Bab 7: Kegelapan yang Terungkap

781 Words
Hari-hari berlalu dengan cepat, dan Kael semakin terbiasa dengan latihan yang diberikan oleh Elira. Ia mulai memahami betapa kuatnya Lumen yang mengalir dalam tubuhnya, dan semakin sering ia merasakan getaran aneh yang seolah memberi petunjuk tentang langkah-langkah selanjutnya. Namun, meskipun kekuatan itu mulai terkendali, Kael merasa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang mengintai, sesuatu yang lebih gelap dan lebih kuat dari apa yang ia bayangkan. Pada suatu malam yang sunyi, saat kabut menutupi seluruh hutan, Elira memanggil Kael untuk berdiskusi tentang apa yang sebenarnya mereka hadapi. Kael mendekat dengan langkah hati-hati menuju ruang dalam rumah kayu, tempat Elira menunggunya dengan wajah serius. "Kael," kata Elira, matanya penuh kekhawatiran, "Ada sesuatu yang lebih besar dari Nox yang kita hadapi sekarang. Ini bukan hanya soal kegelapan yang mencoba merusak Lumen, tapi tentang seluruh dunia yang berisiko terjatuh ke dalam jurang kehancuran." Kael duduk di depan Elira, merasakan ketegangan di udara. "Apa maksudmu? Bukankah Nox adalah ancaman utama kita?" Elira menarik napas panjang, memandangi Kael dengan tatapan yang berat. "Nox memang ancaman besar, namun ada kekuatan yang lebih tua—lebih jauh lagi—yang telah ada sejak awal mula dunia ini. Sebuah entitas yang telah menguasai kegelapan jauh sebelum Nox muncul. Itu adalah entitas yang disebut ‘Abyss’." Kael merasa tubuhnya kaku mendengar nama itu. "Abyss? Apa itu?" Elira menunduk, seolah mengingat masa lalu yang kelam. "Abyss adalah kekuatan primordial, kekuatan kegelapan yang jauh melampaui yang kita kenal. Ia bukan hanya makhluk atau entitas biasa. Abyss adalah sumber dari segala kegelapan yang ada di dunia ini. Ia memanipulasi perasaan dan pikiran, menciptakan kebingungan dan kehancuran. Dan ia tahu tentang Lumen. Ia tahu bahwa jika Lumen jatuh, dunia akan terperosok ke dalam kehancuran yang tak terpulihkan." "Jadi, Nox bukan ancaman utama?" tanya Kael, suara penuh keheranan. Elira menggelengkan kepala. "Nox hanyalah alat dari Abyss. Sebuah bentuk kekuatan yang digunakan untuk mengganggu keseimbangan dunia ini. Jika kita tidak berhati-hati, Nox akan membawa Abyss ke dunia ini. Lumen adalah kunci, Kael. Jika Lumen jatuh, itu berarti kebangkitan Abyss yang tak terhindarkan." Kael merasa gemetar. Dunia yang sudah dia kenal, yang tampaknya begitu sederhana dan aman, tiba-tiba terasa sangat rapuh. "Lalu... bagaimana kita menghadapinya?" Elira menatap Kael, matanya penuh tekad dan rasa tanggung jawab yang berat. "Kita tidak bisa melawan Abyss dengan kekuatan biasa. Kita harus menemukan cara untuk memperkuat Lumen, untuk menstabilkan cahaya itu agar ia bisa melawan kegelapan yang lebih besar. Kau... Kael, kau adalah satu-satunya yang bisa melakukannya." Kael merasa dunia di sekitarnya menggelap sejenak. "Aku? Aku tidak tahu bagaimana caranya, Elira. Aku bahkan belum menguasai kekuatanku sepenuhnya." Elira berdiri dan mendekatkan dirinya ke Kael. "Kau memiliki lebih banyak kekuatan daripada yang kau sadari, Kael. Lumen telah memilihmu karena dirimu memiliki cahaya yang sangat kuat dalam dirimu. Tapi untuk menghadapinya, kau harus mengetahui apa yang tersembunyi dalam dirimu. Kau harus mengerti apa arti sejati dari menjadi Penjaga Cahaya." "Dan bagaimana aku bisa melakukannya?" tanya Kael dengan suara lirih. Elira menatapnya dalam-dalam. "Dengan pergi ke tempat yang paling berbahaya di dunia ini." Kael terkejut. "Tempat berbahaya? Apa maksudmu?" Elira menarik sebuah peta tua dari laci meja kayu dan menyebarkannya di depan Kael. Di atas peta itu, ada sebuah tempat yang terletak jauh di luar kerajaan Luminara, di tengah-tengah sebuah gurun yang tidak pernah ada perjalanan yang kembali dari sana. "Di sini," kata Elira, menunjuk ke lokasi yang tercatat dengan simbol aneh. "Itulah tempat yang dikenal dengan nama ‘Tempat Terakhir.’ Di sana, Lumen dan Abyss pernah bertemu. Di sana, akan ada jawaban yang kau butuhkan." Kael menatap tempat itu dengan cemas. "Apakah kita harus pergi ke sana? Bukankah itu sangat berbahaya?" Elira mengangguk, matanya penuh keyakinan. "Tempat itu adalah satu-satunya yang menyimpan kunci untuk mengalahkan Abyss. Di sana, kau akan menemukan kekuatan yang dapat menyeimbangkan Lumen dan menghalau kegelapan yang datang. Tapi kita tidak bisa melakukannya sendirian, Kael. Kita membutuhkan bantuan." "Siapa yang bisa membantu kita?" tanya Kael. Elira menyeringai sedikit, seolah sudah memikirkan hal itu. "Ada seseorang yang sudah lama mencari tempat itu. Seseorang yang juga punya kepentingan besar dalam melawan Abyss." Kael menatapnya dengan penasaran. "Siapa dia?" Elira tertawa pelan. "Lysander." Kael terkejut. "Lysander? Tapi dia—" "Dia tahu lebih banyak tentang kegelapan daripada siapa pun," kata Elira memotong. "Dia mungkin punya rahasia, tetapi dia juga bisa menjadi sekutu yang kuat. Kita akan membutuhkannya untuk perjalanan ini." --- Dengan rencana yang sudah disusun, Kael merasa semakin tidak pasti akan perjalanan yang harus ia lakukan. Pergi ke tempat yang paling berbahaya, bertemu dengan Lysander yang penuh rahasia, dan menghadapi Abyss yang mengancam. Tak ada jalan mundur. Namun satu hal yang pasti, Kael tahu bahwa ini adalah takdirnya. Takdir yang membawa dirinya ke dalam kegelapan yang lebih besar, dengan harapan satu-satunya—Lumen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD