First Day At School

1005 Words
"Lepaskan dia Ethan!" Perintah itu seketika dilakukan dan Joanne sempat terhuyung-huyung. "Kamu tidak bisa menyentuhnya. Dia memiliki diamond privilage. Caroline sendiri yang menjaganya," lanjut Alice yang kemudian menyerahkan Felix pada Joanne. "Te-terima kasih," ucap Joanne terbata. Alice terkekeh. "Untuk kucingmu atau dia?" tanyanya sembari menunjuk Ethan dengan dagu. Ethan melirik tak peduli. "Apa kamu sudah selesai? Cepatlah, Alice!" titahnya. "Sebentar. Joan, jangan pernah masuk ke hutan itu. Apa pun yang terjadi, jangan lakukan itu. Kamu mengerti?" Bak boneka, Joanne mengangguk-angguk setuju lalu Alice kembali tersenyum. "Oia, kalau kamu butuh sesuatu, panggil kami, oke?" "Kami? Aku tidak masuk dalam hitungan!" sergah Ethan. "Baiklah. Apa yang membuatmu sangat kesal, Tuan Muda?" selidik Alice yang kemudian menarik salah satu tangan Joanne lalu terbahak-bahak. "Ya, ya. Kamu kalah taruhan, Ethan. Kali ini, kamu harus merayu Ardolph agar memberikan jatah darah lebih banyak untukku. Aku sudah katakan, dia bukan manusia biasa dan tidak bisa kamu tandai," tambahnya. "Kau membuatku jengah!" marah Ethan yang kemudian melompat seperti seekor tupai yang berlarian di antara dahan pohon kemudian hilang ditelan hutan. Alice masih terkekeh geli kemudian menepuk pundak Joanne yang masih tercengang melihat kepergian Ethan. "Jaga dirimu baik-baik, Joan, sampai jumpa di sekolah!" Sekali lagi Alice melakukan hal yang serupa dan Joanne kembali jatuh terduduk. "Ya ampun, apa itu, siapa mereka?" gumamnya. *** Menatap bayang dirinya di cermin membuat Joanne tidak tahu harus senang atau sebaliknya. Ia pernah membayangkan satu saat nanti akan mengenakan seragam dengan rok tingginya juga ransel hitam kotak di punggung, tetapi saat itu benar terwujud, Joanne merasa ini tidaklah benar. Terlebih, ucapan gadis yang disebut Alice itu sungguh tidak bisa terlupakan. 'Sampai jumpa di sekolah?' Itu berarti mereka ada di sana. "Joan? Apa kamu sudah siap?" tanya Belinda sembari mengetuk pintu kamar Joanne. "Ya, sebentar. Aku akan mengoleskan krim terlebih dahulu," jawab Joanne. Bergeser ke meja, Joanne menurunkan Felix lalu meraih krim. Untung saja seragam sekolahnya berlengan panjang. Ia malas bila harus mengoleskan krim di sepanjang permukaan tangan. Joanne sudah kerepotan menyamarkan kemilau di kaki juga wajahnya. Belum lagi bayangan akan rasa lengket ketika kulitnya bergesekan dengan kain pakaiannya. Setelah menyisir rambut bergelombangnya sekali lagi serta memastikan tidak ada yang salah dengan wajahnya, Joanne mengecup kepala Felix lalu bergegas turun. Belinda memang tidak mau membuang waktu. Setelah Joanne turun, mereka pergi menuju arah selatan. Joanne memandangi keluar jendela mobil. Pemandangan hutan, perkebunan perlahan berganti dengan rumah penduduk juga pertokoan. Kecemasannya memuncak ketika mobil Belinda memasuki gerbang besar dengan pohon Cemara di sepanjang jalan. Beberapa murid berlarian masuk, Joanne memandangi gedung megah sekolah barunya yang lebih mirip menara berhantu Mendengar derit rem tangan ditarik, seketika membuat Joanne menoleh. Belinda tampak melepaskan seat belt lalu turun dari mobil, meregangkan otot-otot tubuh lalu kembali menoleh pada putrinya. "Keluarlah, ini tidak terlalu buruk. Sekolahmu megah sekali," puji Belinda. Joanne melepaskan seat belt dengan malas, tahu pujian Belinda hanya sekadar penghiburan kosong. Bagaimanapun, dilihat dari sisi manapun sekolah ini tampak mengerikan, titik. Sekali lagi, sebuah bayangan menembus d**a Joanne persis ketika ia menginjakkan kaki di aspal pelataran parkir. Kali ini, dengan cepat rasa kebas menjalar dari ujung