Ep.10 Negeri Miskin

3343 Words
Seperti biasa, setelah selesai meluapkan gairahnya, Han Junjie meninggalkan Kaili berkutat dengan gejolak emosi. Ia keluar dari bak lalu berjalan ke kamar sambil menarik kain pengering tubuhnya. Kaili menatap tajam sosok pria itu. Geram, dalam hati memikirkan cara untuk membalas perbuatan Han Junjie. Di kamar, Han Junjie memakai hanfu mewah yang disediakan Tuan Ming. Bahunya yang lebar dan badan tinggi kekar dibalut pakaian bangsawan tersebut mengesankan arogan, ditambah tatanan rambut dikucir menggunakan ikat bertatah logam layaknya seorang kaisar. Kaili menyelesaikan mandinya. Ia membungkus tubuh dengan sehelai kain bersih dan masuk ke kamar saat Han Junjie hampir selesai berpakaian. Pria itu memperingatkannya tanpa perlu menatapnya. "Kau tetap di sini. Jangan keluar kamar tanpa izinku. Jika terjadi sesuatu tanpa sepengetahuanku, aku tidak bisa menolongmu." Kaili tidak menyahut. Ia malah manyun tak jelas menirukan gaya berucap Han Junjie. Karena tak ada jawaban, Han Junjie berbalik dan membentaknya, "Kau dengar apa yang kukatakan, bukan?!" ujarnya sambil menunjuk-nunjuk Kaili. "Jawab kalau aku bicara padamu! Aku kaisar di sini. Penting menjaga wibawaku. Jika kau bertingkah semaumu, aku akan menghukummu agar dilihat semua orang bahwa siapa pun yang menentangku, baik itu selirku sekalipun, aku tidak akan pandang bulu!" Kaili menjawab sambil merengut, "Iya, iya, aku mengerti. Aku tidak akan ke mana-mana." Ia lalu memperhatikan penampilan rapi Han Junjie. "Memangnya kau mau ke mana? Kalau kau pergi terlalu lama, aku bisa mati bosan di sini." Han Junjie mengencangkan ikat pinggangnya sambil berbalik memunggungi Kaili lagi. "Aku hanya ke bawah untuk bicara pada anak buahku. Kalau sudah selesai, aku akan kembali dan mengatur apa yang akan kita lakukan berikutnya." Kaili mendengkus. Ia mengabaikan Han Junjie dengan memeriksa pakaian yang akan dikenakannya. Seperangkat hanfu terbuat dari sutra yang bagus, berwarna hijau pastel dan kuning yang sangat lembut. Di sebelahnya disertakan kotak berisi aksesoris perhiasan dan seperangkat mekap berwadah keramik. "Aku akan kembali secepatnya," kata Han Junjie lagi. Ia melingkupkan mantel bulu beruang cokelat di pundak lalu memasang helm kepala beruangnya. Ia keluar kamar tanpa menunggu jawaban Kaili. Gadis itu tidak mempedulikan kepergiannya karena asyik melihat-lihat perhiasan dan mekap. Di luar kamar, Han Junjie berpapasan dengan pelayan dan berkata pada mereka. "Siapkan makanan untuk selirku. Sajikan apa saja yang kalian punya agar ia tidak bosan di kamar." "Baik, Yang Mulia!" jawab pelayan sambil membungkuk dalam. Han Junjie berlanjut menuruni tangga. Lantai dasar penginapan Tuan Ming adalah kedai yang sekarang menjadi ruang pertemuan kekaisarannya. Di meja segi empat, berkumpul anak buahnya. Hanya ada 8 pria yang merupakan pengikut lama itu pun karena dibayarnya secara berkala. Han Junjie mengembuskan napas lelah. Salah satu alasan ia tidak ingin Kaili keluar kamar adalah agar Kaili tidak tahu semelarat apa kerajaannya. Gadis itu pasti akan berkomentar macam-macam menunjukkan poin-poin kelemahannya. Kedelapan anak buahnya tidak mengenakan helm kepala binatang karena sedang bersantai minum-minum. Namun, melihat kedatangan sang kaisar, mereka lekas berdiri menyambutnya. "Grizz!" sapa mereka. "Kenapa hanya ada kalian berdelapan? Di mana semua orang yang mendaftar ingin bergabung dengan klanku?" cecar Han Junjie. Liu dan yang lainnya saling pandang, kemudian menjelaskan sambil tertunduk merasa bersalah. "Mereka berdatangan kemari, tetapi setelah melihat keadaan desa kita, mereka mengundurkan diri," ujar Liu. "Kata mereka, tidak ada yang menarik di sini," sambung yang lain. "Tidak ada rumah b****l. Tidak ada kedai yang menyajikan makanan enak. Tidak ada kasino, tidak ada hiburan apa pun. Bahkan mendapatkan air pun susah. Desa kita je.lek. Kita tidak punya tambang emas hitam. Bahan tambang lain juga sedikit, tumbuhan herbal juga sedikit jenisnya. Jadi, kesimpulan dari semuanya, tidak ada apa pun yang membuat mereka tertarik tinggal di sini." "Cih!" Han Junjie meninju telapak tangannya sendiri. Tadinya, ia akan memungut biaya dari member baru dan menggunakan dana itu untuk meng-upgrade penginapan terdahulu menjadi istana. Namun, tempat itu pun sudah jadi puing-puing tak berguna. Tadinya, ia membayangkan akan punya anggota lebih banyak untuk merampok pedagang dan pelancong. Namun, jangankan punya pengikut baru, pengikut yang ada saja hidup segan mati tak mau. Han Junjie mengecek suplai di gudang klannya dan ia pun dibuat tak bisa berkata-kata oleh keadaan di situ. Gudang klan nyaris kosong melompong. Hanya tersisa beberapa blok jerami untuk makanan kuda, sekarung gandum, dan beberapa keping perak. Stok emas hitam pun habis karena dipakai anak buahnya berjudi dan mereka kalah. Jadi teringat kata-kata Yuan Mo, bahwa ia tidak bisa terus-terusan mengandalkan menggunakan koin emas untuk membuat pengikutnya betah. Ia harus membangun negerinya. Heh? Malah terngiang ucapan Kaili. Uang tidak akan bisa membeli loyalitas, Han Junjie! Han Junjie bersedekap dan menatap satu per satu anak buahnya. "Aku tanya kalian sekali ini. Kalian masih ingin bergabung denganku atau keluar dari klan?" Liu dan rekan-rekannya saling pandang. Tanpa banyak berkata-kata, mereka rupanya sudah punya satu suara dan Liu yang mengatakannya. "Sebenarnya, kami suka berada di sini. Kami senang dengan semua petualangan yang kita lakukan, tapi ... jika keadaannya terus-terusan seperti ini, kami mungkin harus berhenti main game. Agensi kami bangkrut. Klan lain tidak akan berminat menerima kami. Selama ini kami main game karena mengandalkan mendapatkan uang dari emas hitam, tapi tanpa perkembangan klan, semakin sulit mengumpulkan emas hitam. Kami berencana berhenti main game dan mencari pekerjaan lain yang lebih menghasilkan." "Hhh...." Han Junjie mendengkus. ia dikelilingi para pecundang, pantas saja klannya payah. "Bagaimana jika aku bisa mengubah keadaan kita menjadi lebih baik? Aku punya selir berkekuatan Dewi Labu, sepertinya ia akan sangat berguna untuk perkembangan klan," cetus Han Junjie. Liu dan rekan-rekannya saling pandang lagi lalu kembali ke Han Junjie. "Sejujurnya, kami tidak yakin. Kami belum melihat kehebatannya. Ia seorang perempuan. Perempuan biasanya tidak begitu bagus main game strategi dan berperang. Levelnya juga rendah dan menurut catatan riwayat pertempurannya, ia tidak pernah membunuh pemain mana pun. Jadi, apa yang bisa diharapkan darinya?" Han Junjie menepuk kepala. Jalan menuju kejayaan ternyata tidak semudah perkiraannya. Sehebat apa pun selir yang dimilikinya, jika ia kaisar yang payah maka itu tidak akan ada gunanya. Semua tergantung kemampuannya. Apa yang harus ditunjukkannya agar orang-orang percaya kalau ia bisa diandalkan? Daripada tambah pusing, Han Junjie lalu bicara kepada pengikutnya, "Baiklah. Kita lupakan soal selirku. Mari kita bicara antar pria. Menurut kalian, harus mulai dari mana untuk memperbaiki desa kita?" Para pria itu angkat bahu dan saling bertukar pandang. "Entahlah. Mungkin bisa dimulai dengan meningkatkan stok bahan makanan. Para NPC (warga) tidak bisa melakukan apa pun karena mereka lemah. Hasil buruan tergantung musim, jumlahnya juga tidak seberapa, bahkan tidak bisa disimpan lama." "Kita perlu bertani." "Ya, tapi kita juga harus beli bibit, pupuk, dan membuka sistem pengairan. Dari mana kita dapat uang dalam jumlah banyak dan instan? Kita tidak bisa meminjam ke negeri lain. Mereka akan memeras kita dengan bunga yang sangat besar dan mungkin memaksa kita jadi bu.dak." Kepala Han Junjie pusing mencerna hal itu. Ia pikir main game hanya perlu bunuh membunuh dan naik level. Ternyata harus memahami agrikultur dan perekonomian segala. "Sebentar, sebentar! Coba kita telaah satu per satu dulu. Elemen terpenting bercocok tanam adalah air, bukan? Tunjukkan padaku peta wilayah kita dan dari mana saja kita bisa mendapatkan sumber air." Salah satu pria merentangkan selembar kertas usang peta wilayah Negeri Beruang. Hanya terlihat satu desa kecil, yaitu desa mereka saat ini yang merupakan lokasi pemukiman. Selebihnya belum dieksplorasi. "Ada air terjun di sini, kita bisa mengambil air dari sana dan mengalirkannya ke desa kita. Tapi, lagi-lagi kita butuh modal seperti balok kayu, pipa, tali, dan peralatan pertukangan." Mereka mengambil beberapa tumpuk kertas dan baki tinta lalu mulai berembuk lagi. Kepala mereka berdempetan di atas meja. Han Junjie mengomando mereka. "Buat denah aliran air jadi kita bisa memperkirakan berapa banyak material yang kita butuhkan. Kamu dan kamu, pergi keliling desa dan pinjam peralatan bertukang dari warga. Kamu, kamu, kamu, ke hutan dan tebang pohon. Sisanya, ikut aku ke kasino. Berapa emas hitam yang kalian miliki?" "Hanya 100 koin, Grizz." "Aku tidak punya." "Aku punya 50." "Aku punya 80." "Aku punya 100." "Aku punya 800," gumam Han Junjie. "Kita gabungkan jadi 1000 koin lebih, itu cukup untuk ikut taruhan permulaan. Ayo kita pergi. Kita dapatkan uang yang kita perlukan di sana." Kaisar mereka beranjak penuh semangat hendak keluar kedai, akan tetapi anak buahnya malah bergeming. "Kamu yakin, Grizz? Itu uang terakhir kita. Kami masih harus beli potion HP dan MP kalau-kalau harus bertarung. Tanpa itu, bagaimana kami akan mempertahankan hidup jika kami cedera?" Han Junjie terdiam untuk beberapa saat. Mereka ada benarnya. Stok potion miliknya sisa sedikit, tetapi ia juga tidak ingin berisiko kehilangan pengikutnya yang segelintir. Ia keluarkan beberapa puluh botol potion dari sistem penyimpanannya. "Ini untuk kalian. Jika kehabisan dan kalian masih juga mati, maka itu takdir kalian. Kalian mungkin pemain yang benar-benar payah. Sampai jumpa di kehidupan lain." Para anak buahnya menerima potion itu tanpa berkata apa-apa. Sebagai gantinya, mereka menyerahkan seluruh emas hitam mereka pada Han Junjie. Mereka saling pandang dengan sorot penuh arti. Selamat tinggal yang tak terucapkan karena bisa jadi inilah misi terakhir mereka. Han Junjie beranjak keluar kedai lebih dulu. Para anak buahnya mengemasi barang mereka lalu memasang helm kepala hewan dan pergi sesuai tugas masing-masing. Liu dan satu pengawal lagi bernama Shin, menyusul Han Junjie. Mereka bertiga mengendarai kuda menuju kasino di area perbatasan. Han Junjie tidak bicara apa pun. Rahangnya terkatup erat dan tatapan menghunus tajam ke depan. Ia tidak berencana meninggalkan penginapan seperti yang dikatakannya pada Kaili, akan tetapi harga diri sebagai seorang pemimpin klan membuatnya tidak mungkin berhadapan dengan wanitanya tanpa menunjukkan suatu kebanggaan. Ibarat suami yang tidak bisa menafkahi anak-istri, mau ditaruh di mana mukanya? *** Sepeninggal Han Junjie, Kaili sibuk berdandan di kamar. Pelayan membantunya menata rambut. Selesai berdandan, pelayan datang menyajikan makanan untuknya. Semangkok sup lobak putih, dua keping biskuit gandum dan sebotol kecil anggur putih yang dipanaskan. Kaili duduk menghadap makanan itu dengan perasaan kikuk. Apa yang tersaji sangat tidak pantas disebut menu makanan yang layak. Ia melirik dua pelayan tertunduk dalam sambil menyedekap baki, sepertinya merasa tidak enak hati. Tidak ingin membuat mereka merasa terbebani, Kaili mulai menyantap hidangan ala kadarnya tersebut. Ia menyeruput sup lobak putih dan seketika meluahnya langsung dalam mangkok itu juga. Ia terbatuk-batuk seraya mengelap mulutnya. Ingin mengeluh kenapa sup itu rasanya seperti air tawar, tetapi para pelayan duluan berlutut dan menangis-nangis. "Ampuni kami, Nyonya. Bukannya kami sengaja menyajikan ini semata, tetapi benar-benar tidak ada yang bisa dimasak. Tidak ada pedagang ataupun pengembara yang singgah di desa ini, sehingga kami tidak ada pemasukan, apalagi untuk barter bahan pangan. Kami di sini benar-benar melarat." "Iya, Nyonya. Selama berhari-hari ini kami hanya makan bubur gandum sekali sehari. Seluruh warga mendapat makanan pembagian yang sama. Itu pun karena kebaikan Tuan Ming. Sekarang di gudang hanya tersisa satu karung gandum. Itu hanya cukup untuk makan 2 hari bagi seluruh orang di desa ini." Kaili terperangah. Lobak putih di mangkoknya saat ini mungkin merupakan sayur terakhir yang dimiliki warga. Ia jadi merasa bersalah telah meluahnya. Ia bertanya pada pelayan. "Apakah Han J... umm, maksudku Kaisar Han tidak melakukan apa pun soal ini?" "Kaisar sibuk merampok dan hasil rampasannya dihabiskan berjudi bersama para pengawalnya. Kaisar tidak peduli pada kami. Ia bermain tanpa memikirkan membantu kehidupan kami." Kaili sudah mengetahui hal itu, tetapi ia berusaha bersikap simpati. "Oh, ya ampun... malang sekali nasib kalian." "Nyonya, katanya Anda punya kekuatan Dewi Labu. Tolong lakukan sesuatu untuk membantu kami. Buatlah kaisar kami berubah pikiran dan mulai membangun negeri ini menuju kejayaan." Bukan karena ia percaya diri bisa mengubah pemikiran Han Junjie, tetapi setahunya, Yuan Mo sudah menasihati Han Junjie soal itu. Sekarang, tinggal menunggu tindakan apa yang akan diambil Han Junjie. Kaili berusaha menghibur mereka. "Aku akan berusaha yang terbaik, tetapi kalian tahu kaisar kalian bisa sangat keras kepala. Aku akan mencoba bicara padanya soal ini dan kita tunggu apa keputusannya. Mari berdoa bersama-sama agar hatinya tersentuh." Kedua pelayan itu mendesah putus asa. "Entahlah, Nyonya. Kami tidak yakin soal itu. Orang tua Kaisar Han mendidiknya sangat keras. Sedari kecil, Yang Mulia sering dipukuli dan dihukum pasung jika menjadi lemah dan gagal menjadi nomor 1. Agaknya itu membuat Yang Mulia tidak bisa menyayangi siapa pun." Kaili kelu mendengar hal itu. Keheranan terhadap yang dikatakan oleh para NPC ini. Apakah bagian dari kehidupan asli Han Junjie atau plot cerita dalam game? "Aku ... aku ... tidak tahu hal itu," gumam Kaili. "Memangnya siapa ayah dan ibu Kaisar Han?" "Maafkan kami. Kami seharusnya tidak bicara lebih jauh." Kaili bertanya pada pelayan satunya dan jawabannya kurang lebih sama. "Tuan Ming melarang kami membicarakan tentang orang tua Kaisar Han." Kaili mangut-mangut. Tampaknya kisah masa lalu Kaisar Han akan menarik untuk ditelusuri. NPC (Non Playable Character adalah sebuah karakter dalam game yang dapat berupa manusia, hewan, robot, dan lain – lain yang tidak dapat dikendalikan oleh player, namun dapat bertindak dan melakukan kegiatan yang berinteraksi dengan player, tetapi sesungguhnya NPC tersebut dikendalikan oleh sistem) Dalam game MMORPG, berbicara pada para NPC bisa membuka rahasia atau memulai teka-teki yang harus diungkap para pemain. Jika berhasil membantu NPC, akan ada hadiah spesial sebagai balasan. Jika NPC didesak bicara, biasanya mereka mengulangi perkataan terakhir. Pemain harus melakukan tindakan tertentu agar melanjutkan informasinya. Kaili tidak ada nafsu makan melihat hidangan yang tersaji. Ia serahkan kepada para pelayan. "Untuk kalian saja. Aku tidak lapar." Kedua pelayan sangat berterima kasih sampai membungkuk berkali-kali. "Anda sangat murah hati, Nyonya. Kami doakan para dewa selalu memberikan pertolongan pada Anda." "Terima kasih," sahut Kaili. Kedua pelayan keluar dari kamar, meninggalkan Kaili seorang diri. Gadis itu duduk-duduk di ranjang sebentar sambil mengamati suasana kamar. Kemudian ia menjadi bosan sehingga membuka lebar jendela dan bertopang dagu memandang keluar. Pemandangan langit biru dan pegunungan di kejauhan sangat indah, akan tetapi di dekat matanya pemandangan desa kumuh sangatlah menyedihkan. Para orang dewasa duduk di depan rumah menunggu sesuatu dengan tatapan kosong. Anak-anak bermain di halaman, tanpa semangat ataupun riuh karena lemas tak bertenaga. Sepertinya mereka butuh makanan, batin Kaili. Ia melihat ke bawah ada tanah yang cukup lebar untuk menanam sederet sayuran. Namun, akan butuh waktu berminggu-minggu untuk menghasilkan bahan pangan. Ah, ya, bukankah aku bisa menumbuhkan labu dalam waktu singkat? Kaili punya ide menggunakan kekuatan tersebut, tetapi jadi tidak yakin karena Han Junjie tidak ada di dekatnya. Tapi, bukannya aku bisa mengeluarkan labu tanpa harus dipicu sentuhannya? Bagaimana kalau kita coba? Ayolah, Kaili, ini demi menolong banyak orang. Kaili menghela napas beberapa kali, kemudian ia merentangkan tangannya ke arah bawah, membentangkan jemarinya seakan menyalurkan kekuatan. "Ayolah, Kaili, kau pasti bisa!" gumamnya menyemangati diri. Ia bersikeras selama beberapa menit hingga peluh bercucuran di keningnya, tetapi tidak ada tanda-tanda pertumbuhan apa pun. Ayolah, Kaili! Bayangkan saat Han Junjie menyentuhmu tanpa kau inginkan. Si berengsek itu ... ba.jingan! Di saat marahnya maksimal, sepucuk tunas muncul di permukaan tanah, lalu berkembang menjadi helaian daun dan sulur merambat. "Oh!" seru Kaili takjub. Ia melanjutkan memacu diri, mengkonversi emosi nafsunya menjadi tenaga penumbuh labu dan daun-daunnya. "Ya, terus, Kaili, terus, pertahankan .... Tidak! Lebih cepat lagi! Lebih cepat!" Buah-buah labu membesar seperti sayuran yang tumbuh subur, berdaging empuk dan manis. Kulit luarnya menguning menjadi labu matang. Anak-anak mendengar bunyi kersak-kersak tanaman itu bergerak, sehingga mereka mendatanginya. Mereka terperanjat melihat ada buah labu tiba-tiba muncul dan jumlahnya lumayan banyak. "Wuaaaah!" seru mereka terkagum-kagum. "Dari mana labu sebayak ini muncul?" Kaili kehabisan tenaga sehingga tidak bisa menumbuhkan labu lebih lanjut. Ia merosot dan bertumpu pada tepian jendela. Anak-anak mendongak sehingga melihatnya. "Bukankah Nyonya Selir Kaili? Apakah Nyonya yang menumbuhkan labu-labu ini?" Kaili mengangguk dan tersenyum tipis. "Panggil orang tua kalian dan ambillah labu-labu ini untuk kalian masak. Bagikan pada semua orang," katanya sebagai pesan terakhir karena ia benar-benar kelelahan dan butuh istirahat secepatnya. "Baik, Nyonya!" Anak-anak berlarian mendatangi orang tua mereka dan mengabarkan kabar gembira itu. Berduyun-duyun mereka mendatangi tanaman labu itu dan memetik labu serta pucuknya untuk dimasak. "Terima kasih, Selir Kaili. Terima kasih, Nyonya. Terima kasih, Dewi Labu," ucap mereka pada Kaili dengan wajah berseri-seri ada semangat hidup. Kaili mengangguk-angguk saja kemudian mundur dari jendela. Ia ke ranjang dan berbaring lalu tertidur sangat pulas dengan senyum tersungging di bibirnya. Hatinya senang bisa menolong orang-orang. *** Larut malam, Han Junjie dan anak buahnya kembali ke penginapan Tuan Ming. Ia membawa sekarung koin emas hasil kemenangan judi dan bergegas naik ke kamar untuk memperlihatkannya pada Kaili, mengabaikan Tuan Ming dan para pelayan yang menunggu kedatangannya sedari tadi. "Lili Kecil, lihat apa yang kubawa!" Han Junjie berseru sambil menaiki tangga. Tidak ada sahutan dari Kaili membuatnya gusar. "Hei, Lili Kecil, kau dengar aku tidak?!" Ia membentak seraya membuka pintu. Dalam kamar redup tak terlihat siapa pun. Jendela terbuka lebar sehingga sinar bulan masuk ke kamar, membuat Han Junjie menggerutu, "Sudah kubilang jangan pergi ke mana-mana, kau malah nekat kabur. Dasar pembuat masalah!" Han Junjie hendak menutup jendela itu, tetapi tercenung melihat di bawah sana banyak sisa-sisa sulur labu. Sinar bulan cukup memberikan penerangan sehingga Han Junjie yakin itu bekas orang-orang panen labu. Kening Han Junjie mengernyit. Ia berbalik ingin berteriak pada pelayan, tetapi malah terdiam karena melihat sosok gadis yang dicarinya sedang tertidur lelap di ranjang. Dalam keremangan, wajah Kaili berseri lembut menenangkan, sangat berbeda jika dia bangun dan menjadi galak. Han Junjie menyeringai, kemudian beranjak duduk di sisi gadis itu dan menyapu pipinya. Pikirannya mulai jahil, akan tetapi berubah gusar karena Kaili ternyata sudah log out dari game. Han Junjie keluar dari game dan melepas peralatan VR-nya dengan gusar. Sudah kubilang jangan pergi ke mana pun tanpa memberitahuku .... Han Junjie mematung karena tidak ada siapa pun di kursi game di sebelahnya. Ia terperangah Kaili benar-benar pergi tanpa izinnya. Namun, sebelum ia sempat meluapkan amarahnya, tiba-tiba pintu terbuka dan gadis itu melenggang masuk sambil menyuap mie dari box resto siap saji. Han Junjie tak ingin terpergok salah tingkah, langsung mengambil ponselnya dan mengetik cepat sehingga gawai itu bersuara mengomel. "Kenapa kau keluar game tanpa memberitahuku dahulu?" Kaili menyapu sisa kuah mie di tepi mulutnya dulu lalu bicara. "Kau pergi terlalu lama. Aku kelaparan. Aku, manusia yang sebenarnya, bukan yang di dalam game. Aku sangat kelaparan hingga tubuhku lemas. Kau tentu tidak mau aku mati kelaparan di apartemen mewahmu, bukan? Aku akan jadi hantu gentayangan yang membuka kulkasmu tiap malam lalu aku menangis karena tidak ada yang bisa dimakan. Isi kulkasmu bahan mentah semua. Apa kau seorang vegetarian?" Han Junjie meringis. "Tidak, tapi aku memilih makan makanan sehat yang dibuatkan chef-ku. Apa yang kau makan itu? Baunya menyengat sekali." Kaili mengangkat dus mienya. "Ini? Ini mie goreng seafood. Sangat lezat. Kau mau?" "Ihh, menjijikkan! Dari mana kau mendapatkannya?" "Tadinya aku mau pulang saja dan makan masakan Kakak Zhuo, tapi Pak He tidak memperbolehkan aku pulang karena tidak ada izin darimu. Aku minta makanan pesan antar sambil menunggumu selesai main." Kaili ingin menyuap lagi, akan tetapi tiba-tiba Han Junjie merebut mie boks itu dan membawanya keluar kamar game. "Hei, apa-apaan? Han Junjie, kembalikan makananku!" teriak Kaili sambil mengiringi pria itu. Han Junjie terus melangkah ke dapur lalu melempar mie itu ke dalam tong sampah. Kaili terbelalak disertai mulut termangap. Han Junjie menghadapnya lalu menuding, "Makanan sampah seperti itu tidak diperkenankan ada di rumahku!" "Apa? Tapi itu makananku, tidak ada hubungannya denganmu! Dasar gila!" Kaili menepis pria itu ingin mengambil mie-nya lagi, mana tahu masih utuh dalam boksnya. Namun, Han Junjie menarik kerahnya dan menyeretnya keluar dari dapur. "Makanan itu membuatmu gemuk! Seorang idol tidak boleh gemuk! Kau harus menjaga asupanmu mulai sekarang." Kaili berusaha menyingkirkan tangan Han Junjie di belakang lehernya. "Gemuk? Aku tidak gemuk! Lagi pula aku tidak peduli bagaimana tubuhku. Aku tidak ingin jadi idol!" "Kau akan tampil di acara Dancing with the star. Itu sama dengan debut." "Aku tidak ingin ikut acara itu!" "Kau harus ikut!" "Tidak mau!" "Harus!" "Tidak mau! Aku tidak punya waktu untuk latihan. Bagaimana aku bisa bersaing di acara itu?" Han Junjie tadinya menyeret Kaili ke arah kamar game, kemudian ia berubah haluan menuju studio tari. Ia tarik Kaili masuk ke ruangan yang luas dan lapang lalu mendorong gadis itu sehingga tersungkur di lantai. "Aduh!" ringis Kaili lalu menghunuskan tatapan tajam padanya. "Kau keterlaluan, Han Junjie! Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" "Latihan sekarang juga. Aku akan melatihmu." Kaili duduk menyedekap lututnya. "Tidak mau!" ujarnya sambil membuang muka. Han Junjie sangat geram hingga geliginya bergemeletuk. Tanpa berkata apa pun, ia dekati Kaili. Sebelum gadis itu sempat menghindar, ia telungkupkan Kaili ke lantai dan menekan kuat-kuat tubuh gadis itu hingga terpekik melengking. "Kyaaaah!" *** Bersambung .…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD