16

1006 Words
Setelah mendapat penjelasan itu, akhirnya Splash mendapatkan kartu ATM-nya lagi. Ia berjanji akan merebut obat-obatan itu dari tangan FlipFlop. Karena itulah sesampainya di penginapan ia mengumpulkan teman-temannya dan menceritakan kejadian yang baru ia alami. "FlipFlop?" tanya Potato, mengernyitkan kening. Splash mengangguk. "Kamu tahu?" Potato masih mencerna pikirannya, berusaha mengingat-ingat. "Aku pernah mendengar nama mereka." "Benarkah?" Potato mengangguk. "Sebelum aku bergabung, ada orang kepercayaan Ketua Sand yang bernama Flip. Ia adalah salah satu anggota Liberte yang paling disegani. Ia dikenal loyal dan pemberani. Kekuatannya pun tidak perlu diragukan. Apalagi ia memiliki android bernama Flop yang memiliki kemamluan unik. Flop dan menghilang dan bertukar tempat dengan Flip. Penampilan mereka sama persis. Benar-benar tidak ada beda. Semua orang mengira kalau Flip akan menjadi pemimpin Liberte berikutnya. Namun, ternyata semua kebaikan yang ia tampakkan hanya kepalsuan. Sampai suatu ketika, Ketua Sand memergokinya meracik obat-obatan dan membuat drugs untuk dijual. Mengetahui itu Ketua Sand pun murka. Akhirnya mereka beradu argumen dan Ketua Sand mengeluarkannya dari Liberte dengan tidak hormat." "Pantas saja ia merampas obat-obatan di Kota Ath," tukas Cloud. "Jadi apakah kita mau membantu anak itu?" tanya Splash. Cloud dan Milk terdiam. Tidak mudah setuju dengan ajakan Splash lantaran sekarang pun mereka menyamar. Kalau mereka berusaha merebut obat-obatan dari tangan Flip pasti kabar itu akan didengar kepolisian. Namun, di satu sisi membiarkan orang lain menderita juga bukan sikap yang bijak. Lain halnya dengan Potato yang selalu mengutamakan tugas dibandingkan lainnya. "Jangan, risikonya terlalu besar. Penyamaran kita pasti terbongkar, dan para polisi akan tahu keberadaan kita. Ingat, tujuan kedatangan kita ke Kota Ath adalah mencari," tegas Potato. Splash menunduk. Ia paham drngan alasan Potato, tetapi ia telanjur berjanji. Ia juga tidak bisa memaksakan teman-temannya untuk setuju. "Baiklah. Biar aku dan Orange yang berangkat," ujar Splash seraya berbalik ke arah pintu. "Tunggu!" Splash menoleh, melihat Cloud menghampiri. "Ada apa, Profesor Reufille?" "Aku ikut." Potato terhenyak. "Tapi, Cloud itu terla—" "Aku juga ikut," sergah Milk, "kita selalu bersama-sama menghadapi semuanya." Cloud mengangguk setuju. "Lagi pula dengan kita melawan kebijakan pemerintah, artinya kita sudah siap dengan semua risikonya. Aku tidak bisa tinggal diam melihat orang lain menderita." "Ah, baiklah," kata Potato merasa terpaksa. Kalau bukan karena perintah Sand agar ia menjaga Cloud dan kawan-kawan, sudah pasti ia tidak peduli. "Splash, apakah kamu tahu tempat FlipFlop?" tanya Milk. Splash menggeleng. "Tidak. Anak kecil tadi hanya mengatakan kabarnya lokasi FlipFlop di Gurun Malt. Tapi ia tidak tahu pasti." "Kalau begitu kita ke Gurun Malt dan mencarinya," tukas Cloud. Potato berdecak. "Kalian gila. Mencari lokasi di gurun sangat susah. Gundukan pasir sering berpindah-pindah hingga membuat kita sulit mencari arah." Cloud tersenyum. "Kita baru saja berhasil melewati labirin. Aku yakin kali ini pun kita bisa menemukannya." Potato memutar bola mata. "Ya, ya ..., terserah kalian ...." Akhirnya mereka keluar dari penginapan. Setelah bertanya pada penduduk, lokasi Gurun Malt, mereka berangkat ke sana. Mereka melesat di udara dengan kecepatan tenang ke arah barat daya. Semua terbang beriringan, keluar-masuk menembus awan-awan yang dilalui; menyibak udara yang terasa hangat kala itu. Tampaknya perjalanan mereka cukup jauh, karena sudah puluhan kilo mereka belum juga melihat gurun. *** Sementara itu di bagian lain Kota Ath, tepatnya di markas kepolisian Belgia di Kota Ath. Kolonel Beef dan rombongannya disambut pemimpin kepolisian di kota tersebut. Mereka dijamu di sebuah ruangan khusus tamu-tamu penting. Semuanya duduk melingkari sebuah meja bundar. Mayir Jendral Fried sang pemimpin kepolisian di Kota Ath tidak sendiri. Ia ditemani para pasukan elit. Menilik penampilannya, Mayor Jendral Fried memang pantas menjadi seorang pemimpin. Ia berambut hitam kelimis dan disisir ke belakang. Wajahnya persegi dengan rahang kukuh dan ditumbuhi jenggot yang tertata rapi. Kumisnya yang melintang menghiasi wajahnya. Sorot matanya tajam, dan memiliki pupil hitam pekat. Hidungnya mancung dan agak besar yang sedikit bengkok ke atas. Ia memiliki jambang yang panjang. Badannya tinggi dan kekar dan dibalut pakaian kebesaran seorang Mayor Jendral Kepolisian. Di samping kanannya duduk seorang perempuan berambut merah muda. Rambutnya model wavy. Wajahnya oval sedikit bundar. Sepasang matanya lebar dengan pupil biru. Hidungnya mungil sedikit mancung. Bibirnya tipis dan kemerahan. Badannya mungil, sama sekali tidak tampak seperto seorang polisi. Ia mengenakan pakaian kepolisian lengkap dengan jabatan kolonel di dadanya. Ya, dia adalah perempuan yang dijuluki genius, Bubble. Di samping kiri Fried, duduk seorang laki-laki kurus dan tinggi. Kepalanya botak licin. Matanya lebar, hidungnya melesak ke dalam, dagunya memiliki belahan. Ia tidak memiliki alis. Ia juga mengenakan pakaian kepolisian dan tanda jabatan kolonel di dadanya. Dia bernama Spaghetti dan memiliki android bernama Fusilli. Di sebelah kiri Spaghetti, duduk seorang laki-laki berperut buncit. Wajahnya bulat dan lebar. Matanya sipit. Hidungnya lebar. Ia memiliki kumis tipis. Laki-laki itu mengenakan pakaian polisi dan menjabat sebagai Mayor. Laki-laki itu bernama Pizza. Sementara itu di sebelah kanan Gum, duduk seorang perempuan berambut perak. Kulitnya gelap. Wajahnya cantik drngan sepasang mata lebar berbulu mata lentik, hidung mancung, dan bibir tebal yang melengkung sempurna. Ia menjabat sebagai Kapten. Perempuan itu mengenakan baju polisi. Ia bernama Pastel. Mereka duduk berhadap-hadapan dengan tamu mereka dari Prancis. "Selamat datang, Kolonel Beef dan anggota pasukan elit kepolisian Prancis. Suatu kehormatan menyambut anda sekalian," tukas Fried membuka pertemuan itu. "Mayor Jendral Fried, rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu," balas Kolonel Beef, ramah. Mayor Jendral Fried mengangguk repetitif. "Sepertinya sudah satu tahun. Saat itu aku masih menjabat sebagai Kolonel." Mendengar kata-kata itu, Kolonel Beef berusaha menahan emosinya agar tidak tersulut. Jelas kalau Mayor Jendral Fried sedang mencemoohnya sekaligus membanggakan diri. Kolonel Beef tetap bersikap tenang, seolah tidak terpangaruh kata-kata itu sama sekali. Namun, beberapa anggota pasukan elit Prancis menampakkan ketidaksukaan mereka, meskipun mereka memilih bungkam lantaran melihat Kolonel Beef tidak terpengaruh. Di antara mereka yang paling terlihat kesal adalah Hot. Wajar, Hot merupakan anggota pasukan elit yang paling dekat dengan Kolonel Beef. Kedekatan Hot dan Kolonel Beef sudah dimulai semenjak mereka pernah bertugas bersama di medan perang dengan Jepang. Bagi Hot, Kolonel Beef bukan sekadar atasan, tetapi juga mentor. Banyak hal yang diajarkan Kolonel Beef padanya sehingga ia bisa menjadi seorang anggota pasukan elit. Jasa itu tidak akan pernah dilupakan Hot sampai kapan pun jua. Kolonel Beef pun menganggapnya sebagai anak angkat. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD