Dabin memasukkan beberapa lukisan berukuran sedang ke dalam bagasi mobilnya. Sebelum meninggalkan galeri seni, ia mengambil lukisan miliknya untuk dibawa pulang. Sebenarnya tidak benar-benar untuk dibawa pulang, hanya saja ia akan menyimpannya di bagasi mobilnya. Dabin kerap melelang lukisannya pada Dion, manager Molla, untuk mendapatkan uang tambahan. Dion sendiri yang terkadang menghubungi Dabin untuk melihat lukisan-lukisan miliknya. Beberapa Dion beli untuk dirinya sendiri, dan beberapa sengaja disimpan untuk ia berikan pada orang lain sebagai hadiah. Tak masalah mau diapakan, yang penting Dabin mendapatkan uang.
Beberapa lukisan yang dibawanya merupakan lukisan lamanya – lebih tepatnya sebelum pemberitaan tentang Molla ramai yang membuatnya tidak bisa berkonsentrasi menggambar. Sepertinya Dabin harus berlatih untuk melukis dalam suasana hati apa pun. Siapa tahu karya besarnya justru lahir dari perasaan gusarnya.
Jam menunjukan pukul 4, itu tandanya satu jam lagi Koju telah buka. Dabin berencana tak langsung pulang, tiba-tiba ia ingin menemui Martian. Menceritakan kejadian hari ini pada pria itu. Dabin merasa Martian menjadi satu-satunya teman baiknya saat ini. Sebenarnya bisa saja ia berbicara dengan Cloe, tapi entahlah, hanya Martian yang terlintas di pikirannya.
“Dabina…”
Dabin tersentak, menyentuh dadanya sendiri karena terkejut. Tak hanya suara panggilan barusan, tapi sosok yang memanggilnya barusan lebih membuatnya terkejut.
Dabin mengatur napasnya dengan segera sebelum berkata, “Kai?”
“Sorry.” Kai sadar jika ia sudah mengagetkan gadis di depannya.
Dabin belum siap untuk bertatap muka dengan Kai, tapi kini pria itu benar-benar ada di hadapannya sekarang. Namun ada yang berbeda, tatapan Kai begitu mengintimidasi, membuat Dabin seakan tak memiliki kekuatan untuk sekadar balas menatapnya.
Kai sempat melirik ke bagasi mobil Dabin, melihat beberapa lukisan tersusun rapi di sana. Tapi kemudian ia kembali menatap gadis itu. Dabin sendiri tidak bisa menebak apa yang akan keluar dari mulut Kai.
“Dabina,” panggil Kai lagi. Kai kerap memanggil namanya dengan utuh.
“Ada apa?”
“Gue rasa bukan kayak gini caranya lo membalas Jino.”
Dabin tak mengerti. “Balas?”
“Dengan lo bilang menyukai gue di depan Jino. Ya memang lo ngomong itu ke Kim, tapi ada Jino di sana.”
Tak butuh waktu lama akhirnya Dabin mengerti apa yang dikatakan Kai barusan, hanya saja ia tidak tahu harus berkata apa.
“Gue tahu lo bingung kenapa Jino tiba-tiba nyatain perasaan ke lo sedangkan kita semua tahu kalau lo dan Kim berteman baik. Tapi lo juga harus ingat kalau hubungan gue dan Jino itu lebih dari teman. Jino itu keluarga gue. Lo nggak bisa seenaknya pakai gue sebagai alasan untuk membela diri dan juga menolak Jino.”
“Tapi gue…” Dabin tak melanjutkan kata-katanya. Apa dia harus mengikuti jalan pikiran Kai saja, dan membiarkan pria itu tidak tahu jika ucapannya di kantin tadi tidak main-main. Dabin bersumpah atas debaran jantungnya yang semakin menggila saat ini jika ia sungguh-sungguh menyukai Kai.
“Tolong jangan bicara yang nggak-nggak. Seharusnya lo paham karena posisi gue saat ini sama seperti apa yang lo rasain terhadap Kim dan Jino, terutama Kim.”
“Im sorry, Kai.” Hanya itu yang mampu Dabin ucapkan. Sejujurnya hatinya sedih saat mengucapkan hal itu. Ia tidak tahu permintaan maaf itu untuk apa. Karena sudah mengatakan bahwa ia menyukai Kai, atau karena ia benar-benar menyukai pria itu.
“Gue tahu posisi lo sedang sulit. Karena Jino, hubungan lo dan Kim jadi nggak baik. Kalau lo mau, gue akan coba bicara sama Jino, supaya dia bisa meluruskan kekacauan ini.”
