Kecoa

781 Words
"Semalam kau menciumku." "WHATS?!!" Celine memekik tidak percaya "Sebenarnya nyaris hehehee.." "Nathan! Aku serius. Aku menciummu atau hampir menciummu?" "Aku serius kau nyaris menciumku" "Lalu..." "Karna aku pria baik, aku menolakmu sebisa mungkin ku bisa dan mencoba menyadarkanmu." "Hanya itu?" Celine tidak percaya seorang playboy cap kadal seperti Nathan menolak sebuah ciuman. "Hehehee.. tidak juga" Nathan masih berkata dengan nada geli "Nat...!!" Asli Celine mulai kesal sekarang "Iya.. iya.. Jadi semalam itu kau terus-terusan meneriaki nama pak Niko dan berkata kau ingin menciumnya. Tapi kau mengatakan itu sambil menyosorkan bibirmu padaku" Astaga.. ya Tuhan.. Celine tidak bisa membayangkan kelakuannya semalam. Dia memang tidak ingat dan berharap tidak mengingatnya. Jangan-jangan Nathan berbohong lagi. "Kali ini kau berbohong lagi kan?" "Tidak, kali ini benar. Aku jujur." Nathan bahkan mengangkat kedua jarinya Raut wajahnya pias dia berusaha mengembalikan tingkahnya senormal mungkin "Apa lagi?" Celine memasang telinga dan menyiapkan mental bersiap mendengar kejadian memalukan yang ia perbuat, bisa jadi lebih parah kan. "Ya.. hanya itu yang ku tahu, sisanya kau bisa menanyakannya pada pak Nicholas?" "Pak Niko?" "Iya Pak Nicholas Bagaskara, ia meninggalkan Nadine dan perjanjiannya begitu saja semalam" Baiklah.... ia bisa mengerti sekarang. Bagaimana pagi ini ia terbangun di apartemennya. Tapi Nicholas yang meninggalkan Nadine? Heh.. dia melepaskan kesempatan itu-ituan dengan seorang Nadine add me? "Kau sepertinya meragukan kesaksianku?" Tanya Nathan melihat wajah Celine dengan kerutan dikeningnya. "Tidak.. tidak.. hanya saja-" "Pak Niko mengantarmu kerumah kan?" "Heh?" "Maksudku tadi pagi kau terbangun dirumahmu kan?" "Ya.. kenapa?" "Tidak... hanya saja sedikit aneh, bagaimana bisa seorang bos tahu persis dimana rumahmu yang notabene hanya seorang karyawan magang, bahkan di hari pertama kau kerja" Deg.. Celine bingung bagaimana ia menjelaskannya pada Nathan. Dia tidak mau ada orang dikantor ini yang tahu hubungan mereka. "Eum.. itu.. itu..  itu karna... kakakku" jawab Celine gugup "Ya.... kakakku temannya pak Niko" "Ooo.. begitu. Pantas saja dia agak posesif padamu" Nathan mengangguk paham, berbanding terbalik dengan Celine "Posesif bagaimana?" "Kau pikir aku bisa menemukanmu secara kebetulan di club?" Nathan bercerita "Semalam itu aku sudah pulang dirumah, tiba-tiba Ferdy-asisten Nicholas menghubungiku. Dia dibilang pak Nicholas menyuruhku menjagamu selama dia bersama Nadine" Nicholas mencemaskanku? Omong kosong macam apa itu? Celine memasang senyum miring, ia tak percaya dengan yang didengarnya. Lebih tepatnya ia tidak mau percaya pada pemikirannya bahwa sesungguhnya Nicholas memang peduli padanya, Nicholas menjaganya, pria itu tidak melupakannya meski dia sedang... aish.. lupakan! Jika pria itu memang peduli dan ingin menjaganya kenapa mengajaknya kesana dan meninggalkannya begitu saja? "Cel.." Nathan menggoyangkan telapak tangannya didepan wajah Celine. Gadis itu kembali dari lamunannya. "Ini, minumlah!" Nathan menyodorkan dua lembar tablet. "Untuk apa?" "Yang ini untuk meredakan sakit kepalamu. Aku yakin kau merasa seperti memakai konde besar karna aku juga dulu begitu" Tunjuknya pada obat kemasan berwarna merah. Ya.. itu benar. Kepala bagian belakangnya terasa berat. Tapi Celine tidak bisa membayangkan bagaimana penampakan Nathan yang memakai konde. Ia mungkin akan tertawa jika Nathan tidak melanjutkan anjurannya "Yang ini antibiotik! Hari ini menu dikantin kita adalah seafood, itu makanan kesukaanmu. Aku tidak ingin melihat mulutmu menetes air liur tapi aku juga tidak mungkin membiarkan terjadi sesuatu hal buruk padamu. Aku masih sayang nyawaku" Celine masih mencoba mencerna ucapan Nathan yang tanpa titik koma itu. Gadis itu bersiap meluncurkan pertanyaan dalam benaknya, sungguh.. kecepatan bicara Nathan seperti kereta express atau mungkin ini karna pengaruh minuman semalam. Tapi dia dengan jelas mendengar bahwa Nathan bilang menu kantin kantor adalah seafood. Dan ya itu memang makanan kesukaannya tapi bagaimana Nathan bisa tahu? "Nathan.. bagai-" Ucapan Celine terpotong begitu pintu ruangan bosnya terbuka dan menampakan sosok lelaki penuh karisma, berwibawa, dengan wajah dan tatapan dinginnya. Namun entah bagaimana wajah dan tatapan dingin itu melelehkan hati Celine. Seolah dia lupa bahwa wajah itu juga yang tadi marah dan berujar sinis padanya. Sadarlah Cel... kau hanya akan sakit hati jika terus memupuk perasaan ini. Bukankah kau harusnya menunggu Raka. Raka... your guardian angel sudah melamarmu! Semua yang Raka ucapkan dulu hanya salah paham, kau dan dia akan kembali bersama membangun mimpi dan mewujudkan janjimu dulu. Sedangkan pria ini? Nicholas hanyalah sebuah perjanjian. Dia bukan milikmu! Kebaikan yang ia lakukan semata-mata karna perjanjian kalian, termasuk ciuman itu... "Mengagumi ketampananku Nona magang?" Kata-kata itu keluar dari mulut Nicholas yang melihat Celine memandanginya tak berkedip "Ah.. eh... tidak.. saya hanya terkejut, saya sedang bicara dengan Nathan lalu.." begitu Celine menengok kesebelahnya tapi justru tidak ada Nathan di tempatnya. Celine sendiri bingung kemana orang itu. Ia sampai berdiri dari kursinya, mencari dibawah meja bahkan diantara tumpukan kertas. "Apa yang kau cari?" Tanya Nicholas heran "Nathan pak.. tadi saya sedang bicara dengannya disini" "Kau mencari Nathan diantara tumpukan kertas? Memangnya dia kecoa?" Iya juga ya! Alkohol memang berbahaya, sekalipun hanya 4% tapi mampu mengikis kepintaran otakmu sebanyak 80%. "Sudahlah.. ayo ikut aku!" Ujar Nicholas melenggang "Kemana Pak?" Celine masih berdiri ditempatnya "Apa kau tidak melihat jadwalku hari ini? Apa sih yang kau kerjakan disini sebenarnya? Membicarakan bos dibelakang?" Celine pun tertunduk mendengar sindiran bosnya dan segera mengiringi langkah Nicholas dari belakang. -------------------------------- To be continue Thank you for reading and don't forget to coment
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD