Ep. 2 Updating

2111 Words
Di sebuah acara on-air yang disiarkan BoxTV. LTJ dan idol lainnya lagi-lagi dibuat gigit jari melihat kemenangan Han Junjie. Di panggung pentas Weekly Music Chart, penyanyi tampan nan modis itu melambaikan tangan sambil mengurai senyum pada fans yang riuh menyerukan namanya. "Han Junjie, wǒ ài nǐ! Han Junjie, wǒ ài nǐ!" "Terima kasih! Terima kasih!" ucap Junjie berulang-ulang. Ia membungkuk sembari memeluk buket bunga serta piala mungil berbentuk globe prasasti kemenangannya. Sebagai ucapan perpisahan, ia berdiri tegak dan membalas teriakan penggemarnya. "Aku juga cinta kalian!" Han Junjie mengecup jari dan melemparkan ciumannya ke arah penonton. Sontak teriakan mereka semakin histeris memekakkan telinga. Acara ditutup dengan ledakan petasan dan taburan konfeti yang jatuh dari langit-langit diiringi musik mengentak dari pengeras suara. Pengarah acara membimbing Han Junjie dan para artis lain, termasuk grup LTJ, ke belakang panggung. Saat melintas di sisi gelap belakang panggung, Han Junjie tersenyum mencemooh pada kelima member LTJ. Ia senang karena mereka lagi-lagi dipencundangi olehnya. "Isshhh!" Xiaoli mendesis dan tinju terkepal siap menyerang Han Junjie, tetapi keempat rekannya menghalangi sehingga Han Junjie berlalu begitu saja. Qu Shoushan membisiki Xiaoli. "Tenangkan dirimu, Xiaoli! Jangan bertindak gegabah. Ingat fans Han Junjie barbar. Bisa-bisa mereka menyerang agensi kita kalau terjadi insiden." "Sialan!" Xiaoli beralih meninju dinding lalu dikubit teman-temannya ke ruang ganti. Sampai di sana barulah ia berteriak, "Awas kau, Junjie! Suatu saat kau akan jatuh dan setelah itu, apa kau masih bisa menyombong? Dasar manusia bermuka dua!" Bukan tanpa alasan makian itu dialamatkan pada Han Junjie. Di mata fans, Han Junjie adalah artis yang sopan dan ramah, suka berdonasi, dan suka memberi servis fans. Namun, di balik itu semua, ia seorang yang sangat arogan terutama pada orang yang mudah direndahkannya. Han Junjie boleh jadi berbangga diri atas posisinya sebagai artis solo pria terlaris selama bertahun-tahun. Ia membintangi ratusan iklan, penjualan album yang fantastis, banyaknya acara on-air dan off-air, sejumlah penghargaan, dan uang miliaran yang dihasilkannya menobatkan Han Junjie sebagai salah satu artis berpenghasilan terbesar. Ten Million (TM) Entertainment --agensinya-- tidak segan memberi Han Junjie apartemen mewah yang dilengkapi studio, peralatan multimedia tercanggih dan termahal, fasilitas pribadi seperti sasana olah raga dan perawatan tubuh, juru masak pribadi dan manajer khusus melayaninya seorang. Han Junjie memiliki semua yang hanya bisa diimpikan idol atau artis lain. Namun, berkah yang dimilikinya di dunia nyata, rupanya tidak berlaku di dunia game. Han Junjie adalah pemain terburuk sepanjang masa di game The 7. Dua siluet manusia tampak berlari menerobos kegelapan hutan belantara. Bulan yang tadinya bersinar, perlahan menghilang tertutup awan mendung. Langit bergemuruh pertanda hujan akan segera turun. Namun, tidak menyurutkan niat kedua orang itu terus masuk ke dalam hutan karena mereka sama-sama punya tujuan. Si laki-laki bertelanjang da.da adalah Grizz yang mengejar buruannya sambil berseru kegirangan. "Teruslah berlari, gadis kecil! Buat aku semakin b*******h. Kau akan jadi santapan lezatku ketika aku berhasil menerkammu!" Kaili yang mendengarnya bergidik ngeri. "Apa yang dibicarakannya? Dasar gila! Orang sakit jiwa!" Kaili menyempatkan melirik ke belakangnya menyaksikan penampakan pria bertubuh kekar atletis itu menyusulnya sangat cepat. Kaili terbelalak. Ia mempercepat larinya sambil berteriak, "Aaaaaah!" Namun, lari Grizz lebih cepat. Ia menerjang Kaili. Gadis itu terpekik dan tubuh keduanya berguling beberapa meter hingga berhenti dengan posisi Grizz di atas menindih gadis itu. Grizz menegapkan tubuhnya. Kaili berkial-kial sambil meringis, "Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Grizz malah tertawa dan mengancamnya dengan kedua tangan terangkat siap menghantam bak palu Thor. "Matilah kau, perempuan berengsek! Huahahahah...." "Tidaaak!" Duarrr! Petir menggelegar disertai cahaya kilat. Kaili melihat jelas wajah pria itu dan ia terperangah. "Han Junjie?" Seketika tawa Grizz terhenti. Ia terbelalak menatap gadis itu. Kilatan petir berkali-kali membuat Han Junjie tersadar gadis itu bisa melihat jelas wajahnya. "Kau Han Junjie?" ulang Kaili. "Kaisar terburuk di game ini ternyata Han Junjie?" Ucapan itu terdengar mengejeknya. Han Junjie tidak sanggup membayangkan identitasnya sebagai Grizz tersebar. Ia bakal malu seumur hidup. Gadis itu harus dihabisi agar tidak bisa masuk dunia The 7 lagi dan menyebarkan kesaksiannya. Ia menyiapkan tinju terbaiknya. "Hiaa...." "Tidak!" Kaili berontak menyebabkan pria di atasnya terjungkal dan ia bisa melepaskan diri. Ia tidak ingin mati dalam game karena itu sama dengan didepak dari agensi. Kaili harus lari demi hidupnya dalam game dan kariernya di dunia nyata. "Berengsek!" hardik Grizz atau yang tak lain dan tak bukan adalah Han Junjie. Kaili kembali berlari, tetapi tidak lama, karena Junjie menerjangnya lagi. Mereka jatuh berguling-guling di permukaan curam hingga akhirnya terlempar di bibir jurang dan melayang jatuh. Keduanya berteriak bersamaan. "Aaaaa.....!" Byurrr.... Dua tubuh itu jatuh ke dalam aliran sungai dan mereka masih bergumul. Keduanya timbul tenggelam terseret arus, tetapi masih saja sempat saling memaki. "Blurrppp ...berengsek!" "Blurrppp.... Gila!" "Mati kau! Bupbup bup." "Tidak! Blupblupblup. Kau yang mati!" Han Junjie melepaskan serangan dalam air yang menyebabkan empasan ombak yang cukup kuat melemparkan mereka berdua keluar dari sungai lalu mendarat di tepian. "Uhuk! Uhuk, uhukk!" Keduanya terbatuk-batuk sambil merangkak tertatih-tatih menjauhi sungai. Pandangan Han Junjie nanar. Serangan dalam air tadi rupanya pecah dan sebagian energi menghantam dirinya sendiri. Bukannya berhasil membunuh gadis itu, ia malah tak berdaya kehabisan tenaga. Kondisi yang sama dialami Kaili. Pakaiannya tipis melekat di badan, basah membuatnya tampak transparan. Ia terbaring tepar dan napas megap-megap. Untungnya Kaili punya sedikit kemampuan menyembuhkan diri. Ia bermeditasi untuk memulihkan tenaga. Han Junjie tidak ingin gadis yang diburunya pulih lebih dulu. Ia punya perbekalan obat-obatan. Ia gunakan satu dan tenaganya terisi instan sebanyak 25%. Ia serang lagi gadis itu dengan pukulan maut. Kaili hanya punya tenaga untuk menghindar. Ia berkelit di saat yang tepat, saling tatap dengan Han Junjie yang berposisi menyerang. Kaili mengenal sosok Han Junjie sebagai idol yang ramah berkharisma, tidak menyangka personanya dalam game sangat mengesalkan dan bertolak belakang dengan kenyataan. Ia menggerutu, "Kenapa kau sangat gigih ingin membunuhku? Tolonglahh ... Biarkan aku pergi. Aku hanya trainee baru di agensi. Aku masih ingin bergabung di TM Entertainment. Ayahku menaruh semua tabungannya di situ." "Kau mengenaliku, karena itu kau harus mati!" "Lalu kenapa memangnya kalau aku mengenalimu? Di dunia nyata juga semua orang mengenalimu. Apa karena kau pemain terburuk di game ini? Lalu kenapa? Ini cuma game!" "Kalau ini cuma game, kenapa kau takut mati? Kau cuma trainee. Kau tidak punya reputasi apa pun untuk dipertahankan." "Kau salah! Aku punya tabungan ayahku. Aku tidak mau keluar dari agensi sebelum bisa mengganti seluruh uang yang diserahkan ayahku." "Jika demikian, lawan aku! Setidaknya kau sudah berusaha mati-matian sebelum keluar dari game ini untuk selamanya." Kaili berdecih. Agaknya ia tidak punya pilihan lain kecuali menghadapi Han Junjie meskipun levelnya jauh di bawah pria itu. Pasti ada alasannya kenapa reputasi Han Junjie sangat buruk. Mungkin ia benar-benar pemain yang payah. Kaili pun memasang posisi menyerang. Sama-sama tangan kosong serta kondisi sama-sama lemah, Kaili merasa ada peluang setidaknya meloloskan diri dari kejaran manusia beruang gila itu. Keduanya maju sambil berseru bersamaan. "Hiaaat!" Namun, tiba-tiba petir menggelegar lagi bahkan menyambar pepohonan di sekitar mereka. Kaili dan Junjie terpana. "Apa lagi kali ini?" gerutu Junjie. Dan tidak perlu menunggu, ia segera mendapatkan jawabannya. Hujan turun sangat lebat. Suara gemuruh tanpa henti menggaung di sekeliling kawasan yang dibentengi tebing curam itu. Han Junjie mengenali bunyi tersebut. Ia segera berlari menjauh dari situ. Kaili terjengkit. Ia meneriaki pria itu sambil menantang. "Hei?! Woi! Kenapa kau lari? Apa kau takut melawanku, ha? Han Junjie pengecut?!" Han Junjie menyahut tanpa repot-repot menoleh Kaili. "Terserah! Pokoknya aku pergi. Selamat tinggal!" Ditinggal begitu saja bukannya membuat Kaili lega. Jika Han Junjie sampai melarikan diri, apakah sesuatu yang mengerikan akan segera muncul? Tanpa sempat memikirkan kemungkinan lainnya, datang bergulung dari atas tanah longsor berpadu dengan limpahan air terjun dari langit. Banjir lumpur menimpanya dan menyeret Kaili. Gadis itu cukup beruntung bisa berpegangan pada sebatang kayu sehingga ia tidak tenggelam dalam massa padat. Aliran bah itu sangat cepat seolah tanpa henti membuat Kaili menangis ketakutan. "Ayah ... Ibu...." Tak berlangsung lama, tangis Kaili terhenti karena aliran itu menyusul Han Junjie. Pria itu turut dilahap lumpur dan akhirnya mereka berdua berpegangan pada batang yang sama. "Aaargghh, berengsek! Ini semua salahmu!" tuding Han Junjie pada gadis itu. "Salahku? Aku baik-baik saja sampai aku bertemu denganmu. Kau yang menyebabkan semua ini terjadi! Nasibmu sangat buruk sampai kau membawa kesialan pada sekitarmu!" "Beraninya kau mengata-ngatai aku pembawa sial?! Akan kubuat kau menyesal seumur hidup telah bertemu denganku, trainee! Aaaargghh!" Han Junjie menyerang gadis itu lagi, tetapi aliran lumpur berhenti dan mengempaskan keduanya lagi ke tanah. Entah sejauh apa fenomena alam membuang mereka ke kawasan yang semakin asing. Keduanya berdiri terhuyung-huyung lalu sama-sama baku hantam meskipun tubuh sulit bergerak karena lumpur di tubuh mereka. "Aku telah bertemu dengan banyak gadis, tidak ada satu pun dari mereka menimbulkan masalah seperti ini!" hardik Junjie. "Peramal nasib (dalam game) mengatakan aku dilahirkan dengan keberuntungan yang luar biasa. Aku akan jadi tokoh besar dan berpengaruh di dunia ini," balas Kaili. "Ia mengatakan itu pada semua orang, idi.ot! Ia mengatakan semua hal yang bagus supaya kita melanjutkan main game, kau paham?" Kaili jadi kelu, sehingga ia berteriak sambil melayangkan tinjunya. "Aaaaa...." Junjie melakukan hal yang sama. "Aaaaaa." Serangan mereka beradu, akan tetapi langit ikut campur. Petir menyambar tepat mengenai keduanya. Ledakan melempar Han Junjie dan Kaili terperosok ke dalam gua lalu reruntuhan bebatuan menutupi muara gua tersebut. Keduanya dalam keadaan gosong berasap seperti tembikar baru dibakar. Mereka terkapar kejang-kejang lalu tak sadarkan diri. Tubuh asli kedua orang itu mengalami reaksi yang sama. Namun, mesin mereka tidak mengirim sinyal bahaya ke server sehingga tidak ada yang datang mengecek keduanya. Mereka terbaring di kursi VR, tak berkutik seperti tokoh mereka dalam game. Sistem mereka dalam status loading selama beberapa jam sampai akhirnya selesai. Keduanya keluar dari game dan bangun di dunia nyata dengan sekujur tubuh pegal linu. Han Junjie melepas helm VR sambil mengerang kesakitan. "Aaarhh... berengsek! Apa-apaan itu tadi?" suaranya parau. Han Junjie tergamam menyadari suaranya bisa hilang karena kebanyakan berteriak. Ia bergegas mendeham-deham, akan tetapi tidak menghilangkan seraknya. Ia mencari air minum. Ia menenggak sebotol air mineral kemudian mengetes suaranya lagi. "Aaa. Aaa. Aakh!" Tenggorokannya sakit. Ternyata suaranya benar-benar pecah. "Sialan!" teriaknya fals, tetapi segera senyap karena sadar jika ia bersuara keras lagi, maka pita suaranya bisa benar-benar rusak. Han Junjie kelabakan. Ia mencari ponselnya dan mengetik pesan pada manajernya sambil mengutuk dalam hati. Perempuan sialan! Benar-benar pembawa sial! Awas kau! Akan kucari kau sampai ke ujung dunia. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu, berengsek! Sementara kondisi Kaili tidak kalah mengenaskan dari Han Junjie. Ia kehabisan tenaga sehingga tidak bisa bersuara lagi. Ia berjalan sempoyongan menuju tempat tidurnya sambil bergumam semrawut, "Han Junjie sialan, Han Junjie berengsek, Han Junjie pembawa sial, Han Junjie b******n tengik, mati saja kau! Mati saja!" Jika salah satu fans Han Junjie mendengarnya, justru Kaili yang akan mati duluan. Begitu kepalanya menyentuh bantal, gadis itu langsung tidur lelap. Napasnya mengalun teratur. Ia tidur sangat, sangat lelap hingga tak tahu waktu dan mengabaikan alarm hingga 2 sesi latihan pun terlewat. Di studio tari TM Entertainment, Pelatih mengomel-omel akibat ketidakhadiran Kaili. Gadis itu digadang-gadang jadi main dancer dan main vokal grup yang bakal debut beberapa bulan lagi, tetapi malah dia yang mangkir dari latihan. "Aduuh, bagaimana ini? benar-benar tidak menghargai orang lain!" gerutu pria itu. Ia lalu bersuara pada ketua grup para gadis. "Hei, Xujia! Sudah kau hubungi Kaili?" Xujia berlagak terperanjat. "Sudah, Coach Min, tapi ... tapi Kaili tidak menjawab telepon maupun pesanku," jawabnya sambil menahan tersenyum kegirangan. Pria yang dipanggil Coach Min itu pun mendesah lelah. "Hhhhh... masih trainee saja sudah membuat ulah, bagaimana kalau jadi debut nanti? Aku harus melaporkan hal ini pada Pak Ketua." Gerasak-gerusuk para gadis bergumam menyetujui ucapan Coach Min. "Iya, laporkan saja, daripada menyusahkan terus menerus." Coach Min geleng-geleng. Bahkan tidak ada satu pun trainee yang membela Kaili. Sepertinya itu menggambarkan betapa Kaili ini juga tidak disukai teman-temannya. Coach Min kemudian memantapkan niatnya. "Baik. Akan kulaporkan dia sekarang juga. Nantinya, jangan ada satu pun dari kalian yang mengabarkan kalau dia diberhentikan. Aku ingin mengatakan di depan wajahnya langsung dan melihat reaksinya." "Baik, Coach!" sahut gadis-gadis itu serempak. Coach Min keluar ruangan dan para gadis itu terpekik melonjak kegirangan. Mereka mengerubungi Xujia. "Kakak Jia, akhirnya kesempatan Kakak jadi main lead bakal terlaksana. Semangat, Kakak Jia! Kami mendukungmu ...." Xujia tidak ingin kelihatan berpuas diri. Ia mengulum senyum dan berujar merendah. "Ah, kalian berlebihan... Kita berjuang bersama-sama. Siapa pun yang terpilih, sama saja. Aku juga akan mendukung kalian." Jika kalian hanya sebatas penari pengiringku. Untuk urusan di posisi terdepan dan paling banyak mendapat sorot kamera, tetap, hanya aku yang pantas untuk itu. "Ah, Kakak Jia memang baik hati sekali. Memang sudah seharusnya kami belajar padamu, Kakak Jia. Kakak Jia, mohon bantuannya." Para gadis itu membungkuk-bungkuk padanya. Xujia pun tersenyum tipis mengisyaratkan kepuasannya. Tamat riwayatmu, Kaili. Aku harap kau tidak akan pernah debut di mana pun dan kapan pun. *** Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD