Sekelebat harum mawar dengan cahaya merah muda menyelimuti tubuh Joanne. Untuk alasan yang masuk akal, gadis itu memilih berdiam diri karena cahaya merah itu sama sekali tidak menyakitinya, seakan-akan malah menjadi perisai dari aura kematian yang dikeluarkan Amanda.
"Hentikan Ardolph." Seketika pandangan semua orang tertuju pada satu titik tepat di teras hotel. Satu wanita paruh baya bersama seorang nenek cantik sudah berdiri dan dengan anggun mendekati mereka. "Mereka adalah tamu dan kelak tugasmu adalah melindunginya dari apa pun yang mengejar nyawa gadis itu," lanjutnya.
"Kau tidak bisa ikut campur dengan urusan klanku!" marah Ardolph.
"Sayang, kita selesaikan ini di rumah, lepaskan Joan dan Belinda. Mereka berada di bawah tanggung jawab kita," tambah wanita paruh baya yang mengenakan blouse putih selutut dengan rambut sebahu. Joanne mengamati bagaimana anggunnya wanita itu berjalan menghampiri Ardolph seakan semua dunia berada di dalam telapak tangannya.
"Caroline, kau ... pasti ada hubungannya dengan ini! Kau, pasti yang membuatku menandatangani surat tanpa kesadaran penuh!" marah Ardolph yang dengan segera membuang pandangannya. Ia benar-benar tidak bisa marah bila Caroline sudah berada sangat dekat dengannya.
Caroline terkekeh pelan kemudian merangkul lengan suaminya untuk meredakan amarah yang meledak-ledak. "Aku tidak melakukan apa pun, kau menandatanginya dan kita melakukan hal luar biasa setelah itu, apa kau melupakan itu?"
"Kau—" Satu kecupan di bibir membungkam bibir Ardolph. Kekehan Alice seketika sirna ketika Ardolph menoleh sinis. "Kita kembali!" Alice bergegas mengikuti langkah Ardolph menuju hutan.
"Manda, apa yang kau tunggu? Ayo, kita pergi!" panggil Alice. Amanda menetralkan energinya kemudian pergi setelah memastikan tatapan tajamnya diingat Joanne dengan sangat baik.
Caroline berjalan pelan menghampiri Belinda kemudian membantunya berdiri. "Aku akan mengirimkan beberapa obat untukmu, sekarang, beristirahatlah. Kalian akan baik-baik saja. Maaf kalau penyambutan kami sedikit berlebihan," tutur Caroline kemudian menepuk lengan Belinda lalu pergi menyusul langkah Ardolph.
Belinda meraih tangan gemetar Joanne. "Kamu baik-baik saja?"
"Me-mereka tidak suka dengan kita, Mom," desah Joanne.
Belinda dengan cepat menggeleng. "Caroline akan memastikan janjinya tetap berada di telapak tangannya. Kita akan baik-baik saja," bujuk Belinda.
"Apa kalian akan semalaman di sana?" Keduanya menoleh ketika mendengar pertanyaan nenek tua itu. Belinda membuka pintu mobil untuk meraih ransel Joanne juga tasnya kemudian menarik tangan Joanne untuk segera memasuki hotel.
***
"Biasanya aku tidak mengizinkan hewan masuk ke hotel, tetapi karena kucingmu spesial, aku akan memasukkan dalam list pengecualian," tutur nenek tua itu yang kemudian menyerahkan kunci pada Belinda.
Mata Joanne masih mengamati setiap barang-barang di lobi yang berwarna merah muda dengan harum mawar yang menguat di setiap sudut. Hotel ini tidak begitu buruk.
"Apa Dalton sudah sangat dekat?" tanya Belinda.
"Pilihanmu dengan mampir ke hotelku adalah pilihan tepat. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kalian bila Nona itu menginjakkan langkah pertamanya bukan di tempat ini," jelas nenek itu.
Sekali lagi Joanne menoleh, ya, ia memahami ucapan nenek itu dengan baik, tetapi sungguh, apakah mereka memiliki radar untuk mencari makhluk sepertinya?
"Kami sangat kelelahan. Terima kasih sebelumnya," jawab Belinda.
Joanne dan Belinda bergegas pergi meninggalkan nenek tua yang masih memperhatikan mereka hingga menghilang di undakan terakhir anak tangga. Beberapa lukisan mawar yang menghiasi dinding juga meja-meja yang di atasnya terdapat vas berisi mawar segar berhasil mengalihkan perhatian Joanne. Sedikit ia mengamati kelopak- kelopak indah itu dengan teliti sampai tiba-tiba saja kucing dalam pelukannya mendesis tidak suka.
"Cepatlah Joan, Mom lelah sekali," keluh Belinda.
Joanne mengangguk-angguk kemudian menyusul langkah Belinda yang telah tiba di depan kamar. Kasur king size dengan seprai bermotif mawar, sofa panjang di pojok ruangan juga meja rias dengan cerminnya yang bulat memenuhi ruangan yang lagi-lagi berwarna merah muda.
"Well, tidak buruk," puji Belinda kemudian menaruh tasnya di nakas. Kucing hitam dalam gendongan Joanne melompat kemudian mengendus-endus setiap sudut tempat tidur. "Sepertinya Felix akan menandai wilayahnya, menjijikan sekali," keluh Belinda.
Joanne malas menanggapi keluhan Belinda kemudian melarikan diri ke kamar mandi. Setelah menyelot kunci, berkali-kali ia membilas wajahnya. Sepertinya akan sulit untuk melupakan kejadian tadi. Tatapan gadis yang bernama Amanda itu sangat mengerikan. Joanne mundur selangkah setelah mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil. Ia lebih suka wajahnya polos tanpa bedak atau lainnya, tetapi Belinda akan marah bila Joanne berani keluar dengan wajah tanpa polesan make up. Belinda tidak ingin jati diri Joanne menjadi pergunjingan orang-orang yang tidak bisa menerima perbedaan.
"Kemilaunya makin tebal, astaga, aku tidak mau Tante Pamela tahu soal ini, dia pasti membelikan banyak barang yang aku tidak suka dan menghancurkan wajahku," keluh Joanne.
Joanne memutar keran air kemudian membasuh tangannya. Sekali lagi ia bertanya, mengapa ia harus berbeda dengan manusia lain? Mengapa ia harus terlahir dari rahim yang telah ditanami benih makhluk tak masuk akal dan harus dipanggil dengan sebutan ayah?
***
Angin dingin yang menusuk pipinya membangunkan Joanne dari tidur dan alangkah terkejutnya ia karena terbangun di tanah yang dikungkung kegelapan. Joanne segera bangkit kemudian berlari mencari Belinda yang tidak ia temukan di manapun. Hatinya mengerut kala mendengar desau parau suara memanggil namanya di ujung lorong.
Joooannne, Joaanne, Joooannne ....
Joanne menggigit bibir dalamnya dan berjalan menuju sumber suara seakan-akan dipandu oleh kekuatan tak kasat mata. Sekali lagi ia menoleh ke belakang dan kegelapan itu tetap sama. Dingin, mencekam seakan ingin menelannya hidup-hidup. Dalam keheningan, Joanne bahkan bersumpah bisa mendengar detak jantungnya sendiri, tetapi kali ini ia harus berhenti melangkah karena ujung lorong itu mulai terlihat.
Dua buah pintu dengan lampu minyak yang masing-masing menggantung di setiap sisi menambah sisi mistis yang semakin menguarkan aroma Kematian yang bisa diendus Joanne. Kedua pintu itu, nyaris sama. Memiliki ukiran naga di kedua kenop besinya dan ukiran rantai daun di tengah pintu. Hanya saja, keduanya memiliki warna bertolak belakang. Bagaikan Yin dan Yang, surga dan neraka, hitam dan putih. Joanne terdiam, hatinya memilih untuk membuka pintu putih yang tampak menyilaukan mata, tetapi tangannya seakan dituntun untuk menyentuh kenop pintu hitam.
Tubuhnya berputar seratus delapan puluh derajat ketika ada tangan yang menarik lengannya hingga Joanne jatuh ke dalam pelukan orang tersebut. Dengan bantuan sinar lampu minyak, Joanne berusaha menangkap samar-samar wajahnya orang itu. Sentuhan tidak sengaja di otot-otot sepanjang lengan, meyakinkan Joanne bawah orang itu adalah seorang lelaki.
"Kau akan mati di tanganku, bukan di dalam pintu itu. Ingat semua kata-kataku!" ancamnya.