Ai tidak pernah bangga mengaku kalau selama ini dia yang menghidupi Ibu dan dirinya sendiri. Sejak masih bersekolah di SMK jurusan Tata Boga, dia sudah terbiasa banting tulang sendiri, kerja serabutan sendiri, karena Ayahnya sudah berhenti menafkahi.
“Kamu tau? Kenapa Ayah masih peduli dengan Ibumu padahal sudah bercerai bertahun-tahun? Itu karena kamu seorang. Kamu satu-satunya keturunan Ayah. Harapan Ayah. Istri Ayah yang sekarang gak bisa beri keturunan. Kalau kamu ikut Ayah, kamu gak perlu bersusah payah seperti ini.”
“Kalau aku ikut Ayah, Ibu bagaimana?” tanyanya dengan suara bergetar.
“Ya tetap di rumah sakit. Banyak kok yang bakal menjaganya, asal kita rutin membayar biaya perawatan bulanannya.”
“Kalau begitu… Ayah bisa jamin bakal terus membiayai Ibu setelah semua yang terjadi? Ayah sendiri kan yang bilang, alasan Ayah pergi sebab Ibu itu aib keluarga?”
Ayahnya terdiam.
“Ayah juga bisa jamin banyak yang bakal sayang sama aku seperti Ayah yang sayang sama aku selama ini? Memangnya tidak ada yang tidak suka sama aku nantinya?”
Ayahnya semakin diam.
“Kenapa sekarang Ayah diam? Dari tadi Ayah lancar berbicara. Lancar meyakinkan aku. Atau jangan-jangan,” Ai menggantung kalimatnya. Dadanya sesak. “Ayah memaksa aku ikut hanya supaya bisa dapat jatah warisan. Setelah itu, mungkin saja aku dibuang. Sama seperti Ayah yang dulu membuang Ibu.”
Ibunya didiagnosa sakit demensia saat Ai baru lulus SD. Tak lama, Ayahnya minta cerai. Tinggal lah Ai sendiri bersama Ibunya. Selama itu, meskipun sudah tidak tinggal bersama, Ayahnya masih rutin mengirimi uang untuk biaya hidup mereka walaupun tak lama Ayahnya menikah lagi dengan perempuan pilihan keluarganya—yang notabenenya merupakan keluarga kaya raya. Memang sejak awal pernikahan Ayah Ibunya tidak pernah direstui. Sebab Ibunya Ai hanya wanita biasa. Namun, saat baru masuk SMK, demensia Ibunya semakin parah dan harus dirawat di rumah sakit. Bersamaan dengan kenyataan itu, Ayahnya tiba-tiba mengajak Ai untuk ikut bersamanya dengan alasan seperti itu. Ai sakit hati? Tentu saja. Tapi, Ayah adalah Ayah. Tidak ada Ayah, Ai tidak mungkin lahir—meskipun dari awal juga rasanya dia tidak pernah minta dilahirkan ke dunia yang serba sulit ini.
Mungkin Ayahnya juga sakit hati Ai membalas dengan perkataan semacam itu. Pada akhirnya Ayah tidak pernah menghubunginya lagi, plus tidak pernah mengirimi uang lagi.
Kepalang disakiti dengan orang yang ia sayangi, membentuk kepribadian Ai yang anti memohon-mohon. Karena pernah merasakan harga dirinya terinjak-injak, sampai saat ini Ai sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Tidak terasa, itu juga yang membuatnya memiliki sifat kaku dan keras kepala. Suka terlihat sok kuat, padahal remuk di dalam.
Sebenarnya, di rumah sakit swasta ini, sudah ada petugas yang rutin merawat Ibunya secara khusus. Seperti memandikan, mencuci rambut, memotong kuku, atau sekedar memijat-mijat kaki wanita itu sampai tertidur. Namun, Ai selalu melakukan semua sendiri setiap berkunjung ke sini, sebab hanya dengan itu saja, Ai bisa berinteraksi akrab dengannya. Karena Ibunya sudah lupa siapa Ai sebenarnya. Memang penyakit Ibunya sudah separah itu.
Selama Ai melakukan segala hal di dalam sana—yang menjadi alasan satu-satunya gadis itu memilih terus bertahan hidup selama ini, dengan setia dan penuh kesabaran Hadi menunggunya di luar. Luar biasanya, Ai menghabiskan waktu hingga 3 jam penuh dan pemuda itu tetap di tempatnya.
[]
“Aku sedikit terganggu dengan kehadiranmu. Tapi, aku tau kamu hanya ingin membantu. Jadi, terima kasih, Di.” Ai membuka pembicaraan saat keduanya sudah duduk dengan tenang di dalam angkutan umum menuju pulang.
“Aku bisa membantu lebih dari ini kalau kamu membiarkan, Ai.” Hadi membujuk. Susah sekali memang membuka hati gadis ini.
Ai tersenyum hambar. Tidak ada niatan balas menatap pemuda di sampingnya ini. “Tidak, terima kasih. Aku benci hutang budi. Lagipula aku masih bisa melakukan semuanya sendiri.” Ujarnya sendu.
Hadi menghirup napas dalam-dalam. “Jadi, menurutmu… Membalas perasaanku saja sudah termasuk hutang budi?” tanyanya mulai lelah. Sebab selama ini perasaannya selalu ditolak tanpa alasan.
“Memangnya apa lagi?” Ai menoleh. “Suatu hubungan akan disebut cinta sejati jika bertahan selamanya. Kalau tidak, itu bisa terhitung hutang budi dengan jumlah tak terhingga. Karena cara kerja suatu hubungan itu, menerima dan memberi. Di akhir hubungan nanti, akan dipermasalahkan siapa yang paling banyak menerima dan yang paling banyak memberi. Aku sangat membenci itu, Di.” Jelasnya tenang.
Hadi terdiam. Inikah yang dimaksud ‘air tenang mampu mematikan’? Sebab meski Ai berbicara dengan halus seperti itu, rasanya hati Hadi baru saja tertancap tombak setelah mendengarnya.
[]
“Mama! Aku lapar!” Adelina merengek sesaat keluar dari kamarnya. Habis tidur singkat sepulang kerja. Sedangkan kak Amanda belum pulang dari galerinya.
“Mandi dulu.” Sahut Mama tenang yang tengah berkutat di dapur.
“Tapi, aku terlalu lapar, Ma!” gadis itu bersikeras dan tetap menghampiri Ibunya.
“Mandi dulu atau sendok sayur ini melayang ke jidatmu?” padahal diucap tanpa penekanan intonasi, Adelina malah lebih ngeri ketika Mama sudah mengambil sikap seperti ini. Maka dia langsung menuruti perintah Mamanya, namun bel rumah yang berbunyi berkali-kali, tentu saja jadi menginterupsi.
[]
“Seratus juta?!”
Dua laki-laki berperawakan preman tiba-tiba datang berkunjung tanpa angin tanpa hujan. Dipersilahkan duduk dulu, malah langsung menagih tanpa basa-basi. Kata mereka, almarhum Papa memiliki hutang sebanyak itu kepada rentenir.
“Seratus juta? Sudah hampir 10 tahun suamiku meninggal, kenapa kami baru tau sekarang? Kalian yakin itu hutang suamiku?” Mama berusaha menjaga sikap setenang mungkin. Akal sehatnya bekerja. Di rumah ini hanya ada dia dan putri bungsunya. Sikap ceroboh sedikit saja bisa jadi menecelakai mereka berdua.
“Secara teknis, hutang ini memang bukan hutang suamimu. Tapi, dulu, suamimu dengan sukarela menjadi penanggung jawab yang bersangkutan jika tidak segera mengembalikannya.” Jelas salah satu preman itu yang sepertinya masih bisa ditoleransi karakternya. Mungkin juga karena dilihatnya ketenangan Mama selama diajak bicara.
“Ya kalau begitu, tagih saja yang berhutang.” Timpal Adelina memberanikan diri.
Kedua preman itu jadi ganti menatap gadis itu. “Kami tidak akan ke sini kalau yang bersangkutan tidak kabur membawa uang itu. Asal kalian tau, suamimu,” preman itu balik menatap Mama. “Dan ayahmu,” ganti menatap Adelina. “Menyerahkan sertifikat asli rumah ini sebagai penjamin hutangnya.”
Mama dan Adelina seketika membelalakkan mata secara bersamaan. “APA?!!!”
[]
“Bu Yani!” pria itu berseru memanggil wanita yang dari tadi sengaja mengabaikannya. Mereka berdua telah menyelesaikan shift hari ini bersamaan. Namun, yang dipanggil pak Fatih ini, terlihat enggan sekali untuk sekedar didekati. Pria itu mengulang panggilannya sekali lagi saat dilihat bu Yani hendak memasuki mobilnya.
“Apa?” wanita itu terlihat jengah. Urung diri lanjut mengabaikan dan memilih tetap berdiri di samping mobilnya.
“Kan sudah saya bilang tunggu di dalam.” Pak Fatih gemas dan putus asa di saat yang bersamaan. Dirinya sudah berdiri tepat di hadapan wanita yang selama ini ditaksirnya itu.
“Untuk?” tanya bu Yani tanpa beban.
“Kita pulang bersama. Kan sudah saya beri tau sebelumnya.” Pria itu setengah merengek.
Bu Yani memasang mimik datarnya. Mengedikkan bahu, “saya tidak mau, kok.”
Pak Fatih langsung tertohok. “Astaga, bu Yani,” pria itu mengusap-usap wajahnya. “Bukannya itu berlebihan? Kenapa langsung menolak begitu?”
Bu Yani mengedikkan bahu lagi. “Karena saya memang tidak mau.”
“Kenapa selalu tidak mau pulang bersama saya?” pak Fatih tetap bersikeras.
“Karena itu membuat pak Fatih semakin berharap tentang saya.”
“Betul sekali!”
“Maka dari itu,” bu Yani menghela napas dalam. “Saya menolak dari awal, pak Fatih. Saya sadar ini berlebihan. Tapi, maaf. Saya memang tidak akan pernah tertarik dengan anda, dengan siapapun, dengan sebuah ikatan hubungan, pokoknya apapun yang berkaitan dengan semua hal itu.” Jelasnya tegas yang kemudian memasuki mobilnya.
“Hei, hei, hei, bu Yani!” pak Fatih berusaha keras mencegah gerakan wanita itu yang mulai menyalakan mesin dan untungnya berhasil. “Bu Yani, tolong jangan begitu, lah,” ujarnya sambil membungkukkan diri agar sejajar dengan wanita yang sudah duduk di belakang kemudinya. “Masa anda tidak tau cinta itu bisa datang secara perlahan?” pria itu belum berhenti juga.
Bu Yani menghela napas lelah. “Sebelum semakin kelihatan konyol, pak Fatih. Sebaiknya mulai dari sekarang anda berhenti saja.” Wanita itu mencoba memberi peringatan.
“Saya bisa mati konyol kalau bu Yani selalu menolak saya!” pak Fatih tetap bersikeras. Bu Yani menggeleng pasrah. Memang tumpul hasilnya setiap berbicara dengan manusia satu ini.
“Saya pulang dulu.” Ucapnya yang kembali bergerak menyalakan mesin mobil. Kali ini, pak Fatih membiarkannya. Pria itu mundur beberapa langkah dari tempatnya.
“Baiklah. Hati-hati di jalan bu Yani. Tetap ingat. Lambat laun, saya pasti berhasil membuat anda menyukai saya!”
Bu Yani menggeleng-geleng tak habis pikir. “Terserah.” []