KCK 15

691 Words
"Oh, jadi A Sinar teh ngasih penjelasan tentang larangan dan bahaya merokok?" Gofur memastikan.   "Bisa dibilang seperti itu, tapi A Sinar tea langsung menjejali urang tentang bahaya merokok. Beliau cerita dulu tentang sahabat Rasulullah tentang ulama terdahulu terus jadi berkaitan sama rokok. Ah, pokokna mah kitulah! Urang teu bisa ngejelaskeun. Pokokna mah A Sinar teh benar-benar hebat, pantes mun jadi kiai besar teh," tutur Sadi.   *** Pagi ini, Sinar belajar seperti biasanya sebagai seorang santri. Siangnya, saat santri lain beristirahat, ia mengajar santri Ibtidaiah yang melaksanakan sekolah Diniah. Pemuda yang terkenal ramah itu mengajar kelas, tempat Khanza belajar.   Suara keributan kelas seketika hening saat Sinar melangkahkan kaki untuk kali pertamanya di kelas tersebut.   "Assalamu'alaikum..." Sinar memberikan salam.   "Wa'alaikumussalam..." Seisi kelas menjawab salam yang Sinar ucapkan.   Para santri seketika terdiam dan melihat ke arah Sinar yang baru saja meletakan alat tulis yang ia bawa dan berdiri di depan kelas.   "Adik-adik, perkenalkan saya Sinar Abizar, salah satu santri di Pondok Pesantren Al-Hasan Akmad ini. Alhamdulillah, kemarin saya diberi amanah untuk mengajar adik-adik di sini." Sinar menghela napas.   "Kalian bisa panggil saya dengan sebutan aa atau akang. Terserah dan senyamannya saja siapa," tutur Sinar yang sedari tadi pandangannya fokus pada Khanza.   Faridah yang sejak tadi memperhatikan Sinar. Ia berbisik pada Khanza. "Ceu, eta Aa Sinar anu santri baru tea. Kasep, nya!" ungkap Faridah.   "Ih, enteu ah! Biasa waelah," sahut Khanza berbisik pada Faridah. "Maneh anu minta Abah Jaenudin buat jadiin A Sinar pengajar?" tanya Khanza.   Faridah menggeleng. "Ih enggak atuh, Ceu. Naha nanya kitu?" balas Faridah.   "Enteu sih, kaget wae, kok, tiba-tiba jadi guru di sini," ungkap Khanza.   "Ustad Tohir kewalahan kali ngajar dua kelas," ujar Faridah.   Dari belakang bangku, Salamah menepuk-nepuk punggung Khanza.   Gadis cantik itu pun menengok. "Naon, Ceu?" tanya Khanza.   "Ulah ngobrol, eta perhatikeun A Sinar ngomong," ujar Salamah.   "Iya, Ceu. Eta si Faridah teu bisa cicing," ungkap Khanza.   Sinar pun mulai memberikan materi tentang sejarah islam pada santri Ibtidaiah yang sekarang menjadi murid didiknya. Saat ia sedang fokus menulis, tiba-tiba saja seorang santri mengeluarkan suaranya.   "A Sinar, bade naros," ujar Faridah.   "Iya, mangga." Sinar berhenti menulis dan mempersilakan Faridah untuk bertanya.   "Ari A Sinar teh asalnya dari mana?" tanya Faridah di tengah pembelajaran.   Sinar menjawab, "Saya dari Subang."   Faridah tersenyum dan terlihat senang karena Sinar telah melihat dirinya.   "Ih, Faridah! Lagi belajar. Nanti aja atuh nanya-nanyanya!" ujar Khanza.   Selesai mengajar, Sinar pun kembali ke asrama. Abah Jaelani memberi satu keuntungan pada Sinar yaitu diperbolehkan untuk tidak mengikuti kegiatan bersih-bersih lingkungan di sore hari, karena butuh istirahat sejenak dan bersiap-siap mulai belajar lagi setelah maghrib.   "Gimana rasanya A, ngajar di kelas anak-anak pemilik pesantren?" tanya Herlan.   "Anak-anak? Anak aja, kali. Kan cuma Khanza aja yang anak pemilik pesantren," ujar Sinar.   "Masa guru nggak tahu latar belakang murid-muridnya, sih," ungkap Sadi.   "Maksudnya?" tanya Sinar.   "Jadi, di sana itu ada Salamah, Khanza, Rahayu sama Faridah. Mereka itu anak kiai semua, A," ungkap Sadi.   "HAH? Perasaan teh kata Kang Gofur cuma Khanza aja," ujar Sinar.   "Bukan kata saya, A. Waktu itu, kan, antum cuma nanya. Siapa yang duduk di depan? Saya jawab, itu si Khanza, anaknya Abah Jaelani," tutur Gofur.   Sinar terdiam mengingat kejadian waktu lalu dan mengangguk-angguk. "Oh, iyaa, ya. Nah, barusan itu yang disebutin Kang Sadi mereka semua anaknya Abah Jaelani?" tanya Sinar.   "Bukan. Faridah itu anak satu-satunya Abah Jaenudin sama Umi Fairuz. Kalau Salamah, Khanza, Rahayu itu anak Abah Jaelani sama Ibu Masito. Sebenarnya masih ada dua adiknya lagi, Hasanah sama Yusuf. Si Yusuf mah masih kecil, waktu A Sinar baru masuk sini, itu dua hari sebelumnya habis selesai akikahan. Nah, satu itu anak perempuan yang suka main sama Ustad Tohir di ruangan pengurus pondok, itu namanya Hasanah adiknya Khanza juga. Masa sih nggak pernah lihat?" tutur Gofur.   "Oh anak kecil yang suka ada di ruang pengurus itu? Saya nggak tahu kalau itu anaknya Abah Jaelani, kirain saudaranya Ustad Tohir. Soalnya dekat banget," ungkap Sinar.   Obrolan mereka tentang latar belakang kiai semakin panjang. Banyak hal yang baru Sinar ketahui hari ini. Ia sadar, harus lebih banyak lagi menggalih informasi tentang pondok pesantren Al-Hasan Akmad ini, bukan hanya mengenal dan mencintai ilmunya, tapi juga harus mencintai para kiai serta keluarganya. *** Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD