Bab 5: Penyihir Hutan Berkabut

798 Words
Kael berlari tanpa memikirkan apa-apa selain langkah-langkah cepat yang menghantam tanah lembab di bawah kakinya. Setiap detik terasa lebih berat, lebih gelap, seperti bayang-bayang kegelapan itu mengejarnya, siap menelan dirinya hidup-hidup. Di kejauhan, terdengar suara jeritan yang memekakkan telinga, disusul oleh ledakan ledakan magis yang mengguncang tanah. Lysander. Pikiran itu menghantui Kael, namun ia tak punya waktu untuk berpikir lebih lama. Mengikuti arah yang sudah diarahkan oleh Lysander, Kael terus berlari hingga mencapai sungai besar yang berkelok, membelah hutan lebat. Kabut tebal menggantung di atas permukaan air, menciptakan pemandangan yang menyeramkan. Sungai itu bagaikan pembatas antara dunia yang nyata dan yang tak terjangkau—dunia sihir. Namun, Kael belum merasa aman. Di seberang sungai, ia bisa melihat sesuatu yang berbeda, seolah-olah ada aura magis yang menyelimuti area itu. Sebuah rumah kayu tua, terkubur di dalam kabut. Itu adalah tempat yang Lysander sebutkan. Kael mendekati tepian sungai, terengah-engah, dan mencoba mencari jalan untuk menyeberang. Namun sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, sebuah suara lembut namun tegas terdengar di belakangnya. "Kenapa kau tergesa-gesa, anak muda?" suara itu berkata, dan Kael menoleh cepat. Dari kabut, muncul seorang wanita muda dengan rambut panjang yang tergerai, mengenakan jubah hitam dengan simbol-simbol magis yang menyala di sepanjang tepinya. Wajahnya tenang, namun matanya penuh kekuatan yang memancar, seakan melihat jauh ke dalam hati Kael. Kael mundur, merasa cemas, namun wanita itu hanya tersenyum samar. "Apa yang kau cari di sini, di tanah yang penuh dengan misteri dan bahaya?" tanyanya dengan nada penasaran. "A-aku... aku mencari seseorang. Lysander mengatakan aku harus menemui seorang penyihir bernama Elira," kata Kael dengan gugup. "Aku... aku butuh bantuan." Wanita itu mengamati Kael dengan seksama. "Elira, ya? Kau tidak salah tempat," jawabnya perlahan. "Aku Elira." Kael terkejut. Ini adalah penyihir yang dimaksud oleh Lysander? Ia merasa ragu sejenak, namun segera menyadari bahwa tak ada pilihan lain. "Apa yang kau butuhkan dariku?" Elira bertanya, berjalan mendekat. "Aku... aku butuh perlindungan. Ada kekuatan kegelapan yang mengejarku. Lysander memberitahuku untuk datang ke sini," jawab Kael dengan suara bergetar. Elira mengangguk, mengangkat tangannya, dan mulai menggerakkan jarinya dengan gerakan yang elegan. Awan-awan kabut di sekitar mereka bergerak perlahan, terangkat oleh energi sihir yang tak kasat mata. "Masuklah ke dalam rumahku, Kael. Di sini, kau akan aman... untuk sementara." Kael mengikuti Elira ke dalam rumah kayu itu. Begitu memasuki ruang utama, ia terpesona oleh pemandangan di sekitarnya. Dinding kayu yang dihiasi dengan lukisan-lukisan kuno, benda-benda magis yang bersinar samar, dan pot-pot tanaman yang tampak hidup di setiap sudut ruangan. Semua ini terasa begitu asing, tapi juga memikat. Elira menyuruh Kael duduk di sebuah kursi kayu yang tampak sederhana namun nyaman. Ia mulai mengeluarkan beberapa ramuan dari meja kayu, meraciknya dengan hati-hati, sambil berbicara pelan. "Di luar sana, ada banyak bahaya yang mengintai. Tapi bukan hanya Nox yang menjadi ancamanmu, Kael. Ada kekuatan yang lebih besar yang sedang mengamati setiap langkahmu. Lumen, cahaya abadi itu... menyembunyikan banyak rahasia." Kael merasa cemas. "Apa maksudmu?" Elira menatap Kael dengan tajam. "Lumen adalah lebih dari sekedar cahaya yang menjaga dunia. Ia adalah inti dari kehidupan itu sendiri. Tapi kekuatan gelap seperti Nox selalu mengincarnya. Itu sebabnya, hanya mereka yang memiliki darah istimewa yang dapat menjaga Lumen. Dan kau... Kael... kau adalah salah satu dari mereka." Kael terdiam, merasa dunia di sekitarnya terbalik. "Aku... apa yang kau maksud dengan 'darah istimewa'?" Elira menarik napas dalam-dalam. "Kau tidak tahu, bukan? Seharusnya Lysander yang memberitahumu. Tapi mungkin, dia lebih takut pada kenyataan itu daripada yang kau kira." Kael merasakan dunia terbelah, seolah-olah ada lubang besar yang menganga di bawah kakinya. "Kenapa dia tak memberitahuku? Kenapa aku? Kenapa aku yang harus melindungi Lumen?" Elira menghela napas. "Bukan karena kau lebih kuat daripada orang lain. Bukan karena kau lebih pintar atau lebih berani. Tapi karena Lumen memilihmu, Kael. Seperti ia memilih orang-orang yang memiliki hubungan erat dengan dunia magis ini." Kael merasa pusing. Semua yang terjadi begitu cepat. "Lysander... dia bilang dia pernah menjadi bagian dari kegelapan. Apakah dia... apakah dia juga bagian dari ini?" Elira tersenyum tipis. "Lysander adalah bagian dari masa lalu yang gelap. Tapi dia juga bagian dari masa depan yang terang. Tidak ada yang tahu bagaimana semuanya akan berakhir, Kael. Tapi satu hal yang pasti: jika kau memilih untuk melawan kegelapan ini, kau tidak akan melakukannya sendirian." Kael menatap Elira, matanya penuh kebingungan dan harapan. "Apa yang harus aku lakukan?" Elira meletakkan ramuan yang telah ia buat ke depan Kael. "Pertama-tama, kau harus belajar mengendalikan kekuatanmu. Jangan biarkan kegelapan mengambil alih. Kekuatan itu ada di dalam dirimu, Kael. Dan jika kau ingin melindungi Lumen, kau harus memahaminya." Kael meraih ramuan itu dengan tangan gemetar, menatap Elira dengan penuh harapan. "Aku akan berjuang. Aku tak akan menyerah." Elira mengangguk, matanya penuh tekad. "Ingat, Kael. Apa pun yang terjadi, Lumen ada di tanganmu. Dan jika kau gagal, dunia ini akan tenggelam dalam kegelapan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD