Happy Reading . . .
***
Dengan langkah yang terasa begitu lelah, Savannah berjalan keluar dari lift setelah ia sampai di lantai apartemen miliknya itu. Dan di saat waktu yang kini sudah hampir menunjukkan tengah malam, wanita itu baru saja tiba di tempat tinggalnya setelah beberapa saat lalu merawat sang atasan yang sedang sakit. Dengan ia yang sedang beberapa langkah berjalan kembali menuju apartemennya, dari kejauhan wanita itu bisa melihat seseorang yang rupanya sudah menunggu tepat di depan pintu apartemen tersebut. Sambil menampilkan senyumannya yang seakan otomatis langsung terbit di bibirnya, Savannah semakin mempercepat langkahnya menghampiri sosok Dylan yang berada di sana. Dan sambutan hangat akan sebuah pelukan pun langsung Dylan berikan kepada Savannah yang juga membalas pelukan tersebut dengan erat.
"Apakah kau sudah lama?" Tanya Savannah sambil melepaskan pelukan tersebut dengan perlahan.
"Satu jam. Tidak lama, bukan?"
"Kenapa tidak masuk saja dan menunggu di dalam?"
"Aku ingin menunggumu di sini dan menyambut kepulanganmu. Lagi pula, aku pun juga habis sedikit lembur dari kantor. Jadi, aku langsung memutuskan untuk ke sini. Dan, memangnya selama seharian ini kau pergi kemana saja? Aku hampir tidak melihatmu di kantor, di cafetaria, bahkan di ruanganmu sendiri. Karena aku yang tidak bisa menemukan keberadaanmu di mana-mana, pada akhirnya aku pun memutuskan untuk datang ke apartemenmu saja."
"Tidak mencoba untuk menghubungi ponselku?"
"Aku pikir kau masih bekerja dengannya, dan jika aku menghubungimu itu akan terasa aneh."
"Mengapa harus aneh?"
"Kau akan dipandang buruk, tidak profesional, dan lain-lainnya lagi yang bisa membuatmu semakin menjadi terlihat buruk di depannya karena sudah melakukan hal di luar pekerjaan di hadapannya."
"Kau benar. Untungnya kau ini adalah tipe pria yang peka dan memiliki pikiran ke depan."
"Jadi, kemana saja kau selama seharian ini?"
"Ceritanya sangat panjang. Kita masuk ke dalam? Nanti akan aku ceritakan semuanya," ajak Savannah sambil menggenggam satu tangan Dylan, dan mulai menekan sandi pada tombol yang menjadi kunci pintu apartemennya itu.
"Savee, kau sudah makan malam, bukan?" Tanya Dylan setelah keduanya sudah berada di dalam apartemen wanita itu.
"Hmm..."
"Jangan katakan kau belum makan malam?"
"Tadi aku sangat sibuk, Dy." Balas wanita itu yang mencari alasan sambil meletakkan tas di atas meja ruang tengah dan juga melepas sepatu hak tinggi yang dikenakan serta mantelnya.
"Astaga! Ini sudah hampir tengah malam, Savee. Dan kau masih belum makan malam juga? Jika kau tidak sempat, setidaknya makanlah makanan ringan saja. Setidaknya itu membantu, dari pada sama sekali tidak makan malam. Kau bisa sakit, kau tahu?" Ucap Dylan yang penuh dengan kekhawatiran di setiap kata kalimat yang dikatakannya terhadap Savannah itu.
"Dy..., aku baik-baik saja. Lagi pula ini hanya satu kali. Biasanya kau yang selalu menyediakan makan malam untukku, bukan? Dan karena kita yang baru bertemu sekarang, maka aku pun menjadi tidak makan malam. Aku jadi ingin makan malam hanya makanan yang dibuatkan olehmu saja."
"Baiklah. Jadi, kau ingin aku buatkan apa sekarang?"
"Tidak perlu. Saat ini aku sedang merasa lelah. Dan aku mengundangmu untuk ikut bergabung denganku di kamar mandi," balas Savannah sambil melangkah menuju kamar mandi yang berada di bagian dalam kamarnya.
Sambil melangkah dengan perlahan, Savannah pun mulai membuka setiap kancing kemeja yang di kenakannya itu untuk melepaskan dan membuangnya dengan sembarang ke arah pria itu. Dan dengan tatapan menggoda, Savannah berikan kepada Dylan sebagai undangan atas hal yang ingin dilakukannya tadi. Dan setelah Savannah yang sudah berada di dalam kamar mandi terlebih dahulu, ia pun mulai mengisi bathtub dengan air hangat dan juga gelembung busa di dalam air yang sedang diisi itu.
Lalu, wanita itu pun kembali melanjutkan melepaskan satu per satu pakaiannya hingga tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh polosnya itu. Tidak lupa dengan rambut panjangnya yang juga ia ikat tinggi agar tidak terkena air, Savannah pun mulai memasukkan tubuhnya ke dalam bathtub dan mesandarkan setengah tubuhnya di ujung yang menjadi posisi kepala bathtub tersebut. Dan di saat wanita itu yang baru saja menikmati rasa air hangat yang mulai merilekskan otot-otot di tubuhnya itu, ia pun mendengar suara langkah seseorang yang memasuki kamar mandi tersebut dan mendapati sosok Dylan yang sedang membuka seluruh pakaian yang dikenakannya juga. Setelah mematikan air yang sudah hampir mengisi penuh bathtub tersebut, Savannah pun siap menyambut keberadaan Dylan yang sudah melangkah menghampiri keberadaan dirinya.
"Apakah kau merindukanku?" Tanya Savannah pada saat Dylan mulai ikut memasukkan tubuhnya ke dalam bathtub. Dan pria itu pun mulai mengatur posisinya dengan menempati posisi yang sebelumnya ditempati Savannah, dan menjadi memposisikan tubuh wanita itu hingga berada di atas tubuhnya dengan sedikit memeluknya.
"Aku selalu merindukanmu, Sayang." Balas Dylan dengan memberikan kecupan pada kening Savannah. "Tidak bertemu denganmu selama satu hari saja, aku rasa aku tidak bisa melakukan hal itu."
"Sampai seperti itu?"
"Ya."
"Memangnya apa yang kau rindukan dariku?"
"Wajahmu, senyumanmu, suaramu, tawamu, semua yang ada di dalam dirimu, Sayang."
"Tubuhku?"
"Tidak perlu aku sebutkan, itu sudah otomatis menjadi jawabanku yang terutama."
"Apa yang membuatmu sampai tergila-gila dengan tubuhku, Dy?"
"Karena tubuh yang kau miliki ini adalah impian setiap wanita. Tetapi bagi kau kaum pria sepertiku, kau adalah wanita yang sangat diinginkan untuk bisa dimiliki. Dan aku sangat beruntung karena bisa menjadi yang teristimewa untukmu. Karena aku yakin tidak ada pria lain sepertiku, yang dengan nakalnya diundang langsung untuk ikut bergabung di dalam bathtub ini."
"Kau memang istimewa."
"Aku sudah tahu."
"Dan, apakah kau tahu? Ketika aku sedang berada di ruangannya untuk merapikan beberapa lembar kertas dokumen yang tidak sengaja aku jatuhkan hingga berantakan di lantai, aku juga tidak sengaja memperlihatkan bokongku ketika aku sedang menunduk untuk melihat ke bawah meja. Dan apakah kau bisa menebak? Aku sedikit memergokinya yang sedang memperhatikan bokongku tanpa berkedip. Itu sungguh sangat aneh, bukan? Dia yang selalu memperlihatkan betapa profesionalnya dia pada saat bekerja, tetapi justru ketahuan sedang memperhatikan bagian tubuh asistennya."
"Tidak aneh, Savee. Itu adalah reaksi alami yang dilakukan oleh setiap pria jika diberikan pemandangan seperti itu. Dan salahkan milikmu ini yang memang sangat menggoda untuk hanya sekedar dilihat," balas Dylan sambil memukul kecil b****g Savannah tepat diakhir pada kalimat yang diucapkannya itu.
"Jika kau menyalahkan, maka kau dilarang untuk menyentuhnya lagi."
"Aku bergurau, Sayang." Balas pria itu dengan cepat sebelum ia menyesal akan konsekuensi yang ia dapatkan terhadap ucapannya tersebut.
"Baru saja sedikit diancam, langsung luluh."
"Ancamanmu menakutkan. Aku tidak bisa dengan yang seperti itu."
"Dasar!"
"Lalu, apa yang terjadi setelahnya?"
"Aku berpura-pura tidak mengetahui hal yang sedang ia lihat terhadapku."
"Hanya seperti itu?"
"Ia pun juga sangat jelas langsung terlihat gugup setelah ia yang hampir saja ketahuan olehku. Dan, dari situlah awal mula aku yang jadi merawatnya sehingga kau tidak bisa menemukan keberadaanku di kantor."
"Merawatnya? Memang apa yang terjadi?"
"Pada saat ada pertemuan dengan klien di luar tadi sore, aku merasa ada sesuatu yang tidak benar dari dirinya. Dan setelah aku bertanya, hal yang aku curigai itu rupanya benar. Ia merasakan kesakitan pada bagian perutnya, karena lambungnya yang bermasalah. Ia yang baru makan siang pada waktu sore hari membuat jadwal makannya tidak teratur, dan hal itu yang juga tidak hanya terjadi satu kali, menjadi pemicu penyakit lambungnya. Jadilah pertemuan dengan klien itu harus diakhiri, dan aku yang menyuruhnya untuk beristirahat di apartemennya saja."
"Apartemen? Kau sudah datang ke sana?"
"Dia yang memintaku untuk mengantarnya, Dy. Ayolah, jangan cemburu di saat yang tidak tepat."
"Aku tidak cemburu, hanya meminta penjelasan saja."
"Cemburu pun juga tidak masalah. Aku lebih menyukaimu yang sedang seperti itu terhadapku."
"Baiklah, baiklah." Balas Dylan dengan tersenyum kecil. "Lalu, bagaimana setelah itu?"
"Aku sedikit merawatnya. Menungguinya yang sedang beristirahat, dan memastikan ia memakan makan malam yang aku pesanan untuknya. Dengan menyuapinya juga. Dan satu hal lagi, ia memintaku untuk menginap di apartemennya."
"Dia tipe pria yang tidak ingin ada orang lain yang mendatangi wilayah privasinya. Tidak ada satu pun yang pernah mendatangi apartemennya, kecuali orang-orang yang dipercayanya. Dan rasanya cukup aneh, bukan? Dengan kau yang sebagai asistennya, tetapi ia sudah mengizinkan untuk datang ke apartemennya."
"Aku asistennya, dan mungkin ia sudah mulai percaya denganku."
"Kita lihat saja apakah ada maksud lain dari awal mula sikapnya itu terhadapmu."
"Tetapi aku menolaknya, Dy. Aku beralasan tidak memiliki pakaian ganti untuk hari esok bekerja, dan tidak memiliki penampilan yang baru keesokan harinya adalah hal yang tidak ia sukai. Jadi, aku pun memutuskan untuk menolaknya. Lagi pula, aku pun juga tidak ingin menginap di apartemennya. Memangnya aku ini wanita semudah apa? Yang setelah diberi izin untuk menginap, langsung menginginkannya."
"Tetapi hanya sebatas itu saja, bukan?"
"Tentu saja. Memangnya apa yang kau pikirkan?"
"Ketakutanku."
"Apa itu ketakutanmu?"
"Kau yang direbut dariku, olehnya."
"Apakah ia tipe pria yang seperti itu?"
"Kau belum mengetahui sifat aslinya yang lebih dalam lagi, Savee."
"Kalian saling membenci dan mencoba untuk tidak pernah untuk peduli, tetapi justru saling mengetahui sifat satu sama lain. Sungguh membingungkan."
"Ya..., seperti itulah kenyataannya."
"Tetapi aku tidak ingin bersama dengannya. Aku hanya ingin bersama dengan pria yang sepertimu."
"Sepertiku?"
"Ya. Aku perhatikan, kau dan Duke memang sangatlah mirip. Kau lebih cocok menjadi saudara kembar, dari pada kakak beradik. Kau memiliki tinggi yang sama dengannya. Postur tubuh tegap, berotot, tetapi kau jauh lebih berotot dibandingkan dengannya. Rambut coklat gelap, dengan potongan rapi. Mata kalian sama bewarna coklat terang. Struktur wajahmu yang juga sama tegasnya dengan dia. Hanya saja kau merawat dan membiarkan sedikit rambut-rambut di wajahmu ini tumbuh, sedangkan dia tidak."
"Benarkah? Kau seperti sedang membandingkanku dengannya."
"Tidak seperti itu, Dy. Dan jikalau pun aku membandingkanmu bersama dengannya, kau ini tentu sangat jauh lebih baik darinya. Kau adalah pria yang sangat peduli dengan apapun itu, terutama denganku. Tidak hanya peduli, kau itu perhatian, peka, dewasa, sepertinya tidak ada waktu yang cukup bagiku untuk bisa menyebutkan semua hal baik yang ada pada dirimu ini, Dy. Dan satu hal lagi yang bisa kau lakukan. Kau itu pria yang sangat manis dan bisa meluluhkan hatiku, di antara pria-pria lain yang berusaha untuk mencari perhatianku."
"Seperti itu?"
"Ya, benar." Balas wanita itu yang mulai mengeluarkan senyumannya. Senyuman yang bersamaan dengan tangannya itu, mulai menyentuh dan sedikit mempermainkan milik Dylan di dalam air.
"Savee..." Panggil Dylan bermaksud menyampaikan protesnya sambil berusah menjauhkan tangan Savannah yang mengandung sihir karena selalu bisa membangunkan miliknya itu dengan begitu cepat.
"Hmm? Ada apa?" Balas Savannah dengan berpura-pura innocent.
"Tadi kau mengatakan tubuhmu ini sedang lelah. Kalau begitu jangan mulai dengan mencoba untuk membangunkan di bawah sana yang sudah benar sedang tertidur."
"Tubuhku saat ini memang sedang begitu lelah. Tetapi hormonku sedang begitu menggila. Aku begitu menginginkanmu, Dy."
"Itu artinya kau sedang dalam masa subur, Savee. Benar, bukan?"
"Hmm..., ya. Sepertinya memang kau benar. Lalu?"
"Itu sangat berbahaya, Savee. Kau pun juga tahu itu jika hal terburuknya sampai terjadi, bukan? Karirmu bisa terancam karenanya."
"Aku tidak peduli. Saat ini aku sedang sangat menginginkan milikmu, di dalam milikku. Memuaskan hasratku yang saat ini sedang begitu meluap-luap."
Dengan cepat, Savannah pun mengubah posisinya menjadi di atas tubuh Dylan dan mulai memposisikan miliknya tepat pada milik pria itu yang sedang berusaha dibangunkannya. Dan tanpa memberikan Dylan yang akan terus mengeluarkan penolakannya, Savannah sudah langsung mencium bibir pria itu dengan dalam dan cukup kasar. Lumatan yang wanita itu berikan, berusaha mencari lidah lawannya yang juga sudah mulai larut ke dalam situasi gairah yang awalnya terlebih dahulu diberikan Savannah. Setelah cukup lama keduanya larut dalam ciuman panas yang sudah semakin membakar gairah keduanya, dengan perlahan Savannah pun melepaskan ciuman itu terlebih dahulu. Hingga meninggalkan nafas keduanya yang begitu memburu akibat hal yang bukan lagi menjadi yang pertama bagi keduanya, namun seakan menimbulkan sensasi menggairahkan bagaikan pertama kalinya kedua insan itu melakukan hal tersebut.
"Setidaknya kita pakai pengaman, okay? Lebih baik kita menghindari supaya hal yang tidak kau inginkan itu sampai terjadi."
"Bawa aku ke dalam duniamu yang penuh dengan gairah itu, Dy." Balas Savannah dengan senyuman penuh arti, dan langsung membuat Dylan mengangkat wanita itu ke gendongannya dan melangkah keluar dari bathtub untuk membawanya ke atas ranjang.
***
To be continued . . .