Tante Pamela

1024 Words
Tawaran itu, jelas menguasai setiap sel yang ada di kepala Joanne, hingga hampir saja ia mengangguk ketika satu teriakan membuatnya kembali pada kesadaran. Amanda menarik tangan Ethan agar bisa menjauh dari Joanne. "Kau! Bukankah sudah aku peringatkan untuk menjauhi Ethan!" pekiknya. Joanne bangkit. Menjauhi Ethan? Mengapa sekarang ia terdengar seperti seorang murahan yang menyodorkan diri pada pemuda itu? Jelas-jelas Ethan sendiri yang selalu mengganggu Joanne. "Hei, aku tidak pernah mau berurusan dengan dia!" balas Joanne sembari menunjuk Ethan yang kemudian merangkul pundak Amanda dengan mesra lalu mengecup pipi gadis itu hingga membuat Joanne ingin muntah. "Kau! Untuk apa pacarku mendekatimu? Aku tahu kalau kamu pasti menggodanya sepanjang hari!" balas Amanda. "Apa? Aku? Menggodanya?" "Sudahlah, jangan berlebihan seperti itu. Amanda, kamu tahu sendiri, 'kan kalau Ethan yang memaksa pindah kelas dan sisanya seperti ini. Jelas Joan tidak bersalah," bela Alice yang kemudian menghampiri Joanne. "Kau selalu saja membelanya! Aku pasti akan membunuh dia!" ancam Amanda sembari menunjuk Joanne. "Sayangnya aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi," balas Alice. Joanne meremas tangannya sendiri lalu pergi dengan sengaja menyenggol pundak Ethan. Bila berlama-lama mendengarkan pembicaraan konyol mereka, rasa-rasanya Joanne bisa gila. *** Menunggu jam pelajaran berakhir rasanya bisa membuat Joanne kehabisan kata sabar. Sesekali ia terpaksa menoleh karena memang merasakan dirinya diamati oleh makhluk jadi-jadian tampan yang amat dibencinya. Hingga pada akhirnya penantian berakhir dengan satu dengking bel. Cepat-cepat Joanne merapikan buku, meraih tas lalu pergi tanpa sempat mendengar seruan perpisahan dari Brian. Kali ini ia merasa telah dipermainkan. Bukankah selama ini Joanne terpaksa pindah-pindah karena tidak mau bertemu dengan makhluk haus darah selain ayahnya? Bagaimana mungkin sekarang ia harus dipaksa bergaul dengan para alien itu? Ini tidak masuk akal! Cukup lama Joanne menunggu di pelataran parkir. Mobil Belinda tidak juga kunjung datang. Mengentak-entakkan kaki beberapa kali, akhirnya Joanne memilih keluar dari sekolah untuk mencari taksi atau apa pun yang bisa mengantarkannya pulang. Napas Joanne tercekat ketika menatap Ethan dan Amanda yang bersandar di batang pohon Willow berdaun rindang. Sedari tadi bukankah ia mengamati gerbang sekolah? Kapan mereka keluar dari sekolah? Suara tawa renyah kembali mengalihkan perhatian Joanne. Kali ini ia tidak tahu harus senang atau cemas ketika menatap sosok orang yang amat disayanginya sedang berbincang akrab dengan Alice. "Tante Pamela!" teriak Joanne yang kemudian menghampiri mereka yang tengah bercengkerama. "Sayang," seru Pamela yang kemudian mengecup pipi kanan dan kiri Joanne. "Coba aku lihat dulu. Astaga, kamu dan seragam ini, menakjubkan sekali. Kamu cantik sekali," puji Pamela yang kemudian menurunkan sedikit kacamatanya. Joanne tanpa sadar menarik tangan Pamela untuk menjauhi Alice. "Tante, apa yang Tante lakukan?" tanya Joanne. Pamela kembali memasang kacamata hitamnya. "Aku ada pekerjaan di sekitar sini. Jadi, tidak ada salahnya aku berkunjung. Aku merindukanmu, Sayang," jawabnya sembari menjawil ujung hidung Joanne. "Baiklah, kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi dari sini?" ajak Joanne setengah memelas. "Baiklah. Alice, kamu sudah mencatat nomorku bukan? Kita bisa berbincang lain waktu, oke? Ayo, Joan," ajaknya yang kemudian berjalan menuju sebuah mobil putih yang terparkir tak jauh dari sana. Sebelum memasuki mobil, sekali lagi Joanne menatap ke arah Ethan. Pemuda itu tampak tersenyum sinis. Joanne bergidik lalu masuk ke mobil. "Bagaimana hari pertamamu? Dari cerita Alice sepertinya menyenangkan," seru Pamela yang kemudian mulai menekan pedal gas perlahan lalu meninggalkan tempat itu. Joanne melemparkan tasnya ke jok belakang lalu menatap Pamela. "Menyenangkan? Sejak aku tinggal di sini, jujur saja. Aku tidak tahu arti kata menyenangkan itu seperti apa!" jawabnya. Pamela melonggarkan scraf perak yang melilit lehernya. "Wah, kedengarannya kamu tidak menyukai Dalton." "Memang dan aku harus menemui Dad! Bisa-bisanya dia membuatku bertemu dengan makhluk jadi-jadian itu padahal dia sendiri yang mengatakan kalau aku harus jauh dari mereka!" seru Joanne berapi-api. Pamela mengusap pucuk kepala Joanne sementara matanya tetap menatap jalanan. "Entah mengapa aku selalu merasa tersinggung ketika kamu menyebut kami dengan kalimat 'Makhluk Jadi-jadian'. Joan, jujur saja, segalanya menjadi lebih baik ketika aku berubah menjadi vampir." Joanne yang merasa tidak enak hati segera menyentuh pundak Pamela. "Aku selalu menyayangi, Tante. Maaf, aku tidak akan menggunakan kalimat itu lagi untuk menyebut klan vampir," sesalnya. Pamela tertawa lalu kembali mengacak pucuk kepala Joanne. "Tidak apa-apa, Joan. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Para manusia yang diberikan kesempatan untuk hidup lebih baik memang terkadang banyak yang menyebalkan, tetapi dalam kasusmu ... sebaiknya kamu tidak memusuhi Ethan dan Alice." Joanne kembali menghempaskan punggung ke jok. "Aku menyukai Alice, dia baik dan selalu membantuku, tetapi Ethan? Ah, yang benar saja! Membayangkan wajahnya saja sudah membuatku kesal setengah mati!" protesnya. "Walau hanya sesekali berbincang dengan Ethan, tetapi pemuda itu tahu betul bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita. Aku ragu kalau kamu tidak kan jatuh padanya," goda Pamela. "Wajar saja bukan? Aku berani bertaruh kalau usianya yang asli pasti sudah ratusan tahun atau minimal sembilan puluh tahun!" Pamela kembali tertawa. "Tidak, dia berbeda Joan. Aku sebenarnya juga penasaran dengan rencana ayahmu. Kamu tahu, Ethan itu hampir mirip denganmu. Hanya saja ayahnya, Ardolph adalah seorang vampir sejati. Usia Ethan baru tujuh belas, kurang lebih sama dengan kamu, Joan," ungkapnya. Jujur saja, Joanne memang semakin penasaran dengan Ethan, tetapi mengulik cerita pemuda itu hanya akan membuatnya terkesan tertarik dengannya. "Sudahlah, Tante. Aku tidak mau membahas ini terus! Pokoknya aku harus bertemu Dad dan keluar dari kota ini!" "Sayangnya hal itu akan sulit terjadi. Tahun ini adalah masa kritis untukmu, Joan. Terlebih angka tujuh belas adalah saat sakral bagi klan kami," jawab Pamela dengan suaranya yang merendah, khawatir bila ia membocorkan hal yang tak perlu pada Joanne. "Aku ini manusia! Tante dengar jantungku yang berdetak, bukan? Juga, juga wajahku yang tidak pucat!" sergah Joanne. "Setengah. Kamu setengah manusia. Belinda manusia, tetapi Carlos, ayahmu adalah seorang vampir. Kamu tahu, tidak seharusnya kamu bisa bertahan, Joan dan menatapmu adalah satu keajaiban untukku," balas Pamela. Joanne tidak punya lagi kalimat untuk memprotes Pamela. Ia tahu kenyataan itu dan setengah mati membencinya. Melihat Joanne terdiam sembari menekuk wajah, Pamela kembali mengusap pucuk kepala Joanne. "Belinda memberikan izin padaku untuk membawamu makan malam di luar. Jadi, kamu mau makan apa?" tanyanya. Binar dalam mata Joanne kembali. Ia memang bosan dengan semuanya dan suasana restoran bisa mengembalikan moodnya. "Di mana saja, Tante. MC Donald atau Starbucks juga oke," jawabnya. Pamela mengangguk-angguk. "Baiklah, mari kita mencari restoran terdekat," ucapnya menyanggupi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD