Gadis bergaun putih itu tersenyum, memperlihatkan taring tajam serta nanah yang mengalir di sela-sela taringnya.
Napas Cassie tersengal, penampakan gadis ini amatlah menyeramkan. Perlahan dia melangkah mundur sampai gadis itu menatap mata Cassie. “Makhluk apa kamu?” tanya Cassie dengan suara tertahan.
“Kamu bisa melihat diriku?” tanyanya.
Cassie mengangguk, dia tak tahu apa yang membuat hatinya begitu berani untuk bertatapan langsung dengan arwah dengan wujud mengerikan seperti ini.
“Bisakah kamu menolongku?” pintanya dengan suara serak. Asap berwarna kuning mengelilingi tubuh arwah gadis itu.
Cassie mempunyai satu keistimewaan, yaitu dapat mengetahui arwah yang benar-benar membutuhkan pertolongannya dengan tanda yang dikeluarkan oleh arwah itu sendiri. Asap kuning berarti arwah itu membutuhkan pertolongan segera, asap berwarna biru berarti arwah dalam keadaan tenang atau dalam artian gentayangan hingga hari akhir tiba, sedangkan asap berwarna merah berarti sosok arwah yang harus dihindari karena arwah itu akan membahayakan dirinya.
Kini, dia tahu kalau sosok arwah gadis itu benar-benar membutuhkan pertolongan darinya. “Apa yang bisa aku bantu?” tanya Cassie pada gadis itu.
“Benarkah kamu akan membantuku?” tanyanya tak percaya.
“Iya, sebutkan keinginanmu,” pinta Cassie serius.
“Aku mohon, temukan jasadku yang berada di selokan itu. Aku ingin tenang,” pintanya mengiba.
Tentu Cassie terkejut saat mendengar kata jasad. Ada sedikit ragu selama hatinya, tetapi saat melihat sang gadis yang menaruh harapan besar padanya, dia merasa yakin untuk membantu gadis itu secara tuntas. Perlahan, Cassie berjalan ke arah selokan di pinggir bangunan tua itu.
Tak memedulikan sampah dan bau busuk, Cassie memilih untuk masuk ke dalam selokan yang berisi penuh sampah itu. Dia menelusuri selokan, hingga dirinya menemukan sebuah kotak besar di antara sampah-sampah rumah tangga. “Apa ini, ya?” batin Cassie bertanya.
Dengan susah payah, Cassie membuka koper itu. Seketika bau busuk menyengat menusuk hidungnya. Sontak Cassie terkejut saat melihat sesosok jasad yang meringkuk di dalam koper dengan tubuh yang penuh dengan luka.
Gadis itu berusaha untuk menahan suaranya, bau busuk menyengat membuat Cassie perlahan menjauh dari koper yang kini terbuka dengan sosok jasad penuh luka di dalamnya. Belatung belatung hidup segera menggeliat dari tubuh seseorang di dalam koper itu, wajahnya tak bisa di kenali lagi, tetap rambut panjangnya membuat Cassie menyimpulkan bahwa Hadad yang ada di dalam koper itu adalah seorang wanita.
Dalam sekejap lalat-lalat segera mendatangi kiper dan mengerubuti jasad busuk itu.
Keringat dingin seketika mengucur dari pelipis Cassie, jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat jasad hancur ini. Tubuhnya bergetar ketakutan, bahkan untuk bersuara sedikit pun dia tak berani, sedangkan kepalanya terasa pusing hingga penglihatannya mulai memburam.
Sebelum semuanya menjadi semakin runyam, Cassie segera keluar dari selokan dan berlari menuju telepon umum terdekat. Tangan mungil itu mulai menekan tombol-tombol telepon sesaat setelah memasukkan koin.
"Halo." Suara terdengar dari seberang telepon, tetapi bibir Cassie enggan mengucapkan apa yang hendak dia ucapkan.
"Ini dengan kantor kepolisian, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah.
"Sa-saya mau melaporkan a-da korban pembunuhan," jawab Cassie dengan suara bergetar karena ketakutan.
"Dek, jangan main-main, ini kantor polisi. Jangan buat panggilan iseng," gertak polisi itu karena tak percaya dengan laporan seorang anak kecil.
"Saya tidak bohong, tolong datang ke jalan melati bangunan terbengkalai. Di selokan depan jalan, ada sebuah koper berisi mayat wanita," ujar Cassie berusaha meyakinkan polisi itu.
"Tapi apa jami--"
"Tolong datang sekarang!" seru Cassie seraya menutup telepon.
Cassie bergeming. Tubuhnya masih bergetar hebat, penampakan menyeramkan itu benar-benar membuatnya trauma. Ia tak ingin lagi melihat ke arah selokan tempat koprr itu berasal. Napasnya tersengal. "Aku harus pulang. Om Zein bakalan marah kalau tahu aku keluar tanpa izin," gumam gadis kecil itu.
Ia berlari untuk segera kembali ke rumah Zein. Dia tidak ingin terlibat dalam kasus penemuan jasad gadis itu, Cassie berpikir jika Zein pasti akan marah saat tahu dirinya membawa masalah baru untuk keluarga kecil Zein.
Perlahan, kaki mungil Cassie mengendap-endap untuk masuk ke dalam rumah tanpa harus ketahuan oleh Ira atau pun Zein. Cassie mengembuskan napas lega, saat telah sampai di kamar. Dirinya segera berganti pakaian dan diam di kamar seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Setelah berhasil masuk kembali ke dalam rumah tanpa ketahuan, setelah semuanya bersih. Cassie mendekat ke arah jendela, ia menyingkap tirai jendela dan melihat ke arah luar. Ia menatap fokus ke arah selokan yang ada di depan bangunan tua itu. Dari tempatnya saat ini, tak terlihat koper yang berisi mayat wanita itu.
Cassie segera beranjak menuju kasurnya, ia meringkuk di atas kasur. Pikirannya berkeliaran, ia penasaran dan juga bingung kenapa ada mayat wanita di dalam koper itu. Jika di lihat dari kondisi mayat yang sudah membusuk, pasti mayat itu sudah berada di dalam koper di selokan itu selama satu bulan lalu, siapa yang tega membunuh seorang wanita tak berdaya. Ah, dia tega sekali, pikir gadis itu.
Cassie bergidik ngeri mengingat kondisi jasad yang sudah tak berupa, setiap bayangan jasad itu terlintas, Cassie seleksi menahan mual di perutnya. "Semoga pelakunya cepat tertangkap," gumam gadis itu sembari membuka buku ceritanya.
Cukup lama ia berada di dalam kamar itu sebelum Ira memanggil dirinya. "Cassie! Makan dulu!" panggil Ira dari meja makan.
"Iya, Tante," jawab Cassie dengan suara lirih, ia masih harus menenangkan detak
kan jantungnya.
Dengan kaki lelahnya Cassie kembali melangkah untuk menemui keluarga Zein di meja makan. Terkadang, ia merasa iri pada Jia karena masih memiliki orang tua yang begitu menyayanginya, sedangkan Cassie harus hidup dalam kesepian.
"Mama, aku mau itu," pinta Jia dengan manja pada mamanya, Ira dengan sigap mengambil ayam kecap kesukaan Jia dan segera menyuapinya dengan penuh kasih sayang.
Mata Cassie tak lepas dari Ira dan Jia, dirinya begitu merindukan pelukan jangan dari malaikat tak bersayapnya yaitu Alia. "Ma, Pa, aku kangen," batin Cassie.
Suara sirene polisi terdengar jelas dari arah samping rumah, Zein segera melihat apa yang terjadi, sedangkan Ira pun berjalan keluar untuk melihat apa yang terjadi. Cassie dengan ragu ikut melihat ke arah luar rumah Zein, terlihat banyak sekali mobil polisi dan ambulans di depan bangunan terbengkalai tepat di mana Cassie menemukan koper berisi mayat busuk itu.
Tidak berselang lama, seseorang berseragam polisi memasuki halaman rumah dan berbicara dengan Zein. "Selamat malam," sapanya.
"Malam juga, Pak. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Zein.