Kim terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Bahkan ia tak perlu menginginkan sesuatu karena telah memiliki segalanya. Kecantikan, kekayaan, keluarga yang harmonis, nilai akademis yang nyaris sempurna, dan banyak lainnya. Hanya satu keinginannya, Jino.
Hidupnya benar-benar terasa begitu sempurna kala ia menjalani kedekatan dengan pria itu. Tapi kenyataan harus menamparnya dengan keras, seakan meneriakan realita padanya bahwa Jino tak pernah dapat dimilikinya. Dan yang terburuk adalah mengetahui jika Jino menyukai teman baiknya sendiri.
Dalam benak Kim, ia sadar tak seharusnya menyalahkan Dabin atas kemalangan hatinya. Tapi keegoisannya membuat ia tak dapat memaklumi siapa pun yang dianggap telah merusak kebahagiaannya. Kim benar-benar tidak terima kenapa perempuan itu harus Dabin.
Sudah hampir 15 menit Kim berada di bilik toilet hanya untuk – kembali, menangis. Teringat hari-hari indahnya bersama Jino membuat amarahnya kembali mencuat, menimbulkan kesedihan yang tak tertahankan. Selama ini Kim pikir tidak perlu ada pernyataan cinta yang resmi dalam menjalin hubungan yang serius, semua berjalan begitu saja selayaknya percintaan orang dewasa. Tapi nyatanya Kim salah, hanya ia sendiri yang merasa memiliki. Dan bagian terburuknya, Jino tiba-tiba saja meninggalkannya.
Harusnya ia sudah masuk ke kelas, tapi ia tidak akan pernah bisa menyerap pelajaran dengan pikiran kacaunya sekarang.
“Lo udah tahu belum sih, gosip yang lagi rame di kampus?”
“Apa? Senior kita Kimberly si it girl itu? Lo belum bosen ya, ngomongin dia.”
Kim terdiam. Percakapan dua orang perempuan di balik bilik toilet membuat ia memasang pendengarannya lebih tajam.
“Tapi gue masih nggak nyangka aja kalau ternyata Jino selingkuh sama temennya sendiri!”
“Entahlah. Gue juga mulai nggak ngerti sama banyaknya rumor yang beredar. Ada yang bilang kalau ternyata selama ini mereka nggak pacaran, ada juga yang bilang kalau sebenarnya Jino suka sama temennya sendiri.”
“Padahal Kim sama Jino cocok banget, ya.”
“Tapi Dabina juga cantik. Jadi kayaknya wajar-wajar aja kalau Jino suka sama dia.”
“Tapi kenapa harus temennya sendiri gitu?”
“Ya mana gue tahu. Lo tanya aja sama Jino sendiri.”
Kim membuka bilik toilet dengan kasar, menimbulkan suara keras yang membuat dua juniornya terkejut bukan main. Mereka langsung cepat-cepat keluar dari toilet dengan wajah tertunduk. Samar-samar Kim mendengar keduanya saling menyalahkan, membuat Kim tersenyum sinis.
Kim membasuh wajahnya dengan air, berharap tangisannya barusan tidak meninggalkan jejak. Obrolan kedua mahasiswi tadi rupanya semakin membuat hatinya tidak tenang. Kim tak suka kelemahannya dibicarakan, terlebih kagi, Kim tidak suka dikalahkan. Tidak ada satupun yang boleh mengalahkannya.
***
Kai datang saat Jino baru saja memulai sarapannya. Sepotong kue wortel kesukaannya yang baru saja ia hangatkan. Kemarin sore Amira mengiriminya seloyang besar kue wortel, dan bagian yang tidak habis Jino masukkan ke dalam lemari pendingin untuk dimakannya pagi ini.
Kai meletakan ranselnya di atas kursi, dan menduduki kursi kosong lainnya. Seorang pembantu Jino langsung menuangkan segelas air putih untuknya.
“Lo udah makan?” tanya Jino dengan mulut penuh kue.
“Lihat apa yang lo makan gue kayak de javu.”
Jino tertawa kecil. Sudah pasti Amira juga membuat kue wortel untuk dirinya sendiri, yang membuat Kai juga harus ikut menghabiskannya.
“Ya nggak makan ini juga.” Jino masih terkekeh. “Kok, lo cepet banget udah nyampe sini? Kayaknya belum ada setengah jam gue telepon buat minta nebeng ke kampus.”
“Gue bawa motor.”
“Gue dibawain helm nggak?”
“Nggak.”
“Yeeee, gimana sih, lo.” Gantian, Kai terkekeh.
Jino bangun untuk memindahkan piring kotornya ke dalam wastafel. Meski memiliki banyak pelayan di rumah ini, Jino terbiasa melakukan hal-hal kecil dengan tangannya sendiri. Seperti menuangkan s**u yang dia ambil dari lemari pendingin ke dalam gelasnya.
“Lo semalam ke mana?” tanya Jino saat kembali ke meja makan dengan segelas s**u dinginnya. Kini mulutnya sibuk mengunyah potongan buah stroberi.
Kai terdiam. Entah kenapa ada keraguan di hatinya untuk menceritakan kejadian semalam. Ia tidak ingin Jino salah paham jika tahu kalau semalam ia menolong Dabin dan mengantar gadis itu pulang.
“Hmm?” Kai menaikan kedua alisnya.
“Ham, hem, ham, hem.” Jino sebal dengan Kai yang kebanyakan mikir. “Gue pengen ngajak lo main, tapi hp lo nggak aktif. Yaudah gue tidur aja, deh.”
“Nggak ke mana-mana. Muter-muter aja terus mampir ke Koju.” Kai tidak berbohong, hanya tidak menceritakan kejadian setelahnya. “Gue emang nggak aktifin hp, soalnya seharian gue di ruang musik. Padahal sebelumnya gue kepikiran mau ngajak lo, tapi udah kemaleman.”
“Sejak kapan lo mikirin kemaleman mau ngajak gue pergi?” Jino mencibirkan mulutnya. Merasa Kai tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Beneran.” Kai tersenyum lebar.
“Lo ke Koju sendirian emang nggak dikira lagi berantem sama gue?” Jino menyipitkan matanya. Membuat Kai lagi-lagi tertawa. Jino benar, kerap melihat ia selalu datang ke Koju berdua Jino, tentu membuat Martian heran.
Tawa Kai perlahan memudar bersama datangnya kepingan ingatan di kepalanya. Dilihatnya Jino kembali memakan potongan kedua kue wortelnya. Awalnya Kai merasa tak perlu membahasnya, mengingat sampai detik ini Jino belum menyinggung kejadian di kantin tempo hari. Tapi karena ingatannya itu pula perasaan gusar sedikit mengganggu dirinya.
“Mikirin apa lo?” tebak Jino tepat sasaran.
“Hah?” Kai tak sadar jika Jino tengah memperhatikannya.
“Hah hoh hah hoh. Lo tuh sebenernya denger gue nanya apa, tapi masa iya sih, gue harus ngulang pertanyaan supaya lo jawab,” protes Jino dengan mulut penuh kue. Kai sadar tatapan Jino padanya menuntut pengakuan. Jino selalu dengan mudah dapat membaca isi pikirannya, berbeda dengan Kai yang kerap selalu menduga-duga tentang Jino.
“Gimana lo sama Dabin?” tanya Kai pada akhirnya.
Jino tersenyum karena tebakannya tepat sasaran. “Huaaa, gue kayaknya kena karma deh, Kai. Gue suka sama temennya Kim, eh sekarang orang yang gue suka ternyata sukanya sama lo.” Jino terkekeh, tapi hal itu justru membuat Kai tidak nyaman.
“Lo percaya kalau Dabin suka sama gue?”
Jino mengangkat kedua bahu, membuat Kai tak tahu harus merespons apa.
Jino mendesah pelan. Tersenyum lembut pada Kai. “Nggak usah ngerasa gak enak sama gue, Kai.”
“Tapi gue rasa dia nggak serius sama omongannya.”
“Kalau serius pun gue nggak masalah.”
Kai diam.
“Kenapa, Kai? Lo suka sama Dabin?” Senyuman Jino mengembang sempurna.
Kai mendesah malas. “Udah buruan, gue juga ada kelas pagi, nih!” Kai bangun dari duduknya. Menyampirkan tas di bahu kirinya, kemudian meninggalkan Jino sendirian.
Jino menatapi punggung Kai yang semakin menjauh. Jino merasa jika Kai tengah menyimpan sesuatu, hanya saja ia tidak akan membuat pria itu mengakuinya dengan cara sengaja bertanya. Jino hanya perlu menunggu dan mencari tahu sendiri, karena hal itu berpengaruh besar dengan sebuah rencanan yang sedang ia persiapkan.
Setelah mengambil tasnya di kamar, Jino segera menyusul Kai di halaman depan. Beruntung saat tadi Jino menelepon Kai, pria itu belum berangkat ke kampus.
“Helm lo mana?” tanya Kai yang sudah duduk di atas royal enfield lengkap dengan helmnya.
“Oh iya, sebentar.”
Jino berbalik arah, menuju garasinya yang tertutup. Satu tekanan pada sebuah tombol membuat garasi itu otomatis terbuka perlahan, menampilkan deretan mobil mewah yang terparkir. Namun ada satu mobil yang membuat Kai sedikit terkejut. Kondisi mobil itu rusak di bagian depan, seakan habis menabrak sesuatu yang keras. Itu memang bukan mobil yang biasa Jino pakai sehari-hari, tapi Kai memiliki firasat yang tidak enak.
Garasi tertutup perlahan, membuat Kai tersadar dari lamunannya. Jino datang dengan helm yang sudah bertanggar di kepalanya, dan dengan segera menaiki boncengan.
“Mobil lo kenapa?”
“Hah?” Jino kesulitan mendengar suara Kai karena sudah memakai helm. “Udah buruan, kata lo telat.”
Kai pun mengiyakan ajakan Jino. Perlahan sebuah tanda tanya besar tiba-tiba muncul dalam benaknya. Kai tidak ingin mengaitkan sesuatu yang terasa mustahil baginya. Tapi ia benar-benar tidak bisa menahan perasaan gusarnya kali ini. Apalagi Jino bukan orang yang mudah ditebak olehnya – meski ia mengenal pria itu dari kecil. Kai yakin, ada sesuatu yang sedang disembunyikan Jino saat ini. Yang perlu ia lakukan hanya menyiapkan diri dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan ia terima.
***