kaki hingga lehernya. Tanpa ampun, menekan paru-paru Joanne. Belinda yang melihat kegugupan di wajah Joanne menganggap reaksi yang diberikan putrinya hanyalah sebagai satu kegugupan biasa. Tanpa mau berpikir lebih jauh, ia merangkul lengan Joanne, membawanya masuk ke dalam gedung sekolah. Langkah Joanne terhenti tepat di depan ruangan kelas. Meskipun ingin, ia tidak berani menyeka peluh yang mengalir di dahi. Krim wajahnya mungkin saja bisa terhapus. "Mom, bisakah kita kembali besok? Aku, tidak enak badan. Dadaku sesak sekali," lirih Joanne. Belinda tersenyum lalu menepuk-nepuk pundak Joanne. "Tarik napas dalam-dalam, Joan. Kamu hanya gugup saja. Lihat, sepertinya teman-temanmu ramah sekali, mereka menatap kita," ujarnya kegirangan. Joanne berusaha menarik-embuskan napas sesuai perintah ibunya, tetapi rasa sesak itu bertambah kuat hingga rasanya jantung Joanne akan meledak. "Masuklah, Joanne. Aku akan menjemputmu pukul empat nanti, sampai jumpa nanti sore," ujar Belinda melepaskan genggaman tangan Joanne dan pergi tanpa menoleh kembali. Sekali lagi Joanne menarik napas. Kali ini tatapan orang-orang dari dalam kelas harus dibalas penuh senyum dan Joanne melangkah masuk kelas. Setiap ekor mata yang mengikuti gerakannya berakhir ketika Joanne memilih duduk di satu-satunya kursi kosong tepat di paling ujung dekat jendela. Satu tekanan yang menjalar dari ulu hati memaksa Joanne menunduk lebih dalam sembari meremas dadanya. Cepat-cepat Joanne menutup hidung ketika cairan kental warna merah kehitaman turun dari lubang hidungnya. "Aku sudah katakan padamu! Jangan bermain-main dengannya!" Seketika Joanne mendongak. Dilihatnya Alice, Ethan juga Amanda sudah berdiri di ambang pintu. Alice tampak semakin menawan dengan seragam sekolah juga rok setinggi lima senti di atas lututnya. Joanne mengamati Alice yang berjalan ke depan kelas. "Tolong perhatikan aku," pinta Alice. Joanne membekap erat-erat bibir ketika cahaya hijau menyelimuti tubuh Alice, bahkan iris mata gadis itu sudah berubah semerah darah. Sekilas Alice melirik Joanne lalu tersenyum. "Kalian dengar aku, keluarlah dari ruangan ini lalu kembali setelah aku perintahkan dan anggap kejadian ini tidak pernah terjadi. Gadis yang baru saja masuk ke kelas adalah kawan baru dan kalian sudah mengenalnya dengan sangat baik. Joan adalah panggilannya. Baik, sekarang, keluarlah!" titah Alice yang diikuti anggukan kepala dan secara ajaib semua orang menurutinya. Perasaan gelisah Joanne semakin menjadi ketika Alice sudah berdiri di hadapannya. "Men-menjauhlah dariku!" jerit Joanne. Dahi Alice berkerut. "Tanpaku, kamu sudah mati Joan. Pejamkan matamu atau seluruh organmu akan hancur karena terus melawan energi Ethan!" sentaknya. "Melawan? Energi? Aku tidak melakukan apa-apa!" balas Joanne. "Oh, kamu sungguh membuat pekerjaanku bertambah rumit, Joanne!" "Berikan dia padaku! Membakarnya adalah perkara mudah!" Amanda melepaskan rangkulan tangannya di lengan Ethan lalu mendekati Joanne dengan setiap langkah yang mengibarkan api di telapak tangannya. "Aku rasa kamu tidak mau berurusan dengan Amanda, bukan?" tebak Alice. Bergantian Joanne menatap Amanda dengan Alice dan seketika kepalanya mengangguk dengan cepat. "Pilihan yang bijak! Sekarang, pejamkan matamu, lepaskan semua yang membelenggu tubuhmu. Jangan melawannya! Dengarkan aku, lepaskan semuanya," bisik Alice. Entah bagaimana ceritanya, tetapi Joanne bisa mengikuti apa-apa yang diinstruksikan Alice. Impitan dalam d**a serta rasa sakit yang mendera kepalanya perlahan lenyap. "Bagus, ya, seperti itu. Ethan sudah membuka perisainya, sekarang kamu aman, Joan,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD