Akira menempelkan card apartemen Azura yang dia miliki atas titah orang tua mereka. "Masuklah," kata Akira menyuruh Devano masuk dan pria itu menurutinya.
"Dengar, ingat kataku jangan terlalu terburu-buru karena itu sama saja kau memaksanya. Jadilah seseorang yang selalu ada untuknya, hanya itu yang bisa kau lakukan saat ini." Peringat Akira lagi pada Devan.
"Aku merasakan Azura sangat sedih saat ini. Kau harus berusaha calon adik ipar." Akira tertawa lalu meninggalkan Devan disana untuk berusaha.
"Azura," panggil Devan saat dia sudah sendirian. "Azura maafkan aku," tidak ada sahutan dari Azura sehingga Devan memberanikan dirinya membuka pintu kamar yang tepat berada didepannya. Pintu itu tak terkunci, membuat Devano bisa masuk dan melihat keadaan kamar bersih namun hampa. Sebuah tirai terbuka memperlihatkan pemandangan yang sangat indah.
Bangunan-banguna kota london dan London eye dapat terlihat dari jendela kaca itu. Perhatian Devan teralihkan saat mendengar suara air dari kamar mandi didalam kamar itu, Devan mendekat kesana dan berdiri tepat didepan pintu kamar mandi.
"Azura," lirih Devan memanggil nama itu. Sehingga Devan memutuskan menunggu Azura keluar dari kamar mandi, tapi setelah satu jam menunggu dengan gelisah Azura belum juga keluar dari sana. Devan yang khawatir memegang handel pintu itu dan ternyata tidak terkunci.
Pelan Devano melihat sedikit pemandangan didalam sana, dan matanya membulat saat dia melihat Azura berada dibawah pancuran air shower, wanita itu memeluk kedua lututnya dan memejamkan matanya. Devano masuk dengan tergesa-gesa, hatinya kesakitan melihat Azura seperti ini, matanya menatap Azura merasa sangat bersalah tapi Azura hanya diam terus menunduk.
"Azura," panggil Devano tapi wanita itu masih terus menulikan telinganya. Tubuh mereka berdua basah akibat air shower itu, Devano berlutut dan memegang kedua bahu Azura.
"Pergilah dari sini," kata Azura datar tanpa menoleh kepada Devano.
"Aku tidak akan pergi sebelum memastikan kau baik-baik saja," Devano sedikit menekan setiap katanya agar Azura mengerti kalau dia tidak bermain-main.
"Kau tidak mengerti dengan siapa kau menjatuhkan pilihan, aku tidak pantas untukmu dan aku juga tidak berniat sama sekali untuk jatuh cinta. Kau akan menyesal memilihku tuan." Bahu Azura mulai bergetar pertanda dia akan menangis. Devano memeluk Azura kedalam pelukannya merasakan bagaimana dinginnya tubuh wanita itu.
"Maafkan aku, semua ini salahku aku terlalu takut kehilangan wanita yang kucintai." Azura masih bergetar, dia merasa tidak pantas untuk dicintai dan juga dia takut akan kehilangan cintanya lagi.
"Mulai sekarang ku mohon izinkan aku berada didekat mu, menjadi temanmu,sahabatmu, apapun itu aku tidak masalah. Aku berjanji tidak akan memintamu menikah denganku, tapi ijinkan aku berada dekat denganmu."
Azura yang hanya diam mendengar semuanya lalu Devano mengangkat tubuh Azura dari sana. Dia menggendong Azura keluar dari kamar mandi, mendudukan wanita itu ditempat tidur mengambilkannya handuk. Mereka saling terdiam lama saat Devano mengeringkan rambut Azura setelah selesai Devano memilihkan pakaian Azura di lemarinya, dia berikan pakaian itu sambil berlutut lagi didepan Azura, senyuman tulus pria itu membuat sedikit hati Azura berdesir, senyuman Devano kali ini tidak seperti biasanya.
"Pakailah bajumu, aku akan mengeringkan tubuhku juga dan aku ingin meminjam bathrobe mu ya."
Azura diam saat Devan pergi keluar kamarnya dia mengganti pakaiannya dengan baju tidur pilihan Devano.
Setelah selesai dia duduk ditempat tidurnya tidak bersemangat sambil melihat pemandangan diluar sana dari kaca jendela.
Devano pun masuk dengan hanya memakai bathrobe, penampilannya terlihat sudah segar dia memilih duduk disebelah Azura .
