Ketika mentari sedang bersemangat, panasnya begitu menyengat. Teriknya membuat manusia mengeluh, mengusap peluh dan mengalihfungsikan tangan menjadi kipas. Panasnya udara sekitar menggoda Tyaga untuk merogoh kocek, menukarkan uangnya untuk sebatang es krim. Bukan masalah besar jika ia duduk tanpa teman bicara di balik jendela minimarket, toh, pemandangan di luar lebih menarik untuk disaksikan. Apalagi ketika ada seorang gadis berseragam dikerjar oleh lelaki berseragam lainnya, sedang satu lainnya berdiri mematung memandangi kejadian itu. Selang beberapa saat setelah kepergian sepasang muda-mudi tersebut, ia menunduk sekian detiksebelum akhirnya sadar kalau Tyaga tengah memerhatikan geraknya. Tak ayal, tangannya melambai dengan kedua sudut bibir tertarik ke atas. Tyaga pun, mengangguk sing

