak ada lagi candaan atau waktu untuk bersama. Cintya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.   “Ma, apa nggak sebaiknya Mama resign dari kerjaan. Jadi bisa mengurus Arkhan dan rumah dengan baik,” ucap Panji pada suatu malam.   “Kalau aku berhenti kerja, siapa yang bakal gaji Bi Inah, Yah? Buat bayar sekolah Arkhan apa? Gaji Ayah mana cukup.”   “Kalau Mama berhenti kerja, kan, nggak perlu membayar gaji pembantu. Mama bisa melakukan pekerjaan rumah semuanya, tanpa terkekang waktu. Mama bebas ngerjakannya kapan aja. Nanti, kan, juga Ayah bantu. Kita saling bantu kerjaan rumah, Ma.”   “Oh, jadi Mama cuma suruh jadi IRT aja? Nggak mau! Sayanglah ijazahku. Rugi waktu dan biaya yang dikeluarkan orang tuaku juga. Kalau Ayah bisa dapat kerja yang lebih bagus dari penjaga toko sembako, barulah Mama berhenti kerja.” Cintya tetap bersikeras dengan pendiriannya. Baginya menjadi wanita karier sudah impian dan cita-citanya dari dulu.   Panji hanya bisa menghela napas mendengar ucapan Cintya. Dia memang keras kepala. Entahlah, kenapa dulu Panji begitu tergila-gila padanya. Kalau saja tahu sikapnya berubah setelah menikah, mungkin tak akan pernah menikahinya.   Astagfirullah … aku tak boleh menyesali takdir ini. Panji berkata dalam hati.   “Hei, Ji! Ngelamun aja.” Adrian tiba-tiba sudah ada di samping Panji.   “Eh, i-iya, ada apa, Ad?” tanya Panji tergagap.   “Halah, kamu ini kenapa? Ngelamun mulu kerjaannya. Ada masalah apa?” tanya Adrian.   “Nggak ada, cuma sedikit pusing aja,” jawab Panji berbohong.   “Eh, mumpung lagi sepi mending kita cari makan dulu. Emang, lu nggak lapar apa?”   “Lapar sih, belum sarapan tadi,” jawab Panji.   “Nggak dibuatin sarapan lagi sama istri lu?” tanya Adrian sambil terkekeh.   Dasar Adrian! Dia tahu saja kalau memang Panji tidak pernah dibuatkan sarapan. Namun, Panji juga tak mau menyalahkan Cintya, istrinya itu wanita karier dan selalu terburu-buru kalau mau berangkat kerja. Toh sudah ada pembantu. Hanya saja Panji merasa tak enak jika harus sarapan di rumah, apalagi kalau Cintya tidak sarapan. Panji lebih baik cari makan di luar dengan uang hasil jerih payahnya sendiri. Panji tak mau selalu diungkit-ungkit oleh Cintya.   Mereka pun melangkah menuju warung. Saat tiba di warung, ternyata sudah ramai pengunjung. Padahal ini masih sekitar jam sebelas, kenapa sudah pada makan siang? Apa mereka juga tidak sarapan di rumah? Panji terkekeh sendiri, ternyata masih banyak temannya.   “Ngapain lu, ketawa sendiri?”   “Siapa juga yang ketawa sendiri? Sok tahu lu, Ad.” Panji menoyor lengan Adrian dengan pelan.   Adrian terkekeh. Adrian memang sahabat Panji sejak SMA hingga sekarang sama-sama menjadi penjaga toko. Mungkin memang mereka ditakdirkan bersama. Bedanya sampai sekarang Adrian masih jones, sedangkan Panji sudah berkeluarga.   Mungkin untuk ukuran pria memang tergolong menikah muda, di usia 25 tahun. Menikah sudah hampir tujuh tahun. Selama ini pernikahan Panji memang tampak baik-baik saja dari luar. Namun, di dalamnya siapa yang tahu. Hanya Panji yang tahu, membosankan. Istri yang tak pernah peduli dan tak menghargai sebagai seorang suami. Kalau saja bukan karena Arkhan dan kasihan pada orang tua, mungkin sudah bercerai dari dulu.   “Hei, cepat makan tuh nasi goreng, keburu dimakan laler tuh. Pria kok suka ngelamun aja. Gue yang jones aja, nggak pernah tuh ngelamun!” ketus Adrian.   Panji tersentak kaget. Memang akhir-akhir ini Panji selalu saja melamun. Semua ini gara-gara Cintya. Dia sumber masalah. Panji pun segera melahap nasi goreng yang sudah mulai dingin. Lumayan perutnya sudah tidak melilit lagi.   Selesai makan mereka pun kembali ke dalam toko. Tak lama kemudian datanglah seorang pembeli. Adrian melayaninya, sedang Panji menata barang dagangan yang masih berserakan.   Tanpa sadar hari sudah semakin sore, Panji pun bersiap-siap hendak pulang. Sementara Adrian pulang nanti agak malam. Menunggu pemilik toko datang.   “Gue, cabut dulu, ya,” ucapku sambil lalu.   “Ok, hati-hati di jalan. Jangan ngebut, Ji, ingat anak istri.” Adrian terkekeh.   Mata Panji melotot menatap Adrian. Selalu meledek seperti itu. Bukannya minta maaf dia malah semakin lebar tertawanya. Tanpa memedulikan Adrian, Panji segera melangkah menuju tempat parkir. Lalu memacu sepeda motor dan melesat meninggalkan area pertokoan.   ***   Panji pun akhirnya sampai di rumah. Namun, dia disambut dengan berita yang tidak enak yang membuatnya sangat bingung.   “Pak, Mas Arkhan belum pulang.” Bi Inah tampak panik sbingung   “Apa? Kok bisa, Bi? Bi Inah nggak jemput tadi?” tanya Panji dengan sedikit membentak. Panji sedikit kesal, dia sudah lelah baru sampai rumah, mendapat kabar yang tidak mengenakkan. Belum lagi nanti dia kena marah Cintya. Panji tampak frustrasi sekali.   “Ma-maaf, Pak. Tadi Bibi ketiduran … bangun jam setengah sebelas. Langsung ke sekolah Mas Arkhan, tapi sudah nggak ada.”   Panji mengacak rambut kasar. Kenapa semua ini bisa terjadi? Pikiran Panji semakin kacau. Baru pulang masih letih, langsung menerima kabar yang tidak mengenakkan. Inilah salah satu alasan Panji ingin sekali Cintya berhenti kerja. Tanpa berpikir panjang Panji segera menelepon Cintya.   “Halo, Ma, Arkhan belum pulang,” ucap Panji ketika telepon telah tersambung.   “Kok, bisa sih, Yah? Memangnya tadi nggak dijemput?”   “Ayah tadi sudah pesen sama Bi Inah untuk jemput. Ternyata dia lupa.”   “Kenapa nggak Ayah aja yang jemput?”   “Nggak mungkin, kan Ayah izin terus hanya untuk menjemput Arkhan. Harusnya, kan, ini bukan hanya tugas Ayah, tapi tugas Mama juga!”   “Ya itu udah tugas Ayah. Lagian cuma kerja di toko, masak iya nggak bisa izin sebentar! Iya kalau Mama, mana bisa izin seenaknya!”   Panji hanya menarik napas dalam mendengar kata-kata Cintya. Ingin menjawab, tetapi Panji malas berdebat.   “Pokoknya Mama nggak mau tahu, kalau sampai Arkhan nggak ditemukan, Ayah harus tanggung akibatnya!”   “Ini semua salah Mama! Kalau nggak mentingin kerjaan, Arkhan nggak bakal hilang!”   “Kalau Mama nggak kerja, kita bisa mati kelaparan!”   “Ayah, kan, sudah kerja!”   “Memang gaji Ayah cukup untuk menghidupi keluarga kita? Nggak, kan? Kalau Mama nggak kerja, kita bakal tetep tinggal di kontrakan kecil!” Sambungan telepon akhirnya terputus.   “Halo! Halo!”   “Ck. Sial! Kenapa selalu aku yang disalahkan?” Panji menggaruk kepala yang tidak gatal. Dia merasa frustrasi sekali. Punya istri kenapa tidak pernah menghargainya sama sekali?   “Aku harus mencari Arkhan ke mana?” Panji bermonolog.   Jantung Panji berdegup kencang. Apalagi sebentar lagi senja. Panji semakin khawatir dengan Arkhan. Apalagi sekarang ramai berita soal penculikan anak.   Tuhan, jagalah anakku, batin Panji. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD