Bab 4

713 Words
Flashback... *** “Daisy. Apa kau baik-baik saja?” tanya ibu dengan air muka sangat panik sambil memegangi tubuh Daisy—adik Seina yang sejak tadi terus saja batuk-batuk. Seina menatap Daisy dengan nanar dari balik korden kamarnya sambil menutup mulutnya sendiri menggunakan tangan kanan. Bahkan sekarang Daisy muntah darah! “Daisy. Apa kau tak apa?” kata Seina tak tahan lagi sambil berlari menghampiri adik dan ibunya itu. Kini ekspresi Seina pun tak kalah paniknya seperti ekspresi Ibu. Memang sudah tujuh hari lamanya Daisy mutah darah seperti itu. Entah apa penyebabnya pun mereka tidak tahu. Biasanya ketika siang hari kondisi Daisy membaik dan tubuhnya normal seperti layaknya anak-anak di luar sana. Namun ketika malam tiba, apalagi ketika udara mulai terasa dingin. Maka ketika itu pasti Daisy akan batuk-batuk bahkan sampai muntah darah seperti ini. “Ibu sakit. Tolong, Bu. Daisy tidak tahan. Sakit sekali.” Daisy hanya bisa menangis sambil memegang d**a yang sepertinya memang betulan amat sakit rasanya. Seina bingung. Apa yang harus mereka lakukan? Ibu dan Seina sudah pernah menyuruh tabib yang terkenal di desa ini untuk datang memeriksa keadaan Daisy. Namun hasilnya nihil. Malahan tabib itu hanya berkata penyakit Daisy ini adalah penyakit yang tergolong langka. Jika bisa sembuh pun tak ayal mungkin penyakit Daisy akan kambuh lagi dalam beberapa tahun ke depan. Tabib itu mengatakan, obat penawar dari penyakit Daisy sendiri hanyalah bunga Violet orchid atau Anggrek ungu yang berada di hutan terlarang. Itu pun mustahil sekali untuk di dapatkan karena violet orchid  termasuk tumbuhan langka yang susah untuk ditemukan, bahkan ketika musim semi sekali pun. Masalah selanjutnya.... Tabib itu mengatakan anggrek violet hanya bisa ditemukan di hutan terlarang yang berada di berbatasan desa. Hutan terlarang adalah hutan menyeramkan penghubung antata desa ini dengan desa seberang. Tidak ada satu orang pun yang berani masuk ke sana. Hutan itu sendiri dikelilingi dengan kawat pembatas sangat kokoh sebanyak dua lapis dengan tinggi yang mencapai tiga meter dengan tujuan untuk mencegah hewan liar dari hutan keluar ke area pemukiman warga. HUTAN TERLARANG!!! SIAPA PUN DILARANG MASUK!!! Tulisan berwarna merah di papan kayu itu saja sudah membuat siapapun yang memiliki hajat untuk pergi ke sana langsung mengurungkan niat karena bergidik ngeri duluan. *** “Apa penyebab anak ini bisa sakit? Apa sebelumnya dia pernah memasuki atau sekadar mendekati hutan terlarang itu?” tanya tabib sambil melirik sekilas ke arah Ibu dan Seina kala itu. Ibu tertegun sejenak mendengar suara paruh baya yang terdengar amat renta di telinga. Ba-bagaimana tabib itu bisa tau? “I-iya, Tuan. Sebelumnya anak saya diam-diam pernah bermain di hutan terlarang itu tanpa sepengetahuan saya, tapi dia hanya memetik buah berry di sana dan waktu itu dia kembali dengan norma—” belum sempat ibu menyelesaikan ucapannya. Namun tabib tersebut sudah berteriak amat keras sekali. Ia seolah benar-benar marah besar! “Kurang ajar! Lancang! Apa anakmu benar-benar cari mati, hah?! Dia bisa keluar dari hutan itu saja sudah amat bersyukur!!!” Seina dan Ibunya terlonjak. Ibu dan Seina saling tatap dalam diam. Benar juga kata tabib, ada orang yang keluar hidup-hidup setelah memasuki hutan terlarang itu benar-benar sebuah keajaiban. Daisy yang bisa keluar dari sana hitungannya sudah beruntung. Orang lain mungkin sudah mati jika memasuki hutan itu,  biasanya mereka tidak akan kembali lagi, entah dimakan binatang buas atau hilang tanpa jejak. “Ma-maafkan aku yang lalai.” Ibu sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi.  “A-Apa tidak ada penawar lain untuk putriku, Tuan? Aku mohon selamatkanlah dia,” kata Ibu sambil memelas kepada tabib itu. Tabib menghela napas, tabib  memeriksa lagi denyut nadi Daisy. “Tidak ada. Hanya itu saja cara yang aku tahu. Kecuali mungkin kau bisa membawa anakmu ini ke rumah sakit kota dengan peralatan pengobatan yang memadahi. Mungkin itu bisa terjadi. Meskipun kesempatannya untuk hidup pun juga sangat kecil.” Seina mengepalkan tangannya erat-erat ketika mendengar itu. Jangan pernah bermimpi tinggi mereka  bisa memeriksakan Diasy ke rumah sakit di kota besar! Mereka tidak akan mampu! Hanya kepala desa dengan rumah gedongan yang mampu ke rumah sakit kota. Warga miskin seperti Seina tidak akan mampu. Lagi pula jarak desa ini dengan kota sangatlah jauh. Butuh waktu berhari-hari untuk sampai ke sana. “Tapi Anggrek Violet itu tidak mungkin,” gumam Seina pelan. Memasuki Hutan terlarang sama saja bunuh diri! tambah gadis batin Seina dalam hati.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD