3. Queen bee wanna be

1560 Words
Kuliah pertamaku hari itu berakhir sudah, ada rentang waktu 15 menit sebelum mata kuliah kedua. Tanganku masih memegang handuk berisi bongkahan es batu yang di beri pak Lingga tadi, handuk itu kini sedikit basah karena es yang sudah mencair walaupun masih di dalam kantong plastik. “Gimana dahi lo Nya?” tanya Rara. “Udah mendingan kok, nggak bengkak sih” kataku. “Besok baru kelihatan memarnya” ucap Sava, bule cantik itu menatap dahiku prihatin. “Gimana sih kok bisa sampe kejedot gitu” tanya Mona yang berdiri di samping Sava. Mereka berdua sudah tidak ada kelas lagi, jadi mereka bisa pulang. Nggak seperti aku dan Sava masih tersisa 1 kelas lagi. “Gue yang ceroboh sih, gue pikir udah telat makanya buka pintu keras-keras eh malah kejedot” ucapku sambil meringis. “Sorry ya Nya, kita nggak nungguin lo di parkiran, padahal gue yang ngajak” sesal Rara. “It’s ok, ini accident kok” pungkasku seraya tersenyum. “Halah … bilang aja lo caper sama Pak Lingga, kampungan amat buka pintu aja nggak bisa”. Aku menoleh Ke kanan ke asal suara, 3 orang cewek cantik duduk disana di bangku ketiga dari depan. Sepertinya dia yang bisik-bisik tadi pikirku. Muka cewek itu cantik, putih dan mulus kaya p****t bayi. Kalau di lihat-lihat mirip cewek korea, pakaiannya pun stylish dengan make-up yang sempurna. Dia ngabisin berapa jam ya buat make-up seperti itu pikirku, too much work cuman buat Ke kampus. “Badan aja gede, nggak nyadar diri. Untung pintunya kuat” ucapnya lagi. 2 orang temannya tertawa mendengar ucapan cewek tadi, kupingku terasa panas dan hatiku berdebar-debar menahan emosi yang memuncak. Ya Tuhan masa aku sudah kuliah masih kena bully juga?. “Duh ada yang panas nih, segitunya dandan di lirik pun juga nggak … ck…ck…ck” celetuk Sava. “Hareudang … hareudang … Hareudang panas panas panas” Rara bernyanyi dan di kipas-kipas oleh Mona. Sava tertawa terbahak-bahak membuat cewek itu kesal, mukanya merah padam. “Lo jangan kurang ajar ya” teriaknya. “Bukannya kalian ya yang kurang ajar duluan, a queen bee with her followers and like to bully others. Aren’t you too old for that? We are not in high school for God sake” ujarku sinis sambil memutar mata malas. Sava bertepuk tangan sementara Rara dan Mona tercengang namun sedetik kemudian saling bertos ria. Aku lihat cewek yang bahkan sampai sekarang belum kuketahui namanya itu menahan amarahnya, tangannya terkepal dan kedua temannya mencoba menenangkannya. “Guys dosen sudah datang” seru seseorang dari arah pintu masuk. “Gue ama Mona pulang dulu yah, see you tomorrow” pamit Rara. “Good job Anya” seru Mona sambil mengacungkan jempolnya. Mereka lantas keluar dari kelas sementara si queen bee langsung berbalik menghadap ke depan di ikuti ke 2 temannya. Seorang pria paruh baya kemudian memasuki ruangan, rambutnya yang memutih dan perut buncitnya mengingatkanku akan Santa Claus. Akan tetapi raut mukanya yang galak dan tak pernah tersenyum membuatku bergidik. “Selama kelas saya berlangsung mati kan ponsel kalian, saya tidak mentolerirnya. Saya juga tidak suka jika ada mahasiswa yang terlambat datang ke kelas saya begitupun dengan tugas yang akan saya beri nanti harus di kumpul tepat waktu. Kalau ada yang keberatan silakan keluar dan jangan salahkan saya jika dalam uts nanti kalian gagal!” Tuh kan, apa aku bilang? Muka Santa claus tapi galaknya seperti the grinch. Semua mahasiswa langsung kicep dan buru-buru mengaktifkan mode pesawat di ponsel mereka. Sejam kemudian kelas pun usai, dosen galak itu langsung pergi meninggalkan kelas begitu saja, semua langsung menghela napas lega. “Oh God gue nggak mau dapat dosen itu nanti Kalau udah skripsian” cetus Sava bergidik ngeri. “Baru juga kuliah udah mikir skripsi, yakin bakal lulus uts si bapak tadi?” candaku. Sava mendelik mendengar ucapanku namun bukannya terlihat seram wajahnya justru terlihat menggemaskan. “Harus lulus dong, nggak mau gue lama-lama kuliah” ujar Sava. Aku cuma tertawa mendengar ocehannya, segera kurapikan buku-bukuku dan membuang plastik penuh dengan air bekas es batu yang mencair tadi. Handuk kecil itu aku simpan rapi dalam tas kresek agar tidak membasahi buku dalam tas. Si Queen bee melintas di ikuti 2 temannya dan memandang ku dengan sinis. Aku pura-pura tidak melihatnya, males banget berurusan dengan tukang bully. Aku dan Sava segera keluar menuju ke tempat parkir dan aku teringat dengan handuk kecil itu. Aku akan mencucinya dan mengembalikannya ke Pak Lingga. “Mikirin apa? Kok diem?” tanya Sava membuyarkan lamunanku. “Mikirin handuk” jawabku. “Handuk?” tanya Sava tak mengerti. “Iya handuk yang di beri pak Lingga tadi, mau aku cuci dulu sebelum balikin ke orangnya”. “Oh …” “Tapi gue malu Kalau balikin di kelas, ntar gue di tuduh caper lagi sama si queen bee” ''Cuma handuk doang kali, kayanya nggak di kembaliin juga nggak apa-apa'' sahut Sava acuh. ''Nggak bisa gitu, gue nggak enak. Pokoknya ini handuk abis gue cuci mau gue balikin ke yang punya, lo mesti anterin gue ya. Gue nggak mau sendiri'' sahutku kesal. ''Iya deh iya, gue anterin''. ''Nah gitu dong baru cantik'' seruku girang. ''Gue emang cantik dari orok'' ucap Sava seraya mengibaskan rambut. ''Iyaaaa ... mentang-mentang bule''. Sava melengos melihatku dan memasang raut wajah kesal tapi senyumnya kentara sekali, dasar labil. Aku tak mengira kalau bakal bisa ketemu seseorang dan bisa cepat akrab seperti Sava. Ya tentu saja, hanya Sava yang mau berteman denganku, cewek cantik ini memang beda. Anaknya kelihatatan humble dan down to earth, mau berteman sama siapa aja. Nggak cuma cantik wajahnya tapi juga hatinya. Tak terasa berjalan sambil ngobrol dengan si bule cantik membuatku tak sadar kalau sudah tiba di depan tempat parkir, ku lirik Sava yang asik menulis sesuatu di poselnya, mungkin nunggu jemputan atau lagi chat dengan pak Lingga. ''Sav, lo bawa kendaraan?'' tanyaku memastikan. ''Nggak, tadi pagi gue nebeng kak Lingga. Gue nunggu sopir jemput, kak Lingga nya masih ada urusan jadi nggak bisa nganter pulang'' jelasnya panjang lebar. ''Oh ...'' sahutku sambil sibuk merogoh backpack mencari kunci motor. Savannah menatapku lekat, aku yang di tatap seperti itu merasa risih. Nih cewek bule kenapa ya? ''Kenapa sih liatin gue kaya gitu? Is there something on my face?''. ''Just wondering'' ujar Sava kemudian kembali fokus ke ponselnya. ''Wondering about what?'' tanyaku penasaran sambil memilin-milin gantungan kunci berbentuk doraemon di jariku. ''Menurut lo kak Lingga cakep nggak?''. ''Random banget sih Sav, ngapain nanya gitu? Menurut semua cewek disini Pak Lingga itu pastinya ganteng sampai punya fans base gitu'' sahutku geli. ''Itu gue tau Lova, i am asking you. Menurut lo dia ganteng nggak?'' ujar Sava. Aku memutar badanku kesamping agar bisa melihat mimik mukanya lebih jelas, depertinya gue harus stay disini nemenin dia sampe sopirnya datang. Sava menyimpan ponselnya di dalam saku celanana kemudian menghadapku sambil bersidekap di d**a. Ku tatap mata birunya. Oh rupanya dia serius menanyakan hal itu. ''Ya gantenglah Sav, kan dia cowok. Kalau dia cewek kaya lo ya pasti cantik'' ujarku. ''Lo nggak ada perasaan ke dia? Kaya cewek-cewek lain yang naksir kak Lingga''. Sava menyipitkan matanya dan menatapku tajam. ''Why? are you scared i might take him away from you?'' tanyaku sambil tertawa lepas. Sava tidak menjawab, dia hanya berdiri memandangku dan tangannya masih bersidekap di d**a. Nggak pegel apa ya?. Aku bingung mau jawab apa tapi sepertinya Sava beneran nunggu pendapat aku tentang dosen muda itu. "Menurutku sama seperti cewek-cewek di kampus ini kalau dia itu ganteng'' pungkasku. ''That's it?'' ''Yes that's it. Don't be weird Sava, you scared me'' ucapku dramatis sambil memegang dadaku. Sava memutar matanya malas. ''Lo yang aneh kalau menurut gue sih'' ucapnya sambil membetulkan tali tas yang tergantung di pundaknya. ''Gue? aneh?'' ''Iya, lo tahu nggak dari sekian mahasiswi disini cuma lo yang biasa-biasa aja liat kak Lingga, lo bahkan nggak se-excited mereka. Contohnya aja Mona sama Rara, mereka kepo banget tau karena tadi pagi liat gue semobil ama kak Lingga. Lo juga liat gue jalan berdua di parkiran kemarin kan? Tapi lo diem aja padahal gue udah nyiapin ribuan alasan buat jaga-jaga kalau lo nanya''. ''Karena itu bukan urusan gue Sav, i am minding my own bussiness''. ''Jujur ama gue, lo nggak suka ama kak Lingga? Lo denger sendiri kan apa kata Mona kemarin sosok mantu idaman katanya, Udah tajir, ganteng, pinter lagi. Umur baru 24 tahun udah S2 trus sekarang udah jadi dosen'' ''Sav lo kaya tukang obat yang promo di pinggir jalan. Gue ngga benci ya ama pak Lingga, gue suka kok ama beliau tapi suka dalam tahap yang wajar bukan terobsesi''. ''Lo nggak mau saingan gitu ama yang lain biar bisa dapatin dia?''. ''Nggak lah buat apa, mending gue rebahan sambil nonton drakor. Lagian gue nggak mau kaya pungguk merindukan bulan, orang kaya pak Lingga seleranya pasti yang selevel sama dia baik itu background atau pendidikan'' sahutku panjang lebar. ''You'll never know Lova'' balas Sava. ''Maksud lo?'' tanyaku tak mengerti. ''Nanti juga lo bakal tahu, eh jemputan gue udah datang tuh. See you besok ya'' pamit Sava. Aku melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam melintas dan berhenti tepat di depan ku. Sava segera beranjak meninggalkanku memasuki mobil itu, kemudian menurunkan kaca mobil setengah. Aku jadi bertanya-tanya apa maksud cewek bule itu? Tangannya melambai-lambai kepadaku dari dalam mobil, aku cuma tersenyum memandangi mobil Sava menghilang di balik pintu pagar. Aku melangkah menghampiri si timtam dan segera meluncur pulang ke rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD