Ep 12. Bantuan Kaili

3520 Words
(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤ Hai, gaes! Sisil dah posting visual para tokoh game The 7. Bisa cek Reels The 7 di Insta.gram Sisilianovel ya gaes. *** Seperti biasa, setelah matahari terbenam, mobil jemputan untuk Kaili datang di belakang Lilac Cafe. Kaili terlihat lebih segar dan bersemangat, karena mandi terlebih dahulu sore itu. "Ayo kita berangkat, Pak He!" ucapnya saat duduk dalam mobil. Manajer He mengamati Kaili mulai dari kepala sampai ujung kaki. Gadis itu suka mengenakan celana pendek dan kaos hoodie karakter binatang seperti kucing, kelinci, beruang, Pikachu, pokoknya hoodie yang bertelinga, sehingga Manajer He meragukan kedewasaan Kaili. Ditambah gadis itu tidak pernah berusaha tampil cantik atau feminim di hadapan Han Junjie, di mana biasanya para gadis ingin menarik perhatian artisnya itu. "Semangat sekali kamu hari ini, Kaili," komentar Manajer He karena hawa positif terpancar kuat di sekeliling gadis itu. "Sejak saya memutuskan tidak akan peduli apa pun ulah Han Junjie, pikiran saya menjadi lebih ringan dan saya tidak ingin menambah-nambah masalah yang sudah ada." "Baguslah kalau begitu. Aku harap kalian bisa rukun untuk seterusnya," gumam Manajer He lalu menyuruh sopir melajukan mobil. Mereka tiba di apartemen Han Junjie. Manajer He membukakan pintu depan dan masuk ke dalam apartemen karena sudah tugasnya. Ia lihat Han Junji ada di kursi game sehingga ia berujar pada Kaili. "Han Junjie sudah online, kau log in saja langsung, susul dia. Aku mau pergi untuk urusan di luar. Aku akan mengantarmu pulang jika kalian sudah selesai." "Oke!" sahut Kaili antusias. Ia meletakkan tas jalan-jalannya dan melepas hoodie sambil mengawasi kepergian Manajer He. Setelah pintu tertutup rapat dan beberapa detik kemudian Manajer He tidak masuk lagi, Kaili celingak-celinguk dalam apartemen itu. Dilihatnya Han Junjie bergerak-gerak dan bernapas terengah-engah. Kaili mencibirnya. Huh, pasti Han Junjie sedang asyik bermain tepuk-tepukan pan.tat dengan pemain lain. Ia berlagak meninju dan menendang Han Junjie mumpung pria itu ada di alam lain. Setelahnya, Kaili jadi capek sendiri. Ia keluar dari ruang game lalu menuju dapur. Ia membuka-buka kulkas 4 pintu Han Junjie, memilah-milah isinya. Ia ambil jus jeruk kemasan kotak isi 1 liter dan membuka segelnya sambil bergumam, "Aku haus dan butuh minum. Setiap pulang dari sini aku selalu dehidrasi, karena tak pernah sekalipun kau memberiku minum. Dasar Han Junjie berengsek!" Kaili tenggak jus jeruk tersebut sampai habis. Menurutnya, Han Junjie tidak akan sadar satu kotak jusnya berkurang karena masih banyak persediaan dalam kulkasnya. "Slurrrpp. Ahhhh! Nikmatnya...." Kaili mendesah keenakan. Ia jatuhkan dus kosong ke dalam bak sampah, kemudian kembali ke kamar game, menemui Han Junjie. Ia pasang alat virtualnya dan log in. Sementara Kaili belum muncul, Han Junjie tengah sibuk bertarung bersama anak buahnya, melawan 20 anggota ekspedisi Negeri Maple. Karena jalan setapak itu wilayah kekuasaannya dan mereka berada di dataran yang lebih tinggi, Han Junjie bisa membuat serangan yang efektif memanfaatkan kondisi sekitarnya. Ia lempari lawannya dengan batu-batu besar, menebang bambu dan menjadikannya tombak jebakan. Pemanahnya bisa menyasar orang-orang itu karena posisi mereka yang tidak terlindungi. "Aaarghhh! Berengseeek!" teriak To Mu, pemimpin ekspedisi itu, menyaksikan lima pengikutnya tumbang oleh serangan bergerilya Kaisar Han dan anak buahnya. Kaisar berkepala beruang itu muncul, melangkah ke arah To Mu dengan pedang terhunus sambil tertawa terbahak-bahak. "Tampaknya kau terlalu meremehkan aku," katanya. Ia mengubit pendekar itu. "Kemari, hadapi aku satu lawan satu. Aku beri kau kesempatan menunjukkan kehebatanmu di hadapan anak buahmu." To Mu memberi tanda pada anak buahnya agar bersiaga. Ia sendiri berada di punggung kuda dan segera mengeluarkan pedangnya lalu melesat ke arah Kaisar Han. "Rasakan ini!" Bukannya menepis serangan pedang dengan pedang juga, Han Junjie malah melepaskan tenaga dalam dari sebelah tangan. "Uaaaggghh!" To Mu terpental jauh ke belakang kereta kuda. "Huahahahaha...." Tawa Han Junjie membahana. "Uhuk!" To Mu terkapar dan berusaha bangun, tetapi darah muncrat dari mulutnya. Ia meraih pedangnya lalu mengacungkan ke arah Kaisar Han meskipun pegangannya gemetaran. "Se ... Serang dia!" ujar To Mu pada pengikutnya. Serempak 14 orang menyerang Kaisar Han. Han Junjie berdecih. "Seharusnya kalian lari mumpung masih bisa." Ia mengayunkan pedangnya menepis serangan orang-orang itu. Anak buahnya tidak tinggal diam. Mereka muncul dari belakang tim ekspedisi dan menembaki mereka dengan anak panah. To Mu menggunakan potion pemulih super sehingga tenaganya pulih 100%. Ia melompat sambil melempar peledak di depan wajah Kaisar Han. "Sialan!" desis Han Junjie. Ia salto ke belakang menghindari ledakan. Satu anak buah To Mu mempelesatkan panah beserta jaring perangkap. Kedelapan pengikut Kaisar Han tersungkup jaring itu sehingga menghentikan langkah mereka. Peledak dijatuhkan ke jaring itu. "Aaaarhhh!" Para anak buahnya berteriak. Han Junjie geram bukan main. Ia melompat tinggi sambil mengeluarkan tinju yang menepis seluruh peledak sehingga mental ke atas dan jaring pukat itu putus-putus. Anak buahnya bisa melesat keluar dari perangkap. Mereka menebarkan anak panah pada para penyerang. "Cih!" Giliran To Mu yang berdecih, semakin sebal melihat seringai tipis di bawah moncong beruang Kaisar Han. Ia meneriaki anak buahnya. "Cepat berpisah!" Han Junjie tersentak. 5 orang anak buah To Mu memisahkan diri membawa pergi kereta kuda. Salah satunya seorang arabalis yang menembakkan puluhan anak panah sekaligus, membuat langkah Han Junjie terhenti. Sekejap, 10 orang anggota ekspedisi mengelilingi Han Junjie dan anak buahnya. Mereka tak berkutik mengejar kereta itu. Han Junjie menahan geram agar tidak kentara ia mengkhawatirkan harta karun kerajaannya. To Mu berhadapan dengan Han Junjie dan menyeringai. "Sekarang kita berhadapan satu lawan satu," gumamnya lalu menenggak cairan ekstrak gingseng merah. Ramuan tersebut meningkatkan kekuatan serangan To Mu sebesar 30%. Api merah terpancar di permukaan tubuh To Mu. Serangan To Mu akan menyebabkan kerusakan parah. Han Junjie tidak bisa menyepelekan To Mu lagi. Ia mulai serius menanggapi pria itu. Ia menyiapkan pedangnya di depan wajah. "Tidak ada yang boleh mundur dalam pertarungan ini, kecuali mati." "Baiklah," kekeh To Mu. Ia mendengkus mencemooh kenaifan Kaisar Han. To Mu telah menyiapkan puluhan senjata rahasia selain ramuan itu. Kaisar Han akan terjebak perkataannya sendiri. "Hiaaaaaat!" Kedua belah pihak sama-sama berseru. Serangan pun dilanjutkan serentak. Denting pedang dan tombak, serta besit panah arbalis berbalas dari dua sisi berlawanan. Luka-luka diatasi instan dengan penggunaan potion. Namun, jumlahnya akan terus menyusut selama pertempuran berlangsung. Delapan anak buah Kaisar Han benar-benar