“Oke,” lagi-lagi hanya ucapan singkat. Dabin mengalihkan pandangannya, semoga Kai tidak membaca raut sedih di wajahnya.
Kai tersenyum kecil. Lagi-lagi ia kembali melirik ke arah salah satu lukisan Dabin. Tapi pandangannya harus terhalang karena kini Dabin telah menutup pintu bagasinya.
“Semoga hubungan lo dan Kim bisa membaik lagi ya, Dab.”
Dabin mengangguk kecil. Mengamini dengan keras di dalam hati.
Selepas kepergian Kai dari hadapannya, Dabin merasa ada sebuah lubang besar yang tersisa di hatinya kini. Dabin tidak pernah berani menginginkan Kai, meski perasaannya pada pria itu begitu dalam, dan entah sejak kapan menjadi semakin besar. Hanya saja, mengetahui jika Kai tidak mempercayai perasaannya justru membuat ia memiliki keinginan untuk memperjuangkan cintanya.
***
Panggilan telepon dari Dion membuat Dabin mengubah rencananya. Padahal sedikit lagi ia akan tiba di Koju – membayangkan menikmati senja di kursi luar sambil menikmati choux keju buatan Bri. Dabin memutar arah, melawan kemacetan untuk sampai di tempat yang tadi Dion sebutkan, sebuah hotel bintang lima di pusat kota.
Dabin hanya memilih 4 lukisan terbaiknya dari yang ia bawa. Dion bilang ia sedang bersama seseorang, dan orang itu tertarik saat dirinya menunjukan foto-foto lukisan milik Dabin.
Dengan diantar salah satu petugas hotel, Dabin memasuki ruang meeting yang dipakai Dion. Dion menyambut Dabin dengan merentangkan tangannya – bersiap memeluknya dengn ekspresi yang begitu ceria. Sayangnya Dabin mengabaikannya. Karena kini pandangan matanya tertuju pada seorang pria yang sedang duduk di salah satu kursi. Meski senyum pria itu begitu hangat, tetap membuat Dabin menyesali datang ke sini.
Melihat raut wajah Dabin yang tidak mengenakan, Dion berusaha mencairkan suasana dengan satu tepukkan tangan. Juga untuk menghilangkan malu karena Dabin tak menyambut pelukannya.
“Wah, coba lihat, Dab!” Dion mengambil alih lukisan-lukisan yang dibawa Dabin. Meletakannya di atas sofa dan mengambil satu – yang bergambar hutan pinus, untuk dipandanginya.
“Ah, Dab, kenalin ini Pak Satya. Seperti yang tadi gue bilang di telepon, Pak Satya tertarik banget saat gue kasih lihat hasil karya lo,” ucap Dion bersemangat.
Dabin tak bergeming, hanya mengalihkan pandangan dari pria bernama Satya itu.
“Dia juga pemilik salah satu galeri seni yang ada di hotel ini, loh,” bisik Dion.
Satya bangun dari duduknya. Mengambil salah satu lukisan Dabin yang bergambar seorang wanita bergaun kuning tengah tertidur di atas tumpukan jerami. “Saya suka sekali dengan lukisan ini. Berapa harga yang harus saya bayar untuk mendapatkannya?”
“Maaf, yang itu nggak dijual,” jawab Dabin dingin. Dion terkejut saat mendengar penuturan gadis itu. Tapi buru-buru ia menukar lukisan yang dipegang Satya dengan lukisan hutan pinus yang tadi dipegangnya.
“Yang itu juga nggak dijual.”
Dion tersenyum kikuk. Ia tidak tahu apa yang membuat Dabin berubah pikiran. Padahal saat berbicara di telepon tadi, Dabin terdengar sangat bersemangat. Berbeda dengan Satya, pria berusia kepala empat dengan setelan jas rapi itu tampak semakin tertarik dengan lukisan Dabin. Ia tertawa kecil sambil meletakan lukisan yang dipegangnya ke atas sofa.
“Lo ngapain bawa lukisan yang nggak dijual ke sini,” omel Dion setengah berbisik.
“Yang dua lainnya dijual. Tapi harganya mahal,” sahut Dabin pada akhirnya, membuat Dion tersenyum lega. Sepertinya pria ini orang yang penting untuk Dion.
“Well, berapa harga untuk dua lukisan lainnya?” tanya Satya.
“Masing-masing 50 juta. Kalau beli dua jadi 100 juta,” jawab Dabin santai.
Kedua bola mata Dion hampir keluar dari sarangnya. Bila tidak mengingat Dabin adalah keponakan dari artis kesayangannya, Dion sudah pasti akan menjitak kepala Dabin dengan keras.
“Lo sebelum ke sini mampir ke mana sih? Lo kesurupan setan rentenir, hah?” kali ini Dion tak lagi mengomeli Dabin dengan berbisik. Jelas saja Dion terkejut, bisa-bisanya Dabin mengatakan nominal yang tak masuk akal baginya. Sepengalaman ia membeli lukisan Dabin, paling mahal ia membayar lima juta untuk satu lukisan, itu pun berukuran besar.
“Ya, terserah kalau nggak mau beli,” sahut Dabin santai.
“Oke, saya ambil dua lukisan kamu dengan harga 100 juta.” Kali ini tidak hanya Dion yang melotot, tapi juga Dabin. Ia tidak menyangka jika Satya akan serius terhadap ucapannya. Dabin sengaja asal menyebut angka agar pria itu tidak membeli lukisannya.
Dengan gerak cepat Dabin mengambil semua lukisannya, membawanya dalam satu dekapan. “Sori, saya lupa kalau yang dua ini pesanan orang.”
Dion semakin tidak mengerti dengan sikap Dabin.
“Kalau gitu saya permisi dulu.” Tanpa persetujuan keduanya, Dabin langsung keluar dari ruangan.
Rupanya Dion mengejarnya. Menarik lengan Dabin agar gadis itu berhenti. “Dabin…” panggil Dion lembut.
“Gue tahu dia siapa,” hardik Dabin. “Nggak akan gue mau ngejual lukisan gue sama pria itu.”
“Dabin…”
“Ternyata Mas Dion ngedukung hubungan tante gue sama pria yang masih beristri itu?”
Dion meletakan jari teluntuknya di bibir, berharap Dabin akan memelankan suaranya. Beruntung tidak ada siapa-siapa di sana. Dabin akhirnya menyadari jika ia berbicara terlalu lantang.
Sekali melihat, Dabin langsung tahu jika Satya adalah pria yang beberapa kali pernah mengantar Molla pulang. Meski tak pernah melihat dari dekat, tapi Dabin bila langsung mengenali wajah pria itu.
“Nggak, Dabina.” Dion berusaha meyakinkan. Ia sendiri tidak menyangka jika Dabin mengenal Satya.
“Terus?”
“Lo percaya sama gossip-gosip itu?”
“Emang ada alasan buat bikin gue nggak percaya?”
Dion menghela napas berat. “Ya udah gue minta maaf.”
“Berarti benar, kan?” Dabin kembali merasa kesal.
“Gue minta maaf bukan karena gue membenarkan semua pemberitaan itu. Sialan nih, orang-orang kayaknya lagi berusaha ngancurin karier Molla.” Dion berucap pelan di kalimat terakhirnya, tapi Dabin tetap bisa mendengarnya.
“Lo tuh ya, harusnya dukung tante lo, bukan malah ikut-ikutan percaya sama gosip murahan,” omel Dion lagi.
Dabin memilih mengabaikan dan meninggalkan Dion. Setibanya di parkiran, ia tidak langsung menyalakan mobil, tapi memilih terdiam di kursi kemudi. Di saat seperti ini, ia berharap ada sebuah email acak masuk dari mendiang ibunya.
Saat berusia 17 tahun, Molla memberikan sebuah surat untuk Dabin. Di dalam surat itu hanya tertulis sebuah email beserta dengan passwordnya. Dabin kerap mendapati email-email dari Moana di situ. Seakan memiliki firasat jika Moana akan meninggalkan Dabin, wanita itu sengaja menulis email untuk Dabin dengan mengatur tanggal pengirimannya.
Email pertama yang Dabin dapatkan, menuliskan sejarah panjang mengenai hubungan ibunya dengan Molla yang rupanya bukan adik kandungnya. Tapi di email itu pula membuat Dabin justru ingin melindungi Molla seperti apa yang dilakukan mendiang ibunya. Kemudian ada email lain yang juga menceritakan pria di kehidupan masa lalu Molla. Entah mengapa ada ketakutan di hati Dabin jika Satya itu adalah pria yang dimaksud Moana pada suratnya. Hanya saja Dabin sudah berjanji pada sang ibu untuk tidak menceritakan isi email-email tersebut kepada Molla sampai Molla sendiri yang mau mengungkap dirinya kepada Dabin.
Helaan napas panjang keluar begitu saja. Jika Dabin tidak mengunjungi Dion, saat ini pasti ia sudah menghabiskan beberapa choux keju di Koju sambil duduk bersantai dengan secangkir teh hangat. Tapi sepertinya Dabin memilih untuk pulang. Kemacetan di luar sana akan menjadi penutup hari beratnya. Dabin tidak ingin memikirkan apa-apa lagi selain pulang ke rumah dan berendam di air hangat.
***