Tidak ada percakapan di antara aku dan Mas Dar, hanya ocehan radio yang menemani kami di dalam perjalanan. Aku hanya diam saja setelah kejadian tadi di toko bunga sedangkan Mas Dar merasa frustasi dengan sikapku. "Kita mau kemana?" aku bertanya begitu menyadari bahwa Mas Dar baru saja melewati gerbang perumahan kami. Ia hanya diam saja tidak menjawab pertanyaanku, aku yang tahu tidak akan mendapatkan jawaban memilih untuk kembali diam. Hingga akhirnya aku tertidur. Begitu terbangun aku masih di dalam mobil, namun dengan keadaan mobil yang sudah terpakir di depan sebuah cafe. Dengan papan nama yang sangat besar 'Young Cafe' cafe yang dari luar berwarna coklat kayu. "Kemana Mas Dar?" aku mengerutkan kening begitu melihat sisi kemudi yang kosong. Tertempel secarik kertas kecil di kemudi ber

