Happy Reading . . .
***
Sambil memandang kosong bangunan di depan sana, aku tidak bisa berhenti meremas kedua tanganku yang disatukan karena sedang berusaha untuk menenangkan diri dan menghilangkan rasa gelisah semenjak dimulainya perjalanan ini hingga pada akhirnya mobil yang aku tumpangi ini sampai di tempat yang dituju, jantungku tidak berhenti berdegup dengan cepat dan kencang.
"Kau bisa menunggu di sini jika perlu sampai esok hari hingga dirimu benar-benar siap, Estee."
Ucapan yang terdengar dari arah sampingku itu langsung mengalihkan pandangan ke asal suara setelah tersadar dari lamunan.
"Aku hanya sedang mempersiapkan diriku saja."
"Ya, luangkan waktumu untuk mempersiapkan diri selagi kau bisa."
Lalu, aku pun kembali menatap bangunan di depan sana dengan diam selagi diriku ini sedang memikirkan perkiraan terburuk yang akan menimpa diriku nanti. Aku harus memikirkan bagaimana nasib Grey ke depannya nanti, jika takdirku akan berakhir pada malam hari ini juga.
"Dave..." Panggilku kepada pria di sampingku ini.
"Hm?"
"Bisakah jika hal terburuk yang nantinya akan benar-benar terjadi pada diriku itu, kau sedikit membantuku lagi?"
"Membantu apa?"
"Beritahu kepada Grey, ia kekasihku. Kau bisa mencarinya di apartemen kami, The Mabel. Katakan kepada Grey bahwa aku benar-benar mencintai dirinya."
"Estee, kau tahu ini menjadi semakin terasa sulit untuk didengar dan dirasa? Aku tidak tega denganmu. Jika seperti ini, biarkan aku juga ikut masuk dan bertemu dengan mereka. Kita hadapi permasalahan ini bersama-sama. Aku yang sudah membawamu ke dalam dunia seperti ini. Jika aku tidak memperkenalkanmu kepada mereka, kau tidak akan harus mengalami masalah seperti ini, Estee. Jadi, ayo kita hadapi bersama-sama. Karena akulah yang sudah memasukkanmu ke dalam permasalahan seperti ini."
"Tidak perlu, Dave. Kau yang memang membawaku masuk ke dalam dunia pekerjaan seperti ini. Kau juga yang memperkenalkanku kepada mereka. Tetapi di sini akulah yang sudah melakukan kesalahan, Dave. Aku yang sudah menghilangkan uang itu. Aku yang sudah lalai dan aku juga yang sudah tidak bertanggung jawab karena aku tidak bisa melakukan pekerjaan itu dengan baik. Jadi, biarkan ini menjadi permasalahanku saja. Kau hanya diperintahkan untuk mencari dan membawaku kepada mereka, bukan? Maka, tugasmu di sini sudah selesai. Dan sekarang, biarkan aku yang menghadapi semua ini sendirian, okay?"
"Kau semakin membuatku menjadi merasa sangat bersalah kepadamu, Estee."
"Tidak perlu kau pikirkan, Dave. Kau justru sudah sangat banyak membantuku, kau tahu? Seharusnya aku yang berterimakasih kepadamu,". "Kalau begitu, aku akan masuk ke tempat itu sekarang."
"Bisakah jika kau mendapatkan kesempatan dan berhasil keluar dari tempat itu, kau langsung menghubungiku?"
"Ya, baiklah. Tetapi jika aku tidak kunjung menghubungimu, kau sudah tahu kondisiku akan seperti apa, bukan?"
"Ya."
"Maksimal dua hari lamanya. Jika aku tidak menghubungimu juga, artinya aku sudah tidak bernyawa, Dave."
"Ini terdengar sangat mengerikan, kau tahu? Bahkan dengan aku yang sudah pernah masuk ke dalam penjara saja, masih menganggap hal seperti ini sangat menyeramkan. Pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa sebagai jaminan, bukanlah hal yang aman."
"Tetapi aku sudah siap mengambil apapun itu resikonya sebelum menandatangani surat kontraknya. Jadi, hal itu membuatku menjadi siap atau tidak siap, aku harus menghadapinya."
"Ya, kau benar. Aku pun juga seperti itu. Tetapi, pekerjaan ini menghasilkan banyak uang. Walau di sisi lainnya nyawa kita yang menjadi jaminannya."
"Hei, Dave. Apakah kau pernah mengetahui kita bekerja ini untuk siapa? Dan jenis bisnis apa yang kita kerjakan? Mengapa mereka seakan terlihat menutupi semua itu? Sejak awal, aku sangat bertanya-tanya dengan semua itu." Tanyaku yang baru saja mengingat untuk menanyakan hal seperti itu terhadap Dave yang mungkin saja ia ketahui dan bisa memberiku sedikit informasi mengenai bisnis yang dijalani oleh orang-orang itu.
"Mereka memang tidak pernah memberitahu bisnis apa yang mereka jalankan, Estee. Tetapi satu hal yang aku tahu, kita bekerja di bawah bisnis milik sir Hamilton. Hanya itu saja, bahkan aku pun juga tidak mengetahui seperti apa sosok sir Hamilton yang sering terucap oleh mereka."
"Ya, mereka juga sudah pernah mengatakan sosok itu kepadaku."
"Mereka memang menutupi bisnis yang mereka lakukan itu kepada siapapun. Hanya pemilik dan orang kepercayaan saja yang mungkin mengetahui bisnis yang mereka jalani itu."
"Hanya orang yang bernyali sangat besar yang bisa bekerja di tempat seperti ini, Dave. Dan orang-orang sepertiku ini, bukanlah orang yang sangat tidak tepat untuk bisa bekerja di tempat seperti itu."
"Aku sudah memperingatimu sejak awal. Tetapi, kau mengatakan akan tetap melakukan apapun itu pekerjaannya asal kau bisa mendapatkan uang dengan cepat."
"Ya, kau benar. Tetapi sekarang semua ini sudah terjadi, dan tidak ada gunanya lagi bagiku untuk bisa menyesal. Jadi semua ini memang sudah harus aku hadapi,". "Kalau begitu aku akan masuk ke tempat itu. Sampai jumpa, Dave. Tunggu kabar dariku, okay?"
Setelah mengucapkan salam perpisahan itu, aku pun langsung membuka pintu mobil milik Dave dan bergegas keluar dari sana. Langkahku yang terasa berat ini, mulai aku paksakan untuk memasuki sebuah bangunan dimana pertama kalinya aku datang ke sana dan mendapatkan pekerjaan tambahan itu. Suasana yang masih sama saja, yaitu sepinya tempat tersebut karena tidak ada satu orang pun terlihat sejauh mata memandang, semakin membuat perasaanku menjadi begitu gelisah.
Mengingat kemana arah setiap belokan untuk menuju ruangan yang satu-satunya layak disebut sebagai ruangan dimana dulu aku menandatangani surat kontrak kerja itu, aku pun pada akhirnya berhenti tepat di depan ruangan itu dimana kondisi pintunya sedang tertutup. Beberapa saat aku berusaha menenangkan diri dengan mengatur nafasku, aku pun mulai mengetuk pintu tersebut dengan perlahan. Beberapa kali aku melakukan ketukan tersebut sambil terus menenangkan diri juga, namun tidak ada tanggapan dari dalam sana.
Hingga pada saat aku hendak mengetuk pintu entah untuk yang keberapa kalinya, tiba-tiba saja aku pun dikejutkan dengan sebuah tepukan dari arah belakang posisi diriku yang tepat mengenai bahuku, aku pun dengan refleks langsung memutar tubuh hingga aku kini bisa berhadapan dengan si pemberi pekerjaan dan kontrak. Sosok pria yang pertama aku temui, sosok yang untuk kedua kalinya aku temui namun ia selalu memakai pakaian rapi dengan jas yang dikenakannya, dan masih belum aku ketahui juga namanya itu, ialah sosok yang menepuk bahuku dan kini sudah menatapku dengan pandangan tajam.
"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Rupanya kau memiliki nyali yang cukup besar untuk datang ke tempat ini lagi. Salute!"
Tatapan tajam dan aura yang penuh dengan amarah itu, seakan langsung melumpuhkan seluruh indera milikku, bahkan dengan lidah tidak bertulang saja juga ikut terasa kelu dibuatnya.
"Apa yang sudah kau lakukan, hah? Apa kesalahan yang kau perbuat sehingga membuatmu menjadi pengecut seperti ini? Si mulut besar dengan kinerja payah yang tidak lebih kecil dari sebutir biji jagung. Apa yang kau lakukan, Estee?"
Sungguh, rasanya aku benar-benar tidak bisa mengeluarkan suaraku yang tiba-tiba saja menghilang atau ikut tertelan bersamaan denganku yang sejak tadi sudah terus menerus menelan air liurku karena rasa takut yang benar-benar menguasai diriku ini. Aura kemarahan yang sejak tadi sudah aku rasakan, setiap waktunya seakan terasa semakin bertambah mengisi situasi yang menjadi menakutkan di sekitar sini.
Bahkan aura tersebut semakin terasa mencekam di saat pria itu tanpa aku duga sudah mencekikku dan dengan mudahnya mendorong tubuhku hingga tersudut pada pintu yang berada di posisi belakangku, yang justru semakin membuat cekikan di leherku ini terasa semakin menguat dan kencang di saat yang bersamaan. Aku yang mulai tidak bisa menghirup nafasku dengan mudah membuatku dengan otomatis langsung panik dan memberontak, berusaha agar tangan yang sesungguhnya tidaklah besar apalagi berotot namun tenaganya sangatlah kuat ini, supaya bisa terlepas dari leherku yang sudah terasa sakit dan sulit untuk bisa bernafas ini.
"Kau tahu nyawamu di sini sudah menjadi jaminannya, bukan?"
"To-tolong le-lepaskan."
"Memohonlah, selagi mulut besarmu ini masih bisa berbicara."
"Ak-aku mo-mohon."
Aku merasa sudah tidak ada harapan lagi untukku bisa mendapatkan sebuah kesempatan. Tatapan tajam yang setiap detiknya semakin menusuk tepat di depan mataku ini, membuatku sudah benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Belum lagi tangan yang dengan kuatnya mencekik leherku ini, benar-benar tidak mengizinkanku untuk bisa mengambil satu pun tarikan nafas saja.
Hingga di saat aku yang sudah benar-benar pasrah jika takdir hidupku memang pada akhirnya akan sampai di sini saja, aku pun merasa tubuhku yang diangkat dan dihempaskan dengan sangat kencang menuju pintu, sampai kondisi tubuhku yang berakhir dengan terjatuh dan tergeletak di atas lantai tidak berdaya.
Tubuhku terasa begitu lemah dan sakit di saat yang bersamaan. Air mataku yang tidak bisa aku tahan lagi kini sudah mengalir dengan begitu derasnya, bersamaan dengan aku yang sampai terbatuk-batuk karena pada akhirnya bisa bernafas lagi. Dan setelah aku yang langsung mendapatkan pasokan udara, membuat nafasku menjadi begitu memburu dengan hebatnya karena beberapa saat yang lalu paru-paruku terasa kosong karena tidak dilalui oleh oksigen yang masuk ke dalam tubuh karena kuatnya tangan itu mencekik leherku.
Di saat aku yang masih sedang berusaha meraup oksigen untuk bernafas, pandanganku sudah tertuju pada pria itu yang sudah berlutut di depanku dan menarik rambutku ke arah belakang hingga ia benar-benar bisa melihat wajahku yang sudah sepenuhnya basah akibat air mata yang masih belum juga bisa aku hentikan.
"Untuk sekedar informasi saja, bahwa kau akan mendapatkan hal yang lebih buruk dari yang satu ini jika kau sudah berurusan dengan sir Hamilton. Dan sekarang, katakan apa yang terjadi?"
"Ak-aku di rampok. Seluruh uang hasil pengiriman barang hari itu terpaksa aku berikan kepada para perampok yang sudah mengancam nyawaku itu."
Bersamaan dengan berakhirnya penjelasan yang aku katakan itu, sebuah tamparan kencang hingga meninggalkan bekas yang terasa sangat panas dan sakit itu pun mendarat di sisi pipi kiriku.
"Kau benar-benar b******n!"
"Maafkan aku."
"Maaf? Hanya itu yang bisa keluar dari mulut besarmu itu setelah semua yang sudah terjadi ini? Apa dengan kata itu kau bisa mengembalikan uang yang sudah kau hilangkan, hah? Apa kau bisa?"
"Berikan aku kesempatan untuk mempertanggung jawabkan semuanya,". "Mohon lepaskan tanganmu, ini terasa sangat menyakitkan." Pintaku dengan sangat memohon karena rasa sakit karena rambutku yang sedang ditariknya dengan sangat kuat itu semakin terasa menyakitkan disetiap saatnya.
"Kesempatan? Kau sudah menjaminkan nyawamu di dalam perjanjian yang sudah kau tanda tangani itu b******n!"
"Tidak! Aku mohon, berikan aku kesempatan untuk mengembalikan uangnya."
"Kau? Ingin mengembalikan uangnya?"
"Y-ya. Di dalam surat perjanjian tidak dikatakan nyawaku tidak menjadi jaminannya jika aku bisa mengembalikan uang yang hilang. Jadi, aku bisa mengembalikan uang yang hilang tanpa harus menjaminkan nyawaku, bukan?"
"Tetapi kinerjamu sangat mengecewakan, b******n!"
"Aku akan bertanggung jawab. Aku akan mengganti uang yang hilang itu. Aku mohon berikan aku kesempatan."
"Kau akan menemui sir Hamilton. Pertanggung jawabkan perbuatanmu itu langsung dihadapannya."
Kepergian pria itu pun meninggalkanku yang langsung kembali menangis dan memikirkan mengenai kehidupanku yang benar-benar sudah berada di posisi yang menjadi sangat begitu sulit seperti ini. Aku yang semula ingin meringankan beban biaya pengobatan kekasihku agar ia hanya bisa berfokus pada kesehatannya tanpa memikirkan mengenai masalah keuangan, namun kini menjadi timbulnya masalah baru yang tidak pernah aku perkirakan sebelumnya, dan justru lebih buruk.
Hingga beberapa saat kemudian setelah aku sudah bisa menenangkan diri sejenak dan perasaanku pun yang sudah merasa lebih baik, pria yang bersikap kasar dan begitu marah kepadaku hingga ia yang sampai berkata kasar itu kembali menghampiriku.
"Cepat berdiri! Kau akan menemui sir Hamilton sekarang juga."
Dengan lemah, aku pun berusaha untuk beranjak berdiri dengan kondisi tubuh yang juga gemetar. Setelah menghapus sisa-sisa air mata yang mengalir pada kedua pipiku, aku pun memeluk diriku dan melangkah mengikuti pria tersebut yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan sana. Langkah pria itu yang terlihat menuju sebuah mobil yang sedang terparkir, membuatku berpikir bahwa ia akan membawaku untuk bertemu dengan sir Hamilton seperti yang dikatakannya tadi di tempat yang lain, bukanlah di tempat yang seperti gudang ini.
"Kau ingin membawaku kemana?" Tanyaku setelah berada di dalam mobil dengan duduk di bagian belakang seorang diri, dengan pria itu yang duduk di bagian depan dengan seorang supir di sampingnya.
"Masih memiliki nyali untuk menjadi si mulut besar dengan kinerja yang jauh dari kata sempurna, hah?"
Balasan yang terdengar sangat sarkastis itu membuatku hanya bisa menelan air liurku dengan sulit karena bagiku walau ucapan saja hal itu seperti mengandung racun yang sangat mematikan. Dan disepanjang perjalanan yang sudah berlalu sejak tadi, aku memutuskan untuk berdiam diri dan memandang jalanan yang entah akan membawaku kemana, namun yang aku ketahui bahwa sebentar lagi aku akan bertemu dengan sir Hamilton. Sosok yang mungkin sebagai bos besar dan pemilik bisnis yang aku pun juga tidak ketahui ini, dan akan membuat takdir hidupku akan benar-benar berakhir di tangannya. Mengingat pria si pemberi pekerjaan itu sudah bersikap kasar kepadaku, ada kemungkinan besar juga jika bos besar atau atasan pria itu memiliki sikap yang lebih kejam dan kasar kepadaku.
***
To be continued . . .