"Devan," panggil Azura yang membuat Devano terkejut karena wanita itu pertama kali menyebut namanya.
"I_iya_" jawab Devan terbata.
"Aku tidak akan bisa membalas cintamu, jadi menjauhlah dariku." Azura mengatakannya dengan perasaan hampa, wanita itu seperti menyimpan kesakitan dihatinya.
"Aku pernah mencintai seseorang, dan seluruh hatiku sudah aku berikan padanya tanpa bisa aku ambil kembali."
Azura akhirnya mengatakan sesuatu yang tidak ingin orang lain ketahui, entah kenapa dia bisa mengatakan semua itu kepada Devan, pria asing yang tidak sengaja tidur dengannya dua kali, pria gila yang mengejar-ngejarnya tanpa Azura ingin tahu siapa sebenarnya Devano. Bahkan untuk saat ini pilihan Azura masih sama, dia tidak ingin pria itu mendekatinya.
"Kalau begitu ijinkan aku menjadi temanmu ?" Azura melihat Devano yang tersenyum kepadanya, Azura menghela napas kasar, saat tangan Devano terulur kepadanya Azura berpikir apakah harus dia menerima tawaran itu ? Tapi sepertinya tidak ada salahnya kan dia memiliki teman pria? Azura menyambut uluran tangan itu dengan dingin tapi Devano tersenyum bahagia. Sangkin gemasnya dengan Azura Devano mencium pipi Azura dengan kencang.
"Ah, sakit stupid," geram Azura karena ciuman Devan. Pria itu tertawa melihat wajah kesal Azura dan dia tersenyum lebar.
"Masalah tadi aku minta maaf ya, aku akan menjelaskan kepada orang tua mu nanti." Azura mengangguk, dia juga akan meminta maaf kepada orangtua nya. Semoga mommy dan daddy nya akan mengerti kesalahannya.
***
Semalam Devano menemani Azura seharian, dan di sana Devano tahu kalau Azura memang tidak banyak berbicara dan sangat sangat irit dalam hal itu. Dia hanya akan mengatakan hal-hal penting seperti, menjauhlah, makanan nya ada dimeja makan, aku tidak suka, dan Azura hanya akan berbicara saat ditanya. Sekali Azura berbicara malam itu saat menyuruh Devano pulang, karena Azura ingin istirahat. Tapi bukan Devano namanya kalau mudah menyerah, dia akan terus mendekati Azura hingga Azura mengatakan akan dia menerima Devano, ah... membayangkan hal itu membuat Devano bersemangat sekali.
Langkah mantap Devano memasuki rumah yang menjadi saksi cintanya untuk Azura itu terlihat mantap. Belum dia sampai didepan pintu tiba-tiba wajahnya mendapatkan bogeman keras hingga hidungnya mengeluarkan darah, astaga yang semalam saja belum sembuh memarnya kenapa lagi ini pikir Devan.
Dilihatnya seorang pria yang sedikit lebih tinggi darinya dengan wajah bagai dewa-dewa yunani menatapnya sinis. Pria itu mendekat ke Devano dan ingin menghajarnya lagi tapi terhenti ketika Akira menghentikannya.
"Alfa stop," kata Akira menghentikan Alfa yang ingin menghajar Devano.
"Dia harus diberi pelajaran Akira, seenaknya saja meniduri wanita." Akira terlihat mendengus dan menatap Alfa malas.
"Seperti dirimu beres saja." Akira lalu tersenyum kepada Devano
"Kau lihat wajahnya masih memar akibat pukulan daddy, kasihanilah dia oke kakak ku yang tampan." Akira mencoba meredam amarah Alfa.
"Dia pantas mendapatkannya," ujar Alfa lalu berlalu masuk kedalam rumah. Berita Azura dan Devano sudah terdengar oleh Alfa yang posisinya adalah kakak tertua dari Azura dan Akira.
"Dia siapa ? Pacarmu ?" Tanya Devano dan Akira tertawa karenanya.
"Apa menurutmu dia akan memukulmu jika dia kekasihku?" Devano tersenyum konyol .
"Dia Alfa, saudara ku dan Azura. Apa kau tidak mengenalinya? Dia sangat tersohor dengan ketampanannya yang menyaingi Pangeran Aryan". Devano mendengus, tentu saja menyaingi mereka satu bibit.
"Tentu saja, bukankah kalian bersaudara." Akira lagi-lagi tertawa .
"Aku heran, kau begitu riang dan Azura begitu dingin? Bukankah anak kembar identik seperti kalian selalu memiliki kesamaan?"
"Jangan bahas itu sekarang. Oh ya, ada apa kau kesini? Mau bicara dengan daddy?" Anggukan Devano membuat Akira mengerti. Devano mengikuti Azura yang membawanya ketaman belakang rumah ini, udara begitu sejuk di taman ini karena banyaknya bunga-bunga dan juga pohon . Reikhan sedang duduk bersama Zia, pria paruh baya itu duduk sambil membaca majalah dan Zia sedang membaca sebuah buku. Kehadiran Devano membuat mereka berdua melihatnya dan Devano menjadi tidak enak.
"Mom, dad, Devano ingin bertemu." Akira lalu memilih duduk disebelah Alfa didekat kolam ikan .
"Apa kau berhasil membujuknya untuk menikah?" Tanya Zia langsung.
Gelengan kepala Devan membuat Zia menunduk lesu lagi. Bagaimana dia harus menjelaskan kepada Azura masalah ini. Kenapa anaknya yang satu itu begitu keras kepala.
"Saya berjanji akan menikahi Azura, itulah maksud saya kesini. Saya ingin kalian tahu kalau saya serius dengan Azura, saya akan berusaha mendapatkannya. Saya mohon maafkan kesalahan saya dan Azura, kami berjanji akan memperbaikinya."
Devano berharap kedua orangtua Azura mau memaafkannya terutama Azura, Devano tahu kalau Azura merasa bersalah kepada kedua orangtuanya terutama mommy nya.
"Kami orangtuanya Mr. Maczie, tentu kami akan memaafkannya ." Ucap Reikhan tenang.
"Baiklah jika kau berjanji, aku akan pegang janji itu. Bagaimanapun kau harus bertanggung jawab atas kesalahan ini, jika kau mangkir aku tidak segan-segan menghancurkanmu."
Reikhan terdengar sangat serius akan ucapannya.
"Dan juga membunuh semua keluargamu terutama kau Mr. Maczie," sambung Alfa tajam menatap Devano.
Tapi Devano tidak gentar, karena dia memang ingin menikahi Azura.
"Saya mencintai Azura, saya akan menepati janji saya . Karena saya sangat mencintainya, tapi saya harap Azura tidak mengetahui ini karena saya ingin mendekatinya dulu." Zia tersenyum dan mengangguk.
"Aku mendukungmu anak muda, dan pintaku jangan pernah kau sakiti perasaannya." Devano tersenyum dan mengangguk .
****
Seminggu berlalu dan semua mulai berubah bagi Azura, tapi tidak menyebalkan seperti sebelumnya. Devano hanya akan mengirimi nya pesan menanyakan kegiatan dan kabarnya. Dan terkadang pria itu menemani Azura ke studio pemotretan atau stasiun televisi yang memanggilnya.
Seperti saat ini, Devano sedang melihat pertunjukan fashion show yang Azura ikuti. Azura benar-benar bersinar seperti bintang yang mahal, sangat indah dan mahal.
Setelah acara selesai, Azura menyapa Devano singkat dan Devano mencium pipi Azura gemas.
"Kau," kata Azura kesal karena merasa sakit.
"Is, kenapa galak sekali sih nona satu ini." Devano mulai lagi godaan receh nya.
"Zura ayo makan, aku lapar sekali."
Azura melihat jam di pergelangan tangannya dan jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Aku sudah sangat lelah Devan, kau bisa makan sendiri bukan." Devano cemberut dan berpura-pura memasang wajah sedihnya.
"Oke fine," Azura menyerah dengan wajah memuakkan Devano seperti itu. Pria ini benar-benar gila, Devano cerewet, dan juga suka melalukan hal konyol.
"Begitu dong manis." Devano mencium lagi pipi Azura yang langsung ditoyor Azura.
"Besok aku jemput ya, temani aku membeli kado untuk kolega bisnis ku." Azura menggeleng tidak enak.
"Maaf Dev, tapi besok pagi-pagi aku sudah punya acara ." Azura mengatakannya dengan santai tanpa beban membuat Devano kesal dengan wanita dingin ini.
"Baiklah," kata Devano akhirnya. Harus bagaimana lagi kira-kira dia mendekati Azura.