BERURUSAN DENGAN ORANG YANG SALAH

1393 Words
*** Jangan pernah menilai seseorang dari penampilan luarnya. Ghea sudah terlalu sering mendengar statement itu, tapi ia selalu salah menilai orang. Tadinya ia pikir atasannya adalah pria dingin yang menyebalkan seperti bagaimana eksekutif muda lainnya, tapi setelah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pria itu menggonta ganti pasangan seperti mengganti baju, entah mengapa membuatnya merasa jijik. Seminggu sudah berlalu setelah insiden pengintipan itu, dan selama itu pula Angga sepertinya sengaja pulang cepat dan menggandeng wanita baru, seolah ingin memamerkan pada Ghea bahwa ia adalah sang empunya rumah dan tidak level diatur-atur oleh seorang pengasuh hewan. Tidak hanya itu, selama Angga dan wanita barunya bermain di kamar, ia akan menelepon dan menyuruh-nyuruh Ghea membawakan sesuatu, entah itu makanan ataupun minuman. Dan ketika Ghea bertanya mengapa ia yang disuruh bukan ART Angga yang lain, pria itu selalu memberikan ancaman yang sama. "Mau saya pecat?" Tapi nyatanya menyuruh ini itu hanyalah akal-akalan Angga, ia sepertinya sengaja ingin Ghea mendengar suara-suara menjijikkan di dalam kamar, sehingga ia hanya mengetuk pintu dan meninggalkan minuman pesanan Angga di depan pintu. Dan hari ini , untuk kesekian kali Angga memintanya mengambilkan makanan yang ia yakini hanya akal-akalan Angga untuk mengerjainya. Tapi begitu ia tiba di depan kamar, hanya suara erangan dan rintihan penuh kenikmatan. Mendengar itu, Ghea mulai kesal. Ia tidak lagi meninggalkan makanan itu di depan pintu lalu pergi seperti yang sudah-sudah. Ia menggedor pintu dengan tidak sabaran, dan tidak lama kemudian, Angga membuka pintu dengan bertelanjang da-da dan hanya memakai boxer.  Pria itu bersandar pada salah satu sisi pintu sambil bersedekap. "Kenapa? Mau nontonin saya hari ini?" Tanyanya. Tanpa babibu lagi, Ghea menyerahkan toples berisi biskuit pada Angga dan menatapnya dengan kesal. "Saya nggak tahan lagi, jadi saya mau kasih tahu bapak. Hati-hati ganti pasangan terus, nanti bisa terkena penyakit menular!" Usai menyampaikan hal itu, Ghea pun berlalu. Sementara, Angga yang mendapat ucapan menohok dari pengasuh hewan di rumahnya itu, sempat terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya tersenyum miring. "Menarik." *** Ini sudah kesekian kalinya Ghea mondar mandir ke kamar 555.  Dari tadi ia terus mendapat telepon bahwa si sialan Angga dari kamar 555 meminta housekeeping bernama Ghea untuk ke kamarnya. Total-totalnya sudah lima kali rasanya. Pria itu seolah mencari alasan untuk mengerjainya mulai dari memintanya mengganti seprai yang jelas-jelas sudah bersi, sampai membersihkan remahan biscuit yang jatuh di atas karpet. Dan semua permintaannya itu dituruti Ghea tanpa mengeluh sedikitpun karena ini memanglah pekerjaan utamanya dan Ghea adalah seseorang yang profesional. Jika Ghea sudah di rumah Angga, jangan harap ia akan melakukan semua ini tanpa protes. Huh! Sikap pria itu saat di Hotel dan di rumah sangatlah berbeda. Sepertinya pria itu berkepribadian ganda, atau mungkin bersikap sok berwibawa seperti sekarang untuk memupuk citra baik di antara karyawannya. Padahal sifat aslinya luar biasa be-jat. "Kamu penurut sekali ya," komentar Angga. Ia sedang duduk di atas sofa dan memperhatikan Ghea yang sedang membersihkan karpet dengan penyedot debu. "Jika setiap malam dirumah saya kamu menurut sama saya seperti ini tanpa protes, mungkin saya akan memberi diskon untuk pengurangan hutang," ucapnya seenak jidat. Ghea menoleh dengan tidak senang, tapi mengingat Angga adalah bos besar di Hotel ini, mau tidak mau ia tersenyum paksa. "Sudah selesai nih, pak. Jika tidak ada lagi yang bisa saya bantu, saya permisi." Buru-buru Ghea beringsut pergi dari sana, akan tetapi pria itu kembali memanggilnya. "Hey, yang ini masih kotor ternyata." Kini Angga menoel lemari dengan jari telunjuk. "Tapi saya sudah membersihkannya tadi," ucap Ghea. "Kamu meragukan mata saya?" Tanya Angga sewot. "Saya ini punya penglihatan yang super tajam, sama seperti kamu yang punya pendengaran yang sama tajamnya." Ghea menggeratakkan gigi menahan geram. Si pembawa sial ini ternyata sedang menyindirnya. Akan tetapi untuk kesekian kalinya Ghea menahan diri. 'Tenang Ghe, anggaplah dia adalah cobaan. sabar-sabar. Orang sabar disayang Tuhan.' Dan untuk kesekian kalinya Ghea mengelap lemari yang sudah kinclong itu dan menggosoknya lebih keras agar semakin kinclong supaya si Angga sialan itu tidak lagi mengerjainya. Saat Ghea sedang sibuk itulah, seulas senyum miring tersungging di wajah Angga. 'Sudah kubilang, aku bukanlah tipe orang yang bisa diatur-atur oleh wanita sepertimu. Akan kuperlihatkan bahwa kamu berurusan dengan orang yang salah.' *** "Sudah selesai kan, pak? Saya sudah mengelap lemari itu sampai mengkilap dan terbebas dari debu barang sedikitpun.Jika tidak ada urusan lagi, saya permisi." Ghea berbalik, hendak pergi dari kamar terkutuk itu, akan tetapi diluar dugaan, pria itu menyudutkannya ke tembok seperti kemarin. Jarak keduanya berada dalam jarak yang terlampau dekat, tiba-tiba saja otak Ghea memberikan peringatan akan adanya bahaya. "Bapak mau apa?" tanya Ghea jutek. Ia tidak lagi berbicara penuh hormat pada atasannya. Baginya, wibawa atasannya sudah luluh lantak semenjak ia ketahuan belangnya suka one night stand dengan wanita yang bahkan tidak ia ketahui namanya. Ghea mengetahui hal itu karena ia sempat bertanya pada Angga mengapa ia tidak membawa pacar yang ia bawa pertama kalinya ke rumah itu lagi, dan coba tebak apa jawaban Angga? Pria itu bersikap acuh dan balik bertanya, 'Yang mana ya? Saya bahkan tidak menanyakan namanya.' Sungguh luar biasa bukan? Kini karena ia sudah mengetahui bahwa atasannya itu bukan hanya pembawa sial, melainkan juga merupakan seorang fakboy yang berbahaya, Ghea merasa ia harus menghindari pria itu. Lebih cepat, lebih baik. Makin jauh, makin bagus. "Menurut kamu, saya mau apa?" Angga menyeringai penuh arti, membuat Ghea salah sangka semakin dalam. 'Dia pasti cuma mau isengin gue, sadar Ghe. Dia cuma isengin elo. Hati-hati mengambil keputusan. Kalau lo sampai teriak dan salah fitnah, bisa-bisa lo dipecat detik ini juga.' Ghea menguatkan hati. Ia masih bisa berpikir secara rasional akan sebab dan akibat yang akan ia terima jika ia salah langkah. Sementara itu, Angga yang sebenarnya hanya ingin menggertak Ghea semakin memperpendek jarak di antara mereka. Akan tetapi ia tidak pernah menduga bahwa wanita penakut yang beberapa waktu lalu bahkan tidak berani menatap matanya itu kini berdiri dengan tegap, tidak mengalihkan sedikitpun pandangan darinya, dan balik bertanya dengan santai, "Memangnya itu urusan saya?" "Apa?" Angga terpana, ia melonggarkan jarak antara mereka karena kaget. Merasa Angga masih berpura-pura bodoh untuk memahami maksud omongannya, Ghea kemudian memutuskan untuk memperjelasnya dengan amat sangat detail. "Bapak barusan tanya apa saya tau apa yang mau anda lakukan, dan saya menjawab apakah itu merupakan urusan saya? Sejak kapan saya yang bekerja sebagai housekeeping dan pengasuh hewan harus mengurusi keinginan pribadi bapak? Saya kan bukan asisten pribadi bapak." "Kamu sadar kamu baru saja melawan saya?" Tanya Angga. "Yang dimaksud melawan adalah jika saya melawan perintah bapak untuk melakukan pekerjaan saya alias bersih-bersih. Tapi melihat sikap anda barusan, menyudutkan saya ke tembok dan tersenyum mengerikan seperti itu, persis seperti pelaku penyimpangan sek-su-al. Menurut anda apakah karyawan anda yang berada pada kasta rendah seperti saya pantas diperlakukan seperti ini?" Angga merasa terhina, ia menatap Ghea kesal dan bertanya, "Hah, kamu menyamakan saya seperti pelaku penyimpangan sek-sual? Kamu kira saya pria macam apa?" "Kenyataannya memang begitu kan? Anda sengaja mengerjai saya hari ini karena tidak terima kelakuan be-jat anda ketahuan oleh salah satu pekerja anda yaitu saya. Saya bersikap profesional karena anda atasan saya dan ini adalah hotel tempat saya mencari nafkah. Saya berhak mendapat perilaku adil sebagaimana karyawan biasa dan anda tidak berhak membuli saya karena alasan pribadi." Ucap Ghea dengan mata berkilat-kilat marah. Ia tidak peduli lagi jika atasan yang kekanakan itu akan memecatnya karena ucapannya yang terlampau berani. Tapi yang barusan ia katakan adalah benar adanya. Perasaannya pada atasannya sudah mencapai titik benci paling tinggi. Dan perlu dicatat bahwa keberanian akan datang saat rasa benci ataupun cinta mendominasi hatimu. Saat ini rasa benci karena sifat be-reng-sek Angga membuat Ghea memutuskan membuat dinding pembatas diantara mereka. Ia merasa, meski Angga adalah pria keenam yang ia kenal, tapi pria itu jauh lebih berbahaya dari semua pria yang ia kenal sepanjang hidup. Ia tidak mau mengorbankan hidupnya untuk berurusan dengan sampah. Sampah pantasnya memang berada di tempat sampah walaupun penampilan luarnya seperti berlian. "Wah, kamu benar-benar karyawan yang luar biasa. Well, silahkan pergi." Angga tersenyum, tapi ada senyum manipulatif yang tersirat di wajah pria itu. Ghea merasa Angga tidak akan melepaskannya semudah ini, akan tetapi ia tetap berpikir positif. Ia kemudian menganggukkan kepala dengan hormat dan pergi dari sana. Tapi Ghea tidak pernah tahu, bahwa Angga terus mengamati punggungnya sampai sosok wanita itu menghilang di balik pintu. Tidak pernah ada wanita yang pernah menolaknya apalagi sampai memberinya penghinaan sebesar ini. Dan hal itu mau tidak mau membuat Angga penasaran dengan sosok Ghea, meskipun ia tidak menyukainya. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD