Sabina turun dari mobil yang dibawa Victor. Dia yang terakhir di antar karena rumahnya cukup dekat dengan lokasi apartemen Vernon. Cewek itu mengangguk kaku. “Terima kasih banyak, kak,” ucapnya kikuk.
Victor membuka jendela mobil, menarik kacamata hitam dari matanya. “Saya harap kamu betah jadi teman dia.”
Sabina melirik bangku penumpang, di mana adik Victor sudah terlelap di sana dalam posisi duduk dan mulut terbuka. Terdapat sobekan di sisi bibirnya berkat tonjokan dari si Kakak. “Dia sombong banget anaknya, kak.”
“Setidaknya aku yakin dia pintar memilih teman.” Victor kembali memakai kacamatanya, menutup jendela lalu pergi.
“Wuiiiih, mobilnyaaaa!” Sabina langsung berbalik kaget, mendapati pria empat puluhan dalam balutan kemeja lengan pendek motif tutul dan celana hitam panjang cut bray. Badannya cukup kekar juga gemuk. Rambutnya tipis, baru tumbuh sedikit setelah di botak. Cewek itu mendecak dalam hati.
Pria itu tertawa, merangkul Sabina, dengan sengaja meniupkan asap rokok dari mulutnya ke wajah cewek itu. Sabina menutup mata sambil berpaling, dia tak bisa melawan. “Cepet ganti baju. Ada orang yang mau gue tagih.”
Sabina melepaskan diri dengan kasar. Rentenir sekaligus preman itu tergelak dengan suara mirip orang asma. “Temennya pake selimut emas, dia pake selimut tetangga. “Dia tergelak dengan ucapan sendiri. “Salah dewek, sekolah di sana bikin makan ati.”
Cewek itu melempar tasnya ke ujung kamarnya yang sempit. Kontrakannya memang hanya sepetak, temboknya tidak dibalut cat, bahkan langit-langit ruangannya tidak dibatasi tripleks. Dia sendiri nyaman tinggal di sana asal tidak tidur di bawah hujan di pinggir jalan.
Matanya menatap satu-satunya meja rendah yang jadi penghias kamarnya selain kasur busa di pojok. Seenggaknya dengan nonjok orang gue bisa makan. Dia berganti memakai jaket dan jeans hitam yang robek sedikit di pahanya. Cewek itu melepas kepangan rambut, menguncirnya ke atas, model ekor kuda. Tak lupa ia menghias matanya dengan sedikit goresan garis hitam dan sapuan warna di ujung mata. Terakhir dia memakai masker hitam.
Rentenir yang menunggu di depan kontrakan b****k Sabina kembali tertawa jahil melihat cewek itu keluar dari sana. “Nyamarnya niat amat, geulis.” Dia mengulurkan tangan merangkul Sabina, tapi langsung dikibas cewek itu.
“Oke, oke, oke. Jangan ngambek gituu doong, kan ntar gue bagi duit. Lo lakuin tugas aja,” ujar si Rentenir.
“Mana si jurik?” tanya Sabina soal anak buah rentenir yang lain.
“Ya ngurusin utang juga. Lo tau sendiri yang ngutang sama gue bukan bapak lo doang. Dia sama si Momon, sama Dudung nagih ke toko emas. ”
Rumah orang yang hendak rentenir itu tagih ditempuh dua puluh lima menit dengan berjalan kaki. Sampai di rumah modern sederhana tanpa pagar, rentenir itu mengetuk pintu rumah.
Si pemilik rumah membuka pintu, raut mukanya langsung menegang menatap senyum lebar si rentenir. “Udah tenggat waktunya, kan?”
Pak pemilik rumah mengintip ke dalam, lalu dengan kikuk berjalan keluar, menutup pintu kayu rumahnya. Seketika dia berlutut ke si rentenir. “Tolong, bang! Duitnya belom ada soalnya kepake buat sekolah anak saya, bang!! Tolong sebulan lagi! Sumpah bang!” raungnya dengan parau.
Rentenir itu menikmati sensasi itu. Orang yang berlutut padanya membuat dia girang, tapi kebijakan tetaplah kebijakan. “Neng, hajar.”
Pak pemilik rumah berhenti bersujud. Dia duduk menatap si rentenir dengan wajah memohon. Sabina tertegun. “Dia bilang buat bayaran anaknya—“ gumam cewek itu.
Si rentenir melotot, matanya mengirimkan ancaman langsung ke Sabina. Ya, Sabina tau apa yang akan menimpanya kalau dia tak menurut. Ayah gue bakal dibunuh.
Cewek itu menendang badan bapak yang berhutang, membuat tubuh besar pria itu berguling ke belakang, menabrak pot tanaman di ujung teras depan. Tak berhenti sampai di situ, Sabina menarik kerah bajunya, menonjokinya berkali-kali sampai si rentenir puas.
❣️♥️♥️♥️♥️❣️
Nova membeku di depan rumahnya di kamis pagi. Dia menatap Om Taka—ayah Audrey—yang menunggunya. “Yuk, Nak Nova, berangkat bareng.”
Audrey yang terlihat dari jendela mobil menatap Nova dengan dendam. Raut wajahnya berubah ceria begitu papinya melirik. “Audrey mau kan duduk sama Nova?”
“Mau, dong. Audrey kan mau ngobrol juga sama dia,” katanya yang terlihat antusias. Nova mengerjap ngeri. Sebenernya tu cewek benci apa kagak sih sama gue? Kok muka sama omongannya beda jalur gitu.
Ibu Nova keluar dari rumah, langsung sadar kalau anaknya dalam situasi urgent. Dia memutar otak. “Saya boleh sekalian numpang ke depan?”
Om Taka mengangguk. “Monggo, Gina,” balasnya terkekeh ramah.
Wanita itu mengerjap, meraih kedua pundak putranya lalu bergumam pelan. “Mama duduk di tengah kalian, tenang aja.”
Nova mengangguk lega. Nova pun duduk di jendela kiri mobil, sedangkan Audrey merapat ke jendela kanan mobil. Selagi mereka berangkat, Bu Gina mengobrol dengan Audrey. Nova mengintip sekali-kali. Apa Audrey yang ngelabrak gue kemaren itu orang yang beda? Ah, masa.
Sampai di depan sekolah, mereka berdua turun. Audrey mengecup kedua pipi papinya dan memeluk ramah Bu Gina. “Babay, papiii, Tante Ginaaa!”
“Salam buat temen temen kamu ya, Sayang,” ucap Papinya yang kemudian pamit.
Wajah cerah Audrey langsung berubah menjadi muram begitu dia berpaling ke Nova lalu berdecak kasar pada cowok itu. “Najis.”
Nova bergidik, seluruh bulu di tubuhnya merinding. “Amit-amiit, ya tuhaan, kenapa gue bisa ketemu sama makhluk jadi jadian kek gitu ....”
❣️♥️♥️♥️♥️❣️
Cecilia memangku dagu di tempat duduknya yang berada di tengah kelas. Matanya tak lepas dari punggung besar Vernon yang duduk di barisan keempat paling depan, bahkan dia sejak tadi menyengir girang.
Mathan yang baru datang, bergidik ngeri melirik Cecil, lalu dengan jahil menepuk kening cewek itu. Cewek itu mengaduh. “Sompret! Pagi-pagi ngajak gelud, lo?!”
“Gue kira lo kesambet, jadi tadi gue cek,” balas Mathan sambil menyengir dan duduk di sebelahnya. Dia melirik arah tatapan Cecil. “Pantes, lagi liatin si bule.”
Cecil nyengir lagi dengan tengil. “Gila sih gue, padahal kita sekelas tapi gue baru sadar ada permata di kelas ini.”
Mathan menyisir rambutnya ke belakang. “Lo baru sadar gue seindah permata?”
Cewek modis itu melotot galak. “Ye, Cekiber, maksud gue tuh Vernon!”
Vernon menoleh ke belakang karena terpanggil. Cecil tersentak, langsung melayangkan lambaian pelan dan suaranya menjadi lembut. “H-hai, Theo.”
Cowok Spanyol itu menarik senyum miring dan kembali berpaling ke Hpnya. Cecil menutup mulut tak percaya sambil memukul lengan Mathan. “Dia senyum ke gue!” pekiknya sambil ditahan.
Matt mengaduh, menangkis tangan Cecil yang nakal. “Iya, iya! Sakit, mak lampir!”
“Oh iya, kemaren gue denger si Nova kumat lagi ayannya.”
Kali ini Matt yang melotot galak. “Trauma, O’on.”
Cecil tak takut, hanya berceloteh pelan sambil bersedekap dan melipat kaki. “Dasar, nyusahin aja. Udah tau kagak bisa di sini.”
“Halah, lo ngomong cuek gitu padahal lo khawatir, kan?” balas Matt sambil menyipit.
Cewek dengan rambut lembut ala salon itu merotasikan mata. “Nggak, sih. Eh iya, ntar kita udah mulai masuk Klub Kariernya. Lo milih apaan dah waktu itu?”
“Klub Seni. Gue ambil Akting.”
Cecil mengangguk pelan. “Iya sih, buaya kaya lo emang pantes di situ.”
“Njir, gue gini gini setia,” protes Matt.
“Haaaaaaalah!” raung Cecil tak peduli.