Happy Reading . . .
***
Sambil membawa sebuah bungkusan kertas berisi belanjaan bahan-bahan makanan mentah, Savannah menekan bel apartemen Dylan dan menunggu pria itu yang akan membukakan pintunya tersebut. Setelah ia yang pulang dari kantor pusat tadi, wanita itu sengaja pergi ke sebuah supermarket untuk bisa membeli beberapa bahan makanan karena malam ini ia yang sedang ingin dibuatkan makanan oleh Dylan yang sudah cukup lama tidak ia rasakan dan dapatkan dari pria itu. Pertemuan terakhirnya bersama dengan pria itu, terasa tidak baik sehingga membuat Savannah sadar bahwa ia harus memperbaiki suatu hal sebelum semuanya menjadi terlambat.
Karena kini, wanita itu sadar bahwa entah mengapa situasinya sudah menjadi terasa sangat berbeda hingga membuat Savannah harus lebih banyak memutar otak lagi agar ia tidak sampai membuat kesalahan, yang bisa saja menjadikannya berada di posisi yang salah. Dan Savannah tidak ingin berada di dalamnya, karena ia yang juga tidak ingin melalui situasi yang penuh dengan permasalahan dan berada di posisi yang serba salah. Dan setelah beberapa saat Savannah sudah menunggu tepat di depan pintu apartemen Dylan, tidak lama kemudian pintu tersebut pun terbuka dan senyuman Savannah pun langsung mengembang bersamaan dengan munculnya sosok pria itu di sana.
"Hei, kita perlu bicara."
"Bicara apa?"
"Mengenai kita, dan pertemuan terakhir kita yang terasa sedikit tidak baik."
"Aku rasa tidak perlu. Karena memang tidak ada yang perlu dibicarakan. Pertemuan terakhir kita, aku rasa juga baik-baik saja."
"Dy..., ayo kita bicara. Aku tidak ingin adanya kesalahpahaman di antara kita."
"Aku tidak salah paham kepadamu. Memangnya mengapa aku harus menjadi merasa salah paham?"
"Izinkan aku masuk."
Mendengar permintaan Savannah itu, Dylan pun langsung menggeser posisinya dan semakin membuka lebar pintu apartemennya itu untuk mengizinkan wanita itu masuk ke dalam. Dengan melangkahkan kakinya memasuki apartemen, Savannah mulai merasa bahwa situasinya kini sudah benar-benar berbeda. Sikap Dylan yang acuh tidak acuh seperti itu, semakin membuat Savannah bertanya-tanya akannya.
"Aku beli beberapa bahan makanan, maukah kau membuatkan masakan yang sudah lama tidak kau buatkan untukku?" Ucap wanita itu sambil meletakkan kantung berisi bahan makanan tersebut di atas meja makan.
"Kau ingin dibuatkan apa?"
"Apa saja. Aku membeli bahan makanan itu secara asal saja dan tanpa rencana untuk menginginkan makanan apapun. Jadi, terserah padamu saja. Rasanya sudah cukup lama juga aku tidak memakan masakan buatanmu," balas Savannah sambil mendudukkan diri di kursi meja makan tersebut.
Melihat Dylan yang tanpa banyak bicara itu dengan langsung mengambil bahan tersebut dan siap mengolahnya, Savannah pun memperhatikan sosok pria itu yang tiba-tiba saja terasa berubah dengan menjadi terasa lebih banyak terdiam dan tidak seperti biasanya.
"Dy..." Panggil wanita itu dengan sedikit ragu.
"Kau tidak suka dengan jagung, bukan?"
"Hah?" Sahut Savannah yang cukup terkejut karena ia yang sebelumnya ingin membicarakan mengenai hubungan keduanya namun tiba-tiba saja Dylan mengganggu kesiapan dirinya dengan membicarakan mengenai perihal jagung. Dan di saat wanita itu yang melihat bahwa Dylan sedang mengangkat sebuah jagung ditangannya, ia baru tersadar akan hal yang pria itu maksudkan. "Hmm..., ya. Kau tahu itu, bukan?"
"Lalu mengapa kau membelinya?"
