THOMAS POV
Hari ini Brenda mengajak ku untuk bertemu dan aku menyuruhnya untuk datang ke rumah ku. Saat itu ia datang ke rumah dengan penampilan yang sangat berbeda.
Kali ini ia memotong rambutnya dan ia tampak terlihat lebih cantik. Entah kenapa aku suka melihat penampilan barunya dan saat itu Sharon terlihat kesal saat aku menatap Brenda.
Waktu itu aku mempersilahkan Brenda untuk duduk di ruang tamu dan aku menyuruh Sharon untuk membuatkan minuman.
" Aku datang kesini ingin membahas tentang Felix." Kata Brenda sambil mengungkapkan maksud tujuannya padaku.
" Apa yang ingin kau ceritakan padaku?" Tanyaku sambil memandang nya.
Saat itu Brenda memberitahu ku jika ia sudah berusaha membujuk Felix untuk pulang ke rumah tetapi Felix tetap tidak mau pulang.
Felix tidak memberitahu Brenda alasan ia tidak mau kembali ke rumah tetapi yang jelas saat itu Brenda tidak ingin memaksa Felix jika ia tidak mau.
Rasanya saat itu aku sangat sedih mendengar hal itu tetapi aku tidak bisa berbuat apapun. Mungkin aku harus menerima kenyataan jika ia Felix tidak mau pulang ke rumah.
***
Tidak beberapa lama Brenda berpamitan padaku dan rasanya saat itu aku mulai berpikir jika banyak kekurangan dariku sebagai seorang ayah.
Waktu itu Sharon duduk di samping ku dan ia berusaha menenangkan ku. Aku tau tidak mudah menerima kenyataan ini tetapi Felix sudah dewasa dan bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara mobil di depan rumah dan Sharon berpamitan padaku jika ia selama beberapa hari ke luar kota bersama teman - temannya.
" Aku pergi dulu. Mungkin Minggu depan aku pulang ke rumah." Kata Sharon sambil membawa kopernya ke luar rumah.
" Hati - hati di jalan." Kataku sambil mengantarnya ke depan rumah.
Saat itu teman - teman Sharon menebar pesona padaku tetapi aku tidak menghiraukan mereka dan lebih memilih masuk ke dalam rumah.
Aku tidak mengerti alasan Sharon berteman dengan mereka karena sejujurnya aku tidak suka dengan tabiat mereka yang suka memamerkan harta.
***
Tiba - tiba aku terbangun ketika mendengar ponselku berbunyi. Lalu aku mengangkat telfon dan ternyata Ben yang menghubungiku.
Ia memberitahu jika besok acara peresmian kantor baru dan semuanya sudah beres untuk persiapan besok pagi. Aku tau Ben bisa di andalkan dalam urusan apapun.
Waktu itu aku mengajak Ben untuk bertemu karena aku ingin membahas tentang Felix. Aku berpikir jika ia bisa memberi ku solusi.
Aku bertemu dengan Felix di sebuah kafe dan kami membicarakan tentang acara peresmian kantor baru. Setelah itu aku baru bercerita padanya tentang Felix yang tidak mau pulang ke rumah.
" Papa yang sabar. Mungkin Felix butuh waktu untuk menenangkan pikiran nya." Kata Ben sambil menyesap kopi.
" Papa hanya bisa pasrah jika Felix ingin hidup sesuai keinginannya. Selama ini papa menyadari jika banyak kekurangan sebagai orang tua." Kataku sambil melamun.
Di saat seperti ini, aku sangat bersyukur ada Ben yang bisa ku ajak bicara. Aku tidak tau harus berkeluh-kesah dengan siapa karena Sharon pergi berlibur bersama teman - temannya.
Waktu itu Ben menyuruh ku untuk menginap di rumah nya selama Sharon pergi karena ia tau saat ini aku membutuhkan seseorang untuk di ajak berbincang.
Saat itu aku setuju dengan tawaran nya sehingga aku mengemasi barang-barang ku dan membawanya ke rumah Ben. Di sana Ben menyuruhku untuk tidur di sebelah kamarnya dan ku akui rumahnya sangat bersih dan rapi.
" Rumah mu sangat bersih dan rapi. Pasti teman - temanmu suka menginap di sini." Kataku sambil melihat sekeliling rumah nya.
Ben mengajakku ke halaman rumah nya dan aku banyak melihat tanaman yang berjejer. Ternyata baru dua minggu ia merawat tanaman itu dan sepertinya ia sangat ingin memiliki kebun sendiri.
***
Setelah selesai berkeliling rumah, tidak beberapa lama ada seorang wanita yang datang dan ternyata wanita itu adalah teman baik Ben.
Wanita itu bernama Claudya dan ia terlihat sangat baik dan ramah. Aku merasa Ben sangat cocok dengan Claudya dan sepertinya Claudya sangat menyukai Ben.
Tetapi aku melihat Ben menganggap Claudya seperti saudaranya sendiri. Waktu itu Ben mengenalkan Claudya padaku dan Claudya terlihat sangat senang bertemu dengan ku.
" Saya merasa sangat senang bertemu dengan om Thomas." Kata Claudya sambil memberikan sekotak makanan kepada Ben.
" Om juga sangat senang bertemu dengan mu." Kataku sambil menyuruhnya duduk di sofa.
Saat itu aku baru tau jika Claudya memiliki usaha butik dan ia tinggal sendiri di Jakarta. Orang tuanya berada di Bali dan setiap sebulan sekali ia pulang ke Bali untuk menjenguk orang tuanya.
Tiba - tiba aku teringat dengan Felix dan aku berandai jika Felix seperti Claudya maka hidupku tidak akan merana seperti ini.
Tidak beberapa lama ponsel ku berbunyi dan ternyata yang menghubungi ku adalah anak buah ku. Ia melaporkan jika berhasil memusnahkan toko milik Albert dan rasanya aku sangat puas mendengar hal itu.
Kali ini aku tidak tinggal diam dan memberinya pelajaran agar ia tidak macam - macam terhadap ku. Aku yakin kali ini Albert tidak akan berani mendekati Ben setelah aku menghancurkan tokonya sampai tidak tersisa.
***
Ben mengajakku pergi bersama Claudya tetapi aku lebih memilih untuk beristirahat di rumah dan membiarkan mereka pergi.
Aku tau Claudya sangat ingin menghabiskan waktu bersama Ben sehingga aku tidak ingin mengganggu mereka.
Aku merasa usiaku semakin tua dan aku sangat ingin melihat Ben segera menikah dan memiliki anak karena aku sangat ingin menggendong seorang cucu darinya.
***
Aku melihat waktu menunjukkan pukul tujuh malam dan saat itu Ben tiba di rumah dengan membawakan makanan. Ia menyuruhku untuk makan malam bersama nya.
Ben terlihat sangat bahagia dan aku sangat terkejut ketika ia mengetahui bahwa Claudya menyimpan rasa padanya. Waktu itu Ben sangat bingung untuk menjawab dan pada akhirnya ia dan Claudya tetap berteman karena Ben masih bingung dengan perasaannya terhadap Claudya.
Aku tau saat ini Ben fokus terhadap pekerjaan nya dan ia belum terpikir untuk hubungan asmara. Aku tidak menyangka Ben sekarang sudah tumbuh menjadi pria dewasa dan ia lebih tau apa yang terbaik untuk hidup nya.
Setelah makan malam, kami berbincang-bincang sambil menonton pertandingan sepakbola. Rasanya malam itu aku merasa sangat senang karena bisa menghabiskan waktu bersama anakku.
Aku berharap hubungan kami semakin baik kedepannya dan aku tidak ingin berpisah dengan nya karena aku sangat menyayanginya.
Aku yakin Claire sangat bahagia melihat ku berkumpul dengan Ben dan aku tau ini yang ia harapkan. Seandainya Claire masih hidup, pasti hidupku semakin berwarna.
Di masa tua, aku sangat ingin berkumpul bersama orang - orang yang ku sayangi dan aku berharap suatu hari Felix kembali berkumpul bersama ku.