Bakda ashar, Mas Huda datang dengan vespa kesayangannya. Aku sudah menunggu di teras rumah dengan sederet kalimat omelan yang siap meluncur dari bibir. Mas Huda datang dengan senyum lebar tanpa beban sembari mengucapkan salam. Disodorkan punggung tangannya ke arahku. Meski kesal, tetap saja aku mencium punggung tangannya seperti biasa. "Pak Joko sudah datang rupanya. Kemana beliau sekarang, Sayang?" tanyanya singkat, seolah tak terjadi apa-apa. Dia pun duduk di sebelahku begitu saja. "Istirahat di kamar. Kamu kemana aja sih, Mas? Dari pagi pergi katanya mau servis, tapi jam segini baru pulang. Bukannya ngabari lagi, malah enak-enakan. Seneng banget sih kalau istrinya-- Cup. Dia mengecup keningku begitu saja saat aku masih mengoceh ria. Entah mengapa mulutku pun terhenti seketika. Me