"Benarkah?" Tanya Savannah dengan sedikit tidak percaya bahwa secara tidak sadar ia sudah membeli salah satu bahan makanan yang tidak disukainya itu.
Pria itu pun hanya mengernyitkan kening, dan menggelengkan kepala sambil kembali berfokus terhadap bahan makanan yang hendak dimasaknya itu.
"Tadi aku memang membeli semua bahan itu dengan asal tanpa memikirkannya terlebih dahulu."
"Seperti ada yang menjadi beban pikiranmu."
"Memang. Saat ini pikiranku sedang begitu terbeban karena suatu hal."
"Hal apa?"
"Hal tentangmu."
Mendengar jawaban itu, Dylan yang hendak menyalakan api kompor langsung menghentikan niatnya itu. Pria itu sempat terdiam sejenak sebelum Savannah yang beranjak dari duduknya dan melangkah menhampiri keberadaan posisi Dylan yang berdiri tepat di depan kompor. Hingga sebuah pelukan pun Savannah berikan pada pinggang pria itu dari arah posisi belakangnya. Dengan nyaman wanita itu mesandarkan kepalanya pada punggung Dylan, selagi ia ingin mempersiapkan dirinya untuk membicarakan hal yang baginya terasa sangat berat itu.
"Dy..., belakangan ini. Apakah kau merasa bahwa hubungan kau dan aku seperti berjarak? Dan jaraknya itu seperti kau yang berada di ujung jalan dan sedangkan aku yang di sisi ujung jalan satunya lagi dengan jarak lima ratus meter. Kita masih berada di satu jalan, tetapi mengapa justru terasa begitu berjarak sekali?"
"Kau bertanya seperti itu, mengapa tidak kau intropeksi saja sendiri?"
"Aku terlalu fokus kepada kehidupan karirku."
"Lalu?"
"Tetapi aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak ingin memiliki maksud untuk mengecewakanmu. Dan membuat hubungan kita menjadi jauh seperti ini."
"Aku sudah tidak ingin memperingatimu terus. Rasanya, lama kelamaan aku lelah. Aku ingin melindungimu, menjauhkanmu dari segala hal yang tidak baik terhadapmu, tetapi jika di sini aku yang sedang berusaha namun tidak kau bantu dengan kau juga. Rasanya itu akan percuma saja."
"Maafkan aku, Dy."
"Aku merasa..., ada suatu hal yang terjadi padamu."
Mendengar ucapan Dylan tersebut, dengan perlahan Savannah mulai mengendurkan pelukannya pada pinggang pria itu hingga terlepas. Kalimat yang dikatakan oleh Dylan itu, membuat Savannah langsung menjadi merasa cemas dengan seketika. Rasa takut akan dirinya yang memiliki rahasia bersama dengan sang atasan, membuat wanita itu menjadi harus lebih berhati-hati lagi. Savannah tidak ingin Dylan mengetahui hubungan lebih yang dimiliki wanita itu bersama dengan seorang pria yang dibenci oleh Dylan.
"Se-seperti apa?" Tanya wanita itu dengan sedikit tergugup.
"Entahlah. Karena aku tidak mengetahui, maka aku pun bertanya kepadamu. Selama ini, aku tahu kau adalah wanita yang baik. Kejujuran yang kau miliki, adalah hal yang sangat aku sukai dari dirimu."
"Aku tidak mengerti dengan maksud dari ucapanmu itu, Dy. Hmm..., aku ingin ke kamar mandi terlebih dahulu. Sebaiknya kau selesaikan masakanmu itu, okay? Aku akan menunggu."
Dengan cepat Savannah langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan meninggalkan Dylan yang kembali ditinggalkan dengan rasa bingung. Sifat wanita itu yang dengan jelas menunjukkan suatu hal yang cukup aneh, justru membuat Dylan mulai merasa curiga terhadapnya. Perasaannya yang mengatakan bahwa wanita itu memang seperti sedang menyembunyikan suatu hal dari dirinya, bisa ia lihat dengan cukup jelas akan perilaku Savannah yang tidak biasanya langsung mengalihkan suatu hal dan bergegas meninggalkan dirinya dengan begitu saja, untuk yang kedua kalinya.
***
To be continued . . .