3

1855 Words
Lorra masuk shif pagi hari ini. Meski ia minum cukup banyak semalam, tapi pagi ini ia terlihat baik-baik saja seperti biasanya. Mengendarai mobil sedannya, Lorra sampai di rumah sakit. Ia memarkirkan mobilnya, lalu masuk ke dalam rumah sakit. Lorra menyusuri lorong untuk sampai ke nurse station. Dari jarak beberapa meter ia melihat kepala perawat yang tampak gusar. Kepala perawat menangkap sosok Lorra, wanita itu segera mendekati Lorra. “Akhirnya kau datang juga, Lorra.” Wanita itu sepertinya telah lama menunggu Lorra. “Apakah terjadi sesuatu?’ tanya Lorra. “Semalam kita kedatangan VIP, dan pasien ini agak sulit untuk ditangani. Aku sebenarnya bisa mengatasinya, tapi sebentar lagi aku akan pergi ke ruang operasi. Aku menyerahkan pasien itu padamu. Kau perawat yang paling disukai di sini, aku yakin kau bisa mengatasinya.” “Itu bukan masalah, Kepala perawat.” Senyum tampak di wajah kepala perawat. “Kau memang bisa diandalkan, Lorra.” Lorra tidak memiliki alasan untuk menolak pasien, ia dibayar untuk bekerja, jadi ia akan melakukan pekerjaannya sebaik mungkin tidak peduli siapa yang menjadi pasiennya. Lorra dan kepala perawat berjalan ke nurse station. Di sana terdapat beberapa perawat lain yang  berjaga di shift malam. “Ini data pasien, dan ini infusnya. Kau harus berhati-hati, Lorra. Jika kau melakukan kesalahan pria itu akan memakimu habis-habisan. Wajahnya seperti dewa, tapi sifatnya seperti iblis,” seru Angel, perawat yang awalnya merawat pasien VIP yang akan ditangani oleh Lorra. Awalnya Angel sangat bersemangat, tapi ia melakukan kesalahan kecil karena terlalu terpesona oleh wajah tampan si pasien. Akhirnya ia dilempar dengan ponsel milik pria itu, lalu dimaki-maki karena tidak bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Pria itu mengatakan padanya bahwa rumah sakit menghabiskan uang sia-sia dengan mempekerjakan perawat sepertinya. “Itu benar, Lorra. Dia mengerikan.” Perawat lain juga mengatakan hal yang sama. Setelah Angel, perawat itu yang menangani pasien. Ia berhasil memasang infus dengan benar, tapi ketika ia ingin mengambil darah pria itu, pria itu memarahinya karena rasa sakit akibat suntikan. Ia tidak mengerti kenapa pria dengan tubuh besar seperti itu bahkan tidak bisa menahan rasa sakit suntikan yang hanya seperti digigit semut. “Kau harus berhati-hati. Dia adalah pewaris Dalton Group. Jika dia tidak senang maka yang terburuk kau bisa kehilangan pekerjaanmu,” seru rekan kerja Lorra yang lainnya. “Aku tidak peduli dia siapa, selama dia berada di rumah sakit ini dia adalah pasien,” balas Lorra. “Kau bisa berkata seperti itu karena masa depanmu sudah terjamin. Jika kau kehilangan pekerjaanmu kau masih akan menjadi istri pengusaha kaya raya. Aku benar-benar iri terhadapmu, Lorra.” Angel mendesah putus asa. Jika saja hidupnya seperti Lorra maka dia tidak perlu bekerja sebagai perawat yang sedikit saja melakukan kesalahan bisa dimaki-maki oleh pasien dan keluarga pasien. “Aku pergi sekarang.” Lorra tidak menanggapi ucapan rekannya. Ia melangkah sembari membawa nampan berisi cairan IV. Mungkin rekan kerjanya akan terkena serangan jantung jika mengetahui saat ini hubungannya dan Altair sudah berakhir. Lorra tidak ingin membahas mengenai hal ini lagi, bukan karena ia masih merasa sedih, tapi karena baginya sudah tidak penting membicarakan sesuatu yang hanya tinggal kenangan. Belum Lorra sampai di depan pintu ruangan pasien yang harus ia ganti cairan infusnya, ia sudah lebih dahulu mendengar keributan dari dalam ruangan itu. Di depan ruangan terdapat dua pria bersetelan hitam yang menjaga pintu. Orang kaya memang berlebihan dalam melakukan sesuatu. “Anda tidak bisa masuk ke dalam, Nona.” Seorang penjaga menahan Lorra. “Saya datang untuk menjalankan tugas saya.” “Saya juga sedang  menjalankan tugas saya. Tuan Rex tidak memperbolehkan perawat mana pun masuk ke dalam ruangannya.” “Saya harus mengganti infus dan memeriksa kondisinya. Menyingkirlah! Apa Anda akan bertanggung jawab jika terjadi hal