Aku terkesiap dan melepas ciuman kami. Kudorong tubuh Andrew sekuat tenaga. Saat dia menjauh, aku melangkahkan kaki keluar dari kamar, menuju sofa ruang TV dan menghempaskan kasar tubuhku ke sofa. "Silly, stupid, bodoh! Apa yang aku lakukan? Memalukan. Arrgggh..." Aku memeluk erat kedua lutut yang sudah aku masukkan ke dalam kaos gombrong milik Andrew. Ke mana Andrew? Mengapa dia tidak keluar kamar? Biar sajalah, wajahku masih terasa panas menahan malu. Namun tidak perlu menunggu waktu lebih lama lagi, dia sudah berada di sampingku lalu menyodorkan ponselku. "Maafkan aku untuk kejadian barusan ya. Aku tidak bisa mengontrol diriku. Harusnya aku memegang teguh prinsipku yang nggak mau menyentuh perempuan tanpa ijin pemiliknya. Tapi ketika berdekatan denganmu, aku selalu m

