Bagian 1

1682 Words
"Jadi gini nahan rindu yang berkepanjangan ya Za." Firza yang sedang asik dengan ponsel pintar dan kacamatanya melirik Reza sekilas kemudian menanggapi, "Gak semua harus pake hati, terkadang logika itu lebih utama." "Prinsip lebih utama Brother." "Tapi, kalo kasusnya kayak lo gue gak yakin," sambung Firza sembari melanjutkan game onlinenya. "Guenya yang terlalu bucin atau dianya yang gak peduli atau gimana sih, ribet banget udah kayak cewek aja," Reza yang tadinya nangkring di atas pegangan ayunan melompat turun dan lesehan di sebelah tempat duduk Firza. "DUH MANG AGUS, gak lewat-lewat ke mana aja sih, kangen gue sama Vanilla Choco Chipsnya." Di depan sana tukang es krim langganan dua lelaki ABG itu berhenti dengan gerobaknya. Melambai pada Firza yang tetap santai dengan gamenya, sementara Reza grasah-grusuh tidak bisa tenang mencomot Choco Chips yang belum sepenuhnya selesai ditaburkan Mang Agus. "Dasar bangke," emosi Firza. Pasalnya apa yang Reza bicarakan itu selalu melenceng dari ekspektasi lawan bicaranya. Seperti barusan, mengangung-agungkan rindu dengan dendang prinsip. Nyatanya yang ia maksud itu es krim. Tikus got. "Woy, elah liat-liat dong. Lo kira kepala gue pendaratan kaleng rombeng." Mengambil sarkas botol kaleng yang tadi menimpuknya lalu Reza injak balik sampai tak berbentuk. Sahabat seangkatan tahun lahirnya yang berdiri tepat di samping Reza menoleh ke segala arah guna mencari pelaku penimpukan. Tapi, "Maaf, aku kira tadi udah pas masuk tong sampahnya." Malah di hadapkan dengan gadis berkaos putih polos dengan rambut yang dikucir satu serta berponi tipis. Reza lemparkan kaleng yang sudah tak berbentuk tersebut ke dalam tong sampah cukup besar di sebelah mereka. Dengan sedikit emosi laki-laki berkulit kecoklatan itu mendumal sebal hingga membuat Firza yang berdiri di sebelahnya mengikuti langkah sang sahabat pergi. "Gak punya sopan santun, main lempar-lempar aja." "Aku kan udah minta maaf," gerutu gadis tersebut menatap kepergian dua lelaki yang sama tinggi dan perawakannya di depan sana. "Dicariin juga Ra, udah sampe sini aja." "Pulang aja deh yuk Liv, jadi gak mood main di sini," jengkel gadis yang dipanggil Ra tersebut. Ia berjalan cepat meninggalkan Livia yang masih mencerna ada apa dengan sahabat cantiknya. "Baru sampe astaga dragon Annara, udah minta pulang. Emang dia pikir jarak dari rumah ke taman sedekat hidung sama mulut apa ya." Agaknya Livia merasa aneh, saat membeli minuman tadi temannya itu tampak ceria dan exited sekali tapi, barusan. "Eh tapi Nara marah atau ngambek tuh?!" Snekers putihnya ia bawa mengejar Nara. Minggu sore di pertengahan bulan Februari ini Annara dan Livia sepakat menghabiskan waktu berakhir pekan mereka di pusat pelatihan yoga namun, beberapa hal tak terduga membuat rencana mereka harus batal sehingga berakhir di sini. Dan beberapa hal tak terduga itu membuat mood Annara semakin jelek saja. "Awas aja cowok berkulit kusam itu." Tentu Livia terlonjak kaget. Baru saja mendarat di sebelah temannya sudah dapat murkaan sang kawan. "Oh berarti ada sangkut pautnya sama dua cowok tadi ya? Kenapa sih best, emang kamu diapain?" tanya Liv--sapaan akrab Livia--setelah nyaman dengan posisi jalannya. Alih-alih menjawab Nara malah mengeluarkan selembar uang lima ribuan dari dompet merahnya. "Mau beli soda lagi terus nimpuk kepala orang lagi," jengkelnya kembali meninggalkan Liv berbelok ke kiri. Perasaannya jadi tidak enak setelah insiden kaleng salah sasaran barusan. Padahal dia sudah minta maaf tapi malah diabaikan begitu saja. Bukan apa-apa Nara tipikal manusia yang menyandang gelar perfectionist. Walaupun bagi sebagian orang itu bukan masalah besar tapi, bagi Nara itu sangat mengganggu. Jadi ada yang mengganjal hidupnya yang tenang. "Kulit kusam sombong." Lagi, emosinya ia utarakan tepat setelah berhenti di depan pedagang minuman. Sama halnya dengan Annara yang uring-uringan sendiri. Tak jauh berbeda dengan Firza yang jengah mendengar luapan emosi sahabat dari kecambahnya. --Mama Yuna yang suka bilang begitu, apalagi ketika menasihati Firza-Reza ketika sedang bertengkar di masa kecil. Katanya, "Sebagai sahabat dari kecambah haram hukumnya bertengkar apalagi sampai lebih dari tiga hari loh."-- Sepulang dari taman, mereka ngadem di kamar Firza berhubung Ac di kamar Reza sedang diperbaiki. Definisi ngadem hemat ala Firza sekaligus cara jitu meredam emosi selain makan es krim. Dompet Firza sedang menipis di tanggal tua. "Jadi orang kok pecicilan banget." "Ngaca," sambar Firza kembali menghayati game tempurnya. Yang disindir mesem-mesem sendiri. Lantas beranjak menuju balkon tak jauh dari tempat duduknya. Sementara Firza stay cool selonjoran di kasur masih dengan si ponsel. "Ada yang baru pindahan ya di depan rumah lo Za?" Melipat tangan, menyandarkan diri pada pagar besi hitam kamar sahabat. "Gak tau, iya kali," jawab Firza sekenanya. Ia masih mendalami peran sebagai panglima kerajaan yang apabila poinnya lebih tinggi lagi akan didaulat menjadi raja. Reza mengendikkan bahu asal, baru akan memutar tubuh kembali menghadap Firza sekelebat bayangan tak asing tertangkap netranya. Kaos putih polos kebesaran dan jeans hitam panjang serta rambut pony tails di bawah sana. Badan cungkring yang terlihat keberatan membawa kardus berukuran sedang yang diambil dari Van hitam. "Cewek yang tadi bukan?" "k*****t lo ceker ayam ngagetin aja," histeris Reza tak menyadari kehadiran Firza di sampingnya. Lelaki berkulit kecokelatan itu mengelus d**a dramatis. Tak berselang lama fokus keduanya kembali pada keramaian di bawah sana. Menurut penglihatan Firza, sedikitnya ada dua orang yang secara random mengangkat barang dari Van hitam sementara dua sisanya duduk manis dengan dua cangkir teh atau kopi mungkin. Wanita yang Firza perkiraan seumuran dengan Mamanya itu tengah berbincang dengan wanita paruhbaya lainnya. Mungkin ibunya. Sedang Reza menatap serius perempuan berkaos putih itu ketika sedang menggulung asal rambutnya. Cantik pikirnya. Namun, dengan cepat ia menggeleng sembari berkedip dan menjawil bahu Firza di sebelah. "Gak salah lagi tetangga baru lo, noh," ujar Reza mengendikkan dagu ke arah Annara yang terlihat membawa koper terakhir memasuki rumah. "Gue gak ngerasa ada masalah sama dia." Kejadian di taman tadi kan tidak ada hubungannya dengan dia jadi, Firza santuy. "Dan setelah ini lo bakal sering terlibat masalah, biasanya pertemuan pertama dengan orang baru yang meninggalkan kesan buruk akan membawa kesialan. Hati-hati aja deh lo Za ketiban sial terus." Senyinyir itu bibir nyengir Reza mencuci pikiran Firza. Sukur-sukur tidak terkilir. "Bola Mamat Za." "Ha?" "Bodo amat," tutup Firza kemudian melenggang tertata ala model catwalk. Mengacuhkan Reza yang masih komat-kamit tidak jelas di balkon kamarnya. "Loh, Reza mana Kak? Kita makan malam sama-sama," Mama Yuna--Ibu Firza Seano Pramukti--seingatnya anak sulungnya yang tampan itu tadi naik ke lantai dua dengan sahabat karibnya tapi kok waktu turun cuma sendiri. "Baperan Ma, males," jawab Firza sembari mendaratkan bokongnya di kursi makan. "Minggir Kak, itu tempat duduk aku." Seonggok tubuh langsing bernamakan perempuan berdiri di samping Firza. Rambut hitam sepunggung dan wajah yang hampir mirip dengan Firza itu sedang manyun. Firza jadi gemas. "Silahkan tuan putri," kekeh Firza menduduki kursi yang lain. "Apa bedanya coba kursi yang itu sama yang kamu duduki Nui," protes Mama Yuna pada putri bungsunya. Nui--nama kecil sekaligus panggilan sayang keluarganya untuk Naira--melirik Firza melalui ekor matanya tanpa minat. "Nui kan mau dekat Mama." Dan Firza jawil dagu lancip sang adik. "Jomblo emosian mulu," godanya pada si bungsu. "Tuh Ma Kak Firza kumat lagi gilanya." Yang Firza hadiahi usapan sayang di surai legam Naira. "Mamaku, wuish... ada ikan tepung sambal matah." Reza dengan ketertarikannya pada berbagai macam jenis hidangan di atas meja. Mama Yuna imbuhi. "Cuci tangan dulu Reza, nanti kamu sakit perut." Anak lelaki berkulit agak gelap itu laksanakan dalam sekejap. "Nuinya Kak Reza kenapa manyun gitu sih cantik." "Kak Firza bikin aku pengen beli truk." Jawaban asal Naira mengundang tawa keluarga Pramukti dan anak semata wayang keluarga Zukildin--Kaiso Andreza Zukildin--dan sudah seperti keluarga kandung bagi Firza sekeluarga. "Oh ya, selesai makan nanti Firza, tolong antar kotak makanan yang di dapur ke rumah depan ya," tutup Mama Yuna mengawali makan malam mereka. Yang Firza angguki saja. "Permisi, Assalamualaikum." Pintu kayu berwarna putih tulang itu terbuka menampilkan sosok wanita yang Firza yakini gadis pelaku penimpukan sepihak di Taman tadi sore. Poninya, Firza hafal tata letak mereka, seperti sudah menjadi ciri khas dari gadis perawakan ramping ini. Hidungnya lancip walau tak terlalu tinggi, matanya jernih seperti mata rusa, dan yang membuat lelaki berkulit putih itu terkesima wajahnya hanya selebar kepalan tangan Mamanya. Kecil sekali. "Wa'alaikumsalam, kamu?" Agaknya Firza tersinggung dengan nada gadis di hadapannya. Ketara sekali ketidaksukaan gadis ini padanya saat penekanan kata kamu. "Ngapai di rumah aku?" Hell, yang benar saja. Kalau bukan karena Mama yang suruh antar Firza juga gak akan ke sini. Firza tak ingin menjadi anak durhaka. Firza sodorkan tiga susun kotak makan warna-warni kepada gadis tersebut. Wajahnya tetap stay cool walau sejujurnya ia juga ogah-ogahan. "Ini-" "Titipan dari nyokap gue." "Rumah kamu yang mana?" "Depan rumah lo, pager abu," lima kata itu menjadi kalimat terakhir Firza untuk pamit undur diri. Namun, baru mau melangkah rungunya menangkap suara gadis itu lagi. "Eh tunggu, aku belum bilang makasih." Kotak makan tiga susun itu Firza pandangi bergantian sembari menatap lawan bicaranya. "Udah kan." "Makasih ya, titip salam terima kasih sama Mama kamu." "Hmm." Setelahnya hening tidak ada yang buka suara, mendadak keduanya kehilangan kata-kata. Ntah hanya firasat Firza saja atau bagaimana tapi, rasanya canggung sekali. Ya ampun situasi macam apa ini. "Annara, kamu?" Untuk sesaat Firza tatap uluran tangan gadis di hadapannya ini. Ah iya, mereka belum berkenalan secara resmi. Walaupun sudah pernah bertemu sebelumnya, karena insiden yang unik pula. Tapi, tetap bukan urusannya. Masalah waktu itu terjadi antara gadis ini dengan Reza bukan dengannya sehingga, Firza terima jabatan tangan gadis tersebut. "Firza." "Jadi kita tetangga?!" Firza juga bingung itu pertanyaan atau pernyataan. Setelah tautan tangan mereka terlepas Firza menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bola matanya bergerak seirama dengan penuturannya yang berucap, "Ya bisa dibilang gitu." Dan kekehan dari gadis di hadapannya membuat suasana sedikit mencair. "Yaudah gue balik dulu." Percayalah Firza merasakan euforia tersendiri dalam dirinya. Awalnya ia beranggapan apa yang Reza katakan tadi sore seputar ketiban sial itu nyata tetapi, sepertinya hanya pemikiran Reza saja yang terlalu kuno. Gadis yang memperkenalkan namanya sebagai Annara ini tidak terlalu buruk juga. Malah sempat terlintas di benaknya Annara itu cantik. "Firza, katanya mau balik." Merasa namanya disebut Firza tersentak. "Ha, oh iya nih mau balik." Annara tanggapi dengan anggukan ringan dan kembali mengucapkan terima kasih. Sampai siluet Firza tak tampak lagi di pandangannya barulah ia masuk. "Aku kira bakal senyebelin si kusam, tapi kayaknya nggak juga," gumamnya pelan meninggalkan teras dan masuk ke dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD