Deserve It

1950 Words
Happy Reading . . . *** Suara dari langkah kaki seseorang di sepanjang lorong itu, mengisi keheningan situasi yang terjadi di lantai tiga puluh tujuh gedung kantor McCarter & co. tersebut. Lantai dimana ruangan pemimpin perusahaan tersebut berada, sedang dihampiri oleh Dylan dengan langkah tenangnya namun suasana hatinya itu sedang merasakan banyak hal yang tercampur aduk menjadi satu di sana. Dan setelah berada tepat di depan pintu kaca yang menjadi pintu masuk ruangan yang memang ditujunya itu, tanpa berpikir lagi dan banyak pertimbangan di dalam dirinya. Dengan cepat pria itu pun membuka pintu tersebut dan langsung disambut dengan sosok sang adik yang terlihat sedang memfokuskan pandangannya kepada selembar kertas di tangannya itu. Dan sedangkan Duke pun yang ketika mendengar suara pintu ruangannya yang dibuka, langsung mengalihkan pandangannya menuju asal suara dan tatapannya pun juga langsung bertabrakan dengan tatapan yang sedang Dylan berikan. "Selamat malam, sir Duke McCarter yang terhormat. Mohon maaf jika kedatangan saya yang terkesan tiba-tiba ini sedikit mengganggu waktu anda yang sedang bekerja. Apakah anda bisa meluangkan sedikit waktu milik anda untuk saya? Ada sedikit hal yang ingin saya bicarakan dan sampaikan kepada anda," ucap Dylan sambil melangkah menghampiri letak meja kerja milik Duke berada. "Apakah ada masalah dengan departemen akuntansi?" "Tidak. Bahkan pembicaraan yang ingin saya lakukan ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan." "Saya tidak menyukai adanya pembicaraan mengenai hal lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan bersama pegawai biasa sepertimu. Jadi, pergi dari sini sebelum saya melakukan pengusiran dengan tidak layak terhadapmu." "Tetapi ini mengenai Savannah, b******k! Jangan kau pikir tidak ada satu hal pun yang aku ketahui terhadap perlakuanmu itu kepadanya," seru Dylan yang mulai menaikkan nada bicaranya, namun tetap sebisa mungkin menahan rasa emosi yang sesungguhnya sudah bisa ia ledakan saat ini juga. "Savannah? Ada apa dengan asisten saya? Apakah kau ingin mengganggu asisten saya itu?" "Dia hanyalah sebagai asisten dan sekretarismu saja. Tidak ada status lain yang dijabatnya selain dua hal itu. Jadi berhentilah bersikap seakan-akan Savannah adalah budakmu, yang bisa seenaknya saja kau perintahkan. Apakah kau tahu akibat dari semua hal yang sudah kau lakukan terhadap asistenmu yang sangatlah berkompeten dan berkualitas itu? Saat ini ia sampai terbaring di rumah sakit hanya karena ia yang harus, serta wajib memenuhi segala perintah dan keinginan yang kau berikan kepadanya. Manusiawilah sebagai seorang pemimipin perusahaan. Banyak orang pintar di dunia ini, tetapi tidak banyak orang yang memiliki sifat bijak, yang justru lebih diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin. Kau mungkin bisa mendapatkan ratusan ataupun ribuan pujian dari banyak orang yang memandang bahwa kau adalah orang yang hebat. Tetapi jangan pernah kau lupakan bahwa kehebatan yang kau miliki ini tidak akan pernah kau dapatkan, jika kau tidak memiliki orang-orang yang jauh lebih hebat darimu yang berada di belakang, samping, atau bahkan di bawahmu." "Sudah selesai kah omong kosongmu itu? Kalau sudah, kau bisa langsung keluar dari sini. Bahkan rasanya kau tidak pantas menginjakkan kakimu di lantai yang khusus dimiliki oleh seorang pemimpin perusahaan." "Percayalah kau tidak akan lama duduk di kursi yang kini menjadi kebesaran dan kebangganmu itu," ucap Dylan yang langsung bergegas meninggalkan posisi berdirinya di akhir kalimat yang diucapkan tersebut. Namun baru saja beberapa langkah Dylan berjalan, tiba-tiba saja langkahnya pun langsung terhenti bersamaan dengan suara Duke yang terdengar di telinganya. "Seharusnya kau tidak perlu mengeluarkan ancaman hanya karena kau merasa iri dengan segala yang aku miliki, dan sudah berhasil aku capai ini." Dengan sifat arogannya, Duke terlihat mulai beranjak berdiri dari kursi kebesarannya itu dan melangkah menghampiri sosok Dylan yang juga sudah membalikkan tubuhnya lagi hingga kini keduanya pun menjadi saling berhadapan. "Sama sekali rasa iri tidak ada di dalam diriku, melihat segala kesuksesan yang sudah berhasil yang dapatkan di dalam hidupmu ini." "Bagaimana jika dengan rasa cemburu? Apakah kau tidak memilikinya juga di dalam dirimu, hah?" Mendengar hal yang diucapkan oleh Duke, membuat Dylan menjadi sedikit berpikir akan maksud dari hal yang didengarnya tadi, yang membuat pria itu menjadi merasa tidak mengerti akannya. "Apa maksudmu?" "Kau dan Savannah, siapapun bisa melihat hal yang terjadi di antara kalian. Yang tidak mengenal kalian, ketika melihat kebersamaan kalian pasti akan menganggap bahwa ada suatu hubungan yang terjalin di dalamnya. Tetapi jika ada orang seperti yang mengetahui semuanya, melihat kau yang hanya dianggap teman olehnya saja, terasa kasihan dengan hal omong kosong yang kalian jalani. Kau yang terjebak di zona pertemanan, tidak bisa melakukan hal apapun karena hanya hubungan kasual sajalah yang Savannah inginkan bersama denganmu, karena ia lebih mencintai karirnya dari pada hal apapun. Kasihan dan miris. Dua kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupanmu yang sepertinya tidak ditakdirkan untuk bisa mendapatkan kebahagiaan." "Terserah kau ingin berpikir dan memandang seperti apa. Tetapi satu hal yang perlu kau tahu, rasa cintaku kepada wanita itu adalah tulus. Bukan hanya karena nafsu seorang pria yang melihat wanita seperti Savannah yang memiliki fisik serta penampilan yang sangat sempurna itu, tetapi perasaanku jauh lebih besar dari hal seperti itu." "Ya, kau benar. Savannah memang memiliki penampilan fisik yang sangatlah sempurna. Sebagai seorang wanita, ia memang mampu membangunkan setiap mimpi terliar banyak pria ketika melihat dirinya. Dan hal itu, rupanya juga terjadi padaku. Sebagai seorang pria, melihat wanita seperti Savannah tentu langsung membuatku tidak bisa menahan hasrat kepadanya. Dan kejadian di hari itu pun, juga seperti langsung menyadarkanku bahwa sesungguhnya aku menginginkan Savannah di hidupku." "Kejadian?" "Ahh..., aku bertaruh Savannah tidak pernah menceritakan hal yang pernah terjadi di antara diriku dan dengannya. Tentu saja, aku tahu dia adalah wanita yang baik. Maka dari itu, ia pun juga ingin menjaga perasaan seorang pria yang hanya akan terus dianggapnya menjadi seorang teman saja." "Hentikan omong kosongmu itu, b******n!" "Aku mencium Savannah. Bibirnya yang terlihat menggoda, rupanya tidak pernah membohongi penampilan dengan rasanya yang juga sangatlah nikmat. Dengan mengingatnya saja, aku langsung merasa rindu dengan bibirnya yang terasa candu itu. Tetapi tidak hanya itu saja. Kulitnya yang sehalus satin, membuatku merasa ingin terus menyentuhnya. Tetapi, sayangnya hal yang intim itu harus terhenti di saat aku yang baru saja ingin memberikan godaan pada bagian tubuh miliknya yang sangat sensitif dan bersifat pribadi itu. Sungguh sangat disayangkan, bukan?" Tepat bersamaan dengan berakhirnya kalimat yang diucapkan oleh Duke itu, membuat Dylan langsung melayangkan pukulan kerasnya tepat di tulang pipi kanan Duke hingga membuat pria yang mendapatkan hal yang tiba-tiba dan tidak terduga itu juga langsung terjatuh ke lantai dengan posisi tubuh telentang. Sedangkan Dylan yang tidak ingin menyia-nyiakan posisi tepat untuk memberikan pelajaran atas sikapnya yang sudah kurang ajar, langsung menahan tubuh Duke hingga tidak bisa bergerak dengan mendudukkan tubuhnya tepat di atas tubuh sang adik. Dan tanpa ingin membuang waktu dan kesempatan yang sudah tersaji, dengan bertubi-tubi Dylan memberikan setiap pukulan keras tepat di wajah Duke tanpa jeda dan belas kasihan. Tidak peduli resiko yang akan didapatkannya setelah ini, Dylan tetap terus melakukan hal yang jika diketahui oleh orang tuanya itu pasti akan membuat dirinya menjadi berada di dalam kondisi yang berbahaya. Namun bagi Dylan, hal yang saat ini sedang diberikan terhadap Duke bukanlah hal yang setimpal dan pantas setelah apa yang sudah dilakukan oleh seseorang yang dibenci, terhadap wanita yang dicintainya itu. Setelah sedikit merasa puas dengan hal yang sudah dilakukannya itu, Dylan pun menghentikan segala emosinya yang sedang meluap-luap itu lalu melihat kondisi Duke yang saat ini sudah benar-benar terlihat babak belur dengan luka dan juga darah di wajahnya. Dan sedangkan Duke yang sudah terlihat tidak berdaya itu, hanya bisa terdiam merasakan rasa sakit yang sedang menyerang dirinya itu dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi bahkan untuk membalas hal yang sudah di dapatkannya itu. "Kau pantas mendapatkannya, b******n! Dan jaga perilakumu terhadap seorang wanita yang tidak pantas kau perlakuan dengan tidak layak seperti yang sudah kau lakukan terhadap Savannah. Dia bukanlah wanita yang sama, seperti yang suka kau permainkan sesuka hatimu." Dengan memberikan sebuah pukulan terakhir tepat di pelipis Duke, Dylan pun langsung beranjak dari posisinya yang sebelumnya menindih tubuh sang adik dan bergegas meninggalkan pria yang tergeletak di atas lantai dan nyaris tidak sadarkan diri dengan begitu saja. Perasaan pria itu, yang sebelumnya merasa begitu marah setelah apa yang terjadi pada Savannah, menjadi semakin memburuk setelah ia mengetahui hal yang sebelumnya tidak diketahui, yang rupanya sudah terjadi secara diam-diam di belakangnya. Di dalam toilet gedung kantornya itu, Dylan membersihkan tangannya yang terdapat darah milik Duke setelah dengan cukup puas ia memukuli wajah sang adik hingga terluka. Setelah melihat tangannya yang sudah bersih dari darah, pria itu mengepalkan tangannya yang sedikit memerah karena memar akibat pukulan yang dilakukannya tadi. Perasaan marah pun semakin Dylan rasakan ketika ia terus saja mengingat hal yang sesungguhnya tidak ingin ia ingat. Hal yang tidak diketahui, dimana Savannah sudah melakukan hal yang tidak ia sangka akan dilakukan di belakangnya. Dan lebih buruknya lagi, wanita itu tidak pernah menceritakan hal sensitif seperti itu yang bisa saja membuat dirinya menjadi salah paham terhadap Savannah. Dan dengan begitu, rasa sedikit kecewa pun Dylan rasakan di dalam dirinya karena Savannah yang sudah mulai tidak ingin bersikap terbuka terhadapnya. Hal yang sesungguhnya adalah kunci dari sebuah kepercayaan dirinya terhadap wanita itu. *** Keesokan harinya, pagi-pagi hari sekali Dylan sudah kembali ke rumah sakit sebelum Savannah yang terbangun dari tidurnya. Dengan sebuah tas yang ia bawa berisi pakaian ganti untuk Savannah yang baru saja ia ambil dari apartemen wanita itu, Dylan membuka pintu dimana ruangan rawat inap Savannah berada. Namun niat pria itu yang ingin datang sebelum Savannah terbangun, rupanya Dylan sudah mendapati wanita itu yang sudah mendudukkan dirinya di tepi ranjang dan terlihat seperti hendak beranjak berdiri. "Hei, Dy. Kau datang pagi-pagi sekali," sapa Savannah terlebih dahulu pada saat ia melihat keberadaan Dylan yang baru saja memasuki ruangannya dan terlihat menghampiri dirinya. "Ya. Kau sudah terbangun?" "Aku ingin bisa cepat-cepat keluar dari sini. Dan setelah aku terbangun tadi, aku langsung memanggil perawat untuk bisa melepaskan infus yang ada di tanganku." "Memangnya dokter sudah mengizinkanmu untuk keluar?" "Sudah." "Kapan?" "Tadi, pada saat aku memanggil perawat. Dokter pun juga datang untuk memeriksa kondisiku. Dan dokter pun juga sudah mengatakan bahwa kondisiku sudah baik-baik saja, sehingga aku pun juga sudah diperbolehkan untuk pulang." "Benarkah?" "Mengapa, kau tidak percaya?" "Ini pakaian gantimu. Gantilah, aku akan mengurus semua biaya rumah sakitnya terlebih dahulu. Jika sudah selesai, aku akan menunggu di lobby saja." Ucap Dylan yang menaruh tas yang dibawanya tepat di samping Savannah, lalu pria itu terlihat langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Namun baru saja beberapa langkah pria itu berjalan, langkahnya pun langsung terhenti oleh suara Savannah yang terdengar. "Dy..., ada apa?" "Tidak ada apa-apa," balas Dylan yang terdengar acuh. "Aku tidak percaya." "Ya. Terserah kau saja." "Dy, jangan pergi dulu." "Aku akan menunggu di lobby." Melihat kepergian Dylan yang dengan begitu saja, Savannah hanya bisa terdiam dan menatap langkah pria itu yang sudah keluar meninggalkan ruangan rawat inap tersebut. Dengan hanya menatap kosong pintu di depan sana yang sehabis dilalui oleh Dylan, Savannah pun merasa ada hal yang tidak biasa dari diri pria itu. Ada sesuatu yang berbeda, dan membuat sosok Dylan dinilai menjadi dingin dan acuh terhadapnya. Dan Savannah dibuat menjadi bingung akan sifat pria itu yang tiba-tiba saja menjadi berubah hanya dalam waktu satu malam saja. Dan di saat Savannah yang sedang bertanya-tanya dengan dirinya sendiri mengenai perubahan sikap Dylan yang tiba-tiba saja berubah itu, tepat di depan kamar rawat inap Savannah tersebut. Pria itu terlihat sedang begitu menyesali atas perbuatannya yang cukup berlebihan terhadap Savannah. Dan Dylan pun yang sesungguhnya memang masih merasa kecewa dan marah atas hal dan kenyataan yang terjadi semalam, membuatnya tidak tersadar bahwa dirinya itu sampai lepas kendali dengan bersikap seperti tadi. Dan pria itu juga sadar bahwa tidak seharusnya ia bersikap acuh, di saat Savannah yang ia yakin tidak bermaksud untuk menyembunyikan hal yang saat ini masih menjadi beban pikirannya, dan wanita itu jugalah yang tidak pantas menerima sikap acuh seperti itu darinya. *** To be continued . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD