Dari kediaman mewah Ervan, sampai bandara, hanya memerlukan waktu sekitar 50 menit, di temani oleh cecaran Reva selama perjalanan itu.
Bagaimana tidak, mereka pergi berlibur tapi sama sekali tidak membawa apa-apa. Hanya membawa diri, pakaian yang saat ini mereka pakai, dan ponsel yang 24/7 tak pernah lepas dari tangan kecuali sedang tidur. Ke kamar mandi pun, kadang tak lepas dari adanya sosok benda pipih persegi yang canggih itu.
Wajah cemberut gadis itu tidak lepas dari wajahnya. Untung saja tadi sebelum keluar dari mobil, Ervan sempat memberikan masker pada Reva. Kalau tidak, orabg-orang yang berkeliaran di bandara sana akan mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Reva. Dan Ervan tidak mau itu terjadi. Hanya dia yang boleh memperhatikan Reva.
"Masa liburan gak ada baju!" ketus Reva yang berjalan ogah-ogahan di belakang Ervan, dengan tangannya yang tertaut dengan Ervan.
"Nanti kita ambil di butik," jawab Ervan santai.
"Aku kan tadi mau bawa kamera!"
"Nanti aku beliin yang baru."
"Aku cuma pake sendal, Ervan!"
"Toko sepatu di Belanda ada banyak, Reva ...."
"Ntar di pesawat pasti lama. Pasti bosen. Aku mau dengerin musik! mau nonton juga!"
"Di pesawat ada tv, ada headphone, earphone, ada laptop juga. Kamu tinggal pilih."
Reva semakin mencebik kesal. Ada saja jawaban santai tanpa beban yang Ervan berikan padanya. Ervan sudah seperti pemilik semua toko yang ada di Belanda.
Karena terlalu fokus pada rasa kesal, juga sibuk memaki Ervan dalam hati, Reva sampai tidak sadar kini mereka berjalan di lapangan terbang para pesawat.
Toleh kiri toleh kanan, ini luas sekali. Reva otomatis menahan pergelangan tangan Ervan membuat pemuda itu berhenti dan berbalik, menatap Reva heran.
"Ini kamu ke mana? Kamu nyasar ya? Astaga, balik lagi. Tempat check in di sana, Ervan ...," gumam Reva berbisik pada Ervan.
Dirinya malu dengan banyaknya orang-orang berpakaian rapi dengan satu earpiece menyumbat telinga. Ada beberapa pria tampan nan tinggi memakai seragam khas pilot, juga para wanita cantik berseragam khas pramugari.
Selagi Reva sibuk menatap orang-orang itu, Ervan dengan segera memegang ke dua bahu Reva membawa atensi gadis itu kembali padanya.
Si dokter tampan tersenyum.
"Kita pakai yang itu," ucap Ervan membawa tunjuknya luruh pada jalanan yang tadi hendak mereka lewati.
Mata Reva mengikuti. Hingga tatapannya buntu karena terhalang sebuah jet pribadi. Sudah siap, lengkap dengan bentangan karpet merah---
Kenapa dia baru sadar kalau mereka berdiri di atas karpet merah?!
Bukannya menyadari maksud Ervan, Reva malah melotot terkejut dan buru-buru menarik tangan Ervan keluar dari jalan itu, keluar dari bentangan karpet merah itu.
"Ini pasti ada orang penting yang mau pergi, Ervan. Atau jangan-jangan presiden lagi! Cepet pergi sebelum kita di usir, Ervan!" Panik Reva.
Ervan melongo mendengarnya. Gadis ini tidak juga mengerti apa maksudnya.
Menahan pergerakan Reva dan menggenggam ke dua tangan Reva.
"Hey, tenang. Gak ada yang bakal ngusir kita, Reva," ucapnya membuat Reva menatapnya.
"Kita yang bakal naik jet itu. Aku yang ngatur semua ini. Jadi kamu gak usah panik, oke?"
Reva terdiam. Menatap dalam pada mata Ervan yang memancarkan kejujuran di sana.
"Ayo."
Ervan menggenggam tangan kanan Reva dan menarik lembut gadis itu, berjalan menuju jet pribadi yang sudah menunggu mereka di sana.
Lain kali, Reva benar-benar tidak akan mengatakan apapun pada Ervan tentang liburan.
*****
"Mereka sudah berangkat, Bos," ucap pemuda itu pada orang yang dia panggil bos di seberang sana.
"Hm. Kau boleh pergi dari sana," jawab si bos langsung memutus sambungannya.
Pemuda yang tadi di panggil bos menyimpan kembali ponselnya di saku celana. Tatapannya menatap malas pada seorang pemuda yang terbaring lemah di atas kasur besar itu, lengkap dengan peralatan medis.
Mendecih kasar setelahnya, lalu berjalan ke luar dari ruangan itu.
"Menyusahkan!" sinisnya.
Keluar dari ruangan itu, menoleh sebentar pada anak buahnya yang berjaga di depan ruangan itu.
"Awasi dia. Dokter itu juga harus terus di sini sampai dia benar-benar sembuh," ucapnya terus berjalan menuruni tangga.
"Siap, Bos!" jawab ke dua anak buahnya tegas.
*****
"Mereka baru saja berangkat, Tuan," ucap seorang pemuda pada pria di depan sana yang di panggil tuan.
Si tuan mengangguk-angguk pelan.
"Pantau terus mereka,"
Terdapat sedikit jeda di sana. Matanya melirik sebuah foto yang melekat di dinding, lalu tersenyum miring.
"Hanya pantau saja untuk saat ini, biarkan mereka bersenang dulu," lanjutnya.
"Baik, Tuan," jawab pemuda itu membukuk pelan lalu pergi dari hadapan si tuan.
"Bukankah saya orang yang baik?"
Tanyannya masih menatap foto tersebut.
"Setidaknya saya masih membiarkan kalian menikmati masa-masa bahagia. Yaa, anggap saja itu sebagai kenangan," ucapnya lagi kemudian tertawa penuh kemenangan.
*****
Semuanya. Total semuanya. Apa yang Ervan sebut di bandara tadi, semuanya menjadi nyata saat mereka tiba di Belanda.
Di sini sudah malam. Namun pemandangan kota semakin menarik di mata ke dua sejoli itu.
Saat si jet pribadi mendarat di lapangan penerbangan di salah satu bandara di Belanda, mereka sudah di sambut oleh sebuah mobil sport yang katanya, itu adalah milik si dokter tampan.
Dan tebak, apa lagi yang membuat Reva semakin terkejut? Si tampan membawanya ke sebuah apartment, yang setelah dia search di internet, itu adalah apartment paling mewah dan mahal yang ada di sana. Dan Ervan memiliki satu unit di sana.
Sebenarnya, Reva harusnya sudah tidak terkejut lagi dengan kejutan-kejutan yang Ervan berikan. Dari awal, rekan-rekannya sudah memberitahu kalau Ervan bukanlah orang sembarangan. Tapi dengan bodohnya dia tidak mau peduli. Dan sekarang, dia terkena karma. Dirinya di buat terkejut dan melongo hampir setiap saat oleh dokter tampan ini.
"Ternyata es krim di Belanda enak-enak," ucap Reva sibuk menyendokkan es krim perisa matcha dengan berbagai toping itu ke dalam mulutnya.
Liburan kali ini sepertinya memang keberuntungan untuk gadis itu. Di pusat kota, kini sedang diadakan pekan raya tahunan. Mereka juga tidak terlalu mengerti tentang hal itu, yang jelas di sana sudah tentu ada banyak berbagai jenis makanan yang membuat Reva tergiur. Apalagi sambil di hibur oleh berbagai penampilan menarik dan juga atraksi-atraksi yang menyenangkan.
"Kau senang?" tanya Ervan menataonya dari samping.
Gadis itu mengangguk semangat dengan mulut yang belepotan karena es krim.
"Tentu aja. Ini duniamu," ucap Ervan sedikit mencibir sambil membersihkan mulut gadis itu dengan tissue yang tadi sempat dia beli.
Iya, harus menyiadakan banyak stok. Gadis ini jika bertemu dengan stand makanan, apalagi disatukan di satu tempat dengan stand yang berbeda, mulut bahkan sampai pipinya tidak akan pernah berhenti untuk kotor. Jadi dengan sabar, Ervan akan selalu membersihkan noda tersebut.
"Habis ini pipi kamu bakal makin berisi, lemak di perut kamu numpuk, gk takut?" tanya Ervan menakut-nakuti.
Tak ada alasan lain, hanya ingin gadis ini berhenti makan untuk malam ini.
Dia sudah terlalu banyak makan sedari tadi, kebanyakan makanan yang manis-manis meski sesekali juga makanan pedas, tapi ini sudah malam, itu juga tidak baik untuk tubuhnya.
"Nggak, tinggal olahraga ntar," jawab Reva enteng, kembali pada cup es krimnya.
Alis mata Ervan bertaut, tampak tak menerima ucapan itu.
"Olahraga? Jalan dari lantai bawah ke kamar aja, kamu sering ngeluh," cibirnya tidak di tanggapi oleh lawan bicaranya itu.
Mereka akhirnya hanya diam. Hingga Ervan lihat es krim milik gadis di depannya ini sudah habis.
"Udah? Pulang, ya? Ini udah larut. Kamu harus istirahat. Gak mau jalan-jalan besok pagi?" tanya Ervan di sambut anggukan lesu dari Reva.
Padahal dia masih ingin berkeliling di sini.
"Besok masih bisa kok. Ayo pulang," ucapnya menarik tangan Reva untuk berdiri.
Dia hanya tidak ingin gadisnya sakit, itu saja.
*****