berbekal seadanya di medan itu. Perasaan mereka antara miris dan masa bodoh. "Hei, kita tak rugi apa pun. Mari kita berikan yang terbaik di pertarungan terakhir kita ini," hibur Liu pada rekan-rekannya. "Sampai jumpa di dunia nyata, guys!" Han Junjie menelan ludah pahit mendengar hal itu. Ingin marah juga tidak ada gunanya karena ia sebagai pimpinan yang tidak becus. Harapannya tergantung pada Kaili. Seharusnya sebagai healer/penyembuh turun tangan di saat genting, tapi gadis itu entah di mana keberadaannya. Sekarang ia hanya bisa mengulur waktu. Perempuan berengsek! Awas kalau kau tidak online sekarang juga, akan kutuntut balik uangku plus bunga dan te.tek bengeknya! Embusan pedang To Mu terarah padanya. Han Junjie mengerahkan seluruh tenaga dalam menangkisnya. "Aaaaarghhh!" Lalu terjadi ledakan benturan energi yang sangat kuat. Anak buah mereka terlempar, tanah dan tebing bergetar. Tak lama kemudian, bebatuan berjatuhan dari atas gunung. *** "Huaaaah!" Kaili menggeliat bangun dari tidur lelapnya. Sistem memberitahunya, "Selamat, Xlili! Karena kau telah membantu warga, maka kau mendapat kenaikan level 1 tingkat dan jurus baru. Kekuatanmu bertambah 5%." Ah, senangnya bangun tidur dapat berita bagus. Ia menoleh ke sekitar dan lega mendapati tidak ada Han Junjie di kamar itu. Si berengsek itu pasti sedang berjudi dan main perempuan, batinnya. Kaili melompat turun dari ranjang, merentangkan tangan menarik udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru. Udara pedesaan yang menyegarkan membuatnya terkenang kampung tempat ia dilahirkan. Ia bergumam mengkhayal, "Ayah, Ibu, kapan aku bisa bertemu kalian lagi?" Ia ke jendela dan memandang jauh. "Desa ini benar-benar mirip Desa Niujie. Ah, aku rasa aku bakal kerasan di sini." Di saat termenung, Kaili dibuat tersentak oleh seruan panik warga dari arah gerbang desa. "Ada ekspedisi asing menyerbu desa kita. Cepat kita bersembunyi ... atau lari sejauh mungkin dari sini ...." "Ekspedisi?" resah Kaili. Pandangannya tertoleh jauh ke arah di mana ia merasakan getaran halus menjalar hingga ke bulu kuduknya, pertanda bahaya mendekat. Debu membubung dan burung-burung terbang melesat di kejauhan yang menandakan ada pertempuran sengit di sana. Warga sekitar juga berlarian panik. Anak kecil terseret-seret, barang-barang bekal dibawa bergegas ada yang berjatuhan, dan terinjak orang-orang. Kaili berlari keluar kamar. Di anak tangga ia melihat Tuan Ming dan para pelayan berkemas terburu-buru. "Tuan Ming, apa yang terjadi?" tanyanya. Wajah Tuan Ming pucat pasi. "Desa kita diserbu orang Negeri Maple, Nyonya. Desa ini tidak punya bala tentara sehingga tidak ada penjaga keamanan. Kami semua hanya bisa menyelamatkan diri masing-masing. Nyonya sebaiknya segera berkemas. Kita bisa mengungsi ke pegunungan sampai mereka selesai dan meninggalkan desa dengan sendirinya." "Berengsek!" maki pelan Kaili. Ia menghunuskan tatapan tajam pada Tuan Ming. "Mana Han J... maksudku Kaisar Han. Di mana Yang Mulia berada?" Jika pria itu asyik berjudi dan berada di rumah b****l, sumpah, akan ia hajar meskipun Han Junjie seorang kaisar. "Yang Mulia pergi untuk memeriksa pemasangan tiang saluran air, Nyonya. Jika saya tidak salah, lokasinya 1 kilometer di depan desa. Jika bernasib baik, mungkin saat ini Yang Mulia dan para pengawalnya sedang melawan tim ekspedisi itu." "Oh." Kaili jadi terenyuh dan merasa bersalah karena salah sangka. "Kalau begitu, seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan? Aku yakin Yang Mulia bisa mengatasi mereka. Ehehhe ...." Tuan Ming malah semakin cemas. "Apa yang Anda katakan, Nyonya? Bagaimana mungkin orang bersembilan bisa menang melawan 20 orang berperlengkapan penuh? Yang terjadi mungkin saat ini Yang Mulia dan para pengawalnya sudah dihabisi oleh mereka." Kaili kelu, akan tetapi ia berpikir keras untuk melakukan taktik. Ayolah Kaili, kau pasti bisa melakukan sesuatu. Buat apa gelar Dewi Labu itu coba? Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar. "Kyaaaah! Mereka sudah tiba di sini ...." "Oh tidak!" seru Tuan Ming dan para pelayan. Pelayan kelabakan membawa bundelan-bundelan dan berlarian tak tentu arah. Tuan Ming terhuyung-huyung, segera dipapah pelayannya duduk di kursi. Tampaknya hanya aku petarung yang tersisa, batin Kaili. Ia mengepalkan tinjunya kuat. Baiklah! Kita hadapi ini. Kalaupun mati ya cuma dalam game. Lagi pula ini bukan salahku karena Han Junjie tidak ada di tempat. Aku tidak pergi ke mana-mana, seharusnya ia tahu posisiku. Kemudian Kaili melangkah mantap keluar dari kedai Tuan Ming lalu berlari mendatangi para penyerbu. Lima pria dan sebuah kereta kuda memasuki gerbang desa. Mereka menembakkan panah berapi ke atap-atap rumah penduduk sehingga bangunan beratap jerami itu terbakar dengan cepat. Penduduk desa berlarian menyelamatkan diri sambil berderai air mata dan ketakutan. Bayangan desa kelahirannya dijajah sedemikian rupa membangkitkan amarah Kaili. "Kurang ajar!" Ia kerahkan seluruh kekuatannya. Sulur-sulur besar dan kuat bermunculan dari tanah, menjalar ke atas dengan cepat. Kuda-kuda berdiri meringkik keras karena terkejut, melemparkan pengendaranya jatuh ke tanah. "Aaarghh!" erang para petarung dari Negeri Maple tersebut. "Tinggalkan tempat ini dan jangan kemari lagi!" bentak Kaili pada mereka semua. Lima pria itu lekas bangkit dan berdiri tegap menghadangnya. Bukannya takut, mereka malah menyeringai dan terkekeh, "Oh, jadi kaulah Dewi Labu itu? Hehehhe. Jurusmu boleh juga, tapi kami tidak akan meninggalkan tempat ini dengan tangan hampa. Kami akan membawamu serta." "Coba saja jika kalian bisa!" tantang Kaili. Para pria itu menghunuskan pedang mereka, ia serang lebih dulu dengan melanjutkan pertumbuhan sulur labu. Mereka menebas batang-batang menjalar itu dengan mudah, akan tetapi batang tersebut tumbuh terus menerus sehingga menguras tenaga. Kaili menumbuhkan lebih banyak membentuk jalinan besar dan memukul mundur orang-orang itu. Jalinan tersebut melecut bak cambuk, bahkan menghancurkan kereta yang mereka bawa. Kuda-kuda berlarian ketakutan. Para pria terperangah oleh jalinan besar seperti cambuk raksasa. Bahkan tumbuh lagi sulur lain yang membelit mereka serta merampas senjata mereka. Energi mereka diserap oleh sulur-sulur itu. Mereka terdesak sehingga mengeluarkan tenaga dalam agar sulur itu hancur dan mereka bisa melepaskan diri. Namun, serangan sulur labu tidak berhenti begitu saja. Sulur baru tumbuh sangat cepat dan mengejar mereka. Cambuk raksasa memukul tanah hingga retak dan getarannya membuat para pria itu terjungkal. Kaili melakukan itu semua dengan membayangkannya lalu tangannya akan bergerak mengeluarkan jurus membentuk apa yang dibayangkannya. Konsentrasinya tersedot penuh ke dalam tenaga batin sehingga matanya menyala kuning. "Tinggalkan tempat ini!" bentaknya hingga menggema. Sekujur badan para penyerangnya gemetaran. Mereka tergopoh-gopoh mundur lalu berbalik dan lari terbirit-b***t sambil berteriak bak para gadis. "Aaaaahhh! Tolooong!" Sepintas saja para petarung itu tak terlihat lagi. Kaili kehabisan tenaga secara mendadak. Ia jatuh berlutut kemudian merangkak, berusaha keras mempertahankan kesadarannya. Matanya sayup-sayup berusaha terbuka. Suara dalam kepalanya menggema. Sialan! Aku tidak tahu apa yang bakalan terjadi jika musuh menyerang lagi. Han Junjie, cepatlah kembali! *** Pertarungan habis-habisan sedang dilakoni Han Junjie dan To Mu. Kedelapan anak buah Han Junjie sudah dalam kondisi kritis, masih bertarung melawan tim ekspedisi dengan kondisi yang sama. Potion mereka habis, sehingga tenaga yang tersisa adalah tenaga terakhir yang mereka miliki. Sementara anak buah To Mu masih bisa saling bahu membahu berbagi potion porsi kecil. Efek gingseng merah To Mu sudah habis sehingga kekuatannya menurun. Itu menjadi angin segar bagi Han Junjie. To Mu teler bekas kena hantaman keras. Han Junjie mencengkeram leher pria itu dan mengangkatnya. "Bersiaplah menyambut ajalmu, To Mu!" desis Han Junjie. To Mu terkekeh. Ketika pedang Han Junjie hendak menebas lehernya, mulut pria itu menembakkan jarum beracun. Sepersekian detik Han Junjie terbelalak melihat kemilau senjata kecil itu. Ia membuang muka dan jarum tersebut menancap di kening helm beruangnya. Jarum itu tidak mengenainya, akan tetapi membuka peluang To Mu melepaskan diri. To Mu menepis tangan Kaisar Han lalu salto ke belakang. Ia membuka kotak epik berisi jimat sekali pakai yang memulihkan kondisinya 100%. Pria itu segar bugar lagi seperti semula. Han Junjie merasa kecele. "Berengsek!" desisnya yang dengan sisa kekuatannya mengarahkan pedang pada To Mu. To Mu mengeluarkan item lagi yang menciptakan tenaga mendorong musuh di sekitarnya. Han Junjie dan anak buahnya terpental. Han Junjie bangkit dengan menancapkan pedangnya sebagai tumpuan. "Sialan!" Aku tidak akan kalah semudah ini, batin Han Junjie. "Yang Mulia," erang anak buahnya seraya merayap di tanah dengan sekujur tubuh berlumuran darah. Han Junjie tidak bisa menolong anak buahnya karena ia sendiri sedang meditasi mengumpulkan energi di saat-saat genting. Ia tidak boleh lengah atau satu serangan To Mu akan membunuhnya. To Mu dan anak buahnya berkumpul merapat, memanfaatkan saat itu untuk meditasi memulihkan tenaga mereka. To Mu tertawa terbahak-bahak sambil berkacak pinggang. Niat tamak muncul di benaknya. "Kaisar Han akan menemui ajalnya di tanganku, maka Negeri Beruang akan menjadi milikku, begitu juga selirnya. Hmm, aku bisa membangun dinastiku sendiri dan akan kukalahkan Kaisar Wei, juga kaisar-kaisar lainnya. Seluruh kontinen akan jadi milikku. Huahahahaha...." "Langkahi dulu mayatku!" desis Han Junjie dan satu gerakannya sangat cepat menancapkan pedangnya menusuk badan To Mu. To Mu diam terbelalak. Melihat pedang itu separuh tertancap di perutnya, To Mu tak bisa bersuara lagi. "Lihat siapa yang berakhir di tanganku, pecundang," desis Han Junjie. Ia terkekeh dingin yang membuat tubuh To Mu gemeletar nyeri. Namun, itu bukan akhir dari pertarungan. To Mu masih punya sisa tenaga kehidupan walaupun Kaisar Han mencabut pedangnya. Perlu satu sabetan lagi untuk menghabisi nyawa To Mu. Tepat di saat Kaisar Han mengangkat pedangnya, anak buah To Mu yang pergi ke Desa 9 beruang malah muncul berlarian ketakutan. "Cepat kita pergi dari sini...!" teriak mereka. Han Junjie keheranan, akan tetapi bagi To Mu itu sebuah peluang besar untuknya memenangkan pertarungan. Ia menyahut dengan berteriak pula. "Tidak ada seorang pun yang meninggalkan tempat ini kecuali mati!" Kelima anak buahnya berhenti berlari, mereka tergagap berusaha memohon pada To Mu. "Tapi ... Tapi ... Tuan To Mu, ini ... di luar perkiraan kita .... Sebaiknya kita pergi sekarang juga ...." "Tidak!" teriak To Mu dan ia menyabetkan pedangnya ke Kaisar Han. Han Junjie sigap menangkis. Mereka beradu lagi beberapa jurus. Para anak buah To Mu sudah cukup bertenaga sehingga mereka turut menyerang Han Junjie. Ditambah 5 orang yang baru balik tadi, Han Junjie melawan 10 orang sekaligus. Kedelapan pasukan beruang berusaha membantu dengan tenaga seadanya. Proses pemulihan mereka sangat lambat karena tidak menggunakan jurus atau ramuan apa pun. Begitulah nasib pasukan kere. Mau mati juga tak mati-mati, mau hidup juga mesti megap-megap dulu. "Kau harus membayar kami lebih banyak lagi, Grizz! Tidak enak jadi tentara miskin!" teriak Liu. "Bereskan dulu masalah ini, baru kita bicara!" sahut Han Junjie, tak kalah kesalnya pada lawannya kali ini. Tenaganya terkuras drastis dan Han Junjie sudah diujung tanduk. Puluhan senjata terarah padanya dan sangat cepat, entah bagaimana ia menangkisnya. Di saat berdebat sekaligus bertarung sampai pada puncaknya, dari dalam tanah di belakang Han Junjie muncul sulur labu yang membentuk lilitan sangat besar. Tanah terbuka dan pijakan orang -orang goyah seketika. Lima anak buah To Mu yang mengenali sulur itu berteriak ketakutan hingga terjatuh-jatuh. "Huaaaa, makhluk itu datang lagi!" To Mu dan semua orang yang pertama kali melihatnya terpana hingga lupa bergerak. Han Junjie menyeringai. Bantuan berharga muncul untuk menyokongnya. Ia keluarkan jurus 1000 sabetan yang membuat To Mu beserta anak buahnya terjungkal dan berdarah-darah. "Bersiaplah menemui ajal kalian!" seru Han Junjie mencemooh mereka. Lima orang yang hendak kabur sudah berlarian menjauh, akan tetapi tiba-tiba saja sulur labu melilit mereka. Kelima pria itu berkial-kial berusaha melepaskan diri, malah berangsur-angsur mereka lemas karena tenaga mereka diserap. "Aaaah, tidaaak! Tolong kami ... Lepaskan kami ...." To Mu dan yang lainnya diam menonton karena keheranan. Han Junjie juga heran apa yang terjadi, tetapi fokusnya adalah membunuh semua musuhnya. Ia hendak menyerang To Mu, akan tetapi sulur labu mendahuluinya melilit To Mu beserta sisa anak buahnya. Senjata mereka dilucuti, mereka berteriak-teriak minta lepas, tapi tak lama turut lemas. Bersamaan dengan itu, beberapa sulur muncul dan daun-daunan terkembang di atas kepala Han Junjie beserta 8 anak buahnya. Sulur jenis itu memberi energi pada Han Junjie dan anak buahnya sehingga kondisi mereka pulih 100%. Anak buahnya berseru terkagum-kagum. Han Junjie berdiri mematung di tempat mengamati semua orang yang terangkat dililit sulur serta fenomena yang dialaminya. Liu mendekatinya bersuara pelan. "Grizz, apakah ini kekuatan Dewi Labu milik Selir Kaili?" tanyanya. "Entahlah. Aku baru pertama kali melihat yang seperti ini," jawab Han Junjie tak yakin. "Apakah mereka keracunan?" "Sepertinya bukan. Mereka kehilangan energi. Sulur-sulur itu menyedot energi mereka." Liu membisu sesaat, kemudian agak ragu-ragu ia berkomentar, "Apakah tidak apa-apa Selir Kaili menyerap energi mereka? Hanya pemikiranku, jikalau apa yang dimakannya akan mempengaruhi pertumbuhannya. Entahlah, tapi ... mungkin saja 'kan?" Han Junjie memicingkan matanya. Dari cara makhluk itu bekerja sangat progresif menyerap energi lawannya seperti sebuah keganasan sungguh bukan tabiat yang cocok untuk Kaili. Daripada terlanjur kenapa-kenapa, lebih baik ia hentikan secepatnya. Ia menghunuskan pedang lagi. "Kalau begitu, kita akhiri pertarungan ini sekarang juga." Han Junjie melompat dan mengayunkan pedangnya menebas kepala To Mu. Pria itu tewas seketika, kepalanya terpental ke tanah dan darahnya menyembur-nyembur. Semua anak buah To Mu terbelalak, akan tetapi mereka terlalu lemah untuk melawan. Han Junjie menebas kepala seorang lagi dan yang lainnya menangis sesenggukan, tetapi pasrah menyaksikan. Liu dan yang lainnya turun tangan sehingga seluruh anggota ekspedisi yang tersisa meregang nyawa dalam waktu singkat. Tewasnya orang-orang itu membuat sulur melepaskan mereka lalu masuk kembali ke dalam tanah, menghilang menyisakan bukaan bekas tumbuh, gelimang darah, serta jasad-jasad tak berkepala. Kaisar Han serta semua anak buahnya bermandikan darah musuh mereka. Wajah Han Junjie dingin hingga menggelap di balik topeng beruangnya. Itu bukan pemban.taian pertama mereka, tetapi menjadi yang tersadis karena biasanya mereka membiarkan orang-orang yang kabur. Kali ini, mereka membasmi seluruh angkatan. "Gantung badan mereka di pohon-pohon biar menjadi tanda bagi orang-orang yang hendak memasuki wilayah kita. Negeri Beruang bukan negeri yang dulu lagi. Kita bangkit dan mereka harus takut pada kita." "Baik, Grizz!" sahut Liu, kemudian bersama anggotanya melaksanakan suruhan kaisar mereka. "Bagaimana dengan kepala mereka?" tanya satu orang. "Bawa ke desa, biar seluruh penduduk melihat bahwa mereka tidak perlu takut lagi, karena kaisar mereka tidak akan membiarkan seorang pun mengintimidasi rakyatnya." "Tapi, Grizz ... Apakah itu tidak akan menimbulkan ketakutan bagi mereka?" "Apanya yang menakutkan? Itu kepala musuh mereka, bukan kepala orang yang mereka sayangi. Sifat dasar manusia adalah sama. Yang menjadikan mereka jauh berbeda adalah kebiasaan. Terbiasa dengan semua ini, maka tidak akan ada lagi rasa takut yang mengekang mereka. Aku akan membuat seluruh rakyatku kuat dan tidak akan lari oleh gangguan kecil seperti ini." "Wow, Grizz. Kau benar-benar bertangan besi jika mulai serius memainkan permainan ini," celetuk Liu. "Aku akan menjadi lebih keras dari besi jika perlu," gumamnya sambil berlalu menenteng kepala To Mu yang matanya terpejam sementara mulutnya terbuka seperti ngiler. Darah masih menetes dari bekas tebasannya sehingga sepanjang jalan yang dilalui Han Junjie bebercak tetesan itu. Kaisar Han dan rombongannya disambut gegap gempita oleh warga desa. Bahkan kepala-kepala yang mereka bawa disahut sorak sorai suka cita. Itu menjadi piala kemenangan mereka. Malah tidak menakutkan sama sekali bahkan bagi anak-anak sekali pun. Semua orang merasakan kegembiraan seperti sebuah kemerdekaan untuk yang pertama kali. Kaili yang pingsan diungsikan kembali ke penginapan Tuan Ming. Meskipun ia tak sadarkan diri, tetapi ia melihat semua yang dilakukan Han Junjie pada musuh-musuh mereka. Kaili menangis karena menyayangkan betapa sadisnya perbuatan Han Junjie. Apakah itu bijak? Apakah itu patut dilakukan pada orang yang tak berdaya? Kaili tahu itu cuma game, akan tetapi hatinya terasa nyeri yang tak bisa dikendalikan. Mungkin sebaiknya aku berhenti main game ini, demi kesehatan jiwaku, pikir Kaili. Ia merasa sangat lelah dan ingin log out saja, akan tetapi sebelum ia sempat melakukan itu, Han Junjie datang ke kamar dan menggagahi tubuhnya yang gemulai. Kaili mendesah dalam hati, sialan, aku kalah cepat! *** Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD