Happy Reading . . .
***
Ketenangan situasi yang sedang Savannah rasakan di saat ia sedang mengerjakan pekerjaannya di layar komputer itu tiba-tiba saja langsung terinterupsi oleh suara pecahan kaca yang terdengar dari ruangan sang atasan yang berada di sebelah ruangannya itu. Tanpa berpikir lagi, dengan cepat Savannah pun beranjak dari duduknya dan bergegas melangkah menuju ruangan Duke untuk memeriksa hal apakah yang terjadi di sana hingga sampai terdengar suara pecahan kaca. Dan setelah berada di ruangan pria itu, Savannah pun langsung menemukan Duke yang sedang berlutut di dekat sofa dimana biasanya dipakai untuk menerima para tamu yang datang, dan kini sedang terlihat mengambil pecahan-pecahan kaca di atas lantai.
"Sir, apa yang terjadi? Apakah anda baik-baik saja?" Tanya Savannah dengan nada cemasnya yang tidak ia sadari terdengar di sana.
"Ya. Saya hanya tidak sengaja memecahkan vas kaca ini. Dan jari saya sedikit terluka karena ingin membersihkan pecahan ini."
"Apa?!" Seru Savannah dengan refleks mengeluarkan suara kerasnya karena terkejut mendengar ucapan Duke. "Hentikan membersihkan hal itu, sir. Biar saya saja yang nanti membersihkannya. Dan sekarang duduklah di sofa, saya akan mengobati luka anda." Sambungnya yang langsung melangkah menuju sebuah laci dimana biasanya wanita itu meletakkan kotak perlengkapan obat-obatan untuk berjaga-jaga akan hal tidak terduga yang sedang terjadi seperti saat ini.
Setelah mengambil kotak tersebut, Savannah pun melangkah menghampiri sang atasan yang sudah duduk di sofa tunggal seperti yang dikatakan oleh wanita itu tadi. Dengan berlutut tepat di hadapan Duke, Savannah pun mulai membuka kotak obat dan mengambil kapas untuk mengusap darah yang sudah keluar pada luka sayatan di jari telunjuk pria itu.
"Saya harus memastikan apakah ada pecahan kaca yang masuk ke dalam luka anda dengan sedikit menekan di tepiannya. Rasa mungkin akan mengejutkan, tetapi bisakah anda menahannya?"
"Tentu saja. Apakah kau pikir saya ini adalah seorang anak kecil yang jika terluka saja langsung menangis?"
"Saya tidak berbicara seperti itu, sir. Tetapi jika anda ingin menangis, saya tidak akan mentertawakannya." Balas Savannah dengan sedikit tawa yang membuat Duke yang juga dengan refleks langsung tersenyum kecil setelah mendengar ucapannya. "Baiklah, saya akan mulai melihat dan mengobati luka anda."
Dengan perlahan dan teliti, Savannah pun mulai melihat dan merasakan apakah ada pecahan kaca yang dimaksudkannya itu pada luka tersebut. Setelah tidak menemukannya dan rupanya luka tersebut hanya sebuah goresan saja, dengan begitu penuh kesabaran. Wanita itu mulai memberikan obat merah pada luka di jari sang atasan, hingga membalutnya menggunakan plester hingga sampai menutupi seluruh luka tersebut.
"Lukanya hanya goresan saja, sir. Dan setelah nanti perban ini dibuka, mungkin luka anda akan kering dan pulih."
"Kau pandai merawat luka."
"Ini hanya luka kecil saja, sir. Siapapun bisa mengobati luka seperti ini saja,". "Dan sekarang luka ada sudah selesai di obati, sir. Biarkan pecahan kaca yang berserakan di lantai ini saya yang akan bersihkan."
Namun setelah Savannah menutup kotak obat yang sudah selesai digunakan itu serta hendak beranjak berdiri, sepatu hak tinggi yang dikenakannya itu pun tiba-tiba saja menjadi tidak seimbang hingga di saat wanita itu yang baru saja setengah berdiri dari posisi berlututnya langsung limbung dan tidak bisa dicegah lagi bahwa Savannah langsung terjatuh setelah. Tetapi, siapa yang bisa menduga bahwa posisi pendaratan jatuhnya itu berada di atas pangkuan sang atasan. Hal yang tiba-tiba saja terjadi dan sangat tidak terduga itu membuat tubuh Savannah langsung terpaku dan menegang. Tubuhnya seakan tidak bisa bergerak setelah ia terduduk pada bagian tubuh pria itu secara tidak di sengaja.
Tetapi, hal tidak terduga yang Savannah rasakan itu tidak berakhir di sana saja. Karena beberapa saat setelah keterpakuannya dirasakan, tubuhnya kembali dibuat menegang ketika di saat itu juga Duke sudah menahan tengkuk bagian belakang leher Savannah dan dengan cepat langsung mencium bibir wanita itu. Ciuman yang Duke lakukan hanya bermula dengan sebuah kecupan saja, namun lama kelamaan mulai berubah menjadi lumatan, dan permain kecil dengan gigitan-gigitan pada bibir Savannah. Pria itu seakan begitu menikmati hal pertama yang begitu beraninya ia lakukan terhadap sang asisten, tetapi tidak dengan Savannah. Wanita itu masih terpaku atas hal yang sedang terjadi, bersamaan dengan tubuhnya yang menegang, kaku, dan seakan tidak bisa digerakkan di saat seharusnya ia bisa mengakhiri dan menolak ciuman yang sudah jelas tidak diinginkannya itu.
Tidak ada niatan bagi Savannah untuk ingin membalas ciuman yang dilakukan oleh atasannya tersebut. Karena kini di pikirannya, ia hanya sedang mencari cara dan juga alasan bagaimana seharusnya ia menghentikan dan menolak hal yang sesungguhnya sudah mulai dinikmati oleh sang atasan. Savannah tidak tahu harus lebih mementingkan karir masa depannya, atau harga dirinya yang kini sesungguhnya sedang dilecehkan oleh pria itu.
Sesungguhnya walau hanya karena permasalahan ciuman saja, hal itu masih bisa dikatakan sebagai tindakan atau suatu hal yang biasa saja. Tetapi kini, Savannah sudah bisa merasakan tangan Duke yang berada pada bagian pahanya yang akibat tersingkap dari bagian bawah dress yang dikenakannya itu. Tidak hanya diam saja, tangan pria itu pun juga sudah membelai dengan perlahan dan sedikit demi sedikit mulai menggerakkan tangannya naik ke atas menuju bagian pribadi tubuh wanita itu.
Dan dengan begitu Savannah pun menjadi kembali berada di posisi yang serba salah, dan takut untuk mengambil keputusan yang justru bisa saja membuat dirinya nanti akan menjadi salah. Tetapi jika dirinya hanya terdiam saja dan tidak melakukan penolakan atau hal apapun itu, Savannah bisa dianggap memberikan izin dan juga menginginkan hal yang sedang dirasakannya itu.
Tidak ingin hal tersebut terjadi semakin berkepanjangan dan bisa sampai menuju kepada hal yang tidak diinginkan, Savannah pun mulai menarik dirinya dengan perlahan hingga ciuman tersebut berakhir dan tidak lupa menahan tangan Duke yang sudah sejak tadi menyentuh bagian pribadi tubuhnya dari luar celana dalam yang dikenakannya itu.
"Sir..., anda tidak bisa melakukan hal ini." Ucap Savannah dengan sedikit ragu.
"Mengapa? Apakah kau tidak menyukainya?"
"Hmm..., ini tidak profesional, sir. Anda pernah mengatakan sendiri bahwa tidak menyukai hal pribadi yang dibawa ke dalam wilayah pekerjaan, bukan? Tidak seharusnya anda melakukan hal seperti ini terhadap asisten anda dengan. Dan hal ini pun juga membuat saya menjadi merasa tidak nyaman karenanya, sir."
Mendengar kalimat ucapan Savannah tersebut, dekapan pada tubuh Duke yang semula terasa begitu erat dengan perlahan mulai mengendur bersamaan dengan Savannah yang juga langsung beranjak dari pangkuan pria itu.
"Kalau begitu saya ingin mengambil beberapa perlatan untuk membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai terlebih dahulu," ucap wanita itu yang undur diri dari hadapan sang atasan.
***
Savannah memijat kecil kepalanya yang tiba-tiba saja sejak tadi sudah terasa sakit. Setelah kejadian tidak terduga itu yang telah terjadi tadi siang, Savannah merasa sangat canggung di setiap ia ingin berkomunikasi dengan sang atasannya itu. Dan kini di saat waktu dimana jam kerja telah berakhir, Savannah berniat ingin meminta izin kepada Duke agar diperbolehkan untuk pulang. Biasanya wanita itu akan tetap melanjutkan pekerjaannya di saat jam kerja sekalipun telah berakhir.
Namun kali ini, wanita itu sudah merasa tidak kuat lagi untuk melanjutkan pekerjaannya karena rasa sakit di bagian kepala yang dirasakannya itu. Dan setelah ia merapikan meja kerjanya dan memasukkan barang miliknya ke dalam tas, Savannah pun beranjak dari kursinya untuk melangkah menuju ruangan sang atasan dan hendak meminta izin untuk bisa pulang lebih awal dari biasanya.
"Sir, bolehkah saya meminta izin untuk pulang lebih awal? Saya merasa sedang sedikit tidak fit," ucap Savannah terhadap sang atasan.
"Apakah pekerjaan yang saya berikan sudah selesai kau kerjakan?" Balas pria itu dengan nada sinis tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop tepat di hadapannya itu.
"Belum, sir. Tetapi saya sedang merasa tidak fit."
"Apakah pekerjaan yang saya berikan masih tidak cukup banyak untukmu?"
"Maaf, sir. Tetapi saya tidak bisa melanjutkannya lagi hari ini. Saya akan menyelesaikan pekerjaan yang anda berikan esok hari lagi."
"Tenggat waktu sampai pukul delapan. Kau memiliki waktu tiga jam dari sekarang untuk menyelesaikan pekerjaan yang saya berikan tadi. Dan jika kau masih merasa kurang, kau tidak perlu khawatir. Tumpukan dokumen ini adalah milikmu," ucap Duke dengan tegas sambil menaruh tanganya di atas tumpukan dokumen di atas meja yang tidak jauh darinya, di akhir kalimat pria itu.
"Baik, sir. Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya."
Mendengar balasan sang atasan yang sudah sangat jelas bahwa dirinya itu tidak diberi izin untuk pulang lebih awal, Savannah pun hanya bisa pasrah menerima semua hal itu dan kembali ke meja kerjanya dengan langkah lemah untuk bisa melanjutkan kembali pekerjaannya yang rasanya sudah tidak sanggup lagi walau hanya untuk sekedar dilihat saja. Dan rupanya, pria itu pun juga langsung mengembalikan sikapnya seperti yang dulu lagi, di saat pertama kali ia bertemu dengan Savannah. Sikap otoriter, arogan, egois, setelah kejadian dimana wanita itu yang sudah menolak dengan mentah-mentah dirinya pada saat kejadian tadi siang.
Selama ini, di saat hal apapun yang Duke sedang inginkan di dalam hidupnya. Ia tidak pernah mendapat penolakan, sekalipun hal itu berurusan dengan wanita. Tidak ada satu pun wanita yang diinginkan, dengan begitu saja menolak dirinya. Tetapi, baru kali ini pria itu ditolak oleh seorang wanita hanya karena merasa tidak nyaman saja terhadap dirinya. Sungguh alasan yang sangat tidak bisa Duke terima, hingga membuat pria itu merasa begitu marah hanya karena ia seperti dipermalukan oleh Savannah.
Dan sedangkan Savannah yang telah mendudukkan dirinya di kursi kerja miliknya, ia pun kembali menyalakan komputer dan membuka kembali semua dokumen yang harus ia kerjakan, bersamaan dengan meja kerjanya yang langsung terlihat berantakan kembali. Tiga jam waktu yang Savannah miliki, untuk membuat tinjuan akan sebuah taman hiburan yang akan dibangun agar bisa dipresentasikan kepada rekan perusahaan dan klien yang nantinya akan menjadi investor pembangunan tempat rekreasi baru di salah satu pulau pribadi milik keluarga McCarter.
Namun baru saja wanita itu melihat cahaya dari layar komputer di hadapannya itu, rasa sakit di kepalanya itu langsung kembali ia rasakan dua kali lipat dari yang tadi pernah ia rasakan sebelumnya. Merasa tidak kuat lagi menahan dan juga merasakan rasa sakit itu, Savannah pun mengambil ponsel dari dalam tasnya untuk menghubungi satu-satunya pria yang peduli pada dirinya, dan yang pasti akan memberikan pertolongan di saat ini wanita itu sedang membutuhkannya.
"Dy..., apakah pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Savannah yang langsung kepada intinya di saat tidak lama setelah ia menghubungi Dylan, dan saat itu juga pria yang dihubunginya itu langsung mengangkatnya.
"Aku harus lembur, Savee. Sebentar lagi adalah akhir bulan, jadi aku harus menyelesaikannya secepat mungkin. Memangnya ada apa?"
"Baiklah. Jika kau harus lembur dan saat ini sedang sibuk juga, tidak masalah."
"Hei, ada apa? Katakan saja. Aku tidak masalah jika kau sedang membutuhkan sesuatu."
"Tadinya aku ingin meminta tolong kepadamu."
"Kalau begitu katakanlah. Aku akan melakukannya untukmu."
"Benarkah? Aku tidak akan merepotkanmu?"
"Iya. Ayo katakanlah kau sedang membutuhkan apa?"
"Bisakah kau membelikanku obat sakit kepala? Saat ini kepalaku begitu terasa sangat sakit."
"Kau sedang sakit? Apa kau baik-baik saja?"
"Jelas jawabannya tidak, Dy."
"Kalau begitu kenapa kau tidak pulang saja? Jika kau sakit, sebaiknya kau beristirahat saja di apartemen."
"Aku tidak bisa, Dy. Dan bisakah sekarang kau membelikan obat untukku? Aku sudah tidak bisa menahan rasa sakit ini lagi."
"Baiklah. Lima menit aku akan sampai di ruanganmu."
"Terima kasih, Dy. Aku tunggu di ruanganku, okay?"
"Baiklah."
Setelah mengakhiri panggilan tersebut, Savannah pun menidurkan tubuhnya sejenak di mejanya tersebut dan menutup matanya berharap rasa sakit di kepalanya itu bisa sedikit reda. Dan tidak tersadar di dalam istirahatnya itu, rupanya Savannah tidak tersadar bahwa dirinya jatuh tertidur sejenak di atas meja kerjanya itu. Hingga sebuah sentuhan di bahunya itu bisa Savannah rasakan, membuat wanita itu langsung membuka matanya dan mendapati sosok Dylan yang sudah berada di sampingnya dan membelai kepalanya itu dengan lembut.
"Hei, sebaiknya kau pulang saja, Savee."
"Dy..., apakah aku tertidur?"
"Ya. Pada saat aku datang tadi, kau terlihat begitu kelelahan dalam tertidur. Kita pulang saja, okay?"
"Aku tidak bisa. Sebelum pekerjaanku ini selesai, aku tidak diizinkan pulang olehnya."
"Kalau begitu biar aku yang berbicara kepadanya saja."
Sebelum Dylan sempat melangkahkan kakinya menuju ruangan di sebelahnya itu, Savannah sudah terlebih dahulu menahan tangan pria itu hingga menghentikan gerakannya.
"Jangan membawa keributan, okay? Aku tidak ingin hal seperti itu terjadi."
"Tetapi kau sedang sakit, Savee."
"Aku baik-baik saja. Hanya dengan meminum obat yang kau belikan, aku akan lebih baik setelah ini."
Mendengar suara Savannah yang terdengar begitu lembut di telinganya itu membuat Dylan langsung luluh akannya. Dengan menarik kursi yang berada tidak jauh dari meja Savannah, Dylan mendudukkan dirinya di sana tepat di samping wanita itu.
"Kalau begitu, minumlah obatnya. Aku juga membelikan kopi dan beberapa makanan ringan agar perutmu ini bisa terisi. Aku tahu kau tidak akan sempat untuk makan malam lagi seperti waktu itu jika aku tidak menyediakan untukmu. Jadi, aku harap semua yang aku belikan ini bisa menghilangkan rasa sakit di kepalamu dan juga mengisi perutmu untuk sementara waktu. Setelah ini, setelah pekerjaan kita sama-sama selesai. Aku akan membuatkan makanan untukmu, sesampainya kita di apartemenku. Malam ini kau bermalam di apartemenku saja, okay? Agar aku bisa membuatkanmu makanan. Jika di apartemenmu, di sana tidak ada bahan-bahan yang bisa digunakan untuk membantu makanan, bukan?"
"Dy..., terima kasih untuk segala perhatianmu. Aku benar-benar sangat tersanjung dengan segala perhatianmu itu," ucap Savannah sambil mengusap lengan pria itu dengan lembut.
Setelah itu, Savannah pun mulai meminum obat yang di pesannya itu dengan bantuan Dylan yang dengan sigap memberikan air mineral yang dibelinya bersamaan dengan obat tadi, kepada Savannah.
"Minum airnya yang banyak atau jika perlu dihabiskan," ucap Dylan ketika Savannah sedang meminum air mineral kemasan dalam botol.
"Sudah. Cukup," balas wanita itu setelah meminum setengah air dari botol dan menutupnya kembali. "Dy..., sekali lagi terima, okay? Aku sangat beruntung memilikimu di sampingku."
"Terima kasih apanya? Aku sudah pernah mengatakan, bukan? Apapun itu yang kau butuhkan, maka sebutkan saja. Dengan secepat mungkin dan sebisa mungkin akan memberikannya untukmu."
"Tetap saja aku harus merasa berterimakasih. Kau sudah berhasil membuatku terpukau karenamu," balas Savannah yang langsung memeluk tubuh Dylan dengan erat. Sebisa mungkin ia mencari posisi yang nyaman agar perasaan dan suasana hatinya itu bisa merasa tenang dan bisa melanjutkan pekerjaannya itu juga dengan lebih tenang lagi.
Namun pelukan yang dilakukan oleh kedua insan itu tanpa disadari sudah disaksikan oleh seseorang yang memiliki hati yang buruk itu dari sebuah kaca yang bisa dilihat dengan jelas akan hal yang sedang terjadi di dalamnya. Dan, sebuah seringai kecil yang terbit pun membuat pertempuran persaingan benar-benar akan dimulai oleh Duke yang rupanya sedang memperhatikan sosok Dylan dan Savannah yang sampai saat ini masih berpelukan.
***
To be continued . . .