19 || Berdiri Tegak

1580 Words

Tyaga bungkam. Kedua bibirnya seperti terjahit. Tiap kali ada yang mengajak bicara, ditanggapi dengan anggukan atau gelengan kepala. Quinn, yang terbiasabersisian dengan Tyaga sambil mengalungkan lengan kali ini tidak mendekat. Tanpa banyak bicara ia mengekor. Sudah dua jam berlalu sejak Tyaga terbangun dari mimpi—atau kenyataan yang membuatnya shock. Matanya disuguhi pemandangan Renra yang mondar-mandir bak setrika ketika ia tiba di depan rumah. “Tyaga,”raut khawatir menemani langkah tergesanya. “Kamu nggak apa, Nak?” tanyanya sambil menyentuh pundakTyaga. Sia-sia saja kalau menuntut jawaban panjang nan lengkap dari Tyaga, toh, anak itu sekarang enggan berbicara barang sekatapun. Jangankan membuka bibir untuk membalas, memandangnya pun Tyaga tidak berminat. Sorot tanpa emosi Tyaga sempa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD