“Hai Sher, sepertinya kita satu pesawat,” sapa Zayn ketika gadis itu berada di hadapannya. Sementara Sherry hanya terdiam, mematung di depan Zayn. “Kamu sengaja duduk di sebelahku?” tuding Sherry. Ya, mereka satu pesawat dan kebetulan juga duduk bersebelahan. Selama hampir dua puluh jam ke depan mereka akan bersama. “Ini namanya takdir, Sher.” ucap Zayn santai. Sherry lalu mendaratkan badannya pada kursi sesuai nomor tiketnya. Zayn hanya memandanginya tanpa bersuara. “Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?” Sherry melirik ke arah Zayn. “Kamu apa kabar?” Zayn menanyakan hal sepele yang mungkin tidak membuat Sherry risih. “Aku baik. Kamu apa kabar?” Sherry membalas pertanyaan Zayn. “Kabarku baik. Hanya saja sedikit capek karena pekerjaan. Aku harus bolak-balik Indonesia ke Jepang untuk men