buruk padanya karena saya terlambat mengganti infus?” seru Lorra. Penjaga di depan pintu saling melirik. Mereka pasti akan bernasib mengerikan jika terjadi hal buruk pada satu-satunya pewaris tahta Dalton itu. Dengan berat hati, para penjaga membiarkan Lorra masuk. Mereka termakan ucapan Lorra. Lorra masuk ke dalam, ia terkejut saat melihat piring serta makanan berserakan di lantai. Jenis manusia kekanakan mana yang Lorra hadapi saat ini. Ckck, Lorra sangat tidak menyukai manusia yang suka bertindak sesuka hati tanpa memikirkan orang lain. “Penjaga bodoh di depan bahkan tidak mengerti perintahku!: Rex menggerutu ketika ia melihat seorang perawat masuk ke dalam ruangannya. “Apa yang kau lakukan di sini! Cepat keluar!” usir Rex. Ia masih berada dalam suasana hati yang buruk. Seharusnya ia yang memenangkan balapan, ia sangat membenci kekalahan dalam bentuk apapun. Ini semua karena kucing jalanan yang melintas itu. Jika bukan karena kucing itu ia pasti  menang. Lihat saja, jika ia bertemu dengan kucing itu, ia pasti akan menyentil telinganya. Bisa-bisanya membahayakan nyawa orang lain hanya karena ingin menyebrang jalan. Lorra tidak mendengarkan ucapan Rex. Ia mendekat ke ranjang dan meletakan nampan di lemari di sebelah ranjang. “Saya di sini untuk melakukan tugas saya. Jika Anda tidak membutuhkan tenaga medis untuk merawat Anda, maka Anda bisa segera keluar dari sini. Saya yakin di rumah sakit mana pun Anda berada, Anda masih harus bertemu dengan tenaga medis,” balas Lorra. “Kau sepertinya sudah bosan dengan pekerjaanmu!” Lorra memiringkan wajahnya, menatap Rex dengan seksama. Ia mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa senti saja dari Rex. “Anda sepertinya memiliki indera ke enam. Anda bisa tahu bahwa saya sudah mulai bosan menjadi perawat yang bertemu dengan orang-orang kekanakan seperti Anda!” “Sialan! Apa kau tidak tahu siapa aku!” Lorra tidak takut sama sekali pada kemarahan Rex, Ia masih berdiri tegak tanpa gemetar. Matanya tidak goyah. “Rex Dalton, usia 27 tahun, tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat.” Lorra menyebutkan tiga hal yang ia ketahui dari data mengenai Rex yang sudah ia baca di jalan menuju ke ruangan. Rex menatap wajah Lorra beberapa saat. Ia merasa mengenal Lorra, tapi entah di mana. Rex mencoba untuk mengingat, dan ia sudah mengetahuinya sekarang. Lorra adalah wanita yang ia lihat di club malam miliknya. Ckck, tidak heran jika Lorra tidak takut padanya. Wanita ini bahkan tidak takut memukuli pria. Lorra kembali melanjutkan tugasnya. Mengganti infus Rex, lalu kemudian mengatur kecepatan aliran cairan itu. Ia selesai melakukan pekerjaannya. “Saya akan kembali lagi dengan membawa sarapan untuk Anda. Setelah itu Anda harus meminum obat Anda.” “Siapa kau berani mengaturku!” seru Rex tidak suka. “Jika Anda tidak ingin memakan sarapan Anda dan meminum obat Anda maka Anda harus siap dengan resiko terburuk Anda akan pincang. Bukankah Anda sangat menyukai balapan? Anda hanya akan berakhir di barisan penonton tanpa bisa berpartisipasi.” Lorra menakut-nakuti Rex. Cidera yang Rex alami tidak seserius itu. Hanya dengan istirahat selama kurang lebih 2 minggu, Rex akan bisa kembali terjun ke arena balapan. Seharusnya Rex tidak perlu di rawat di rumah sakit dengan cidera ringan seperti ini. Namun, hampir semua orang kaya bersikap berlebihan seperti ini. Hanya mengalami sedikit rasa sakit saja mereka akan meminta perawatan. Lorra tidak begitu peduli, yang mereka habiskan adalah uang mereka sendiri. “Kau hanya menakut-nakutiku,” seru Rex tidak percaya. “Kalau begitu abaikan saja ucapan saya tadi. Anda bisa membuang sarapan Anda lagi dan juga tidak meminum obat Anda. Bukan saya yang akan menderita.” Lorra berkata tak berperasaan. Rex menatap Lorra sengit. Wanita di depannya memang sangat bernyali. Kemudian Lorra meninggalkan Rex. Beberapa saat kemudian Lorra kembali dengan sarapan dan obat untuk Rex. Pasien yang berada di kamar VIP mendapatkan makanan dengan kualitas terbaik. Tentu saja mereka dikenakan biaya lain untuk makanan yang mereka makan. “Ini sarapan Anda, dan ini obat Anda.” Lorra meletakan makanan di lemari sebelah ranjang Rex, sangat mudah untuk Rex ambil atau buang lagi. “Mau pergi ke mana kau!” Rex menghentikan Lorra yang hendak pergi. “Saya memiliki pekerjaan lain, Anda bukan satu-satunya pasien di rumah sakit ini.” “Tetap di sini. Suapi aku makan!” Rex tertantang untuk menjinakkan wanita  jutek seperti Lorra. Beberapa perawat yang datang sebelumnya bahkan tidak bisa bekerja dengan benar hanya karena melihat wajahnya. Namun, perawat lain di depannya berbeda. Tidak terpana sama sekali. Rex sudah biasa dikelilingi oleh orang-orang yang mengaguminya. Para wanita bahkan dengan rela melemparkan tubuh mereka ke ranjangnya. Sedangkan perawat di depannya saat ini hanya memasang wajah tenang dengan mulut tidak manis sama sekali. Ia cukup yakin wanita di depannya bukan jenis wanita yang menggunakan cara sulit untuk didapatkan agar bisa menggodanya. Ia melihat dengan jelas bagaimana wanita itu memecahkan gelas di kepala pria yang merayunya. “Saya rasa Anda mengalami masalah pada kaki Anda, dan tentunya Anda tidak makan menggunakan kaki Anda, bukan?” balas Lorra. Rex tidak tahu apa yang Lorra makan sehari-harinya, kenapa mulut wanita ini beracun. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat menjengkelkan. “Itu bukan urusanmu aku makan dengan kakiku atau tanganku. Bukankah tugasmu merawat pasien, termasuk memberikan pasien makan dengan alasan kesehatan pasien? Jika kau tidak ingin melakukannya maka aku akan memberikan penilaian buruk tentang perawatanmu.” Rex menggunakan pekerjaan Lorra agar wanita itu tidak bisa menolaknya. Dan Rex berhasil. Menyuapi pasien makan terkadang memang Lorra lakukan. Lorra meraih piring sarapan Rex, dan ia mulai menyuapi Rex. “Berikan aku nomor ponselmu.” Rex mengambil ponselnya yang tergeletak di sebelah bantal. “Itu bukan bagian dari tugasku memberikan nomor ponsel ke sembarang orang. Jika Anda tidak puas dengan itu, Anda boleh mengeluh pada rumah sakit.” “Sembarang orang?” Rex menatap Lorra tidak percaya. “Dengar, Nona Lorraine Parker.” Rex melihat ke name tag yang ada di d**a Lorra. “Tidak sembarang orang yang mendapatkan kehormatan nomor ponselnya tercatat di ponselku.” Rex menekan kata tidak sembarang orang. Lorra mengarahkan sendoknya ke mulut Rex. “Kalau begitu aku menolak kehormatan itu.” Mata Rex melebar. Ia mengunyah makanannya dengan perasaan terhina. “Apa kau wanita normal?” seru Rex setelah ia menelan makannya. Ia pikir Lorra memiliki penyimpangan seksual. “Pertanyaan Anda sangat tidak penting.” Lorra menatap Rex dengan tatapan aneh. Ia kembali memberikan suapan ke mulut Rex. Tidak ingin mendengar Rex mengoceh lebih banyak ia terus menyuapi Rex ketika pria itu selesai menelan makananya. Tanpa Rex sadari makanannya habis. Lorra menatap Rex mengejek. “Anda ternyata sangat lapar.” Rex melihat ke piring, ia sendiri terkejut melihat makanan yang habis. Sial, itu memalukan. “Aku tidak mau meminum obat. Rasanya pasti pahit.” Rex menolak meminum obatnya. “Tidak apa-apa. Anda hanya perlu bertahan di sini setidaknya 6 minggu lagi.” “Berikan padaku,” ujar Rex cepat. Lorra berhasil menakut-nakuti Rex. Setelah pekerjaannya selesai, Lorra hendak keluar dari kamar rawat Rex. “Kau mau pergi ke mana?” tanya Rex. “Apa sekarang saya tidak boleh keluar dari kamar ini?” “Bagaimana jika aku membutuhkan bantuanmu? Kau harus bekerja untukku saja.” “Apa guna dua kingkong di depan kamar Anda, Tuan Rex?” “Rasanya akan sangat menggelikan jika mereka yang mengurusku.” Rex bergidik ngeri memikirkan para pria itu menyuapinya dan lain-lain. Lorra pikir Rex memiliki imajinasi yang terlalu luas. “Anda bisa menekan tombol untuk memanggil perawat jika Anda membutuhkan sesuatu. Saya harus memeriksa pasien yang lain. Permisi.” Lorra kemudian pergi tanpa peduli Rex menyuruhnya untuk berhenti. “Wanita itu benar-benar menyebalkan,” gerutu Rex.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD