Bab 15

1045 Words
Mike terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa sangat pusing walaupun demikian Mike merasa sangat bahagia dengan pesta meriah yang semalam ia adakan. Membuang-buang uang sudah menjadi kebiasaannya. Bisa dikatakan Mike mempunyai latar belakang seperti Leon bedanya Leon mempunyai keluarga yang harmonis sedangkan Mike sebaliknya. Ayahnya suka bermain wanita sehingga setiap saat Mike melihat ibunya menangis. Drt...drt.. “selamat pagi pak Mike, hari ini ada jadwal pertemuan dengan pak Leon perihal model pembukaan hotel baru” “baiklah, kau duluan saja. Aku akan menyusul” “baik pak,” $$ Stella menghirup udara dengan tenang, ia baru saja terbebas dari para bodyguardnya. Sekarang Stella bisa kembali hidup normal. Stella berjalan menuju taman apartemennya dengan santai, pagi ini Stella sudah berlari sejauh 1000 meter lebih. Suatu kebiasan Stella, dulu Stella tidak menyukai berlari karena ia akan lelah setelah itu. Tapi didikan ayahnya membuatnya harus lari dan Stella terbiasa akan itu. Ayah Stella adalah tipikal ayah yang selalu memaksa ketidaksukaan Stella mejadi kesukaannya. Seperti Stella sangat membenci brokoli tapi ayahnya memaksanya memakan brokoli setiap hari. “dad, Stella tidak suka apple rasanya aneh” ujar Stella kecil. Tanpa bicara ayahnya memberinya apple, bahkan esok harinya mobil 1 truk membawa apple untuk Stella. Stella lebih baik tidak memberitahu apa yang tidak ia sukai agar ia tidak muak dan muntah karena ayahnya. “hai nona mau ditemani?” tanya seorang pria berdiri disamping Stella, Stella tidak menatap pria itu ia segera kembali berlari. Stella sudah biasa didekati oleh banyak pria jadi digoda oleh satu pria tidak akan membuatnya langsung tertarik. Stella meregangkan ototnya lalu duduk dikursi taman, Stella meminum air mineralnya. Dingin dan segar, setelah merasa tenggorokannya lega Stella segera kembali keapartemennya. Sedangkan disuatu restoran Leon sedang menunggu Mike, pria itu datang lebih lama dari waktu yang ditentukan. “maaf pak, pak Mike sedang dalam perjalanan kemari” ujar sekretaris Mike membuat Leon kembali mengecek jam tangannya. “kami akan menunggu sebentar lagi” jawab Angel sekretaris Leon membuat sekretaris Mike tersenyum canggung. Inilah kenapa Lidia tidak ingin datang duluan karena boss nya pasti akan ngaret, tapi kalau Lidia tidak datang duluan maka klien akan pergi karena menunggu lama. “kau lama sekali, sudah seperti wanita saja” komentar Leon ketika Mike baru datang. “maaf, kepalaku masih pusing karena pesta semalam” jawab Mike duduk dihadapan Leon. “ck, salahmu menjadi pria yang gila pesta” “mending gila pesta dari pada gila tante-tante seperti Day” “hahaha” keduanya tertawa, tapi detik kemudian mereka kembali serius membahas tentang pembukaan cabang hotel and resort keluarga Pradipta yang sekarang sudah diambil alih oleh Leon. Keduanya membahas tema dan model seperti apa yang Leon inginkan. “baiklah, kau akan senang dengan model yang akan kubawa nanti” ujar Mike setelah meeting mereka selesai. “semoga saja” jawab Leon lalu bersiap pergi. “senang bisa bekerja sama dengan anda pak” “saya juga, kalau begitu saya permisi” “Le minggu depan jangan lupa datang kepesta kolam berenang!” ujar Mike membuat Leon menggelengkan kepalanya. “ck, dasar gila pesta” $$ Stella telah selesai membersihkan diri, badannya kembali segar. Hari ini Stella ada janji dengan Hana ibu Leon. Stella tidak tahu akan kemana tapi yang jelas Stella akan menemani Hana kesuatu tempat. “WILL! KALIAN!” teriak Stella tidak percaya ketika melihat Will dan bodyguard yang lain berjaga didepan pintu apartemennya, “selamat pagi Nona” “kenapa kalian disini? Will, bukankah kau sudah kalah dalam pertarungan kemarin. Jangan membuat lelucon yang tidak lucu” ujar Stella mengabaikan sapaan dari Will. “saya hanya menurut pada perintah Tuan besar Nona” jawab Will membuat amarah Stella meningkat sampai ubun-ubun. Mood baiknya tiba-tiba lenyap entah kemana. Stella membuka tasnya mengambil ponsel lalu menelpon ayahnya. “DADDY PEMBOHONG!” teriak Stella kencang, membuat ayahnya disebrang sana menjauhkan telinganya. “you know daddy verry well sweety,” “Stella benci daddy” “i love you too sweety” “dad” panggil Stella frustasi, “tidak lama Will hanya bersamamu dalam 1 bulan ini, setelah itu Will akan kembali dengan sendirinya” “i dont believe you dad” “i trust sweety, swear” “oke, but kalau daddy bohong Stella benar-benar akan membenci daddy dan hilang dari bumi” “baiklah, daddy janji” Stella kembali meletakan ponselnya, lalu menghirup udara dan mengeluarkan pelan-pelan. Stella mengontrol emosinya. Stella berjalan memasuki lift diikuti Will dan anak buahnya, Will tidak bertanya kemana gerangan Nonanya akan pergi karena Will dan para anak buahnya hanya akan mengikuti kemanapun Nona mereka pergi. “selamat pagi bun” sapa Stella ketika sampai dimobil Hana. “selamat pagi cantik, sini masuk” Stella mengangguk dan masuk kedalam mobil. Sedangkan Will dan yang lain mereka mengikuti Stella dari belakang, “kita kemana bun?” tanya Stella sambil meletakan tasnya disamping. “ketempat arisan, bunda sekalian mau memperkenalkanmu dengan teman-teman bunda.” Stella tersenyum kaku maksudnya dikenalkan sebagai calon mantu? “bunda sudah tidak sabar mendapat tatapan iri dari teman-teman bunda, mereka selalu membawa dan memamerkan calon menantu mereka, bundakan jadi iri. Tapi sekarang bunda bisa sombong karena bunda punya Stella” jelas Hana sambil memeluk Stella. “tapi kan bun...” “stt, bunda tidak mau dengar apa-apa” Stella menganggukan kepalanya, mau protes seperti apapun percuma saja. Hana dan Leon dua belas dua belas, sifat mereka sama persis. Wajah saja merekakan ibu dan anak. Stella benar-benar dikenalkan sebagai calon menantu oleh Hana dengan teman-temannya, sepanjang acara arisan Stella hanya tersenyum dan menjawab pertanyaan seperlunya saja. “eh jeng, kapan naik kepelaminan?” tanya salah satu teman Hana membuat Stella hampir tersedak ludahnya sendiri. “segera tunggu undangan turun” “beruntung sekali jeng punya calon mantu seperti Stella,” “jangan lupa undang kita-kita jeng” “tentu saja, kalian pasti diundang dengan VIP” jawab Hana, ia bahagia sekali hari ini. dengan memperkenalkan Stella banyak mata yang menatap nya iri. Rasakan, inilah yang selama ini Hanya rasakan. Stella menciut ia ingin sekali berlari dari sini, tapi Hana terus menggandengnya dan membanggakan dirinya dengan teman-teman Hana. “kau lelah sayang?” tanya Hana membuat Stella langsung menganggukan kepalanya. “pulang?” tanya Hana lagi-lagi membuat Stella menganggukan kepalanya dengan cepat. “semuanya, kami pulang duluan” “hati-hati” “kapan-kapan ajak Stella lagi” Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD