7.Bertemu Dengan Azka

1559 Words
Devano tersenyum kecil saat Azura mengganggu anak-anak yang bermain bersamanya itu. Dan sebuah pertanyaan terlintas lagi di otaknya yang tidak bisa berhenti memikirkan Azura belakangan ini. "Elsa, apa kau tahu siapa kekasih Azura dulu?" Elsa menggeleng, dia memang tidak tahu siapa pria beruntung yang dicintai Azura itu. "Aku tidak tahu, yang aku tahu Azura hanya dekat dengan satu pria sedari dulu dan pria itu Mr.Orlando, mereka serasi sekali." Devano merengut mendengar kata-kata Elsa. "Azura itu sangat tertutup, orang diluar sana hanya tahu dia yang cantik,elegant,dan terlahir di keluarga yang kaya raya. Padahal Akira dan Azura lebih dari yang orang tahu, mereka berdua adalah kembar identik yang sangat baik. Meski Azura terkesan tidak perduli dan nakal, lihat saja dia mendirikan panti asuhan ini untuk membantu anak-anak yang tidak mendapatkan tempat yang layak." Devano tahu hal itu, Azura memang berbeda dengan model wanita lainnya, dan dia mencuri semua perhatian Devano sejak malam itu, malam dosa yang menguntungkan bagi Devano. "Devan, aku baru tahu kalau kalian dekat?" Tanya Elsa tiba-tiba dan Devan hanya tersenyum penuh arti. Menatap tak jenuh pada wanita bermata indah dan senyuman nya yang bagaikan bunga merekah. Devano selalu merekam setiap ekspresi Azura, seperti saat ini. Dia benar-benar ingin mencium pipi Azura dengan gemas. Setelah berlama-lama di panti asuhan itu Devano akhirnya mengantarkan Azura pulang ke apartementnya, tapi sebelum itu dia makan malam bersama Azura di restoran dekat apartement. Dentingan garpu dan pisau yang mereka pakai mengisi keheningan mereka, Devano asik menatap Azura sedangkan Azura memang terlalu lelah untuk berbasa-basi dengan pria di depannya ini yang sekarang diangkat statusnya menjadi teman Azura. "Zura," "Hem," Devano membersihkan sudut bibir Azura dengan tangannya, hal itu membuat Azura terkejut cukup lama dia terdiam menikmati sentuhan Devano di kulitnya. Tapi suara ponselnya membuatnya segera menepikan tangan Devano. "Ah ya Az," kata Azura lepas. __________ "Oke siap pak bos. Baiklah, jangan mengharap huh." Raut wajah Azura yang terlihat santai membuat Devano ingin bertanya siapa pria yang menelpon Azura. "Siapa?" Tanya nya saat Azura mematikan telpon itu, Azura yang tak suka nada bicara Devano menjawabnya dengan dingin. "Orang yang special dihidupku, ada masalah denganmu ?" Devano hanya diam tak ingin membuat Azura marah, padahal didalam hati dia sangat kesal dengan benteng pertahanan Azura. Mereka pulang dengan masih saling diam, Devano mengantarkan Azura sampai ke depan pintu unit nya. Azura menatap Devano dan sedikit tersenyum. "Terimakasih sudah menemaniku hari ini Dev,"kata Azura yang diangguki Devano. "Azura apa besok kau bisa menemaniku?" Azura menggeleng dengan tidak enak. "Sorry, aku sudah ada janji besok. May be akan aku balas hari ini lain kali." "Baiklah tuan putri, selamat malam dan jangan lupa mimpikan aku ya." Devano asal saja langsung memeluk tubuh Azura, ruang waktu Azura berhenti seketika dia merasa pernah merasakan debaran seperti ini dulu. Ciuman lembut dipipinya semakin menambah perasaan tak menentu itu, Azura mendorong tubuh Devano menjauh, sedikit tersinggung dengan tindakan Azura tapi Devano hanya bisa tersenyum. "Aku pulang, besok balas pesan ku oke? Aku mencintaimu," kata Devano lalu pergi meninggalkan Azura yang masih diam ditempatnya, dilorong lain Devano mengintip ekspresi Azura yang masih setia diam. Perlahan wanita itu menunduk dan bergerak masuk kedalam unitnya. *** Devan menunggu Azura dilorong apartement wanita itu, dia sudah mengantongi sesuatu dan akan segera membuat Azura mau menikah dengannya. Dilihatnya Azura berjalan bersama seorang pria yang tidak lain adalah Azka, pria yang membuat Devan cemburu malam ini hingga ingin membunuh pria itu. Azka melirik Devano saat mereka sudah tiba didekat unit Azura, wanita itu juga terkejut karena Devan sudah ada disana. "Devan, kau sudah lama disini?" Tanya Azura dan Devan mengangguk tersenyum santai. Azura tahu arah pandang Devano yang mengarah ke Azka, begitu juga Azka. "Dia siapa?" Tanya Azka kepada Azura yang mengerti semua gerakan dua pria ini. "Ah dia Devan temanku, baiklah Ka selamat bertemu besok." Azka mengangguk dan memeluk Azura walau berat rasanya ingin meninggalkan Azura dengan pria lain. "Jangan telat besok," Azura mengangguk lalu Azka pergi menyapa ringan Devan yang juga disambut santai oleh Devan. Azura yang langsung membuka pintu diikuti Devano menoleh kepada Devan lalu dia menggelengkan kepalanya . "Kamu mau apa kesini?" Tanya Azura melangkah lebih jauh kedalam kamarnya. Devano mengikutinya dan dia tersadar ada yang aneh dengan wajah Devan. "Aku cemburu." Ujarnya membuat Azura ingin tertawa karena mimik muka Devano yang sangat tidak enak. "Cemburu? Dengan Azka?" Azura menggelengkan kepalanya tak percaya. "Ya aku cemburu, dia mengakuimu sebagai tunanganmu." Azura menaikkan alisnya dia menutup pintu kamar dan keluar tak lama kemudian dengan piyama tidurnya yang sangat menarik dimata Devan. "Azka dan aku itu memiliki prinsip yang sama." Azura duduk disofa sebelah Devano dengan memangku semangkuk keripik kentang yang dia ambil dari kulkas. "Tapi sepertinya dia menyukaimu." Azura menaikkan bahunya acuh, "memang kenapa jika dia menyukaiku? Aku single dan dia juga. Kami sudah lama mengenal satu sama lain." Devano yang geram mendengar nya langsung menyambar soft drink yang dikeluarkan oleh Azura. "Kau menolakku tapi tidak dengan dia." Azura menatap Devano tak suka membuat Devano menghembuskan napas lelah. Setelah itu Azura bangkit dari duduknya untuk mengambil sesuatu dikamarnya. Dan kesempatan itu diambil Devano untuk memasukkan sesuatu di gelas Azura. Azura yang kembali dengan ponselnya duduk sambil terus memandangi email yang masuk ke ponselnya. Dengan santai Azura meminum kembali soft drink nya kembali. "Zura, apa kau tidak menyukai ku sama sekali?" Azura menggelengkan kepalanya tanpa melihat Devan, dan tak lama kemudian reaksi obat yang diberikan Devano membakar dirinya. Devano yang sadar perlahan mendekati wajah Azura, dia mencium bibir itu lembut dan Azura langsung menanggapinya. Dengan terburu-buru Azura membuka baju bagian atasnya memperlihatkan dirinya yang hanya memakai bra, tangannya dengan lihai membuka kancing kemeja Devan dengan gerakan cepat. Azura menggila dengan gairah yang meletup letup didalam dirinya, Devano tersenyum saat melihat Azura seliar ini dia merasa sangat bahagia. "Apa kita akan melakukannya disini Zura?" "Hem...." jawab Azura yang sibuk menciumi bagian leher Devano. Devano membalik tubuh Azura menjadi dibawahnya, dihisapnya curuk leher Azura lalu menjilati permukaan payudaranya yang menyembul keluar. "Ah....Dev," suara Azura bergetar karena nikmat yang dia rasakan. Devano menarik celana yang dikenakan Azura lalu memainkan inti Azura dengan tangannya, sementara bibir mereka berdua terus berpaut. Devano menggendong tubuh Azura yang sudah polos masuk kedalam kamar wanita itu, kabut gairah jelas terlihat dimata Devano melihat tubuh indah didepannya yang begitu menggoda. Azura duduk dan perlahan mendekati Devano yang masih berdiri ditepi ranjangnya, dia memegang kendali atas inti Devano sehingga Devano menggeram. "Ah s**t!!" Umpatnya saat lidah Azura begitu lihai memainkannya. "Oh kau benar-benar membuatku gila Zura." Azura masih terus melakukan kegiatannya hingga dia merasa lelah lalu membawa tubuh Devano berbaring dengannya, membuat posisi Azura berada dibawah Devano lagi. "Menikah denganku Azura." Ajak Devano tapi Azura menggelengkan kepalanya sambil menggigit bibirnya menatap Devano. Dia mencium bibir Devano dan meraba lengan kokoh itu. Bagian Devano yang sudah keras sedari tadi perlahan masuk kedalam Azura memberikan efek pada tubuh Azura dan Devano, perlahan Devano menggerakkan tubuhnya dan Azura memejamkan matanya merasakan sensasi yang tidak bisa dia jelaskan rasanya. "Menikahlah denganku Zura, ah...." sambil mencumbu Azura, dia terus mengajak wanita itu menikah. ini kali ketiga mereka melewatkan malam bersama, dan semua itu terjadi karena tipu muslihat Devano . "Hem...aaah...,kau begitu cerewet. aku tidak mau menikah...ah...deng...anmu.ah...." Azura menlingkarkan tangannya keleher Devano semakin erat. dia hampir mencapai puncaknya, tapi Devano berhenti membuatnya gila. "What are you doing ?" logat british yang kentara keluar dari mulut Azura dan Devano mencium bibir merah yang sudah membengkak akibat ulahnya . "Menikahlah denganku, maka kita lanjutkan malam ini juga malam-malam berikutnya." Azura yang kesal langsung menendang s**********n Devan membuat pria itu merasakan sakit yang teramat. "Pergi saja kau ke neraka " Azura berdiri dengan masih ingin melanjutkan aktivitas mereka tadi, tapi mood nya rusak karena Devano. Azura ingin menjauh tapi dia tidak bisa, dia terasa sangat ingin dipuaskan malam ini. Azura mendekati lagi Devano yang masih terlihat memegangi selangkangannya, Azura mencium Devano menggebu-gebu lalu menduduki Devano, diarahkannya milik Devano masuk kedalamnya. Rasa sakit Devano berubah menjadi nikmat, Azura begitu lihai menggodanya hingga dia tidak ingin ini semua berakhir. "Ah...Devan...no...ehm..." racau Azura lalu menggapai puncak kenikmatannya bersama Devano. Malam itu mereka b******u hingga subuh menjelang, setelah lelah Azura tidur dengan memeluk Devano yang juga memeluknya. Devano mencium kening Azura, dia yakin jika kedua dan ketiga kali nya mereka bercinta Azura sadar dan bukan karena pengaruh obat yang dia berikan. Doa Devano hanya satu yaitu Azura segera hamil, dengan begitu wanita ini tidak lagi menolak menikah dengannya. Devano akhirnya tidur menyusul Azura ke alam mimpi, hingga paginya mereka tidak sadar kalau seseorang masuk kedalam apartment yang tidak dikunci Azura, pintu kamar yang memberikan celah membuat Azka membuka perlahan pintu itu dan betapa dia terkejut melihat Azura wanita yang dia cintai sedang tidur dipeluk oleh seorang pria yang dia lihat semalam. Bagian bahu Azura dan pria itu yang terbuka sudah menjelaskan kalau Azura dan pria itu tidak memakai sehelai benang pun, ditambah tadi Azka melihat pakaian berserakan dilantai ruang tamu Azura. Azka memilih pergi dengan hatinya yang hancur, dia tidak pernah mengira kalau Azura akan berbuat hal seperti ini, entah kemana dia harus pergi saat ini tapi yang jelas dia tidak ingin ada di London saat ini. ***** 11.00 siang Devano membuka matanya melihat Azura yang masih tertidur lelap, dia tersenyum melihat wajah cantik itu lalu mencium kelopak mata Azura yang tertutup. "Kau bagaikan bidadari honey." Azura menggeliat karena gerakan Devano membuat pria itu semakin gemas. Dia kemudian mencium pipi hidung dagu dan terakhir melumat bibir Azura yang langsung membuka matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD