Setelah menyimpan undangan pernikahan dari teman SMA-nya, Andrew kembali duduk di sampingku. Kala dia tersenyum padaku, aku hanya memutar bola mata tanda jengah padanya. Perbuatanku itu membuat Andrew menggeser posisi duduknya sedikit mendekat ke arahku. "Well... Kamu masih belum mau mengaku kalau memang ingin menemuiku?" tanya Andrew menaikkan kedua alisnya. "Geer kamu!" "Arghh..., dasar cewek gengsian!" "Emang. Masalah buat lo?" ucapku ketus, lalu tertawa melihat ekspresinya yang dibuat seperti sedang kecewa. "Tapi kamu memang niat mau menemuiku kan? Kamu kangen kan sama aku? Iyain aja kenapa? Biar aku seneng," ujar Andrew sedikit memaksa. "Aku bilang enggak ya enggak. Jangan maksa!" balasku dengan nada suara agak tinggi dan sedikit mendengus kesal di akhir ucapanku. "Ya ampu

